Ombak Bergemuruh di Perut Ibu

Tiga bulan lebih dua hari setelah keberangkatan ayah ke daerah timur, ibu mengalami hal aneh. Kepalanya selalu pening, bahkan ia meminta hal yang macam-macam. Mulai dari nasi uduk campur pisang goreng sampai buah mangga dengan cocol kecap manis dan sedikit tomat. Kakek dan nenek tidak bertindak banyak, sebab dari kecil ibu memang aneh, meski ia pintar. Ibu hanya menceritakan kepada mereka bahwa di perutnya seperti terdapat gemuruh dan ombak besar. Malam-malam kadang ombak dan gemuruh itu memaksa keluar dari mulut ibu. Nenek dan kakek tidak mungkin mempercayainya, hari ini mana mungkin ada ombak dalam perut orang dewasa.

“Itu perutmu cuma lapar, Nduk,” bisik nenek disertai tawa kakek.

“Lapar ya lapar, Bu, ini beda, seperti orang yang hendak muntah.”

“Paling cuma pening dan kurang istirahat,” kakek selalu menyelak.

Tapi memang benar di perut ibu, katanya, sungguh mirip dengan gemuruh. Ibu takut kalau terjadi badai laut yang besar di dalam tubuhnya. Tentu ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan membayangkan usus-ususnya dihantam ombak-ombak itu. Yang paling mengerikan kalau tiba-tiba di tengah ombak itu terdapat kapal-kapal yang mengembangkan layar. Betapa hancur usus dan seluruh organ di dalam tubuh ibu. Ia hanya bisa pasrah dan tidak bercerita apa-apa selain memang gemuruh yang terus diceritakannya pada kakek dan nenek.

“Atau mungkin ibu panggilin Bi Sum agar kamu diperiksa. Siapa tahu kamu sedang sakit dan butuh diobati.”

Ibu menggeleng dan pertanda ia memang tidak mau diperiksa. Berbulan-bulan gemuruh di perut ibu semakin mengembang dan kencang. Sekali-kali disertai hantaman yang kencang pada perut bagian dalam. Desir dalam dada ibu semakin kencangpula. Bukan-bukan. Itu detak jantung, tidak ada hubungannya dengan ombak dan gemuruh di perutnya. Ketika ibu berusaha menghubungi ayah, jawab ayah malah tidak disangka. Ayah menyangka kalau ibu sedang hamil anaknya. Itu benar. Tetapi, ibu terus-terusan menolak dibilang hamil. Perutnya sama sekali tidak kelihatan membuncit di balik dasternya yang kebesaran. Degupnya semakin kencang, mana mungkin ia hamil sementara ayah sudah tiga bulan tidak di rumah.

Kepalaku yang bentuknya tidak sempurna dan sedikit penyok bukan tanpa sebab. Sobekan kecil di ujung pelipis juga tercipta bersamaan dengan kepalaku ini. Beruntung mataku tidak buta sebab benturan keras itu. Dua hal cacat ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa aku memang terlahir di toilet. Ibu yang berjongkok, sebelum akhirnya melebarkan kedua kakinya. Kloset berbahan porselen berwarna putih bercampur cokelat kotor seketika berubah merah. Darah mengucur deras dari tubuh ibu bagian bawah. Tidak ada siapa-siapa di sana, nenek sibuk menyicipi masakan di depan kompor untuk sarapan pagi. Memang menjadi kebiasaan ibu, saban pagi berjongkok di atas kloset untuk membuang isi perutnya. Tetapi, hari itu benar-benar berbeda, tidak hanya tinja yang keluar, anak manusia terjun bebas bersamaan dengan kotoran berwarna kuning kunyit.

“Hampir saja kau mati, tubuhmu sudah penuh tahi. Matamu jelas kelilipan dan tulang di kepalamu yang lunak sudah tentu mengalami retak setelah hantaman yang keras. Separuh wajahmu penuh darah yang mengucur dari ujung alis.”

Nenek tentu terkejut, bagaimana mungkin dari toilet yang hanya cukup untuk satu orang bisa menimbulkan suara tangisan. Tidak menunggu lama, nenek menyuruh kakek untuk mendobrakan pintu yang memang tidak dikunci dan hanya ditutup rapat-rapat. Tubuhku tergolek dengan mulut menjerit di bawah paha ibu. Sementara ibu, ia kehabisan tenaga seperti prajurit sesaat setelah pertempuran Badar. Nenek mengambil aku, kakek membopong ibu. Beberapa hari sesudah itu, ibu tidak dibiarkan keluar dari dalam kamar. Ia selalu menemaniku yang sering terlelap dan sekali-kali mengobati luka di ujung pelipisku.

Beruntung, nenek punya ponakan yang jadi bidan, Bi Sum. Ia satu-satunya orang yang dipanggil saat itu. Kakek meminta agar Bi Sum memeriksa ibu kemudian aku. Tidak lupa, kakek juga meminta agar Bi Sum tidak menceritakannya pada siapa-siapa, termasuk suaminya. Bi Sum juga teman kecil ibu dan sering berangkat sekolah bersama-sama. Namun, nasib memang tidak selalu sukar ditebak. Bi Sum melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, sementara ibu memilih menikah dan bergelut di dapur.

Andai ibu mau melanjutkan ke perguruan tinggi tentu ia sekarang sudah jadi bidan juga sebagaimana Bi Sum. Mereka punya cita-cita yang sama dari sejak sekolah dasar. Dahulu tidak ada taman kanak-kanak, ibu dan Bi Sum langsung masuk sekolah dasar. Jika ibu menjadi bidan, tentu aku tidak lahir di kloset yang kotor dan—mohon maaf—menjijikkan itu. Tentu aku akan terlahir di ruangan sebuah rumah sakit yang dipenuhi bau obat-obat. Itu lebih mulia daripada lahir dengan tubuh berlumur tinja.

Ibu menikah dengan salah seorang tentara, itu ayahku, yang bertugas mengamankan negara. Sebelas bulan sebelum aku terlahir di toilet, ayah diutus untuk mengamankan daerah yang jauh di timur. Di sana, ayah melawan kelompok separatis yang memberontak kedaulatan negara. Ayah melawan mereka yang menggunakan senjata tajam dan beberapa pedang mengkilat. Tentu, menurut pikir orang waras, tentara akan menang dengan senjatanya berupa muncong senapan. Sekali pelatuk ditarik, habis kepala mereka.

Bukan menang, nasib buruk justru menyerang ayah sendiri. Moncong senapannya tumpul dan tidak berguna apa-apa. Setelah pelatuk ditarik, peluru tidak keluar sama sekali. Memang sial, justru kepala ayah nyaris putus kena sebetan pedang mereka. Ibu mengetahui pagi hari setelah di koran pagi memajang foto ayah di pojokan dan keterangan kejadian nahas itu. Bersama tujuh orang lainnya ayah justru dimakamkan di makam pahlawan atas izin keluarga, tentunya. Ibu tidak melihat terakhir kali wajah ayah yang memejamkan mata erat. Hanya tangisnya yang berhari-hari semakin panjang mengisi rumah. Seisi rumah berusaha untuk menenangkan. Beberapa orang utusan pemerintah juga mendatangi rumah untuk memberikan beberapa tumpukan uang sebagai biaya dan penghormatan negara pada ayah. Sama sekali itu tidak membuat ibu senang. Malahan, ibu memaki-maki mereka sebelum akhirnya kakek dan nenek meminta maaf pada utusan negara itu.

Seperempat jam sebelum aku terlahir, gemuruh di perut ibu semakin kencang bahkan lebih kencang dari biasanya. Ia selalu ke wastafel memuntahkan sesuatu dari tenggorakannya yang diduga berasal dari gemuruh ombak itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk berjalan pelan-pelan ke toilet belakang. Dari kamarnya memang lebih dekat ke toilet belakang daripada kamar mandi yang digunakan bersama-sama seisi rumah. Ibu duduk di kloset sebagaimana orang buang hajat pada umumnya. Ia turut membayangkan hal-hal aneh.

Di kepala ibu terdapat gambaran ayah mati di medan pertempuran dengan kepala hampir putus. Sementara mata ibu kembali berkaca-kaca mengingat suaminya yang sudah mangkat ke alam jauh. Ibu juga membayangkan bahwa kedua orang tuanya, kakek dan nenek, meninggal dalam waktu dekat dan ia hidup sendirian di rumah ini. Bayangan-bayangan itu mengikuti tinja yang berjatuhan ke lubang kloset dan mengambang dalam air.

Sampai, terbersit di kepala ibu dan teringat pada kejadian di sebuah malam, kira-kira jam dua belas kurang sepuluh menit. Seorang lelaki membuka pintu kamarnya yang memang tidak terkunci. Lelaki itu membekap mulut ibu dengan tangan kanannya. Sementara tangan yang kiri menyingkan rok ibu sesudah mendaratkan hantaman di pipinya. Tiba-tiba ingatan ibu dibuyarkan dengan tangisan dan tubuhku yang keluar separuh. Seolah-olah aku berkata, lelaki itu kakekku, lelaki itu kakekku! Tetapi ibu mana mungkin paham bahasa bayi yang bercampur tahi dan bau sepertiku. ***

Arsip Cerpen di Indonesia