Bulan di Atas Kuburan

DAMIANO menyeka keringatnya. Debu-debu tipis keluar melalui celah-celah tumpukan bata yang disusunnya, beterbangan, lalu menempel di keningnya hingga membuat tetesan keringat Damiano menjadi keruh. Damiano tak pernah bercita-cita menjadi buruh bangunan, tetapi urusan perut dan kamar yang disewanya pada sebuah rumah susun di pinggir kota menyeretnya ke pekerjaan ini. “Aduh,” kata Damiano manakala meratapi nasibnya.

Damiano bertubuh ringkih, jakunnya tampak mencolok seperti batu yang tak sengaja tersangkut di tenggorokan. Batu itu akan bergerak-gerak manakala Damiano sedang malu-malu membayangkan kelak, ia tak perlu lagi ikut bersama rombongan buruh, melainkan sebagai orang yang hanya duduk manis menunggu rumah pesanannya selesai dibangun. Mungkin sesekali ia akan datang, untuk membagikan beberapa botol anggur bagi para buruh yang sudah bekerja dengan giat, lalu mengomentari sejumlah hal yang perlu ditambah dalam agenda konstruksi.

Namun tentu, hayalan itu adalah barang mustahil untuk dijangkau. Sekarang ini, yang terpenting bagi Damiano adalah membayar sewa kamar, bisa makan dengan layak, dan mengirimkan uang untuk keluarganya.

Damiano punya pekerjaan tambahan yang dilakukannya setiap akhir pekan. Setidaknya, pekerjaan ini bisa sedikit meringankan bebannya, hanya sedikit. Upah harian yang didapatkan melalui pekerjaan ini tidak sebanyak ketika menjadi buruh bangunan, tetapi Damiano senang. Sebab hanya pada pekerjaan inilah Damiano mendapatkan teman-teman yang mau menerimanya dengan baik. Terlebih lagi ia suka menyanyi.

“Damiano sampah masyarakat!”

“Damiano sumber dosa!”

“Damiano pembuka pintu neraka!”

Begitulah biasanya Damiano dihina oleh para buruh bangunan ketika mereka sedang dilanda bosan. Bagi Damiano, meski dimaksudkan untuk mencairkan suasana, komentar-komentar itu tetap terasa pedas, jujur, dan mengandung kedengkian yang berlebihan. Sementara itu ia tak bisa melawan sepenuhnya, melainkan hanya mampu tertawa, menertawakan dirinya sendiri bagai badut.

“Kenapa kau tak berhenti saja menjadi buruh?”

Terdapat banyak pertanyaan telah disiapkan oleh wartawan itu di buku catatannya, sebagian sudah terjawab. Ia membenarkan posisi kacamatanya berulangkali, yang terus merosot karena hidungnya tidak cukup mancung untuk menyangga jembatan kecil yang menghubungkan kedua bingkai kacamatanya.

“Para buruh, meski mereka selalu berwajah bangor dan bertabiat buruk, mereka tetaplah seorang buruh. Mereka tahu, aku sama menderitanya dengan mereka. Mereka dapat menerimaku dengan cara mereka, dan pemimpin kami memberikan upah yang layak.” Damiano melihat para buruh yang sedang menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan mereka, sementara ia melakukan wawancara dengan seorang wartawan yang tertarik dengan kisahnya. Pemimpin buruh-buruh itu sudah mengizinkannya untuk diwawancarai.

“Sekarang akhir pekan, kenapa tak segera berangkat ke tempat kerjamu yang satu itu?”

“Nanti, setelah matahari terbenam, dan sesudah makan malam bersama mereka. Ikutlah.”

Damiano mengedipkan sebelah matanya pada wartawan itu.

“Bisa kau sebutkan lebih spesifik pukul berapa tepatnya kau berangkat ke tempat kerjamu itu?”

“Pukul sembilan malam biasanya aku sudah mulai jalan, masih ada sekitar empat jam lagi. Apa kau akan langsung menulis kisahku selepas pertemuan ini?”

“Sebelum itu, aku harus pergi mewawancarai seorang penulis tua yang dulu pernah menjadi tahanan politik negara. Ia banyak menulis di dalam penjara.”

“Sepertinya kau hanya menulis orang-orang seperti kami, ya?”

“Maksudmu?”

“Orang-orang yang terpinggirkan.”

Wartawan itu melebarkan senyumnya, tampak gigi-giginya menguning seperti terang matahari sore, entah karena tidak rajin sikat gigi atau sudah lama menjadi perokok berat.

“Sebelumnya kau mengatakan upahmu sebagai buruh bangunan lebih besar ketimbang menjadi pelacur…”

“Pemandu karaoke…”

“Maaf, begitu maksudku.”

“Betul. Umpama upah menyanyi di klub karaoke dapat membuatku makan teratur, maksudku sebanyak dua kali dalam sehari, maka menjadi buruh bangunan bisa membuatku lebih teratur lagi dengan makan empat kali dalam sehari.”

Wartawan itu mengangguk-angguk. Kemeja putih yang dikenakannya mulai berkeringat. Memperlihatkan bidang dadanya yang basah.

“Kenapa tidak coba mencari pekerjaan yang lebih formal alih-alih serabutan begini?”

“Kalau bisa semudah itu, sudah kulakukan sejak dulu. Tapi banyak perusahaan menolakku karena alasan yang bodoh.”

“Bodoh?”

“Ya, bodoh. Mereka mengejek-ngejekku karena mereka tak yakin dengan identitas yang kupunya.”

“Kau menunjukkan kartu identitasmu?”

“Tentu saja. Karena itulah mereka tertawa.”

Wartawan itu kembali mengangguk, kali ini sorot matanya lebih memburu.

“Bukankah kau bisa mengganti identitas lamamu dengan yang baru, atau sekadar berpura-pura sebentar menjadi seperti yang mereka harapkan?”

“Seandainya bisa, ya, seandainya bisa, sudah kulakukan sejak dulu. Tapi kantor pemerintahan yang mengurus soal itu menolak. Mereka hanya mau mengakui identitas lamaku saat. Dan berpura-pura, katamu? Aku tidak sehina itu.”

“Jauh lebih rumit dari yang kubayangkan.”

“Tulis sesederhana mungkin, teman-temanku, yang para penyanyi itu, akan berterima kasih karena kau telah membantu menyuarakan nasib kami.”

“Apakah selama ini tidak ada yang menyuarakan nasib kalian?”

“Banyak. Ya, sangat banyak. Gerakan sosial dengan berbagai jenis bahu-membahu membantu kami, tapi seperti yang kau tahu, kami tak pernah menang atau mendapatkan kehormatan secara sosial.”

“Mungkin belum?”

“Terima kasih, kuanggap pertanyaanmu sebagai doa.”

Mereka diam sejenak, bersiap mengakhiri wawancara.

“Baiklah, Pak Sitor, sepertinya kita cukupkan sampai di sini,” pungkas Damiano.

“Aku berhutang waktu padamu, suatu hari kita perlu bertemu lagi.”

“Ah, iya, betul. Kalau kelak kita kebetulan bertemu pada malam hari di akhir pekan, jangan panggil aku Damiano.”

“Lalu?”

“Daniella. Nama dari bahasa Italia.”

“Akan kucari tahu sendiri artinya.”

Matahari sudah turun melewati garis cakrawala. Bulan menggantikan tempatnya; menggantung di langit yang bersih, hanya ada beberapa lembaran awan tipis yang sesekali melewati wajah bulan. Bintang-bintang berkedip bagai pelacur yang menyambut kedatangan tamu. Para buruh bangunan menyantap makan malam mereka dengan lahap.

Pukul delapan malam, Damiano mulai merias wajahnya di depan cermin yang berdiri di dekat jendela kamarnya. Kurang dari lima menit, ia sudah menentukan setelan yang akan dikenakannya malam itu. Sepotong rok pendek berbahan jeans, tanktop merah muda, dan jaket bermotif kulit macan yang kerahnya berbulu.

Damiano meninggalkan kamarnya, melangkah ke jalan yang membentang di seberang area kuburan dekat tempat tinggalnya. Sepi, jejak kematian mengapung di sekitar tempat itu. Ia berhenti sebentar di depan gerbang area kuburan, menyiapkan dirinya yang akan memasuki kota dalam beberapa puluh meter lagi, dan menyusuri jalan yang penuh siulan lelaki berwajah bangor.

Damiano melihat ke langit; melihat bulan di atas kuburan, dan menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya, berulangkali. Sebelum kembali berjalan sambil melatih vokalnya. ***

(2021)

ROBBYAN ABEL RAMDHON menulis cerpen dan esai, sejumlah karyanya diterbitkan berbagai media cetak dan digital. Kini mengelola aroo creative space dan bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram. Media Sosial: Robbyan Abel R (Facebook) / @Robbyanabel (Instagram)

Arsip Cerpen di Indonesia