Ketika Emak Seperti Anoman

Cerpen Lintang Alit Wetan (Radar Banyumas, 20 September 2020)

Ketika Emak Seperti Anoman ilustrasi Radar Banyumas (1)
Ketika Emak Seperti Anoman ilustrasi Radar Banyumas

LAHIR di sebuah dusun terpencil, di tepian Sungai Serayu yang airnya sering keruh kecoklatan, penuh kotoran dan ular berbisa. Seringkali juga bercampur sampah yang berasal dari kampung-kampung di sepanjang aliran sungai itu. Kadang-kadang, air sungai terlihat kekuningan, seperti warna mangga yang nyaris matang.

Sebagai anak perempuan pertama Emak Pariyem. Bagiku, emak ibarat dian yang tak pernah padam, seorang wanita perkasa dengan pribadi mempesona. Wanita pejuang tangguh dari berbagai onak duri dan terpaan badai kehidupan bergelombang-gelombang. Bagai deras aliran Sungai Serayu di saat banjir bandang yang menerjang persawahan dan pedusunan.

Bapak, seorang pekerja seni tradisi, kethoprak. Bila menembang bersuara merdu. Atau jika menari, lenggak-lenggok lemah gemulai, menjadikannya idola penonton. Sehingga banyak penggemar yang memujanya. Seorang perempuan penjual sroto sampai tergila-gila, mabuk cinta kepayang pada Bapak. Namanya, Romlah. 

***

Bapak menikahi Romlah, emak tiriku. Dikaruniai anak, lima. Selain paras bapak yang ganteng, produktif pula urusan beranak-pinak.

“Bila ingin tahu lebih banyak, tanya sendiri padanya, apa dan bagaimana resep rahasianya,” ujar Emak suatu ketika, sembari petan dengan adikku Wati yang juga anak kesayangan Emak. Emak Pariyem adalah istri pertama bapak. Istri sah, melahirkan enam orang anak. Emak bukan menjanda, tapi dimadu.

Untuk menghidupi keenam anaknya, bapak menjadi buruh tani yang berpenghasilan tidak menentu. Tergantung ada atau tidak sawah yang panen, atau pemilik sawah yang mau memakai tenaganya. Emak pekerja keras, membanting tulang dengan melakukan pekerjaan apapun asal halal. Ia sebenarnya sulung dari keluarga yang cukup. Sedangkan pilihan hidup menjadi petani buruh adalah takdir hidup yang mesti dijalani. Bila musim panen padi, maka bersama-sama petani buruh yang lain, ia gasik pergi ke sawah, ngangsag padi yang sedang dipanen atau digepyok pemiliknya.

Selain itu, emak terampil menderes nira, memanjat pohon kelapa yang puluhan meter tingginya. Juga, menyadap getah karet. Body emak memang wanita, akan tetapi tenaganya melebihi keperkasaan pria muda. Apalagi, tenaga pria hidung belang yang gampang loyo cuma dalam hitungan detik, langsung ambruk di ranjang. Nafasnya ngos-ngosan, lalu tidur ngorok.

Apabila menyangkut masalah dapur, maka malu atau pun gengsi ditepisnya jauh-jauh. Entah legen, getah karet, maupun sisa bulir padi di pucuk damen, semua diurus dengan baik demi mencukupi kebutuhan dapur. Juga sayur mayur dan palawija yang ditanamnya di pinggir-pinggir galengan, di petak-petak sawah yang digarapnya. Itu semua berkah rejeki bagi keluarga kami. Nikmat disantap, bergizi adanya. Dengan lauk pauk sambal terasi, ikan teri, ikan senggaringan. Hasil nener.

“Dingati-ati, sing slamet ya, Nok!”

Doa emak kepadaku senantiasa. Terutama bila aku mengisi liburan akhir pekan ke kampung, atau sekadar mampir melepas kangen dengan sanak keluarga di rumah. Saat-saat seperti itu membekas dalam ingatanku, terutama sewaktu berpamitan pulang ke kota. Meninggalkan suasana damai pedusunan, kesejukan alam dan gemericik air yang mengaliri persawahan.    

***

Pariyem, emakku. Seorang wanita pejuang kehidupan yang tangguh. Senantiasa menyalakan terang lilin-lilin di dada setiap anggota keluarga kami. Bahkan bagi para tetangga sekitar. Bagi kami, Emak adalah dian yang tak kunjung padam. Hingga usia senja, ia hidup menetap di dusun kami yang pelosok. Dikelilingi hamparan sawah ladang, perkebunan karet di lereng bukit sebelah selatan dusun, serta rel kereta uap yang berkelok-kelok memanjang bagai ular. Lahan yang penuh harapan pelangi. Indah warna-warni mencipta suasana tenteram dan damai di hati.

Keseimbangan hidup para warga tampak jelas dan terasa. Di saat panen padi dan palawija, maka sawah ladang ramai oleh hingar-bingar manusia. Lautan manusia. Layaknya pasar. Padi dan palawija, dijual langsung oleh petani kepada pedagang, atau tengkulak, langsung di sawah ladang. Jika hasil panen berlebih dimasukkan ke lumbung. Guna persediaan di musim paceklik. Semut mengajarkan gotong royong. Dan menabung di saat panen, menyisihkan hasil panen, lalu meludang lumbung di masa paceklik. Mungkin seperti kisah Nabi Yusuf saat dibuang di tanah Mesir, kisah yang mengajarkan teladan demikian.  

Hingga pada suatu saat dalam lintasan hidup kami, Bapak bunuh diri dengan menggantung diri di dahan pohon mangga. Ia terlilit hutang pada rentenir. Kegemarannya berjudi dan mabuk-mabukan, makin memperparah ekonomi keluarga. Ia lepas tanggung jawab dari tetek-bengek beban kehidupan, beban hutang yang seharusnya dipikulnya, dan kewajiban menafkahi anaknya yang berjumlah banyak, lebih dari sepuluh anak. Tepatnya, sebelas anak. Enam anak dari pernikahannya dengan Emak Pariyem. Lima anak, buah pernikahannya dengan Romlah, penjual sroto. Banyak anak, banyak rejeki, itu pepatah orang dulu.

Semua anggota keluarga sedang berkumpul di balai-balai rumah. Sembari slonjoran, sedangkan yang gemar merokok klobot kebal-kebul, pah poh. Rokok mengepul dari mulut. Seperti kukus tebal keluar dari cerobong pabrik. Kopi nasgitel, ketela rebus dan pisang goreng, tersaji di gelaran tikar pandan.

Semua yang ada di balai-balai tak lupa petuah bijak orang Jawa, mangan ora mangan waton kumpul. Orang jawa itu, selain narima ing pandum, juga ora tegaan. Manakala ada orang, sekalipun itu orang lain, menderita dikuya-kuya, disingkang-singkang wong liya, biasanya justru orang lain yang tidak terima. Orang lain yang akan membela.

***

Bagi orang kota, menderes nira adalah pekerjaan yang unik dan menarik. Apalagi jika dikerjakan seorang perempuan seperti Emak.

“Uh, fantastik” decak kagum orang-orang kota yang pernah datang ke dusun kami.

Very, very fantastic,” pekik turis bule yang ikut dalam rombongan tur wisata sembari memotret kejadian langka itu.

Hingga pada suatu waktu. Pada saat hujan. Di tengah hari. Emak memanjat pohon kelapa, untuk menderes butiran-butiran air nira di pongkor bambu. Bersanggul. Senjata bendo sejenis sabit terselip di belakang tubuh. Siap membabat tuntas manggar guna dipapral diambil legennya. Diponges agar air nira menetes deras. Pekerjaan ini, sudah menahun dilakoni. Selain, menyadap getah karet. Tentu saja butuh kesabaran, keuletan tersendiri. Kelihatan gampang, tapi sukar dikerjakan bila bukan ahlinya.

Ahli menderes nira. Menyadap getah karet. Menener ikan. Ngangsag padi hasil gepyokan. Tapi seperti peribahasa, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya gawal juga. Emak terpeleset jatuh dari puncak pohon kelapa, terbang bersama blarak, pelepah daun kelapa. Terbang bebas seperti Anoman. (*)

 

Purbalingga, 2020

LINTANG ALIT WETAN. Ini adalah nama pena dari seorang penulis kelahiran Purbalingga 13 Mei 1973. Alumnus IKIP Negeri Jogjakarta ini sekarang mengabdi sebagai PNS dan guru di kampung halamannya. Bukunya yang telah terbit antara lain antologi puisi “Lingkar Mata di Pintu Gerbang” (2015), selain sebagai editor “Perjamuan Cinta” (2015).

Arsip Cerpen di Indonesia