KENYATAANNYA kopi tak selalu bersanding dengan sebaris kalimat puitis yang menggetarkan hati. Seperti malam ini misalnya, kopi justru bersanding dengan aroma sepi dan dinginnya malam yang menusuk hingga ke mimpiku.
***
“Kamu punya kenangan manis tidak di depan tugu ini Rin?” Kia melirik gadis berambut ikal dengan kaca mata minus itu.
“Asam yang ada. Aku diturunkan pacarku persis di depan tugu ini. Pernah juga kena tilang polisi karena tidak pakai helem.”
Kia dan Jesi tertawa lebar.
“Berhenti menertawakanku, memangnya kenangan kalian lebih manis daripada aku?” tantang Airin.
“Oh pastinya. Aku ditembak sama mantan aku di sini,” ujar Jesi pamer.
Kia dan Airin kini gantian yang tertawa.
“Kenapa kalian tertawa?” Raut wajah gadis itu memerah.
“Mantan aja bangga. Kenangan lama jangan dibawa-bawa lah,” tambah Airin.
“Eh kamu sendiri bagaimana Ki?” tanya Jesi penasaran.
Kia menghela nafas panjang. Kedua bola matanya tak berkedip memandang tugu pahlawan yang ada di hadapan mereka sana.
***
“Bang, permisi, ada pesanan tempat atas nama Arka tidak?” Tanya Kia pada salah seorang pria yang ia anggap sebagai pelayan di café itu.
“Sebentar ya Kak saya cek!”
Lelaki bertubuh tinggi itu memeriksa catatannya.
“Oh ada. Beliau ada di sudut sana, Kak!”
Lelaki itu menunjuk ke bangku berwarna cokelat yang ada di sudut ruangan.
Kia menaikkan sebelah alis dan bibirnya.
“Kenapa, Kak?” Tanya lelaki itu kembali.
“Ah tidak. Terimakasih! Eh oh iya tolong pesanannya ya, Bang.”
Dengan langkah kaki yang tidak bersemangat, Kia mendekati lelaki yang sudah janjian dengannya itu.
“Bang Arka ya?” tanya Kia ketika mendekat.
Lelaki itu membalikkan wajahnya.
“Benar, silahkan duduk.”
Arka mengulurkan tangannya kepada Kia. Kia menyambut uluran jabat tangan itu.
“Eh maaf tangannya.”
Kia menarik tangannya yang begitu enggan Arka lepaskan. Raut wajah sumringah bercampur nafsu tergambar di balik wajahnya. Kia pun mulai merasa tidak nyaman.
“Aku dengan toko kalian sedang dalam masalah ya?” Arka memulai percakapan.
“Ya begitulah, tapi aku yakin kami bisa membereskannya secepat mungkin,” jawab Kia dengan percaya diri.
Bibir Arka sedikit bergetir.
“Jangan pura-pura tidak tahu begitu.”
Kia memasang wajah tidak faham.
“Maksud Abang?”
“Ayahmu berusaha mati-matian meminta ayahku untuk menjodohkan kita supaya apa? Tentu saja untuk menyelamatkan toko kalian.”
Kia semakin tidak nyaman dengan sifat sombong Arka. Apalagi kalimatnya menggambarkan betapa rendahnya ayah Kia dimata Arka.
Tak berapa lama pegawai café yang menunjukkan arah pada Kia tadi datang dengan membawa pesanan.
Saat Arka sedang fokus memilih makanan, Kia mengambil selembar tisu yang ada di meja kemudian menuliskan sebuah kata. Tisu itu Kia tutup lalu selipkan kedalam menu.
Sesampainya di dapur café, lelaki itu membuka menu yang tadi Kia serahkan dan menemukan sebuah tisu bertuliskan “Help!”
Bingung dengan pesan singkat ini lelaki itu keluar dan melihat kearah Kia. Kia yang sadar diperhatikan lelaki itu melihat kembali si pemuda dan memasang wajah minta tolong.
“Abang jangan sembarangan mengatakan Ayah saya seperti itu. Saya yakin Ayah bukan orang yang putus asa sampai harus menjodohkan putrinya dengan anak rekan kerjanya.” Nada suara Kia mulai tinggi.
“Halah sudah lah Kia jangan berpura-pura begitu.”
Arka menyentuh jemari Kia. Sontak Kia menjauhkan tangannya.
“Jangan kurang ajar ya, Bang. Aku bukan siapa-siapa kamu.”
Kia berdiri dan meninggikan suaranya.
Seketika lelaki itu muncul menengahi.
“Ada apa ini?” tanya lelaki tersebut.
“Sayang, lihat nih lelaki ini bersikap kurang ajar sama aku.”
“Sa… sayang?” Lelaki itu heran melihat tingkah Kia.
“Pelayan ini kekasihmu?” tanya Arka tak percaya.
“Kalau iya kenapa?” gertak Kia.
“Lupakan soal perjodohan ini!”
Arka pergi dan meninggalkan uang seratus ribuan sebagai bayaran pesanan mereka.
Setelah Arka menjauh, Kia pun melepaskan rangkulannya. “Maaf ya, Bang, maaf aku terpaksa.”
Kia membungkukkan badannya.
Lelaki berhidung mancung itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Keesokan harinya.
“Pelanggan aneh macam apa sih yang minta pesanannya diantar di depan tugu pahlawan di tengah panas seperti ini. Dasar tidak pengertian.” Gerutu Kia.
“Maaf dengan Kiara’s Shop?”
Sebuah suara muncul dari belakang.
“Iya. Loh Abang yang di café?” tegur Kia.
“Eh iya Kakak yang waktu itu. Jadi ini toko Kakak ya. Maaf aku minta diantar ke sini karena mau diantar ke cabang aku yang di sana.”
Kia mengangguk faham. Ia pun kini menyadari bahwa pemuda tampan ini bukan pegawai atau pelayan café melainkan pemilik coffe shop tersebut.
“Mau ikut?” Lelaki itu menawarkan.
Kia yang terkejut tiba-tiba diajak akhirnya mau juga.
Dua anak manusia ini akhirnya mulai berkenalan. Lelaki itu bernama Arham. Pemilik coffe shop tempat awal mula mereka bertemu.
Tak disangka keakraban mereka semakin terjalin selama beberapa bulan. Selera humor yang sama, frekuaensi yang sama membuat dua sejoli ini mantap menyatukan hati.
“Cie yang mulai jago ngeracik kopi.” Arham menyenggol Kia.
“Oh iya dong. Calon manager kan harus pandai juga.”
Raut wajah Arham seketika berubah sedih.
“Ada apa Bang?”
“Aku ada panggilan ke Amerika untuk pelatihan manajemen perusahaan dan kecakapan barista di sana. Kurang lebih setahunan.”
Kia menghentikan jemarinya yang tengah asyik meramu kopi. Ia coba tegar dan memberikan senyuman terbaik.
“Wah bagus lah Bang, kesempatan emas itu. Jangan disia-siakan.”
“Kamu tidak masalah aku tinggalkan selama itu?”
Kia menggelengkan kepalanya. Meski hatinya sulit untuk melepaskan.
***
“Woy kog jadi melamun sih Ki?” tanya Jesi.
“Iya disuruh cerita malah melamun.” sambug Airin.
Kia semakin tertawa sendiri.
Tugu pahlawan ini memberikan kenangan manis padaku. Kia menunjuk ke seberang tugu pahlawan. Ada coffe shop Arham di sana.
“Ohh…!” kompak Jesi dan Airin. ***