Anak Itu Mati

Kami bertiga—aku, Warto dan Tarjo— jajan di warung hik Pak Min. Sore tadi janjian, malam ini kami akan habiskan waktu di sana untuk menanti jadwal siaran langsung pertandingan sepak bola. Minuman yang kami pesan sengaja sama, segelas kopi.

“Oya, kalian lihat ambulans tadi sore? Siapa yang mati?” tanyaku pada mereka.

“Orang perumahan. Rumahnya ujung timur, dekat lembah,” jawab Warto.

“Kabarnya masih anak-anak,” kata Tarjo.

“Ya, benar. Masih bocah, baru kelas dua SD,” sahut Warto.

“Mati kenapa?” tanyaku.

“Ada apa, Nak?” sahut Pak Min sembari menyerahkan segelas kopi kepada Tarjo.

“Pembunuhan, Pak. Anak kecil mati diracun tetangganya,” terang Tarjo.

“Yang benar, kamu?” tanyaku.

Masya Allah!” sahut Pak Min sambil mengelus dada.

“Bukannya mati di lembah?” tanya Warto.

“Kabarnya sih sebelum menceburkan ke sana, tetangganya itu menaruh racun di roti yang diberikan kepadanya,” jelas Tarjo.

“Biadab!” Pak Min geram.

Kok kamu tahu?” tanyaku.

“Temanku yang kameramen tivi bilang begitu. Tadi dia meliput di sana,” jawab Tarjo.

Di antara kami bertiga, hanya Tarjo yang rumahnya di kompleks perumahan itu, tapi letaknya di ujung barat, dekat dengan permukiman kampung di mana aku dan Warto tinggal.

Hari ini aku bangun siang karena dini hari tadi nonton pertandingan sepak bola. Badanku masih lemas. Selepas mandi aku disuruh bantu bapak menyiangi rumput di sawah kami yang tinggal sepetak, satu-satunya harta bapak yang tersisa. Siang begitu panas. Usai membantu bapak, tubuhku terasa sangat lelah. Aku ingin pulang duluan. Perjalanan pulang, sengaja aku melewati daerah lembah dan rumah anak yang mati kemarin. Kabarnya jam satu siang ini akan dimakamkan. Siapa tahu ada kabar yang lebih terang mengenai kematian bocah itu. Aku memikirkan perkataan Tarjo semalam. Jika benar tetangganya yang membunuh, lalu apa alasanya? Ada yang aneh dengan kejadian itu.

Anak itu akan dimakamkan di pemakaman Mulya Jati. Pemakaman yang tidak jauh dari perumahan. Aku tahu saat mampir di makam itu dan berbincang dengan salah satu penggali liang kuburnya. Ada empat orang yang bergantian membuat liang kubur. Sengaja aku bersikap seperti tidak tahu perihal kematian itu karena dengan begitu aku akan leluasa bertanya. Mereka membuat kesimpulan, anak itu mati dibunuh, tapi siapa yang membunuh belum ada kepastian.

Menyimak obrolan mereka, aku jadi tahu, bapak anak itu bekerja di pelayaran dan sudah sekitar dua tahun tidak pulang. Ada kabar yang beredar, ibu anak itu, yang bernama Gina selingkuh dengan Pak Dibyo, tetangganya. Pak Dibyo diduga yang melakukan pembunuhan karena anak itu mengetahui perselingkuhan dia dengan ibunya. Berita itu membuat lebih jelas cerita kematian itu.

Aku pergi dari pemakaman, melanjutkan perjalananku. Saat melewati lembah aku penasaran. Aku mendekati lembah itu. Sudah ada beberapa orang di sana. Mungkin sama sepertiku, karena penasaran lalu ingin melihat. Ada satu orang sedang membawa cangkul, mungkin seorang petani, tiga anak lelaki yang masih berseragam sekolah, sepasang laki-perempuan dan selebihnya tiga lelaki yang kuduga rumahnya dekat lembah. Aku bergabung dengan mereka. Di antara mereka terjadi perbincangan dan aku hanya mendengarkannya.

“Kabarnya peristiwa itu terjadi gara-gara anak itu tahu,” kata orang yang membawa pacul.

“Tahu apa, Pak?” tanya salah satu anak lelaki yang berseragam sekolah.

“Perselingkuhan ibunya dengan Pak Dibyo,” sahut orang yang membawa pacul itu.

“Bahkan kabarnya bocah itu sebenarnya anak kandung Pak Dibyo, ya?” tanya seorang perempuanm satu-satunya di tempat itu.

Aku masih menyimak terus mendengarkan obrolan mereka tapi hal itu tidak lantas membuat kasus itu menjadi jelas. Tidak jelas mana fakta yang benar. Terlebih setelah ada informasi lain yang menjelaskan bahwa Bu Gina sendirilah yang dicurigai telah membunuh anak itu karena dia takut kalau sampai anak itu mengadu kepada bapaknya. Ah, benar-benar jadi ruwet.

Karenanya aku putuskan untuk berlalu dari tempat itu sembari memikirkan peristiwa mana yang sekiranya masuk akal. Mungkinkah ada seorang ibu tega membunuh anak kandungnya sendiri? Apakah sudah begitu parah rasa kemanusiaan ibu itu? Sementara seekor singa yang buas saja tidak akan tega mencelakai anaknya sendiri. Oh dunia, dunia, keluhku dalam hati.

Sampai di rumah duka aku langsung bergabung dengan para pelayat. Ternyata banyak juga pelayat yang datang. Bapak kepala desa baru saja selesai memberi sambutan. Sepertinya tidak lama lagi layon akan diberangkatkan. Tapi sebentar saja aku di tempat itu telah mendengar kasuk-kusuk tentang kematian bocah itu. Kabarnya yang membunuh bocah itu orang suruhan suami Bu Gina. Karena imbalannya cukup menggiurkan, kabarnya orang itu menerima tawaran itu. Semakin ruwet saja kisah itu. Jika benar begitu, zaman ini mungkin sudah sakit, kekayaan dengan mudah menghilangkan hati nurani. Kulihat layon telah diangkat. Enam orang pemikul jenazah segera mengantarkannya ke pemakaman. Sejurus dengan itu aku pun pulang dengan membawa pertanyaan yang belum terjawab.

Saat ini kami bertiga kembali akan melihat siaran langsung lanjutan pertandingan sepak bola. Sembari menunggu pertandingan dimulai, Tarjo mengganti-ganti saluran televisi. Saluran itu sempat berhenti di salah satu acara yang sepertinya mengulas kasus kematian anak kecil itu. Sekilas isi berita itu mengabarkan bahwa kematian bocah itu karena ulah biadab orang-orang terdekatnya. Tapi tak lama kemudian Tarjo mengganti saluran. Aku protes dan memintanya untuk kembali ke berita tadi. Bahkan Warto sempat misuh-misuh karena ingin tahu kejelasan kasus tersebut.

“Aku tak tega melihatnya, Bro. Siapa pun pelakunya, hal itu tindakan bejat, terlebih pada anak sekecil itu,” kata Tarjo.

“Kalau gitu kamu tidak usah melihatnya,” sahut Warto sambil merebut remote yang dipegang Tarjo. Ketika Warto mengembalikan ke saluran sebelumnya, ternyata sedang menyiarkan iklan. Pada akhirnya kami tetap belum berhasil mengetahui siapa yang melakukan pembunuhan, karena setelah itu Tarjo kembali merebut remote dari tangan Warto, lalu mengganti saluran yang menyiarkan pertandingan sepak bola yang rupanya sudah mulai. ***

YUDITEHA. Penulis puisi dan cerita. Pegiat Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar. Telah menerbitkan 17 buku. Buku terbarunya Sejarah Nyeri (Marjin Kiri, 2020), dan Tanah Letung (Nomina, 2020).

Arsip Cerpen di Indonesia