Mimpi, Aksi, Prestasi, dan Gengsi

Berubah Tetap, Tetap Berubah

Hari-hari terus berlalu, beberapa keadaan sesuatu atas alam ini berubah mengiringi putaran waktu. Sebagiannya terus melaju maju, sebagiannya begitu-begitu saja, gerak perubahannya kembang kempis. Sebagiannya lagi malah ada yang nyungsep. Mirip batu terjun ke lubuk. Tenggelam dan tak muncul-muncul lagi.

Keadaan itu dalam pandanganku ada dalam banyak hal, tidak terkecuali juga ada pada diri seseorang, termasuk di dalam diriku. Mengenai keadaan, aku tiadalah berbeda dengan lainnya di antara semua alam di muka bumi ini. Senantiasa tetap berubah dan berubah tetap. Maksudnya adalah tetap, tetapi sesungguhnya ada perubahan di dalamnya, juga terus berubah tetapi tetap kurang lebih begitu adanya. Mirip gumpalan awan di ketinggian bawah langit. Sepertinya tetap padahal berubah volume dan bentuknya, dan dibalik perubahan volume dan bentuk itu, ternyata sukar digambarkan perbedaan sebelum maupun sesudahnya.

Kesukaan atau semangat hidupku adalah menulis. Menulis apa saja yang penting sepengetahuanku berdaya tarik, bermanfaat dan sepantasnya disimak pembaca. Sebagaimana yang aku katakan, kesukaanku itu keadaannya tidak selalu tetap, namun senantiasa tetap berubah. Seperti air laut di tepian pantai. Terkadang mengalami pasang naik, terkadang surut. Terkadang lesu redup alias kembatkembut seperti celana ukuran kelewat besar, lalu saat dikenakan, memunculkan bahaya besar, bahaya sewaktu-waktu begitu saja bisa terjun bebas melorot hingga mata kaki.

Ilustrasi semangatku menulis kurang lebih begini. Di akhir tahun delapan puluhan, cerpen gubahanku menghias salah satu sudut halaman Mingguan Nusa Tenggara Post. Artikel karya penaku pernah bertengger beberapa kali di Mingguan Simponi, sebulan sekali buah goresanku dibaca para siswa SMA pengisi acara Sanggar Remaja yang dihelat RRI Mataram.

Memasuki era krisis moneter tahun sembilan puluhan, aku lebih banyak berkiprah sebagai pendidik di bagian pengajaran sebuah SMA beberapa tahun lamanya. Masa itu kesukaanku menulis tertidur pulas, berganti banyak omong di depan kelas, memotivasi beberapa siswa yang mengalami kesulitan belajar agar tidak berputus asa mengatasi kesulitan belajarnya. Begitu lama kesibukan mengajar itu meninabobokan kesukaanku menulis. Bahkan kesibukan itu seakan mengubur rapat kuat dan dalam kehidupanku menulis.

Beruntung, di dalam arus dan gelombang pusaran waktu, semangatku menulis tidak pernah mati. Meskipun detak nafas kehidupannya ada dalam lilitan panjang kesulitan ekonomi keluarga. Meski tidak begitu persis, masih boleh dibilang ada kemiripan dengan kisah cinta Leonardo de Caprio dan Kate Winslet dalam film Tetanic. Cinta itu tidak pernah tenggelam, tidak pernah berakhir meskipun kapal mewah yang mereka tumpangi tenggelam, memasuki, dan mengubur Leonardo ke sudut terdalam dasar Atlantik yang sunyi gelap dan dingin. Cinta itu tetap abadi tumbuh semi di hati Kate. Yaah, meski tumbuh seminya tidak benar-benar dalam bentuk kesetiaan yang begitu sempurna. Meski tumbuh semi cinta itu terkadang sesekali menggelincirkan Kate dengan suka hati terpuruk takluk dalam permainan dan pelukan sarat asmara satu pria dan pria lainnya. Cinta betapa pun suci dan sejatinya, coraknya tetaplah beraneka warna.

Dukungan Teman Kerja

Senin tanggal 5 Juli 2021, atau di kala masa kerjaku sebagai pegawai Lapas Banyuwangi memasuki tahun purna tugas, semangatku berekspresi lewat tinta serta merta kembali bangun. Setelah lama terhuyung, terlena, terpuruk dan ngelantur dalam tidur panjangnya. Semangat kembali untuk menulis itu seperti bakal tunas terguyur derasnya hujan, lalu merekah begitu saja setelah lama layu kering dalam kungkungan kerontang kemarau panjang.

Penyiram semangatku menulis adalah empat orang tercinta teman satu ruangan kerja denganku di Lapas Bumi Blambangan ini. Mereka berjumlah lima orang, Mas Dhanny, Mas Alfan, Mas Hadi, Mas Lubby dan Mbak Ery. Mereka semuanya adalah tenaga muda berumur 30 tahunan. Usia menuju puncak prestasi sebagai manusia. Masih demikian cemerlang dalam berpikir, merumuskan, mengendalikan dan meraba atau mengilustrasikan objek.

Senin pagi itu, pasca Bapak Kalapas menganugerahkan piagam penghargaan kepada Bapak Yudi Arianto sebagai Pegawai Teladan, aku berkata kepada Mas Dhanny, “Selama bekerja di Lapas Bumi Gandrung ini, satu hal yang menjadi obsesi hidupku namun belum juga terealisasi. Ini membuatku penasaran.”

“Apa itu?” Respons Mas Dhanny, yang juga atasanku itu.

“Menulis tentang keadaan Lapas tercinta kita dalam versi bukan tulisan seorang jurnalis.” Jawabku bernada datar. “Saya rasa ini hal baik. Merupakan hal yang menarik bila sesekali, dalam intensitas proporsional. Lapas digambarkan oleh orang dalam, oleh saksi hidup atau pelaku institusi hukum yang dalam kesehariannya hidup dan punya cita-cita di dalamnya.”

Tidak lama berselang, Mas Alfan yang baru saja membubarkan diri dari barisan peserta apel nimbrung menimpali. “Sejauh bisa aku lakukan, jangan sungkan-sungkan meminta tolong aku. Percayalah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang ringan tangan.”

Terlepas dari obrolan ringan pagi itu, kegelisahan merasuki relung hatiku. Tidak terkira sebelumnya pernyataanku yang meluncur begitu saja, menggelayuti, dan membebani pikiranku. Aku yang sebelumnya tanpa ada beban, serta merta menjadi harus mempertanggungjawabkan atas apa yang aku nyatakan. Ini bukan perkara sepele. Ini mengingatkanku akan bunyi pepatah yang mengatakan: “Mulutmu adalah harimaumu.”

Hati-hati menjaga mulut, bila tidak akan menjadi senjata makan tuan, atau macan menerkam pawangnya.

Setelah menyatakan keinginanku menulis, tentu harus membuktikannya. Bila tidak, maka hal ini akan melahirkanku sebagai pembual, sebagai manusia yang menuhankan kebohongan. Sebagai manusia pendusta yang berkoar di muka bumi. Sebagai insan yang suka berbuat kerusakan di bumi Allah melalui omong kosong, asal omong, asal bunyi.

Sungguh, keadaan ini lebih buruk dari makhluk apa pun yang melata di hamparan bumi yang kaya keberkahan ini. Hanya manusia tidak kenal malu, yang memiliki kesediaan menyandang gelar kehinaan ini: Pendusta.

Sebagai insan beragama yang diajarkan utusan-Nya: Muhammad SAW kita harus malu berkata dusta. Manusia tidak ada yang sempurna dalam kebenaran, namun sejauh mungkin harus menghindar dari menyengaja dusta. Orang boleh saja salah karena keterbatasan yang melekat pada dirinya, namun jangan karena sengaja berdusta. Orang Padang mengatakan, dusta itu buruk dan memalukan. Daripada hidup menanggung malu lebih baik mati berkalang tanah. Kebenaran itu penting untuk dilombakan dan dicita-citakan sebagai tujuan tertinggi kehidupan manusia, sampai akhir di masa hidupnya. Ini adalah keniscayaan. Betapa pun pahitnya yang kita rasakan untuk mempertahankan itu dalam diri kita.

Suka Duka Pembinaan

Sadar akan perkataan yang terucap dan tanggung jawab yang menyertainya, aku mencoba meringankan beban dengan membicarakan lebih lanjut dengan Mas Lubby. Pria bujangan asal pulau Madura yang sering menjadi buah bibir narapidana wanita belia itu berpendapat, “Menurutku,” katanya penuh sopan santun dan kehati-hatian dalam merangkai kata-kata yang diucapkan.

“Lebih enak dan lebih hidup bila kita menulis ruang lingkup kerja kita sendiri yaitu Pembinaan Mental Spiritual Keagamaan. Kita tulis kejadian baik, unik, aneh dan khusus terkait pembinaan yang kita lakukan dan kita ketahui, namun kemungkinan orang lain yang bukan insan Kementerian Hukum dan HAM RI belum mengetahui, atau mereka yang mengerti namun dalam versi lain bukan versi kita, atau hanya mengerti sebagian, namun tidak tahu sebagian lainnya.”

Menanggapi komentar Mas Lubby, aku sedikit memberikan sanggahan kecil.

“Apa menariknya menulis bertema pembinaan. Itu tema klise, tema yang hampir seluruh manusia memahami.” Mendengar itu, Mas Hadi menyerobot pembicaraan kami. Setelah rokok yang diisapnya memenuhi udara ia berkata, “Tidak mesti begitu, Pak” katanya.

“Ada peribahasa mengatakan, lain panggung lain goyangan biduannya, lain lagu lain kemerduannya, lain suara lain lagi desahannya. Saya kira ini bisa dipetik sebagai pelajaran, bahwa meskipun dunia pembinaan adalah dunia seluruh manusia. Masing-masing sudutnya ada daya tariknya. Daya tariknya di setiap tempat bisa tidak sama. Ada yang demikian kuatnya ada yang lemah dan sekadarnya. Ada yang dayanya panjang terus-terusan ada yang hanya sesekali tempo. Orang Jawa bilang hanya nyut-nyut. Begitu Pak. Ini hanya pendapat saya. Bisa dipertimbangkan, bisa dibuang begitu saja. Seperti nasi bungkus, nasinya dimaem, bungkusnya dimasukan tong sampah.”

Mas Hadi yang ramah itu tidak meninggalkan kebiasaannya, setiap menyudahi perkataannya selalu senyam-senyum. Aku paham betul itu adalah kebiasaannya. Namun kali ini aku tidak benar-benar tahu, mengapa senyumnya lebih lama dari biasanya. Dan perbendaharaan kata nyut-nyut itu pun baru kali ini ia gunakan.

Permasalahan baru muncul menyusul dan menyeruak relung hatiku. Kalau Pembinaan di Lapas yang beralamat di Ujung Timur Provinsi Jawa Timur ini aku tulis. Hal hebat apa yang menarik dibahas. Selama ini roda perjalanan pembinaan kepribadian mental spiritual keagamaan di Lapas Bumi Seblang ini berjalan biasa-biasa saja. Jalannya lancar seperti bergeraknya mobil dan kendaraan lainnya meluncur lancar di atas aspal hitam halus mulus dan rata jalan utama kota Banyuwangi.

Mbak Erry yang pendiam dan sedari lama bungkam seribu bahasa itu buka suara.

“Dalam hal suka duka sebagai pembina kita sangat kaya pengalaman yang manis untuk diceritakan. Tidak selalu benar bila dikatakan pembinaan di lapas berjalan selancar jalannya mobil di jalanan mulus kota Banyuwangi. Kalau mau menulis tentangnya tulislah. Saya optimistis itu adalah objektivitas yang menarik minat baca. Lain dari itu juga saya berpikiran, perbendaharaan hikmah di dalamnya banyak kita dapatkan. Setidaknya akan menginspirasi pembaca bahwa perkara pembinaan bukanlah perkara mudah. Itu perkara penuh liku dari sebuah perjalanan panjang melelahkan untuk meraih sebagian kandungan hasilnya, bahwa membangun manusia itu adalah proyek pembangunan yang boleh jadi berujung tidak begitu jelas hasilnya, betapa pun banyak dan padatnya aksi yang kita telusuri dan kita korbankan untuk itu.”

Bila aku renungkan sedalam dalamnya. Sepertinya pendapat Mbak Erry sangatlah lebih berdekatan dengan realita sebenarnya. Tentu itu sebuah kebenaran dengan beberapa catatan atau koreksi.

Saya tidak punya maksud membantah pendapat teman kerja wanitaku satu-satunya di lapas berjuluk Lapas Sun Rise of Java ini. Dalam beberapa hal, kebenaran Mbak Erry jelas sekali.

Selama ini, aku melihat fenomena rendahnya efektivitas sebuah pembinaan. Misalnya, masih adanya kenyataan beberapa narapidana peserta pembinaan masih mengulang tindak pidana. Padahal tidak melakukan pengulangan tindak pidana merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan pembinaan di lapas mana pun di negeri ini.

Sebagai pembina, saya pernah memberikan materi adab masuk masjid, dan menjelaskan bahwa mendahulukan atau melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu saat hendak masuk masjid merupakan adab yang sangat dianjurkan dalam Islam. Mereka yang mengikuti materi saya memahami hal tersebut. Namun di tataran pelaksanaan, masih begitu banyaknya narapidana yang tidak mengikuti tata cara Rasulullah SAW saat masuk masjid tersebut. Sikap perilaku mereka sebagiannya seperti orang-orang terdahulu, umat sebelum umat akhir zaman ini. Setelah mendengar keterangan-keterangan tentang ketetapan Tuhannya, mereka melalui kehidupannya begitu saja, melaju tanpa berbuat sesuatu, mengabaikan apa-apa yang diwajibkan dalam waktu yang panjang, yang pada akhirnya menjerumuskan mereka menjadi orang fasik.

Sebagai pembina, saya sering kali menanamkan dogma pentingnya berkata benar untuk memperbaiki keadaan seseorang atau suatu umat. Saya nyatakan bahwa, berkata benar akan membantu kemudahan seseorang melakukan perbuatan perbuatan mulia, perbuatan yang mengundang atau mendatangkan kebahagiaan. Mereka membenarkan yang aku terangkan, namun dibalik itu mereka tidak demikian. Sebagian mereka masih gemar mengatakan yang substansinya berlawanan dengan sesuatu yang sebenarnya. Melihat gejala ini aku merasa bahwa mengubah keadaan mereka menjadi insan condong kepada kebajikan sebagaimana petunjuk Rasulullah SAW tak ubahnya membangun menara pasir. Mulanya tegak berdiri untuk kemudian runtuh kembali pada ketinggian tertentu.

Meski demikian saya menolak sebuah pendapat yang mengatakan bahwa mengubah narapidana menjadi berbeda dengan sebelum masuk lapas adalah tak ubahnya aktivitas menghimpun angin dengan menggunakan jaring, atau membisikkan kata mesra kepada kekasih kita yang berkuping tuli total semenjak kelahirannya, atau mengisi air ke gentong bolong atau jebol.

Sungguh aku tidak sependapat dengan pesimistis fatalistik itu. Menurutku, narapidana tidak berbeda dengan manusia lain mana pun yang bersebaran dan nongkrong numplek di muka bumi dengan segala kebebasan keterkaitan, dan keterikatannya.

Mereka adalah makhluk yang menakjubkan. Mereka dengan daya adaptifnya memungkinkan menjadikan dirinya melentur, luwes, melebar, berubah, kembali menjadi sesuatu, atau kepada lainnya yang sama atau berbeda. Realitas ini merupakan peluang perubahan diri untuk bangkit dari keterpurukan, atau menjadikan sesuatu yang semula buruk menjadi baik, bahkan yang membaik menjadi lebih lagi. Kesimpulanku adalah pembinaan terhadap mereka adalah sebuah investasi, atau sesuatu yang sepantas dan sepatutnya diharap, kelak adalah sesuatu yang lebih dari apa yang selama ini kita korbankan. Sesuatu itu mungkin saja hanya sebuah mimpi atau aksi yang tidak karuan juntrungnya, namun sangat lebih dekat meski bukan hal yang mudah, sebagai sesuatu prestasi yang menggeliatkan reputasi atau bahkan gengsi buat keharuman Ibu Pertiwi yang kita kenal NKRI. ***

SOFYAN. Pegawai Negeri Sipil di Lapas Banyuwangi, Bagian Pembinaan Kepribadian Mental Spiritual Keagamaan Islam. Alumnus S1 Kependidikan, Universitas Mataram. Tinggal di Lingkungan Jogolatri, Kelurahan Sumberrejo, Banyuwangi.

Arsip Cerpen di Indonesia