Cerpen Maya Sandita (Pikiran Rakyat, 10 Oktober 2020)
KAMAR yang baru kuhuni ini berlantai kayu dan berdinding papan. Jumlah kamar yang seatap dengan bangunan reyot ini ada sembilan. Aku di kamar paling terakhir. Di sebuah kamar yang katanya; penghuni sebelumnya diusir sebab tiba-tiba pandir. Aku tak jadikan itu beban yang mesti dipikir.
Pada suatu pagi yang dingin di hari Senin, semua sudah sibuk memulai rutinitas dan diikuti bayangan kerja menumpuk yang terlihat di punggung mereka yang bungkuk.
Aku menyendiri di kamar, menulis sembari lagu kesukaan pelan kuputar. Sebelum akhirnya ada suara lain dari kamar sebelah, persis di samping kamarku letaknya.
Derit lantai kayu bisa kudengar. Tidak samar-samar. Jelas. Lalu kudengar air dituangkan ke gelas.
“Aku tidak sendirian?” kataku sendiri, pelan.
Kuhentikan mengetik esai. Kubiarkan telingaku terbuka di balik rambut yang tergerai. Terdengar kuas yang menari-nari di atas kanvas. Sesekali terdengar juga suara napas dan hembusan asap rokok yang kutebak tak berkapas.
Aku keluar. Duduk di beranda di depan kamar. Kubawa secangkir kopi yang kuseduh tadi. Tidak ada kursi. Aku duduk di lantai kayu dan tiang kujadikan sandaran punggungku.
Kurasakan seseorang menginjak papan di belakang. Seorang lelaki sedang menutup pintu memunggungiku. Dari balik punggungnya tidak ada beban karyawan atau buruh pabrik seperti yang tadi pagi kusaksikan. Punggungnya warna-warni. Beberapa cat air dan lainnya cat minyak. Warnanya sangat banyak.
“Boleh bergabung?” tanyanya.
Aku beringsut. Memberi luang padanya untuk duduk dan bersulang.
“Kuharap kau tidak takut padaku. Aku hanya mau berteman denganmu. Namaku Dali,” ia berkata tanpa mengulurkan tangannya.
“Lisa,” aku mengerenyitkan dahi.
“Aku tak pintar berteman, tapi aku berharap kau bisa menerimaku sebagai temanmu.”
“Kau tidak bekerja?”
“Tidak, tapi aku sibuk.”
Kulihat cat air di tangannya. Apa yang membuatnya sibuk tak lagi perlu kutanya.
Sering kami duduk berdua di beranda. Ia melukis dan aku menulis.
Ini pekan kedua. Tiba-tiba Dali tak ke luar lagi dari kamarnya. Aku tahu dia di sana. Lantai kayu di kamarku juga akan bergerak jika papan di kamar sebelah sedang diinjak. Kuas dan kanvas masih terdengar saling bergesekan. Hembusan napasnya makin berat saja kudengarkan.
“Sera? Halo.”
Kudengar ia sedang menelepon.
“Aku mengerti. Tapi lukisanku belum ada yang membeli. Kumohon bersabarlah sebentar lagi. Aku berkata apa adanya bahwa aku tak punya sesiapa selain kau saja. Aku tidak sedang main-main dengan wanita.”
Bicaranya kudengar penuh kesal dan sesal. Nadanya lemah tapi sungguh-sungguh dipenuhi gelisah.
“Sera, jika kau butuh jari manis untuk percaya aku takkan mengisinya dengan cincin siapa-siapa, kutitipkan jariku padamu. Lagipula siapa yang mau mencintaiku sepertimu?”
Ini tidak sopan. Tapi maksudku bukan demikian. Dali bagiku adalah teman. Jika bisa kubantu akan kuusahakan.
Aku berdiri, menuju pintu, dan berniat mengetuk kamar sebelah.
Tapi tiba-tiba kudengar sesuatu berdetak. Sesuatu dipotong dan seseorang berteriak.
“Dali?” aku menutup mulutku. Aku terduduk di balik pintu.
Teleponku berdering. Aku kembali masuk ke kamar dan melihat sebuah pesan masuk dari nomor asing. “Aku Sera. Bisakah kau berhenti duduk dengan Dali di beranda? Aku tak suka.” Demikian isinya.
Selang dua hari di suatu pagi, lantai kayu kembali berderak beberapa kali. Dan telingaku menangkap suara Dali. Lagi.
“Halo?”
Dali menelepon dari balik dinding papan yang membatasi kamar delapan dan sembilan.
“Sera, katakanlah apa saja. Aku akan dengarkan. Jika kau tak mau aku dengarkan sesiapa kecuali kau, kedua telingaku kau terimalah di tempat biasa kita bertemu.”
Aku tak berharap suara derak dari sesuatu yang dipotong kudengar lagi, atau Dali yang berteriak lagi-lagi mampir di telinga dan badanku akan lemas sekali.
Dan harapan hanya harapan yang tak terjadi.
Esai keenam rampung hari ini, cerpen dan puisi sudah kukirim juga beberapa. Aku sedang tidak menulis berita, karena tidak ke mana-mana.
Kuseduh segelas kopi pahit di cangkir minimalis. Lagu Banda Neira kuputar dan menjadi teman sementara bayangan rumah sesekali membuat kepalaku butuh bersandar. Malam kulewati tanpa kelip kunang-kunang atau cahaya bintang yang berpendar.
Aku teringat Dali. Aku rindu teman baruku itu barangkali. Seorang pelukis yang punggungnya warna-warni.
Lagu Banda Neira terus mengalun.
“Jika kau tak percaya aku tak pernah main gila dengan lain wanita, kau boleh mengambil kelaminku, simpan sampai nanti kaupikir itu bisa jadi berguna buatmu. Kau boleh, Sera. Kau boleh ambil semuanya.”
“Dali!” Tubuhku tersentak maju dan tanganku sontak melempar cangkir yang tadinya dalam genggamanku.
Kopiku tumpah. Nyaris mengenai laptop yang kutaruh di samping selimut merah.
Gegas aku ke luar dan kuketuk pintu kamar Dali berkali-kali. Tidak ada sahutan balik sama sekali. Pintu kamar Dali dikunci. Mendobrak rasanya aku ingin sekali. Tapi aku tak punya cukup energi.
Seorang penghuni kamar pulang lebih awal dari yang lain. “Kak Lisa? Sedang apa?”
“Dali tidak di kamar?” tanyaku begitu saja.
Wanita itu tidak menjawab. Malah melihat saja lalu meninggalkanku dan masuk ke kamarnya.
Aku kembali memanggil Dali, tapi semakin geram. Mataku berusaha mencari celah untuk mengintip ke dalam.
Kutemukan celah kecil. Mataku menangkap sebuah kamar warna-warni. Dari langit-langit cat menetes, dari dinding-dinding cat merembes, seluruh kamar penuh dengan lukisan-lukisan yang belum beres. Aku menemukan itu semua, tapi tak ada siapa pun di sana. Mataku terus saja mencari. Padahal kamar itu kecil sekali. Bagaimana bisa aku tak menemukan Dali?
“Lisa?” seorang lain menyapaku. “Sedang apa?”
“Apa kau juga tidak tahu kalau ada seorang lelaki bernama Dali tinggal di kamar ini? Dia sudah memotong jarinya, telinganya, kelaminnya. Dia…”
Belum lagi kuselesaikan ucapanku semua, lelaki tadi juga hanya menatapku sebentar lalu masuk ke dalam kamar.
“Sialan!”
Kuputuskan kembali ke kamar. Menyandarkan kepala dan menutup mata yang sudah agak nanar.
Belum lagi aku tertidur benar, sesuatu merembes dari dinding, menetes dari langit-langit. Warna-warni. Kamarku seperti kebanjiran. Aku tahu tapi tak bisa beranjak darimana tubuhku tergeletak. Cat itu semakin banyak. Penuh. Memenuhi kamarku dan aku merasa sesak. Aku tenggelam. Telingaku terbenam. Tersisa mata dan puncak hidung saja. Hampir tak ada celah untuk masuk udara. Dadaku seperti akan meledak.
Kepalaku terbentur dinding kamar sebab kejut barusan. Kulihat di kamarku tidak ada apa-apa. Tidak ada cat yang merembes dari dinding kayu atau langit-langit itu.
Kucoba cari kegiatan. Berusaha menenangkan diri sendiri bahwa kejadian ini bukan kenyataan. Kubuka laptopku dengan niat menulis sesuatu. Seketika aku menerima pesan baru. Beritaku dimuat dan honor sudah ditransfer.
“Sebentar. Berita?”
Kubuka bagian Pesan Terkirim. Kudapati satu berita di sana yang kutulis dan kukirim sendiri. “Seorang Pelukis Memutilasi Diri Sendiri di Rumah Liar Kota Besar”, Sabtu (26/4).
Aku bergegas ke luar kamar. Mendobrak kamar delapan yang masih saja terkunci. Entah darimana aku punya tenaga sebanyak ini. Kudapati kamar yang penuh cat dan jorok sekali. Ujung sebuah belati tampak dari atas lemari. Di sana juga ada sebuah lukisan berwarna merah. Darah.
“Lisa,” sebuah suara menyapa.
Aku menoleh, wanita dalam lukisan itu di hadapanku.
“Masih betah tinggal di kos ibuku?”
Aku gelagapan. Matanya menunjukkan bahwa ia sedang marah dan itu menyeramkan.
“Aku Sera. Bisakah kau ke luar dari kamar Dali sekarang juga? Aku tak suka.” ***
.
.
Batam, 19 Desember 2019
Maya Sandita, sutradara, aktor, dan penulis. Alumnus Prodi Seni Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang (2019). Beberapa cerpennya diterbitkan dalam antologi dan tersebar di media cetak lokal dan nasional. Peraih juara ke-1 “Lomba Menulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau” tingkat provinsi (diselenggarakan Disbud Sumatra Barat). Kini berdomisili di Batam.
.
Pelukis di Kamar Sebelah. Pelukis di Kamar Sebelah. Pelukis di Kamar Sebelah.