AKU adalah seekor anjing yang menyedihkan. Tak ada yang peduli dengan tangisku. Aku mencoba mengekspresikan kesedihanku dengan menggonggong lirih. Kuharap ada orang baik hati menolongku, membawanya ke rumah mereka. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan yang kulepas justru dibalas makian dari orang-orang yang berlalu-lalang.
Bahkan, perlakuan mengerikan yang tak kuduga datang dari seorang lelaki bernama Dimin. Ia mendekatiku. Wajahnya tanpa ekspresi. Langkah kakinya pelan. Lama sekali ia melihatku. Kepada sesama anjing, mungkin bisa kuduga niatnya. Namun pada manusia di hadapanku itu? Tak mungkin aku bisa menjajaki hatinya. Terlebih hati manusia memang bisa berubah-ubah dalam sekejap.
Pandangan Dimin itu sinis. Gerak kakinya menendang tubuhku secara tiba-tiba. Terperlantinglah tubuh kecilku ke dalam selokan. Aku menggonggong kesakitan. Dimin itu belum puas menghajarku. Ia mengambil balok kayu dan dilemparkannya padaku. Balok kayu itu tepat mengenai kakiku.
Tubuhku terluka, darahnya berceceran. Dimin sama sekali tak merasa iba padaku. Ia malah girang melihatku kesakitan. Ia sangat berhasrat menghabisiku. Dimin mengatakan, anjing tak boleh berkeliaran sembarangan. Tak boleh ada anjing di tempat ia tinggal.
Dimin itu menjelaskan kalau aku hanya menebar najis di mana-mana. Apakah aku bukan ciptaan Tuhan? Apakah Dimin itu memang pantas memperlakukanku dengan cara kejam seperti ini? Aku berusaha keluar dari dalam selokan. Kakiku sakit. Napasku terasa berada di ambang tenggorokan.
Dimin itu menegaskan, perlakuannya kepadaku semata-mata karena ia mencintai agamanya. Sebagai seekor anjing yang tak memiliki agama, aku bertanya ke dalam hatiku, adakah agama yang mengajarkan kekerasan? Lebih-lebih kepada anjing malang sepertiku ini. Aku sendiri tak pernah meminta dilahirkan sebagai anjing yang menjijikkan.
Seandainya Tuhan berkenan memberikan pilihan, tentu saja aku memilih menjadi manusia. Dengan menjadi manusia, aku bebas mencerca dan menistakan seekor anjing, pikirku. Tapi aku berpikir lagi, apakah dengan merendahkan binatang lantas menjadikan manusia itu mulia?
Dimin kembali melempariku dengan botol bekas. Ia meninggalkanku sendiri dalam selokan. Dimin mengancam akan menghabisi nyawaku kalau sampai besok aku masih berkeliaran di jalanan, dekat tempat ia tinggal. Dengan kaki terluka, kucoba melompat keluar dari dalam selokan berbau amis itu.
Setelah hampir lima belis menit, aku berhasil keluar. Tertatih-tatih aku menyusuri ruas jalan. Orang-orang hanya menatapku tanpa berniat menolong. Tak ada seorang pun manusia yang iba melihat kondisiku. Sepanjang jalan entah ke mana, aku menggonggong lirih yang tak lain itu adalah tangisku. Tangis seekor anjing yang dihina.
Hampir dua jam berjalan tanpa tujuan, tubuhku mulai lemah. Aku berusaha minta air minum pada seorang penjual kelapa muda di pinggir jalan, tapi ia justru mengusirku. Ia melempariku dengan pisau. Menyedihkan sekali hidupku. Aku pun berusaha lari dengan kaki terpincang-pincang.
Oh, Tuhan. Aku menangis lagi. Menyandarkan tubuh pada pohon trembesi. Mataku hampir terpejam saat seorang laki-laki menghampiriku. Dia adalah Darmanto. Wajahnya tampak sedih melihatku. Ah, tapi dia manusia. Aku tak tahu apa niatnya. Mungkin saja ia pura-pura, kemudian menyakitiku seperti Dimin itu. Manusia tak bisa kujajaki hatinya.
Rupanya, Darmanto itu benar-benar mau menolongku. Ia mengusap seluruh luka di tubuhku dengan kain. Darmanto mengajakku ke rumahnya. Ia menggendongku dengan melapisi tubuhku dengan balutan kain, semata-mata agar Darmanto tak tersentuh langsung dengan tubuhku yang berlumur darah.
Tiba di rumah Darmanto, mataku takjub melihat bangunan mewah berlantai dua. Aku beruntung ditolong oleh laki-laki kaya berhati baik. Ia pasti seorang laki-laki yang gemar ibadah. Baru kali ini aku merasa diperlakukan mulia oleh manusia. Perlakuan baik yang tak pernah kudapatkan selama ini.
Istri dari Darmanto berdiri di bibir pintu. Ia menghadang suaminya. Perempuan itu melihatku yang masih berada dalam gendongan Darmanto. Kemudian Darmanto menjelaskan awal mula menemukanku dan keinginannya untuk merawatku. Serta-merta perempuan itu menolak keinginan suaminya.
Bahkan, perempuan itu memberikan pilihan; pilih cerai atau tetap merawat anjing yang dipungutnya di jalan. Darmanto mencari cara agar aku tetap tinggal di rumahnya. Ia mengatakan kepada istrinya bahwa aku akan dijadikan sebagai anjing penjaga. Tugasku menjaga keamanan rumah.
Tak masalah bagiku menjadi budak di rumah mewah ini. Hal ini jauh lebih baik ketimbang menjadi anjing jalanan. Meski sejujurnya, aku berharap mereka menjadikanku sebagai kawan. Tapi itu mustahil, aku hanya seekor anjing dan majikanku itu adalah manusia terhormat. Perempuan itu meminta suaminya agar aku tak masuk ke dalam rumah, cukup berkeliaran di taman, menjaga keamanan rumah dari orang-orang yang mengincar kekayaan majikanku.
Darmanto mengatakan kepada istrinya bahwa ia menolongku bukan karena ia mencintai binatang. Tidak mungkin ia mencintai seekor anjing. Tak pantas anjing menyedihkan sepertiku ini dicintai oleh manusia kaya dan terhormat. Ah, sebagai anjing, dadaku sesak mendengar perkataan Darmanto tersebut.
Akan tetapi, apa pun perlakuan pasangan suami istri yang tak dikarunai anak itu padaku, sepantasnya aku harus bersyukur. Keduanya sudah menolongku dari kehidupan jalanan yang kejam. Selama berada di jalanan, kerap kali orang-orang memperlakukanku dengan cara tak berperasaan. Penghinaan sebagai seekor anjing yang malang sudah biasa kuterima dari setiap orang.
Tidak sedikit pun aku menyalahkan sikap suami istri itu padaku. Kuterima itu sebagai suratan. Apalah dayaku? Aku hanya seekor anjing yang memang kerap dinistakan. Tak banyak orang yang sudi menjadi temanku, apalagi sampai berani menyentuh tubuhku. Aku ini binatang najis, begitulah anggapan mereka padaku.
***
Sudah hampir satu tahun aku menjadi anjing penjaga di rumah suami istri yang rajin ibadah itu. Hampir setiap malam, kudengar pasangan suami istri itu menangis kepada Tuhan. Keduanya meminta diberikan anak dalam keluarga kecilnya. Permintaan itu belum dijawab oleh Tuhan. Barangkali hidup berdua jauh lebih baik bagi mereka. Tuhan tahu yang terbaik. Aku selalu ikut sedih mendengar isak tangis mereka yang menyayat.
Kesunyian membungkus malam yang dingin. Tak kudengar majikanku itu berdoa tengah malam. Gerimis malam hari membuatku kedinginan. Aku melihat sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias lampu taman membuatku melihat seorang lelaki bertopeng melompati pagar. Aku menggonggong keras. Kuharap orang yang berniat jahat itu ketakutan. Selain itu, kuharap majikanku bangun agar waspada.
Aku menggonggong lagi. Lebih keras dari sebelumnya. Kukatakan, aku akan menerkamnya jika sampai berbuat jahat pada majikanku. Gigi dan taringku mampu mengoyak urat nadi di leher hanya dalam sekejap. Bersiaplah bedebah! Aku mengikuti lelaki bertopeng itu dari belakang. Ia sama sekali tak menghiraukan gonggongan kasar yang kulepas.
Lelaki bertopeng itu terus berjalan. Lelaki bertopeng itu duduk di bangku taman di bawah pohon mangga. Ia melepas topengnya. Aku menghentikan gonggonganku. Kaget bukan kepalang saat kulihat wajahnya. Dia adalah Dimin yang pernah menganiayaku. Aku masih ingat betul dengan wajah dan kumisnya yang tebal. Ia menundukkan wajahnya. Dimin menangis.
Dimin diam sekitar tiga puluh detik. Aku mencoba mendekatinya. Ia tak bereaksi apa-apa. Tak lama kemudian, ia menyebut nama istrinya yang sedang hamil tua dan butuh biaya untuk melahirkan. Lelaki itu juga mengeluhkan soal biaya sekolah anaknya yang berjumlah belasan. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah yang menimpanya hanya dengan mencuri di rumah majikanku.
Dimin itu tiba-tiba menjadi cengeng, ia tak segarang saat menganiayaku dulu. Ah, kupikir Dimin itu sedang berusaha menipuku agar aku iba padanya. Tapi kalau diperhatikan dengan teliti, Dimin itu mengisahkan persoalan hidupnya apa adanya. Kenapa Dimin itu harus mencuri? Bukannya dulu ia mengatakan, perlakuan buruknya padaku semata-mata karena cinta agamanya. Apakah Dimin itu akan menjadikan agama lagi sebagai alasan?
Ah, rumit juga jadi manusia. Untung saja aku hanya seekor anjing. Aku pun memutuskan membiarkan Dimin itu mengambil beberapa barang majikanku. Dengan catatan, Dimin itu hanya boleh mengambil harta benda secukupnya. Dimin itu pun masuk ke dalam rumah dengan mencongkel jendela.
Kurang lebih sepuluh menit, kegaduhan terjadi di dalam rumah. Istri tuanku menjerit. Suaminya lari ke luar mengejar Dimin. Aku menggonggong, meminta Dimin segera pergi. Aku berpura-pura mengejar Dimin, padahal aku hanya membuntutinya dari belakang tanpa berniat menerkamnya. Tiba-tiba sebutir peluru menembus jantungku. Dimin melihat ke arahku, air matanya sempat jatuh.
Entah, apakah tuanku itu memang mengarahkan senapannya pada Dimin dan pelurunya meleset menembus jantungku? Aku tidak tahu. Aku hanya melihat raut wajah tuanku kecewa dengan pekerjaanku. Dan aku juga tak peduli apa yang akan terjadi setelah ini. Sebentar lagi aku akan mati. Lagi pula, aku hanya seekor anjing. Tak ada surga dan neraka bagiku. Tuanku hanya memandang mataku yang pelan-pelan terpejam untuk selamanya. ***