Tumbuh-Tumbuhan Bertumbuhan di Tubuhnya

HAL yang selalu diingat Martini setelah kepergian bapaknya adalah ucapan yang mengatakan bahwa tangannya “panas”. Sehingga apa pun yang ditanam olehnya tidak akan tumbuh bagus, bahkan sampai layu dan mati. Entah benar atau salah, atau hanya kebetulan semata. Pernah suatu ketika dirinya bersikeras membantu ibunya merapikan tanaman bunga di halaman, namun beberapa hari kemudian banyak dari tanaman itu kekeringan. Meskipun sudah disiram berkali-kali.

“Benar yang bapakmu omongkan dulu, Mar. Kau tak usahlah memegang tanaman. Cukup pekerjaan di dalam rumah saja,” ucap ibunya sembari merapikan dan membersihkan beberapa tanaman yang layu.

“Itu tidak benar, Bu. Apa hubungannya dengan tangan?”

“Garis tangan, Mar,” sahut ibunya.

“Iya, Bu. Apa pun itu, bisa saja tanaman banyak yang layu karena sekarang bukan musim penghujan,” jawab Martini membela diri.

Ibunya hanya terdiam mengamitkan mulutnya. Perempuan paro baya itu paham betul karakter anak gadisnya yang susah dibantah. Sama persis dengan mendiang suaminya.

***

Setelah kepergian bapak, ada sesuatu yang hilang dari diri Martini. Perempuan yang baru saja menginjak usia dua puluh tahun itu merasakan kesunyian di hatinya. Perdebatan yang biasanya mengisi hari sudah tidak ada lagi. Sebuah perdebatan yang berakhir dengan saling tawa. Martini menyadari ada hal yang menyamainya dengan lelaki yang dikaguminya itu.

“Kau orangnya tidak mau kalah kalau berdebat. Selalu saja ada alasan yang akan membungkam lawan bicaramu.”

Martini selalu ingat ucapan itu. Menurutnya, sebuah bantahan semata-mata ingin menyampaikan sesuatu. Bahwasanya jika sesuatu itu benar, maka katakanlah benar. Begitu pun sebaliknya. Tidak ada niat sedikitpun melawan apa yang diucapkan bapak di hadapannya.

“Sudah, Mar. Jangan membantah apa yang dikatakan bapakmu!” Begitu hardik ibunya pelan jika percakapan sudah berada di puncak perdebatan.

“Biarkan saja, toh Martini sudah menjadi perempuan dewasa dengan pemikirannya.” Bela bapak seakan memihak padanya. Sebenarnya bukan maksud siapa yang menang, siapa yang kalah. Siapa yang benar, siapa yang salah. Perempuan muda itu segera merangkul ibunya. Dirinya tidak ingin ibunya merasa terabaikan saat sedang bercakap dengan bapaknya.

Kesunyian kembali menyeruak dalam kepalanya. Rumah terasa amat lengang tanpa kehadiran bapak. Ada satu hal yang masih menggantung dan seharusnya diselesaikan untuk dibahas, yaitu apa benar tangannya “panas” seperti yang dikatakan bapak dulu. Percaya begitu saja? Tentu tidak bagi Martini. Bisa saja hanyalah sugesti yang ditanamkan dalam pikirannya selama ini.

***

“Sebenarnya, apa yang kau ucapkan, meskipun dalam hati sekalipun, akan memengaruhi cara berpikir dan bertindakmu, Mar.”

Ucapan bapak itu membuka obrolan. Martini hanya mendengarkan dengan serius. Sebab, apa pun yang akan dibahas oleh bapaknya adalah pengajaran dan masukan yang berharga baginya.

“Jangan sekali-kali menganggap diri tidak mampu sebelum kau mencobanya. Paham kan?”

Martini hanya mengangguk menantikan ucapan bapak selanjutnya.

“Begitu pula dengan ucapan orang lain yang kau dengar. Tidak sepenuhnya benar, tidak sepenuhnya salah. Di saat itulah tugasmu yang mendengar untuk mencernanya dengan pikiran. Karena menerima bulat-bulat ucapan itu juga akan memengaruhi pikiran dan tindakan,” lanjut bapak lagi.

Kata-kata itu masih terngiang dalam pikiran Martini. Itulah awal dirinya diajarkan percaya diri, tidak terpengaruh oleh ucapan semata, meskipun dari bapaknya sendiri. Saat itu pula dirinya diajarkan untuk bersikap dan berpendapat, pun membantah jika sekiranya dapat dibantah. Namun, tetap dengan alasan yang masuk akal.

“Bisa jadi selama ini yang bapak katakan tanganku “panas” hanyalah upaya memengaruhi pikiranku saja. Hmmm.”

Perempuan muda itu tersenyum. Sejenak dikaguminya lagi mendiang bapak yang masih sempat meninggalkan “pengajaran hebat” yang mesti dipecahkan olehnya. Jika dirinya berpikiran serupa bahwa tangannya memang tidak cocok memegang tanaman itu, artinya bapak telah menang memengaruhi pikirannya. Ditambah lagi ibu yang percaya begitu saja, sehingga pengaruh itu bertambah besar dalam pikiran Martini.

“Akan kubuktikan bahwa anggapan selama ini tidak benar!” Tekad Martini dalam hati. Dirinya yakin dan mampu menanam apa saja hingga tanaman itu tumbuh subur, berdaun rindang, berbunga, hingga berbuah lebat. Bahkan pada tubuhnya adalah bibit tumbuhan yang menunggu ditumbuhkan!

***

“Ibu sungguh tidak bisa melarangmu lagi, Mar. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan tanaman ini,” ucap ibunya terlihat pasrah.

Martini hanya tersenyum melihat sedikit keraguan di wajah ibunya. Sugesti yang selama ini membelenggu pikirannya harus segera dilenyapkan. Sekarang dirinya seorang yang sangat bersahabat dengan alam dan tumbuhan.

Hampir setiap hari dirinya berkutat dengan berbagai tanaman. Baik tanaman bunga maupun tanaman buah. Memang, setelah menamatkan bangku sekolah, kesempatan melanjutkan pendidikan belum juga tercapai. Ditambah lagi setelah kepergian bapaknya. Satu hal yang terus dipegangnya adalah alam akan mengajarkannya tentang hidup dan kehidupan. Ilmu yang didapatkannya saat sekolah, juga bahan bacaan dari internet, cukup untuk menambah sedikit pengetahuannya. Tabungannya pun kini dibelikan bibit tanaman serta keperluan lain.

“Semoga harapan itu terwujud!”

***

Siang itu tampak seorang perempuan muda tengah asyik dengan gawai di tangannya. Sesekali dirinya melakukan percakapan. Mobil bak terbuka siap mengangkut berbagai tanaman yang dipesan oleh pelanggan. Sebuah papan baliho bertuliskan sebuah usaha budi daya serta penjualan bibit tanaman bunga dan buah. Setelah membereskan pesanan, perempuan muda itu sejenak menengadah ke langit sambil memejamkan mata.

“Doa Martini tidak akan putus buat bapak. Tenanglah di sana….” ***

DE EKA PUTRAKHA. Dapat dihubungi melalui Facebook De Eka Putrakha atau Instagram @deekaputrakha.

Arsip Cerpen di Indonesia