Cerpen Eri Setiawan (Radar Banyumas, 11 Oktober 2020)
SETELAH sepekan terbaring lemas di kamarnya, seorang pria tua bertubuh kurus kini kondisinya sedikit membaik. Ia mencoba mendudukkan badan, lalu perlahan-lahan mengangkat tubuhnya. Mencoba berdiri sekuat tenaga. Menapakkan kedua kakinya tanpa ragu. Setelah itu berjalan ke arah sebatang suling bambu yang tergeletak di meja dekat pintu. Diambilnya suling itu, lalu sejenak ia pandangi. “Sudah satu minggu engkau kubiarkan tergeletak di sini. Sudah saatnya kita bermain lagi.”
Begitulah keesokan harinya ia memutuskan kembali mencari penghidupan, meski wajahnya masih tampak pucat. Kalau ditanya orang-orang sekitar, ia pun masih menjawab dengan nada gemetar dan sedikit terbata-bata. Namun, intinya, ia percaya bahwa tubuhnya akan berangsur sembuh dan sakitnya tak akan kambuh dalam waktu dekat.
Kereta Logawa yang baru saja membunyikan klakson melewati jalur persimpangan. Dari belakang, anak-anak kecil berlari mencoba mengejar ekor kereta sambil berteriak-teriak tidak jelas, lalu tak beberapa lama, langkah kencangnya terhenti dengan nafa terengah-engah. Kemudian mereka tertawa sambil mengelap keringat di dahinya.
“Jangan main-main di rel, Nak. Bahaya!” si orang tua itu muncul menegur.
“Tenang saja kami hati-hati, Ki. Aki mau ke mana?”
“Saya mau ke pasar. Biyung tuamu sudah berangkat, Ndar?”
“Sudah pagi-pagi sekali, Ki. Mau saya antar, Ki?”
“Tak usah, Ndar. Pulanglah sana. Bahaya di sini. Kereta tak seperti bus yang bisa berhenti kapan saja. Pulanglah. Ajak juga teman-temanmu.”
Anak-anak itu akhirnya menuruti apa yang dikatakannya. Mereka pun berlari. Mulutnya mengoceh, sahut-menyahut dipenuhi teriakan. Kemudian menjauh dan menghilang. Sementara si lelaki tua itu melanjutkan perjalanan setelah sejenak memandangi anak-anak itu berlari dengan sangat bahagia.
***
Sekitar pukul sembilan pagi, ia sudah berdiri di mulut pasar. Seraya menghela napas, kedua matanya mondar-mandir mencermati sekeliling. Ia mengamati setiap calon pembeli; tua muda, tinggi pendek, hitam putih, kurus gemuk, kaya miskin, yang semuanya berurutan masuk ke pasar. Ia pun lantas perlahan memasuki pasar. Tak ada yang berubah. Tetap ramai seperti suasana sepekan lalu, bulan lalu, bahkan tahun lalu. Penjual baju, penjual ayam, penjual sayur, penjual buah, hingga penjual jamu di pojok kiri masih terlihat kegirangan melayani para pembeli. “Sepertinya, aku mulai dari sini saja. Dari bakul ayam yang kelihatannya sedang tak begitu sibuk,” ungkapnya dalam benak.
“Aki Rohyani? Lama sekali tak kemari, Ki. Sungguh, sudah lama saya nanti-nanti. Sampai-sampai sudah terkumpul begini,” ungkap perempuan paruh baya yang sedang lincah memotong ayam boiler pesanan pembeli.
“Sudah tua begini, tubuh sudah sulit diajak bekerja lebih keras, Sri. Sungguh berkah tak terduga, pagi ini saya mampu kemari setelah beberapa hari roboh. Tandanya Tuhan masih mau memulihkan saya. Sampeyan yang masih kokoh, perbanyak syukur. Nyuwun keselamatan pada Gusti Allah,” begitulah cara lelaki bernama Rohyani berkata-kata pada penghuni pasar.
“Nggih, Ki, maturnuwun. Saya juga sangat bersyukur karena bisa melihat Aki hari ini,” bisiknya sambil tersenyum lebar.
“Saya masih boleh main suling di sini, Sri?”
“Walah, walah. Justru itu yang paling saya tunggu-tunggu dari kemarin, Ki. Bengawan Solo ya, Ki!” ungkapnya dengan senang hati.
Bengawan Solo pun mulai dikumandangkan. Orang-orang itu, pedagang maupun pembeli, mulai menyadari bahwa seorang tua yang dinantikan kini kembali. Semuanya tampak senang, tak terkecuali si lelaki tua itu sendiri. Dari sorot matanya, sedikit demi sedikit mulai ada kebahagiaan yang menyembul. Mungkin karena ia dapat melihat lagi kebahagiaan orang-orang dekatnya serta dapat memainkan kembali suling kehidupannya.
“Ki, ini upah yang saya kumpulkan selama seminggu buat Aki,” Sri menyodorkan beberapa lembar uang lima ribuan. Sontak ia terkejut. Tak mengira bahwa wanita janda itu sangat baik padanya. Namun, entah bagaimana lelaki tua itu justru menolak menerimanya. Ia berkata bahwa hari ini tak ingin menerima upah. Sri yang menjadi heran, terus saja memaksa. Tetapi lelaki tua itu bergeming menolaknya.
Berjalan lagi ia menuju pedagang lain. Perlahan-lahan ia memasuki lorong-lorong pasar. Berulang kali memainkan sulingnya dengan lihai di depan para penjual dan pembeli. Mengiringi irama sahut-sahutan mereka yang sedang asyik menawarkan dan menawar barang maupun bahan. Kalau nafas hampir habis, ia berhenti sejenak. Menghirup udara pelan-pelan, berulang-ulang, lalu ia embuskan perlahan-lahan seraya tersenyum, tanpa beban. Kalau napas dirasa sudah nyaman, ia akan mainkan kembali nada-nada penuh makna itu. Nada-nada yang membuat orang-orang pasar selalu merindukannya.
Lagi-lagi ia tak mau menerima upah dari para pedagang dan beberapa pembeli yang sudah sejak awal menyiapkan beberapa rupiah. Tampak, ia hanya mau menerima sebungkus roti dan air mineral kemasan dari seorang pedagang jajanan untuk mengisi perut yang sejak pagi belum diisi. Meskipun langkah makin pelan, wajah makin pucat, dan kedua matanya kentara lelah, Ki Rohyani terus saja bersikeras menghibur hati dan telinga orang-orang. Sebab dengan begitu, ia bisa merasakan sedikit kebahagiaan yang terus mengalir di sungai batinnya, apalagi ketika para pedagang yang disinggahinya tersenyum dan senang hati.
“Larisan, larisan. Syukur, syukur.”
“Walah, walah, ada Ki Rohyani. Sudah sehat, Ki?”
“Alhamdulillah. Maturnuwun, waktu itu sudah mau mengetuk gubuk saya.”
“Saya yang harusnya berterima kasih, Ki. Aki sudah sering membantu saya melayani pembeli.”
“Ah, bisa saja. Oh iya, Sum. Bagaimana kabar anak dan istrimu?”
“Alhamdulillah, Ki, Tuti sehat. Dan, ada kabar baik juga dari Tinah. Dia dapat beasiswa dari sekolah.”
“Alhmadulillah. Saya turut berbahagia mendengar itu. Ya sudah, semoga selalu laris daganganmu,” ucapnya sambil perlahan meneruskan perjalanan.
“Amin. Aki…. tunggu!” ungkapnya seraya menyodorkan dua lembar uang lima ribuan.
“Tidak usah! Pakailah saja uang itu untuk tambah-tambah jajan anakmu, Sum.”
Sepertinya, pasar baginya bukanlah sekadar tempat mencari sesuap nasi. Ia yang sebatang kara sejak sepeninggalan istrinya dan anak perempuannya yang tiba-tiba pergi bersama suaminya, memang acap kali merasa sepi sehingga para pedagang itulah dianggapnya sebagai sanak saudara. Kalau ada pedagang yang kewalahan, ia seringkali membantunya. Ketika dikasih upah, ia sangat jarang menerimanya. Sesekali memang ia terima upah dari pedagang yang dibantunya, namun itu jika benar-benar membutuhkan, misal untuk biaya berobat atas penyakitnya.
“Saya bantu, Yu! Sepertinya sedang repot sekali.”
“Loh, Ki Rohyani!” Yu Narti sedikit terkejut atas kedatangan lelaki tua itu. Dikiranya ia benar-benar sudah pensiun karena akhir-akhir ini sering sakit-sakitan.
“Tadi saat perjalanan kemari, saya suruh pulang cucumu, Yu. Pagi-pagi sudah keluyuran. Lari-lari ngejar Logawa,” ungkapnya usai mengisap sebatang kretek.
“Begitulah kalau libur sekolah. Sejak bapaknya meninggal dan mbarep saya, Sumi, kerja di salon, mana bisa tiap detik mengawasinya.”
“Ya sering-seringlah diopeni, Yu. Jangan seperti saya. Kalau melihat anak-anak seusianya, saya sering bertanya-tanya sendiri seperti apa cucu saya sekarang. Apakah ia sudah sebesar Ndaru? Apakah ia sekarang juga sedang lari-lari tanpa beban…”
Yu Narti sangat memahami bagaimana perasaan lelaki tua itu. Ia yang hidup seorang diri pastilah memendam kesepian. Kerinduan pada sang cucu hanyalah sebagian beban dari masa tua yang dijalaninya.
Usai menghabiskan teh manis dan sebatang kretek di warung Yu Narti, Aki Rohyani pun melanjutkan langkahnya meski mulai terhuyung-huyung hingga sampailah di lapak ujung pasar. Di lapak ini, seperti biasa, sambil duduk Ki Rohyani mengalunkan irama sulingnya. Setelah tiga hingga empat lagu, seperti biasa ia berhenti untuk menumpang shalat, lalu tidur sejenak melepas lelah….
***
Sore menunjukkan hampir sandekala. Kereta Logawa yang baru saja membunyikan klaksonnya tampak melewati jalur persimpangan. Dari belakang, anak-anak kecil berlari mencoba mengejar ekor Logawa sambil berteriak-teriak tidak jelas. Hingga akhirnya langkah kencang mereka terhenti, setelah melihat seorang tua tergeletak lenyai di tepian lintasan kereta dengan tangan menggenggam sebatang suling di atas dadanya. ***
.
.
ERI SETIAWAN. Lahir 23 Januari 1993 di Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara. Hingga kini bermukim di desa kelahirannya. Alumni Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini juga pegiat Komunitas Penyair Institut (KPI). Saat ini bekerja sebagai pengajar SMAN 1 Purwanegara.
.
Sebatang Suling di Dada Seorang Tua. Sebatang Suling di Dada Seorang Tua. Sebatang Suling di Dada Seorang Tua.