Cerpen Daisy Rahmi (Medan Pos, 27 September 2020)

Hatiku maju mundur. Mata terpaku pada benda persegi empat merah jambu di keranjang sepeda. Ingin aku buka dan membaca isinya tapi di saat yang sama ada bagian diriku yang melarang. Beberapa saat lalu seseorang memanggil dari belakang. Kuhentikan kayuhan di pedal sepeda lalu berpaling. Indah datang berlari. Sosoknya yang mungil terlihat kelelahan di bawah terik mentari.
“Ada apa?” tanyaku.
Indah berhenti di depanku. Setelah napasnya kembali normal, gadis remaja itu merogoh ke dalam tas yang disandang dan menyodorkan sesuatu.
“Tolong berikan pada Raka.”
Aku tatap benda itu. Sebuah amplop warna pink. Polos, tanpa nama pengirim mau pun tujuan. Detik berikutnya tatapanku beralih dari tangan Indah ke parasnya yang bersemu merah. Entah karena lari tadi atau malu.
“Berikan saja sendiri.”
“Jangan begitu, Fit.”
Indah melangkah maju. Ditaruhnya amplop tersebut ke keranjang sepedaku.
“Kamu kan sekelas dengan dia.”
Aku bergeming.
“Tolong, ya,” senyum Indah kemudian meninggalkanku tanpa menunggu jawaban.
Diriku belum beranjak sampai semenit setelah kepergian Indah. Tak juga bisa mengambil keputusan, kuraih amplop merah jambu tersebut, memasukkan ke tas dan melanjutkan perjalanan pulang.
Jarak dari sekolah ke rumah biasanya kutempuh 10 menit bersepeda santai tapi sekali ini butuh waktu lebih lama. Peristiwa tersebut masih terbayang sampai aku tiba di tujuan. Aku buka pagar, menuntun masuk sepeda sambil melamun dan baru tersadar setelah Mama menegur.
“Masuk rumah nggak salam.”
Aku meringis.
“Maaf, Ma. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Jangan jalan sambil melamun. Bahaya.”
“Baik, Ma.”
“Cepat ganti baju lalu bantu Mama menyiapkan makan siang. Papa sebentar lagi datang.”
Aku mengangguk.
Malam harinya aku siapkan pelajaran untuk besok. Di antara buku-buku yang kukeluarkan dari tas, terselip amplop yang dititipkan Indah. Sejenak kuamati benda tersebut, menaruhnya di meja kemudian melanjutkan aktivitas yang terhenti. Ponselku bergetar. Ada pesan masuk. Dari Indah.
Fit, jangan lupa berikan amplop itu pada Raka.
Kuabaikan pesan itu. Selesai beberes, aku beranjak ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Lima menit berselang aku kembali ke kamar. Cahaya lampu kuredupkan, membaringkan tubuh di tempat tidur dan menutup mata. Indah memang temanku, tapi harusnya tak dititipnya amplop itu.
Suara Bu Sita terdengar sayup di telinga. Fokusku lebih pada sosok di bangku depan kanan. Bukan hanya ketampanan yang membuat Raka jadi siswa populer di kelas, ia juga cerdas dan baik hati. Kepopulerannya merambah ke kelas-kelas lain. Sejumlah siswi jadi fansnya, salah satunya Indah yang menitipkan surat padaku.
“Fitri, maju. Selesaikan persamaan ini,” perintah Bu Sita.
Aku tersentak. Lamunanku buyar seketika. Seluruh kelas tampak menahan tawa melihatku terpergok melamun. Dengan muka merah padam dan salah tingkah, kuhampiri Bu Sita. Kumaki diri sendiri dalam hati. Matematika adalah bidang terlemahku tapi tetap saja kubiarkan pikiran mengembara.
“Tidak bisa?” tanya Bu Sita setelah sekian lama aku berdiri bengong di depan papan tulis dengan kapur di tangan.
Aku menggeleng.
“Ini akibatnya kalau tak kosentrasi saat belajar.”
“Maaf, Bu.”
Bu Sita menyuruhku duduk. Panas kembali menjalari wajah ketika tak sengaja bertatapan dengan Raka. Kupercepat langkah dan berlagak tak acuh.
Bel pulang sekolah berdering beberapa menit kemudian. Tanganku meraup buku-buku di meja, menjejalkannya ke dalam tas yang kemudian kusandang dan bergegas keluar. Langkahku melambat begitu tiba di parkiran sepeda, heran melihat Indah ada di sana. Kami berpandangan.
“Sedang apa, Ndah?” tanyaku, “Jemputanmu belum datang?”
Yang ditanya menggeleng.
“Aku menunggumu,” jawabnya muram, “Ada yang ingin kutanyakan.”
“Apa?”
“Raka nggak pernah terima amplop yang kutitip sama kamu minggu lalu!”
Aku bungkam.
“Kamu apakan suratku, Fit? Kamu buang? Kamu robek?”
Aku masih membisu. Mata tak berkedip tertuju pada gadis remaja di depan.
“Nggak kusangka kamu seperti ini, Fit. Aku kira kamu temanku.”
Masih kecewa dan marah, Indah berpaling dan lari menjauh. Kutatap sampai sosoknya hilang kemudian bersepeda pulang. Mama sedang menelpon ketika aku sampai di rumah. Aku lega. Setelah mengucapkan salam, aku menyelinap naik tangga sebelum Mama melihatku.
Aku masuk ke kamar. Amplop titipan Indah ada di laci meja belajar. Sambil duduk di tepi ranjang, kuamati benda yang kupegang. Jujur, aku iri pada Indah. Aku juga menyukai Raka, itu sebabnya tak kuberikan amplop itu. Peristiwa beberapa menit lalu membuatku sadar tindakanku picik dan bodoh. Haruskah pertemananku dengan Indah putus hanya karena seorang Raka?
Usaha minta maaf terbentur tembok. Indah menghindariku sejak hari itu. Berhari-hari aku mencari cara mengatasinya. Buntu, kuputuskan mulai dari Raka. Bagaimana pun dia juga terlibat dalam masalah ini. Dalam hati aku berharap Raka bisa membantuku bicara dengan Indah.
Mama berseru dari bawah.
“Cepat sarapan, Nak. Terlambat nanti.”
“Iya, Ma.”
Kubuka laci, meraih amplop merah jambu, menyelipkan ke dalam tas dan menuju ruang makan.
Sepeda yang aku kendarai tiba di gerbang sekolah bersamaan dengan keluarnya Indah dari mobil yang mengantar. Pandangan kami bertemu. Detik berikutnya Indah membuang muka dan bergegas berjalan ke kelas sebelum aku sempat menyapa.
Rasanya jam pelajaran kali ini lebih lama dari biasa. Aku ingin sekolah berakhir agar bisa bicara dengan Raka. Penjelasan guru terdengar bagai dengung di telingaku. Untung kali ini tidak ada yang memperhatikan.
Aku menunggu Raka di sudut jalan sebelum parkiran sepeda agar tak menarik perhatian. Sayangnya, kali ini ia tidak sendirian. Ada dua siswa bersamanya. Salah satunya membawa bola basket. Tak ingin menunda, kuputuskan menyapa.
“Raka, aku ingin bicara.”
Kemunculanku yang mendadak mengejutkan mereka. Dua teman Raka menatapku sejenak lalu melangkah pergi. Raka heran melihat sikapku yang serius.
“Ada apa, Fit?”
Kuhembuskan napas. Ini bagian tersulit.
Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah lebih awal dari biasa dan tiba sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Serombongan murid melintas di gerbang sekolah disusul satu dua siswa. Beberapa menit berselang yang ditunggu datang. Cepat kuhampiri Indah begitu ia turun dari mobil yang mengantar. Seperti biasa gadis remaja itu berusaha menghindar tapi kali ini aku bertekad tak membiarkan. Kuhadang langkahnya.
“Mau apa?” tanya Indah sedikit ketus.
“Hanya memberitahu suratmu sudah aku berikan pada Raka,” jawabku kemudian berlalu pergi.
Tanpa berkedip kupandangi langit-langit kamar. Suara televisi di lantai bawah terdengar sampai ke kamarku, tapi aku tak berniat turun. Pintu kamar diketuk diikuti suara Mama.
“Fit, boleh Mama masuk?”
“Masuk saja, Ma,” sahutku, “Nggak dikunci.”
Aku bangkit, duduk di tepi tempat tidur. Mama masuk lalu duduk di sampingku.
“Kenapa mengurung diri di kamar?”
“Kurasa aku patah hati, Ma.”
“Begitu? Mau cerita?”
“Nak, di usiamu sekarang ini patah hati adalah bagian proses jadi dewasa,” senyum Mama setelah aku selesai bercerita.
Mama tertawa melihat kebingungan di wajahku.
“Sudahlah. Ayo turun. Mama punya obat jitu untuk patah hati.”
“Apa itu, Ma?”
“Semangkuk besar es krim.”
Mataku berbinar.