Kaja yang Rumit Dieja

KM KAMBUNA sudah tiga kali meniupkan terompetnya. Terdengar pengumuman, “Abek-abek, siap muka-belakang, tiga puluh menit lagi kapal akan diberangkatkan. diharapkan agar para pengantar dan pejemput untuk segera turun dari kapal. Poop… pooooop… poooop….”

Begitu bunyi peringatan dari cerobong kapal siang itu. Rute pelayaran: Pantoloan-Ujung Pandang-Balikpapan-Tanjung Perak.

Di kapal, keributan jamak terjadi, riuhnya melebihi pasar, suasananya campur aduk. Kaja dan Ibunya mengalami itu. Misal; menyaksikan seorang ibu-ibu yang mengenakan topi kerudung ungu, seperti simbol seorang hajjah itu, berteriak-teriak memanggil Anak Buah Kapal. Teriakkannya meminta tolong, baru saja copet menggasak gelang emas dari lengannya. Sementara, masih di Dek yang sama, beberapa porter pelabuhan ada yang mengamuk, mereka memaksa para penumpang agar jasa mereka dibayar lebih meski tanpa kesepakatan. Ada juga pungutan liar yang dilakukan oleh para ABK dengan menawarkan kasur lipat, alih-alih para penumpang bisa mendapatkannya gratis.

Kasur lipat belum juga didapat, begitupun dipannya. Padahal di tiket Kaja dan Ibunya tertera fasilitas Dek 3 berikut ranjang no. 11 C. Di dalam Dek itu barisan penumpang berhamburan dengan tas yang masih setia di pundak, kardus-kardus dijinjing, serta masih menenteng berbagai perlengkapan pangan. Para penumpang begitu banyak terbengkalai, mengeluh belum dapat tempat sebagaimana dijanjikan di selembar tiket.

Beberapa orang menyarankan agar kami mencari tempat tidur di lorong-lorong kapal yang masih luas. Nanti setelah pemberhentian selanjutnya, ranjang-ranjang Dek ada yang kosong, beberapa penumpang banyak yang turun. Tak ada pilihan lain. Kaja dan Ibunya akhirnya mengikuti saran tersebut.

Sore hari adalah waktu yang amboi untuk sebuah perjalanan menggunakan kapal. Selain bisa menyaksikan sunset, juga bisa melihat kawanan lumba-lumba melompat di perairan antara laut Jawa dan Sulawesi. Itu pun jika beruntung.

Di lantai atas pantat kapal, tersedia cafeteria kelas bawah. Pemandangannya langsung ke hamparan laut luas tak bertepi. Sebenarnya ada juga restaurant yang agak besar, letaknya di tingkat paling atas, posisinya di tengah tubuh kapal. Multifungsi. Bisa menjadi bar maupun cafe. Tapi, fasilitas ini hanya untuk mereka yang memegang tiket kelas 1 dan 2 yang berada di Dek 1 dan Dek 2. Kelas 3 yang berada di Dek 3 tak diizinkan masuk, kecuali sanggup membayar tiket masuk seharga 15 ribu, itu sudah termasuk sekali makan prasmanan, sebotol air mineral dan bonus live music. Sore itu Kaja membeli sebotol air mineral di cafetaria, di pantat kapal.

Malam hari adalah hal yang paling menakutkan, menyenangkan, juga menegangkan bagi macam-macam penumpang. Kaja duduk di pagar kapal yang tak menjorok ke laut, letaknya di sebelah kiri lambung kapal. Dekat dengan temali sekoci. Dia merasakan suasananya. Berlayar di tengah laut lepas dengan langit gelap, hembusan angin kencang. Kapal yang memancarkan lampu kerlap-kerlip itu terlihat tak seberapa benderangnya dengan gelap yang tak berbatas, yang sangat sunyi, seperti makhluk yang begitu kecil, tak berdaya. Kaja yang baru lulus SMP itu antara cemas dan penasaran di tengah-tengah maha luas kegelapan yang sewaktu-waktu bisa saja ombak raksasa datang, atau angin badai menghantam, kemudian menelan KM KAMBUNA beserta para penumpang di dalamnya.

Di antara pintu masuk masjid kapal, terdapat bangku panjang. Di situ ada beberapa gadis belasan tahun, sedang dirayu oleh seorang ABK yang juga duduk di tengah-tengah para gadis. Gadis-gadis itu sama sekali tak merasa risih. Malah sebaliknya, terlihat pancaran kebanggaan di mata mereka karena telah mampu duduk bersebelahan, mengobrol lepas, melepas canda, bersama pria berseragam putih, bertopi pelaut, menunjuk kerlap-kerlip bintang dari sebuah bangku asmara.

Sedikit samar, tapi masih jelas. Di depan cerobong asap bagian depan kapal, terdapat beberapa sudut yang menyisakkan ruang. Kira-kira cukup untuk ukuran dua orang manusia merebahkan tubuh. Kupu-kupu malam terlihat sedang menegosiasikan sebuah harga. Kemudian perempuan itu mengambil kardus tipis, masuk bersama seorang pria hidung belang, setelah itu, dua anak manusia tak terlihat lagi.

Kaja menjumpai Indonesia mini di kapal KM KAMBUNA. Pengalaman pertama itu sangat ia rasakan. Dia berjumpa dengan mahasiswa-mahasiswi dari Jogja, Surabaya, Bandung dan Jakarta. Membuat dirinya semakin termotivasi untuk menyelesaikan sekolah SMU, kemudian melanjutkan kuliah.

Maklum. Mahasiswa saat itu sangat dielu-elukan masyarakat. Mereka orang berani, cerdas dan kritis. Tentara mereka berani lawan. Apalagi polisi. Terutama mahasiswa angkatan reformasi.

Kaja sendiri punya masalah dengan polisi. Sewaktu kecil, jika Kaja menangis meronta meminta sesuatu pada orangtuannya dan orangtuannya tak mampu mengatasinya, Kaja akan didiamkan dengan ancaman, “Kalau tak berhenti menangis, polisi berseragam lengkap, menggunakan pistol akan datang mendiamkan.” Kaja kecil tentu sangat takut dengan ancaman itu, meski bentuk pistol itu lucu dan disukai banyak anak-anak, tapi suara pistol, kemudian tubuh berlubang mengeluarkan darah adalah gambaran yang menyeramkan bagi anak-anak.

Tapi, Kaja juga ingin seperti musisi cafe yang tampilannya unik, rendah hati, mau memilih kelas ekonomi. Seorang pria, yang musisi cafe itu begitu lincah memainkan gitar, jari-jarinya menari rumit, gema yang keluar dari tubuh kayu gitar sangat indah, musisi itu memainkannya bersama sekelompok anak daerahnya dari Ambon.

Keriuhan, keceriaan dan kewaspadaan hanya bisa dijumpai di Dek 3, kelas ekonomi. Para penumpang di Dek ini bebas bernyanyi-nyanyi, bermain remi, mengobrol, yang isinya lebih banyak ke gossip. Tapi di saat yang sama, mereka selalu waswas dengan barang bawaan.

Kondisi terbalik dengan para penumpang bertiket Dek 1 dan Dek 2, yang semua ruanganya berbentuk sekat-sekat kamar. Diisi oleh orang-orang yang hanya banyak menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di teras-teras kapal, mandi air hangat di bathtub, menikmati live music di restaurant, menonton bioskop mini di Dek 2, tanpa khawatir dengan barang bawaan yang sudah aman terkunci di dalam kamar.

Di lantai paling atas, tepat di atap Dek 1, di bawah kanopi hijau yang luas, yang digunakan sebagai ruang penyimpanan sekoci, rompi keselamatan dan berbagai perlengkapan kapal, digunakan para penumpang untuk tidur. Mereka adalah penumpang yang tak kebagian tempat tidur di Dek 3. Mereka menggelar tikar, koran dan kardus. Mereka yang bernaung di bawah kanopi hijau itu termasuk sekelompok pria yang keningnya hitam, memakai surban di kepala dan bergamis tanggung yang menjulur sampai bawah lutut. Pria-pria itu bercelana cingkrang, beberapa bermotif loreng, kemudian berrompi dengan sebuah aksara arab, yang kalau dituliskan dalam bahasa Indonesia menjadi, “Jamaah Islamiyah.”

Mereka terlihat sedang bercengkrama antara satu sama lain. Kaja mendengar logat jawa keluar dari mulut mereka. Kemudian terdengar seorang pria Bugis yang penasaran, menanyakan tujuan dari kelompok itu, “Mau turun di mana kita, Pak Haji?”

Sambil melepas senyum ramah, seorang dari kelompok tersebut menjawab, “Jangan panggil pak haji, Pak, ana belum haji. Tapi, kami mau turun ke Pantoloan, kemudian melanjutkan jalan darat ke Poso.”

“Ooooo… begitu….” tatapan mata pria Bugis itu tiba-tiba kosong sekian menit, kata-kata selanjutnya seakan enggan keluar lagi, seperti baru saja telah dibekap oleh malaikat untuk tak banyak bertanya. ***

Arsip Cerpen di Indonesia