Cerpen MZ Billal (Haluan, 27 September 2020)
DILETAKANNYA sepotong kertas putih yang telah ia isi dengan sebaris kalimat ajakan agar kau ingat dan bisa mempersiapkan diri sebelum waktu janji bertemu tiba, di sisi meja tempat kau biasa sarapan. Sebab belakangan kau mulai lupa pada beberapa hal.
Makanya ia cemas kau akan bertambah lupa. Tapi sebetulnya ia sangat maklum. Ya, setidaknya kau akan dibantu oleh perempuan yang selalu siap sedia bersamamu di rumah itu. Dia akan mengingatkanmu. Kau tahulah siapa dia. Perempuan itu akan membantumu berpakaian, yang tentunya akan membuatmu tampil lebih cantik dan elegan. Meski pada dasarnya kau telah memiliki kecantikan alami yang luar biasa. Bahkan tanpa riasan sedikit pun. Membuat perempuan itu kagum dan berharap dia bisa merawat kecantikan seperti itu.
Pukul 8 malam, jalan Cenderawasih. Di seberang depan AlMujahid.
Dan satu lagi, kau tidak perlu khawatir akan tersesat. Perempuan itu akan mengantarmu sampai ke tempat tujuan dengan aman dan selamat.
***
“Dia akan mengajakku ke mana, Salma?” tanyamu kepada perempuan berkerudung itu saat kau menyelesaikan sarapanmu. “Tumben sekali dia punya waktu. Apa aku sedang ulang tahun? Memang ada apa di depan AlMujahid? Hmmm… Al-Mujahid sebuah masjid, kan?”
Kau memberondongi perempuan yang sedang membereskan piring dan gelas sarapanmu itu dengan banyak pertanyaan. Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
“Iya, sebuah masjid. Tapi, dia tidak memberitahuku lebih. Hanya harus membantu bersiap-siap dan mengantarmu ke sana.”
“Kamu ikut juga, kan?” tanyamu lagi sambil berpikir, mendugaduga akan ada apa di sana.
“Tentu saja.”
“Anak-anakmu harus ikut juga, Salma. Aku tidak mau mereka ditinggal.”
“Itu pasti. Mereka akan ikut dan meramaikan.” Perempuan itu menjawab sambil tertawa kecil. Disambut senyum lebar olehmu.
Lalu perempuan itu membantumu beranjak dari kursi dan mengantarmu ke teras. Tempat kau biasa menghabiskan waktu pagi. Memandang bunga-bunga yang sedang mekar di kebun seraya mencoba memungut kembali kenangan masa lalumu yang begitu menyukai beragam jenis bunga.
***
Ia baru saja keluar dari tempat janji bertemu. Sengaja ia mampir pada jam rehat kerja. Sebetulnya ini sudah yang kedua kalinya. Ia hanya ingin memastikan bahwa semua sesuai yang ia pesan agar nanti acaranya memiliki kesan istimewa dan membahagiakan.
Kemudian saat duduk di atas sepeda motornya lagi, ia menelepon perempuan yang bersamamu di rumah.
“Aku sudah tidak sabar.” Ia berkata sambil tertawa kecil kepada perempuan berkerudung itu. “Aku tahu ini momen yang langka. Sepanjang waktu aku bekerja, aku sama sekali tidak berpikir untuk ini. Terima kasih sudah menyadarkanku.”
“Aku hanya mampu mengingatkanmu,” sahut perempuan itu. Suaranya terdengar ikut bahagia. “Dan tentu saja juga merasa bahagia karena kamu mau mendengarkan saranku.”
“Kamu memiliki kepedulian yang tinggi. Hatimu bekerja dengan sempurna. Baiklah, aku harus kembali ke kantor. Sampai nanti malam.”
***
Selepas Isya, perempuan itu mulai membantumu mengenakan pakaian gamis warna hijau tunas tanpa payet kesukaanmu. Ia sengaja membelikan baju baru itu untukmu agar kau malam ini tampil lebih anggun, meski sekali lagi, ia selalu yakin kau memang sudah begitu anggun. Ia bahkan selalu ingat bahwa kau suka warna hijau tunas dan lebih suka motif bunga sulaman ketimbang payet yang berkilap sebagai hiasan indah di bajumu, kendati tetap perempuan berkerudung itu yang memastikan ingatannya bahwa kau suka pada satu hal dan kurang tertarik pada hal yang lain. Perempuan itu bahkan kini jauh lebih paham apa-apa yang kau mau ketimbang ia.
“Rupanya ia masih ingat aku suka warna hijau tunas, ya. Aku terharu.” Kau mengelus lengan baju yang sudah kaukenakan, sementara perempuan itu mengenakanmu jilbab warna senada. Ada rasa rindu untuk kembali ke masa lalu, saat kau teringat pada seseorang yang begitu kausayangi soal warna yang kausukai itu.
“Tentu saja. Dia tidak pernah lupa, kok,” jawab perempuan itu. “Dia selalu berusaha sebaik mungkin mengingat apa-apa tentangmu.”
“Tapi, kamu tahu kan Salma, dia selalu sibuk. Kadang aku begitu rindu berada di dekatnya dan bercerita banyak. Aku sempat merasa bahwa dia telah banyak berubah.” Wajahmu berubah murung. “Bersyukur kini ada kamu dan anak-anakmu yang menemaniku.”
Perempuan itu lantas tersenyum seraya memeluk dan mengecup pipimu. Hingga kau ikut tersenyum lebar dan menepuknepuk pelan pipi perempuan yang kini mengenakan kerudung hitam.
“Kami akan selalu ada. Sampai kapan pun.”
***
Dari masjid Al-Mujahid, usai menunaikan Salat Isya, ia langsung berputar arah kembali ke tempat janji bertemu. Jalan dua arah malam ini tampak lebih sibuk. Setidaknya dia butuh lima belas menit untuk sampai ke tempat yang sebenarnya berada persis di seberang depan AlMujahid tadi.
Dan setelah memarkir sepeda motornya, ia langsung pergi ke meja yang sudah ia pesan. Di sana ia sudah disambut ramah oleh seorang perempuan muda berkerudung yang merupakan pelayan di tempat itu.
“Silakan duduk, Pak.”
“Iya, terima kasih.”
“Anda sendirian saja? Bukankah Anda memesan banyak menu malam ini?”
“Ah, tidak. Sebentar lagi mereka datang, kok. Saya sengaja menunggu di sini sepulang kerja. Sekali lagi, terima kasih ya.”
Pelayan berkerudung itu tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya di dada dan berlalu meninggalkannya untuk menyambut pelanggan lain yang baru datang. Dan sembari menunggu, ia mengetik pesan pendek untuk perempuan yang sekarang bersamamu di dalam mobil yang sengaja hari ini tidak ia pakai untuk bekerja.
Hati-hati. Aku sudah sampai.
***
Mobil yang dikemudikan oleh perempuan yang selalu bersamamu telah sampai di depan tempat janji bertemu. Sepanjang perjalanan kau bahagia. Bercerita banyak hal kepada sepasang anak kembar yang duduk di kursi belakang. Mereka menyukai cerita-ceritamu. Dan sesekali kalian tertawa bersama. Bahkan saat turun dari mobil pun dua anak kembar berusia delapan tahun yang menggemaskan itu membantumu. Mereka mewarisi sifat ibunya yang baik hati dan penyayang.
“Terima kasih, Hasna dan Husin.” Kau mengusap kepala mereka sambil memandang ke banyak arah. Melihat bangunan besar dengan dinding kaca dan bertabur cahaya lampu. Yang di dalamnya banyak sekali orang duduk mengitari meja-meja. Terlebih saat kau mendongak ke atas. Melihat papan nama tempat itu. Kedai Zam-Zam. “Salma, bukankah ini rumah makan?”
“Benar. Ini restoran Timur Tengah. Dia ingin kita ke sini.”
“Untuk apa? Aku tadi sudah makan, meski sedikit.”
“Katanya, kita harus menikmati malam ini bersama. Ayo, kita masuk!”
Kepalamu masih berisi pertanyaan, tapi kau memilih untuk ikut saja. Dituntun oleh perempuan yang setia kepadamu. Sementara itu di dalam restoran itu ia sudah sangat tidak sabar menunggu kedatanganmu.
***
Ia menyambut kedatanganmu dengan sebuah pelukan hangat dan membantumu untuk duduk. Kau tersenyum karena akhirnya kau mendapat pelukan itu darinya.
“Hasan? Apa kamu yang merencanakan ini?”
“Iya. Aku yang menginginkan ini. Salma membantuku agar semuanya berjalan baik. Dan betapa bahagianya aku karena akhirnya Ibu mau datang ke sini. Memenuhi ajakanku makan malam. Makan malam romantis. Untuk kita.”
Matamu lantas berkaca-kaca. Senyum terus mengembang di bibirmu. Kau pasti tidak menduga bahwa anak lelakimu yang selalu sibuk dengan pekerjaannya telah membuat sebuah kejutan yang spesial dibantu istrinya yang baik hati. Perempuan berkerudung yang selalu setia bersamamu, mengurusmu tiap hari di rumah. Kau dibawa keluar rumah, memamdang jalan kota yang penuh lampu saat malam hari dan menikmati hidangan istimewa di restoran Timur Tengah.
“Terima kasih, Nak. Terima kasih telah punya waktu untuk Ibu. Ah, andai ayahmu masih bersama kita.”
Ia mengangguk dan istrinya yang duduk di sebelahmu mendekap tubuhmu dari samping. Hatimu seperti taman bunga pagi hari yang sejuk dan indah untuk dipandang.
“Kamu juga, Salma.” Suaramu lirih, terharu.
“Salma telah menyadarkanku, Bu. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi,” katanya saat beberapa pelayan datang membawa hidangan yang ia pesan. “Mari kita makan! Hasna, Husin, jangan lupa berdoa, ya.” Kedua anak kembar itu lantas tertawa.
***
Suatu petang, selepas maghrib, saat ia pulang kerja. Ia mendapatimu tidur dalam posisi duduk di sofa, sementara televisi masih menyala. Perempuan berkerudung yang selalu bersamamu masih sibuk mengurusi anak-anaknya di kamar. Jantungnya seketika berdebar. Ada sesuatu yang menjalar dari hatinya ke seluruh tubuh. Perasaan yang barangkali disebut orang-orang sebagai rindu. Harihari yang ia habiskan dengan bekerja sampai membuat ia lupa bahwa ada kau yang ternyata selalu duduk menanti kepulangannya.
“Setiap hari ia selalu menunggumu. Aku sudah bilang, kau pulang selepas Isya. Tapi ia bilang mau menunggumu sambil nonton televise,” kata Salma saat muncul.
Ia membisu sesaat. Menunduk dan merasakan sebuah dosa menjelma sebongkah batu besar yang menghantam dadanya. “Salma, aku ingin mengajak ibu ke suatu tempat besok.” ***
.
.