Mata ibu berkaca, ada samudera bening mengantung, menyusup ke sudut mata yang menyipit. Aku masih menunggu bulir itu luruh. Hatiku mencoba menahan gemuruh. Suara ocehan anak-anakku di luar mulai riuh. Aku malah mendapatkan desah pasrah dari perempuan yang mulai beruban itu.
“Sampun, Buk!”
Aku masih mematung di pinggir pintu kayu jati berukuran besar. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat ibu di ruang tamu, anak sulungku kelas empat SD yang asyik bermain di teras depan.
Ibu tetap bungkam dengan segala pikiran yang berkecamuk. Pandangan matanya kini berpaling ke luar jendela. Tangan ibu saling meremas satu sama lain. Aku mulai khawatir. Ibu tidak biasanya bersikap seperti ini.
“Mas Arif, semua sudah aku siapkan. Semua barang juga sudah aku cek.”
“Terima kasih, Sekar!” jawabku pada isteri yang sedari tadi di kamar belakang, jauh dari tempatku dan ibu yang diam enggan bicara.
Sekar melihat sekilas ke arahku dan ibu, mungkin ia berpikir apa yang terjadi dengan kami berdua. Sejurus kemudian, ia ke luar menuju teras, Hilwa terdengar menangis.
“Maafkan aku, Bu! Bukan maksudku melarang ibu untuk ikut campur rumah tanggaku. Pahami posisiku,” kataku bersimpuh di depan ibu.
Hening. Hanya kerosak dedaunan menjawab maafku. Aku pegang tangan ibu yang masih digosok-gosokkan di atas pangkuannya.
“Apa ibu tidak berpikir? Rumah tangga Mbak Retno, Mas Bayu juga hancur. Malah Dik Sita sendiri sampai kini belum mau menikah. Semua memiliki kekhawatiran pada Ibu.”
Pikiranku menerawang Lebaran lalu, seluruh keluarga kumpul. Mas Bayu, kakak keduaku yang masih menduda. Mbak Retno yang berusaha memperbarui hubungan dengan suaminya. Serta adikku, Sita yang enggan pulang karena dipaksa menikah oleh ibu.
Dari kecil kami berempat diatur segala sesuatunya oleh ibu. Hanya Mbak Retno, si Sulung yang bertahan serumah dengan ibu. Mungkin karena tanggung jawab anak pertama dalam keluarga, sehingga semua lara duka yang kurang sesuai dengan keinginannya sendiri ditelan. Mbak Retno kelihatan lebih tua dari usianya. Sang suami memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri. Dari pernikahan Mbak Retno belum memiliki anak.
Kakakku Bayu memilih menduda. Anaknya yang masih SD ikut Mbak Retno. Seminggu sekali Mbak Retno pulang ke desa, menenami ibu. Sementara adikku cewek, Sita sibuk kerja di Jakarta. Menjadi desainer busana. Kami hanya berselisih tiga tahun. Malah aku dengan Sita paling dekat jaraknya. Kata orang desa kami kesundulan.
Tinggalah aku, yang memiliki isteri satu kecamatan dengan ibu. Rencana awal aku akan serumah dengan ibu ketika Sekar hamil anak kedua. Aku yang jarang pulang karena mendengar semua tuntutan, kecerewetan ibu akan banyak hal. Apalagi isteriku tipe orang pendiam. Semua kata-kata ibu masuk dalam hati dan pikirannya. Berujung tangisan dan air mata. Aku sungguh tidak tega melihatnya.
“Jika kalian semua sudah tidak butuh ibu. Pergi sana! Tinggalkan ibu sendiri!”
Kami semua kaget. Hanya mampu menunduk. Isteriku membelai pundak ibu berusaha menenangkan. Tapi, ibu malah pergi ke kamar. Menutup pintu kamar dengan keras. Kami saling menyalahkan. Tapi, setidaknya kami berusaha jujur kepada ibu apa yang menjadi muara semua masalah selama ini.
Mbak Retno dengan lembut mengetuk pintu kamar ibu. Tidak ada sahutan. Aku, Sita, dan Mas Bayu memberikan isyarat kepada Mbak Retno untuk mencoba membuka gagang pintu. Siapa tahu tidak dikunci oleh ibu dari dalam.
“Klik” terdengar bunyi gagang pintu diayunkan ke bawah oleh Mbak Retno. Kami semua yang berada di ruang tengah lega sekaligus tersenyum tipis. Minimal ada cara untuk menenangkan ibu.
“Bu, Retno boleh masuk?”
Mbak Retno menghela napas panjang dan memegang dadanya sebelum masuk ke kamar ibu. Meski tidak ada sahutan dari ibu, kami paham jika itu jawabannya boleh masuk. Ibu duduk di atas ranjang menghadap pintu. Mbak Retno mencium tangan ibu. Aku bisa melihatnya karena kamar ibu dibuka oleh Mbak Retno. Alasannya agar udara segar bisa masuk. Pintar juga akal Mbak Retno.
“Jika kami belum bisa membahagiakan ibu, kami mohon maaf.”
Ibu akhirnya mengomel semua kebuntuan yang terjadi. semua keluh kesah, harapan, kekhawatirannya kepada anak cucunya. Aku dengan Mas Bayu, diikuti Sita masuk kamar ibu. Jadinya ibu dikelilingi oleh keempat anaknya.
Semua melayang pada memori di rumah ini. Di kamar ini, bersama almarhum bapak yang telah tiada sejak Sita kelas enam SD. Kamar inilah segala tempat kami berkumpul di malam hari bila kami mengadukan segala yang kami alami.
Ibu menanggapi semua laporan kami. Di akhir petuah selalu menyuruh untuk berhati-hati. Kadang-kadang malah berulang kali petuah itu disampaikan.
“Ibu cerewet melarang kalian ini itu demi kebaikan kalian.”
“Kami mengerti ibu, di dunia ini ibu mana yang tega melihat keadaan anak-anaknya menderita,” Mas Bayu mengungapkan alasannya.
“Maafkan Ibu jika terlalu kolot pada kalian, pada cucu-cucu ibu.”
“Sudahlah, Bu! Semua sudah terjadi, kita ambil pelajaran tentang ini,” kata Sita.
“Sekarang apa keinginan kalian?” Ibu berkata dengan lunak. Matanya redup. Seulas senyum tipis hadir.
“Saya akan kembali kepada suami. Mas Joko ditugaskan di Semarang bulan depan.”
Mbak Retno memberanikan diri setelah dapat lampu hijau dari ibu dengan anggukan.
“Kamu, Bayu? Apa yang akan kamu inginkan?”
“Saya mohon ibu mengikhlaskan Dania diasuh Mbak Retno. Saya akan mencoba memulai hidup baru di Kalimantan.”
Ibu mengangguk lagi. Sekarang giliranku mengungkapkan isi hati.
“Bagaimana denganmu, Arif?”
Deg. Pandangan ibu menghujamku. Entah berapa banyak hal. Dari ketiga saudaraku, dari semua anak ibu. Hanya aku yang mendapat porsi lebih banyak. Aku dulu menganggap semua anak akan mendapat kasih sayang yang sama dari ibunya. Tapi, aku sendiri merasakan hal lain. Kata saudaraku, ibu lebih sayang.
Ibu memang sayang dengan semua anak-anaknya. Tiap hari pasti telepon genggangnya akan berdering. Memanggil anak-anaknya hanya untuk mengingatkan salat, hati-hati di jalan, tanya kabar cucu, dan perkara harian yang bagiku membosankan.
Aku dan saudara yang lain merasa kadang seperti satpam yang mengintai melalui CCTV, atau Malaikat Roqib dan Atit yang bertugas 24 jam mencatat amal baik buruk manusia. Entahlah. Mungkin kami saja yang merasa terkekang.
“Jika Arif masih bingung, boleh Sita dulu?”
Suara ibu membuyarkan lamunanku.
“Sita mau ke luar negeri sekolah mode, Bu! Mohon doa restu ibu.”
Ibu menganguk pelan. Beliau bercerita tentang anak ayam yang ditetaskan induknya, Cerita tentang Malin Kundang yang sudah kami tahu dari kecil.
Tiba-tiba Sekar masuk kamar. Ia menggendong Hilwa yang masih tertatih berjalan. Sementara Dania anak Mas Bayu bermain dengan Dimas, anak sulungku di ruang tamu. “Untung ada Sekar yang mau menemani Ibu di sini.”
Deg. Artinya aku dan Sekar gagal pindah rumah. Aku mulai gulana. Aku memandang wajah Sekar dalam, meminta persetujuannya untuk tetap tinggal bersama ibu di rumah ini. Sekar seakan memahami apa yang meresahkanku. Ia mengangguk menuruti pertanyaan ibu. Sementara Mbak Retno, Mas Bayu, dan Sita sudah dibayangkan akan lepas bagai merpati keluar sarangnya. Tanpa bayang-bayang ibu dengan segala kecerewetannya.
Kini semua kembali kepada kisah masing-masing. Aku bersama ibu di rumah ini. “Mas, bagaimana jadinya? Kita pindah rumah atau menemani ibu di sini? Saya sebagai isteri mengikuti apa yang menjadi keputusan Mas Arif.”
Aku mengusap wajahku yang mulai layu sembab. Aku semakin terpojok mendengar pertanyaan Sekar. Hilwa sudah tidur dalam buaian ibunya. Sudah sekitar setahun ini sejak Sekar akan melahirkan sampai Hilwa bisa mulai berdiri, berjalan, kami serumah dengan ibu.
“Apa kamu kuat tinggal bersama Ibu? Aku tidak tega melihatmu terisak di malam hari atas sikap Ibu padamu.”
“Aku akan belajar menerima Ibu, menerima Mas, dan keluarga besar Mas. Jika boleh memilih, aku ingin berbakti kepada Ibu dan Mas Arif,” kata Sekar di sampingku.
“Bu, marahlah, tegurlah semau ibu. Jangan diamkan kami seperti ini.”
Aku dan Sekar mengelus tangan ibu, memeluknya di samping kiri dan kanan. Bulir air kristal itu luruh. Namun, ibu tetap tak mampu berkata. Ibu hanya tersenyum tulus pada kami. Aku semakin mengerti bentuk cerewet dan banyak larangan, aturan ibu bertujuan untuk kebaikan anak-anaknya.
Segera kukabarkan pada saudaraku tentang kondisi ibu yang tidak bisa lagi bicara. ***