Maha Lara

AZAN Ashar baru saja selesai. Di sebelah timur, Pak Dolah berlari tergopoh-gopoh dari arah ladang. Biasanya, ia akan pulang menuju petang. Namun, selepas Ikal si putra bungsunya yang berbadan jangkung memberinya kabar tentang Romlah, ia tinggalkan segala pekerjaannya di sana.

Benar saja, rumahnya sudah ramai orang. Ada Pak RT dan beberapa tetangga lainnya berkerumum. Ia langsung menerobos keramaian dan mendapati istrinya pingsan. Mata Pak Dolah berkaca-kaca. Jantungnya nyeri bukan main.

Dilihatnya istrinya yang renta masih tak kunjung membuka mata. Ia tidak mendapati Leo, anak sulungnya yang baru saja membuat geger sekampung juga membuat Romlah jatuh tak berdaya.

Ini bukan kali pertama Leo membuat ulah. Sebulan lalu pernah ia menggadaikan motor kawannya untuk membayar utang judi. Namun, motor yang tak ditebus-tebus membawa kawannya mengamuk minta ganti.

Dua minggu lalu, Leo mencuri uang di kedai Cik Ani, sebab itu Pak Dolah dan Bu Romlah tak boleh lagi berutang di sana. Cik Ani sakit hati, meski Pak Dolah mencicil sebagai ganti, kepercayaan Cik Ani rasanya sudah dikoyak-koyak oleh Leo.

Uang yang akan dikirimkan Cik Ani untuk biaya studi anaknya di kota kandas begitu saja tanpa sisa. Padahal, selama ini Cik Ani tak pernah keberatan diutangi Pak Dolah dan istri karena memang kehidupan mereka yang serba kekurangan, tetapi baik hati pula. Namun sakit hati Cik Ani karena kelakuan Leo yang tak tahu diri belum bisa diobati begitu saja.

Tak hanya itu. Bila diingat-ingat, entah sudah berapa banyak kelakuan Leo yang membuat kepala Pak Dolah nyeri. Sebagai anak sulung, seharusnya ia menjadi tauladan yang baik untuk Ikal. Namun tidak begitu yang terjadi. Syukurnya, Ikal bertumbuh jauh lebih baik dari abangnya dan menjadi kekuatan tersendiri untuk keluarga.

“Romlah, bangunlah,” ujar Pak Dolah hampir kehilangan tenaga.

Kepalanya terasa ditimpa bebatuan yang berat sekali. Pak RT mendekat dan mengusap-ngusap pundak lelaki yang usianya mendekati enam puluh tahun itu.

“Sabarlah, Pak. Sebentar lagi Bu Romlah bangun. Jangan dipikirkan Si Leo itu. Dia sudah pergi entah ke mana,” ucap Pak RT.

Memang, sebelum Bu Romlah dan Ikal kembali dari pasar dan Pak Dolah pergi ke ladang, Leo sudah lari kocar-kacir saat didapati seorang tetangga tengah melakukan hubungan badan. Perempuan yang belum sempat dilihat jelas wajahnya itu pun ditarik Leo menjauh sebelum keduanya dihabisi sumpah serapah massa.

Pak Dolah terduduk bersandar di dinding rumah yang masih batu separuh, sementara separuh lagi masih berbahan dasar tepas. Air matanya mengalir. Melihat keadaan Pak Dolah yang melemah, Pak RT menyuruh para warga untuk segera meninggalkan tempat. Sedangkan Ikal langsung berlari ke dapur, mengambil secangkir air hangat untuk diberikan kepada Bapaknya.

“Minumlah dulu, Pak,” katanya.

Pak Dolah pun meneguk air hangat itu beberapa kali. Tak lama berselang, Bu Romlah terbatuk-batuk. Akhirnya ia sadarkan diri. Matanya basah.

“Kenapa Leo selalu buat ulah, Pak?” katanya langsung tersedu-sedu.

Ikal segera menyerahkan secangkir air hangat yang baru saja diambilnya lagi dari dapur. Bu Romlah tampak enggan meminumnya. Ia masih tidak tau harus menaruh di mana mukanya menahan malu.

Waktu berlalu. Pak RT pamit kembali ke rumah setelah keadaan mulai membaik dan Bu Romlah sudah mau masuk ke kamar beristirahat.

Di ujung cakrawala, sang surya mulai memancarkan cahaya orange kemerah-merahan. Azan magrib berkumandang dan Leo masih saja belum pulang, sedang Pak Dolah tak henti mondar-mandir menunggu di depan pintu.

“Bapak, masuklah ke kamar. Istirahat saja, temani Mamak. Nanti kalau Abang pulang, Ikal beri tau, jangan lupa sholat dulu,” ujar Ikal yang muncul sehabis mengambil air wudhu.

“Ke mana lah abangmu, Kal?” Mata Pak Dolah memerah.

Tak dipungkiri begitu ia lelah dan banyak menyimpan beban pikiran. Bagaimana tidak, kejadian siang tadi benar-benar di luar dugaan. Leo tak tanggung-tanggung membuat malu keluarganya. Ikal memegang pundak bapaknya dan mencoba sedikit memijat keduanya.

“Pak, nanti kita pikirkan lagi, ya. Bapak shalat dulu, setelah itu istirahat.”

Pak Dolah menghela napas berat. Ia akhirnya menurut.

***

Setelah dua minggu tak berkabar, Leo akhirnya pulang dengan badan terhuyung. Mulutnya mengeluarkan asap yang menggumpal ke udara. Entah sudah berapa batang rokok, Ikal tidak tau. Namun yang jelas, bau mulut abangnya itu menyengat sekali kemana-mana. Tidak ada salam, Leo menendang pintu sangat keras.

“Bapak! Bapak! Pak, minta duit!” Katanya dengan suara meninggi.

Diperiksanya satu persatu kamar yang ada di dalam rumah, namun ia tak menemukan bapak dan mamaknya sama sekali. Leo mendekati Ikal yang sudah rapi dan agaknya hendak pergi.

“Eh, cupu! Mana Bapak, Ha?” tanya Leo.

Diembuskannya kuat asap rokok ke wajah Ikal. Selanjutnya, disunggingkannya senyum puas. Ikal tak menjawab apapun selain tatapan benci yang tersirat. Hal itu membuat Leo semakin emosi dan tak terkendali. Ia menarik kerah baju Ikal kemudian.

“Udah berani kau melawan samaku, hah? Aku mau minta duit Bapak! Atau duit kau ada, bagi sini samaku!” Leo semakin membabi buta. Dibuangnya puntung rokok asal, lalu dirogohnya kantung baju dan celana Ikal. Nihil, ia tak menemukan sepeser pun.

“Aku rasa gak ada gunanya aku berdebat sama Abang. Kalau Abang mau mintak uang sama Bapak Mamak, datanglah Abang ke Rumah Paman Endi,” Ikal berlalu dan meninggalkan Leo yang membeku di tempatnya. Mendengar nama Paman Endi, Leo kepanikan. Ia bergegas menyusul Ikal yang pergi lebih dulu.

***

Suasana tegang sekali. Belum ada yang membuka suara selama lima menit duduk di ruang tamu keluarga Endi. Ikal baru saja datang dan langsung duduk di dekat bapak dan mamaknya yang sengaja diundang oleh Paman Endi hari ini.

Paman Endi adalah adik Romlah paling kecil. Entah apa yang akan dibicarakan. Di kursi sebelah kanan, ada Selvi anak Paman Endi yang muram dan tidak nyaman, terlihat dari gelagatnya yang resah. Sedang Paman Endi dan istri agaknya bingung memulai dari mana obrolan penting ini.

“Mungkin Kakak sama Abang dan Ikal bingung ada apa aku meminta kalian datang hari ini, tapi aku sama Asih sudah cukup siap menyampaikannya meski berat sekali kami rasa,” suara Endi bergetar hebat. Matanya berbinar. Pak Dolah dan Romlah saling pandang. Asih mengusap-usap tangan suaminya berusaha menguatkan.

“Lihatlah Selvi, di perutnya telah tumbuh janin dari hubungan terlarang yang dilakukannya dengan Leo, sepupunya sendiri,” Endi tak tahan.

Akhirnya ia terisak, begitupun dengan Asih. Selvi membeku di tempatnya. Sedang Pak Dolah dan keluarga seperti disambar petir kembali. Ya Tuhan, cobaan maha berat apalagi ini?

Di tengah keadaan pilu membiru itu, Leo muncul di ambang pintu. Ia tampaknya terlambat menghalangi pernyataan itu. Pak Dolah naik tensi. Ia tidak peduli lagi dengan status Leo sebagai anaknya. Ia menampar Leo dan hilang kendali.

Leo yang memang memiliki sifat temperamental, tak tinggal diam. Ia berusaha menjauhkan tubuh bapaknya, namun siapa sangka, adegan bapak dan anak itu menjadikan status Romlah sebagai janda pula dan teriakan semakin menggema ke mana-mana. Leo terjatuh diterpa badai sesal. ***

Dolok Masihul, Mei 2020

Arsip Cerpen di Indonesia