DUA orang tampak berlari menuju parkiran, baru saja mereka menerima telepon dari senior yang mengatakan hal darurat sedang terjadi. Setibanya di tempat tujuan, wajah mereka berubah menjadi bingung karena melihat senior dengan santai makan siang di kantin.
“Apa yang terjadi, Senior?”
“Tidak ada, tolong temani saya makan siang di sini,” jawab senior.
Mereka berdua melongo mendengar jawaban dari senior. Alan, saudara kembar Alifa mengomentari perbuatan yang tidak masuk akal dari senior tersebut. Namun, senior tidak menjawab hanya memberi tatapan. Setelah sesi makan siang bersama, mereka melanjutkan pekerjaan yaitu menyiapkan semua peralatan yang akan digunakan malam nanti.
Kegiatan itu dinamakan dengan Music Night, semua mahasiswa dan mahasiswi tidak mampu bernapas dari tugas meskipun hanya sebentar. Tidak terasa malam telah tiba, semuanya sudah berkumpul di lapangan dan kegiatan dimulai dengan penampilan dari angkatan senior. Grup musik yang tampil cukup terkenal karena setiap anggota memiliki wajah tampan terutama senior bernama Haikal yang dekat dengan Alifa dan Alan.
Selama tampil, senior Haikal fokus memandang ke penonton, tetapi dia juga mencuri kesempatan untuk melihat ke arah Alifa dan Alan yang berada di belakang Alifa untuk menjaga saudari kembarnya itu. Ketika di akhir lagu senior Haikal melakukan wink yang membuat semua mahasiswi berteriak, terutama Alifa yang tersenyum malu akibat ulah dari senior pujaan hatinya. Alan memukul pelan kepala Alifa karena menurutnya tingkah Alifa sangat lebay.
Kegiatan berjalan lancar sampai akhir, Alan dan Alifa menuju parkiran hendak pulang ke rumah. Namun, senior Haikal menghalangi dengan alasan mengajak makan malam bersama. Mendapat tawaran makan gratis membuat mereka langsung menganggukan kepala.
Selama perjalanan menuju restoran sampai pulang ke rumah, Alifa merasa kesal kepada Alan karena dia duduk di belakang melihat senior Haikal dan Alan saling mengobrol. Berulang kali Alan mengetuk pintu kamar Alifa, tetapi dia tetap tidak peduli. Alan paham dengan sikap saudari kembarnya itu, karena Alifa menyukai senior Haikal.
Sinar mentari yang menembus gorden kamar membangunkan Alan dari tidurnya. Dia melihat jam dari ponsel yang menunjukkan pukul delapan. Alan segera bangun dan mencuci wajah lalu memesan motor dari aplikasi online.
“Sial,” kesal Alan.
Sudah lima belas menit Alan menunggu, tetapi motor yang dipesannya dari aplikasi belum datang juga. Seketika Alan menyesal meninggalkan motornya di kampus. Suara motor berhenti mengalihkan perhatian Alan dari ponselnya, ternyata motor tersebut milik senior Haikal.
Senior menawarkan tumpangan, namun Alan bingung harus menerima atau tidak. Seandainya senior membawa mobil mungkin Alan langsung setuju, tetapi karena senior membawa motor Alan harus berpikir ulang.
“Aneh kalau berdua naik motor sama senior,” gumam Alan dalam hati.
Selain perasaan yang mengganjal dalam diri, Alan juga memikirkan Alifa. Situasi mereka belum baik, bahkan Alifa tidak melakukan rutinitasnya membangunkan Alan setiap pagi dan pergi bersama, karena waktu terus berjalan mau tidak mau Alan menyingkirkan perasaan anehnya.
Sampai di parkiran kampus, Alan mengucapkan terima kasih dan lari menuju kelas. Alifa menatap kesal melihat kehadiran Alan yang duduk di sampingnya. Dari kelas dimulai hingga selesai Alifa tidak juga berbicara kepada Alan. Memang kedua remaja kembar itu sering bertengkar, tetapi dalam hitungan menit pasti langsung berdamai. Permasalahan itu adalah rekor terlama Alan dan Alifa bertengkar.
“Fa, Alan minta maaf.”
“Kesal, padahal Alan tahu kalau Alifa suka sama senior Haikal,” balas Alifa.
Ya. Alan dan Alifa selalu memanggil nama. Setelah perbincangan, Alifa menerima permintaan maaf dari Alan dan mereka berpelukan. Untuk merayakan hari perdamaian, mereka akan pergi ke kafe biasa tempat nongkrong. Namun, hal yang sama terjadi lagi, senior Haikal menghalangi dan mengajak Alifa makan siang bersamanya. Tentu, Alifa yang mendengar ajakan itu sangat senang dan langsung mengiyakan. Begitu juga dengan Alan yang ikut setuju, rencana mereka bisa kapan saja yang penting Alifa senang.
“Senior, jaga Alifa,” pesan Alan kepada senior.
“Ya, pasti,” balas senior Haikal.
Melihat motor senior yang sudah melewati gerbang kampus, Alan bergegas pulang ke rumah. Semenjak pergi makan siang berdua, terhitung sudah lima bulan lamanya senior Haikal dan Alifa semakin dekat. Seperti saat ini, Alifa sibuk merias diri untuk bertemu dengan senior.
“Bucin terus …,” ejek Alan.
“Alan sirik, makanya cari pacar,” balas Alifa.
“Memangnya Alifa sudah pacaran sama senior?”
Alan tertawa keras melihat Alifa yang tiba-tiba diam di depan meja rias. Mendengar suara klakson mobil berhasil menghilangkan kekesalan Alifa dan langsung meninggalkan Alan. Seperti biasa senior Haikal dan Alifa menghabiskan waktu dan berakhir dengan makan malam bersama. Banyak hal yang disampaikan Alifa kepada senior, begitu juga sebaliknya. Senior itu mengatakan mau menyatakan perasaannya kepada seseorang dan Alifa tidak merasa cemas sama sekali.
Hari yang ditunggu telah tiba, Alifa sibuk memerhatikan penampilan dan riasan wajahnya di dalam mobil. Sedangkan Alan hanya bisa menggelengkan kepala. Sampai di kafe tujuan, Alan ikut masuk sesuai dengan perintah Alifa. Alifa mengatakan Alan menjadi saksi dan ada yang membawanya pulang jika saja Alifa pingsan saat senior menyatakan perasaannya. Senior melihat kehadiran kedua remaja kembar itu dan mereka mulai dengan makan siang bersama.
Inilah waktunya, senior akan menyatakan perasaanya dan Alifa tersenyum meyakinkan diri meskipun jantungnya berdetak sangat cepat. Senior melihat kedua mata Alifa dan Alan secara bergantian sambil tersenyum manis. Namun, saat senior menyebutkan nama seseorang yang disukainya, Alan pingsan. Senior Haikal menyukai saudara kembar Alifa, Alan Jexandra. ***