Kupu-Kupu Gunung

KAMU di mana? Malam sudah larut, beberapa relawan memutuskan untuk menghentikan pencarian. Sementara aku masih yakin kamu menungguku. Aku ingin minta maaf, bukan lewat telepon. Aku ingin meminta maaf langsung. Di depanmu.

Aku tahu kamu akan begitu marah kepadaku. Aku sadar aku salah. Aku terima jika kamu membenciku sepenuhnya. Aku siap. Tapi bukan dengan begini. Bukan dengan menghilang di keremangan malam. Sementara hujan belum reda. Udara gunung di jam-jam seperti ini adalah senjata paling mematikan yang siap menikam siapapun yang memaksakan diri untuk bertahan di luar.

Benar, melihat langit di tengah malam begini memang mengasyikkan. Tapi itu hanya akan didapatkan jika langit cerah. Sementara saat ini tidak. Hujan sedari sore memutus harapan orang-orang untuk menatap kemilau bintang.

Kamu di mana? Ayolah. Jangan pergi agar dicari. Jangan sengaja lari agar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu. Aku sengaja ke sini, bahkan di hari bahagiaku. Meski aku tahu, pertunanganku adalah berita duka bagimu. Aku ke sini karena aku merasa bersalah. Aku telah melanggar janji yang sempat kita ucap saat itu.

Tim relawan telah bersikeras memaksaku berhenti mencarimu. Mereka tidak tahu bagaimana hancurnya aku mendengar berita hilangnya kamu di pendakian kali ini. Meski aku tahu kamu adalah pendaki professional, kamu menguasai semua ilmu tentang survival. Aku tahu kamu menguasai buschcrafft.

Tetapi batinku berkata lain. Aku tahu kamu sedang kedinginan dan menungguku. Menunggu untuk kujemput. Dan kita turun bersama. Ayolah. Kamu di mana? Aku tak pernah melihat kamu kekanak-kanakan begini.

Hari ini memang hari bahagiaku. Tetapi kebahagiaan itu pupus saat mendengar kamu menghilang. Lagian kenapa kamu memaksakan pendakian, padahal cuaca sedang tidak bersahabat seperti ini? Kenapa?

Aku takut kamu ingin lari dari kenyataan. Kamu memaksakan diri untuk melakukan pendakian seorang diri. Aku tahu kamu adalah pribadi yang tertutup. Aku tahu kamu tidak mudah bercerita kepada orang lain tentang apa yang sedang kamu pikirkan dan kamu rasakan.

Aku takut kehilangan kamu selama-lamanya. Aku ke sini setelah teman-teman meyakinkan hanya akulah orang yang bisa menemukanmu. Dan aku percaya itu. Ayolah. Aku takut terjaga sendiri. Semua relawan sudah letih mencarimu di hari pertama tanpa hasil. Saat ini, mereka, sudah masuk ke tenda masing-masing setelah menyerah dengan sikap kerasku untuk berhenti mencarimu.

***

“Apa aku boleh memetik Edelweiss? Satu aja”

“Jangan, tidak boleh”

“Kenapa? Kan cuma sedikit. Toh tidak merusak gunung ini kan?”

“Mengambil Edelweiss, meski sedikit, adalah sebuah pelanggaran”

“Bukankah itu simbol keabadian cinta?”

“Benar.”

“Lalu kenapa tidak boleh memetik? Aku ingin cinta kita juga abadi seperti bunga ini.”

“Kamu tahu kenapa aku mengajakmu mendaki?”

“Karena kamu mau memetikkan Edelweiss untukku langsung, kan?”

“Bukan, aku justru ingin mengajakmu melihat Edelweiss langsung tanpa memetiknya.”

“Hmmm, tapi aku ingin memetiknya sebagai simbol keabadian.”

“Tapi tidak harus dengan memetik, Sayang.”

“Padahal di pendakian pertamaku ini, aku membayangkan bisa membawa pulang Edelweiss. Dan akan kupamerkan bahwa kekasihku adalah seorang pendaki gunung yang romanis.”

“Sudahlah lupakan Edelweis. Kamu lihat itu?”

“Kupu-kupu?”

“Iya, kupu-kupu gunung, namanya.”

“Kenapa dengan kupu-kupu gunung?”

“Kamu belum tahu?”

“Kan kamu belum ngasih tahu.”

“Baiklah, kupu-kupu gunung adalah simbol keabadian cinta yang sebenarnya.”

“Kenapa?”

“Kupu-kupu gunung hanya akan hidup dengan satu pasangannya.”

“Lalu?”

“Jika pasangannya mati, ia tidak akan mencari pasangan lagi, sebaliknya, ia justru ikut mati.”

“Sungguh?”

“Iya, makanya, di puncak ini, aku ingin kita mengikrarkan janji setia.”

“Kamu mau?”

“Iya, kita akan menjadi pasangan yang abadi.”

“Janji?”

“Janji.”

“Lihat… kupu-kupu itu terbang, sayapnya begitu indah.”

***

Istirahatlah. Aku tahu tubuhmu tidak kuat menahan dingin di tengah malam begini. Aku teringat saat pendakian pertamamu, saat aku ingin menunjukkan bunga Edelweiss. Kamu hampir terkena hipotermia. Untunglah saat itu aku segera membuat tubuhmu menjadi hangat. Sejak saat itu, sebenarnya aku tidak ingin lagi mengajakmu mendaki gunung. Aku tidak mau tubuhmu roboh oleh keganasan cuaca gunung.

Kamu juga takut dengan bunyi-bunyian di tengah hutan malam-malam begini, bukan? Kamu tidak perlu bersikeras menemukanku. Bergabunglah dengan relawan yang telah kelelahan menaklukan medan yang begitu berat seharian. Ditambah dengan kehadiranmu yang membuat mereka bertambah beban.

Sudahlah. Kisah kita sudah selesai. Aku bahkan sudah mengalah pada kenyataan. Aku memaksakan diri mendaki, lantaran bagiku, gunung adalah teman terbaik untuk merayakan luka. Aku bisa mengempaskan semua residu di dada. Aku bisa berteriak sekencang-kencangnya. Aku juga bisa menangis sejadi-jadinya.

Aku sengaja tidak memberitahumu rencanaku mendaki seorang diri. Aku takut kamu berpikiran macam-macam menjelang hari pertunanganmu dengan lelaki pilihan orang tuamu. Aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku hanya ingin sekali bercerita kepada alam.

Aku yakin, kamu tidak ingin menyakitiku. Seperti janji kita di gunung ini beberapa tahun lalu. Kamu berjanji akan menungguku siap untuk datang ke rumahmu mengikatkan janji suci.

Kamu tahu? kini, di punggungku, telah tumbuh sayap-sayap penuh warna. Sayap-sayap yang terbentuk dari mimpi dan rindu. Juga kepasrahan untuk bertahan atau mengalah pada kenyataan.

Dengan sayap ini, aku bahkan bisa terbang bebas. Sejauh keinginanku untuk bisa abadi di gunung ini. Kamu semestinya tidak perlu ke sini. Di hari bahagiamu, kamu semestinya memikirkan masa depan yang lebih cerah, yang tidak akan kamu dapatkan dariku. Seperti kata orangtuamu.

Kamu tidak perlu resah. Kamu tidak perlu gundah. Biarlah langit malam, rindang pohonan, basah tanah, dingin angin dan daun gugur menjadi saksi. Kini, tubuhku telah menyatu dengan pelukan gunung ini. Persis seperti saat kamu bertanya bagaimana jika takdir tidak menyatukan kita. Saat itu aku menjawab, “Aku memilih menjadi kupu-kupu gunung.” ***

DIMAS INDIANA SENJA, penulis, dosen, dan instruktur literasi nasional. Saat ini tinggal di Perpustakaan Rumah Kertas Purwokerto.

Arsip Cerpen di Indonesia