Mengingat hal itu kembali, aku tersenyum saat Wakamatsu menunjuk-nunjuk sebuah bangunan. Gerbangnya tampak suram dan mengesankan seperti tak dihuni. Namun, saat aku mendongak, pada lantai kedua bangunan itu terlihat lentera-lentara menyala terguncang-guncang lembut ditiup angin.
“Rumah yang itu. Berhenti di sini saja!”
Riksha yang kami tumpangi berhenti di muka bangunan. Jiro dan Wakamatsu lekas turun, sementara aku agak enggan. Tapi, tak ada waktu buat ragu kalau dipikir-pikir lebih jauh. Saat itu kuputuskan masuk saja mengikuti kemauan mereka.
Orang tua bungkuk yang menyambut kami terlihat ramah. Ia menuntun kami ke lantai atas.
Sepanjang koridor, suasana hening menaungi langkah kami. Di pertengahan jalan, Jiro dan Wakamatsu sudah lenyap. Kutoleh kiri-kanan tak tampak batang hidungnya. Mereka masuk ke salah satu ruang barangkali. Namun, pak tua bungkuk itu masih menemaniku menyusuri koridor yang seakan tak berujung.
“Silakan, Tuan, ini kamar Anda.”
Orang tua bungkuk itu tersenyum, lantas undur beberapa langkah dan menghilang ditelan kegelapan.
Aku langsung masuk setelah menggeret pintu-kertas di depanku. Tampak ruang berpenerangan baik dengan kotak perapian di tengah-tengah. Ada teko tergantung rendah di atas perapian. Lantaran melihat teko itu, rasa haus akibat minum-minum sake tadi muncul. Aku meraih gelas di samping kotak perapian dan mengambil teko itu. Kuminum teh kental yang ada di dalamnya.
Tak ada siapa pun di situ. Namun, beberapa saat kemudian, pintu geser berlapis-lapis di sisi lain ruangan terbuka dan dari sana muncul seorang wanita memesona. Ia amat jelita. Kecantikan yang amat jarang ditemukan di tempat macam ini, pikirku kala itu. Namun, sesuatu terjadi setelahnya, sehingga tiap kali mengenang perempuan itu, hanya akan memberiku perasaan sedih akibat ketidaktahuan diriku pada dunia yang sesungguhnya.
Kesan pertama setelah melihat wajahnya yang rupawan, aku serasa pernah dekat dengan perempuan ini.
Ia berlutut mendekatiku. Menaruh dudukan bantal di sampingku buatnya. Ia lantas tersenyum.
“Sudah lama menunggu, Tuan? Maafkan saya.”
“Oh, aku baru sampai.”
“Sini mantelnya saya lepas.”
Tanpa menunggu arahan dariku, perempuan itu bergerak ke belakangku. Dengan telaten ia melepaskan mantel yang menutupi kimonoku.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Sorot rembulan tepat mengenai wajahku saat aku membungkuk sedikit untuk memudahkannya melepas total mantelku. Ia mengamati wajahku dan tak berkutik untuk beberapa jeda. Lalu pada wajahnya muncul air mata.
“Sungguh memalukan kita bertemu di sini!” pekiknya. Ia menutup mulut dan sebagian wajahnya dengan ujung kimono legam yang dikenakannya pada saat itu. Sembari mundur beberapa langkah, ia terus menggeleng-gelengkan kepala.
“Ada apa?” Aku berusaha mendekatinya. Namun, tiap kali beranjak menuju ke perempuan itu, ia mundur selangkah lagi.
“Ada apa?” ulangku.
“Kau tak kenal aku? Lihat baik-baik siapa diriku.”
Dari tempatku duduk aku memandang lekat-lekat ke arah perempuan tersebut. Sebersit ingatan lekas datang ke pikiranku. Ginko!
“Ginko! Kenapa kau ada di sini?”
Perempuan ini ternyata Ginko. Sepupuku yang tinggal jauh.
Air mata Ginko terus menitik membasahi ujung dagunya yang lancip dan tertebar di lantai tatami ruang itu.
“Kakak!”
“Apa yang kaulakukan di sini?”
“Ayah terbelit utang. Aku dan adik-adikku dijual.”
Pikiranku pun terayun ke masa lalu. Ginko adalah kerabat jauhku. Kehidupan keluarga Ginko sepertinya baik-baik saja. Setahun lebih aku menghabiskan waktu tinggal di rumahnya pada saat sekolah menengah dulu. Rasanya tak ada apa pun yang luar biasa terjadi di dalam kehidupan keluarga tersebut. Tiba-tiba ia muncul di sini, di tempat hina ini, dan aku yang menyambangi tempat ini sebagai pelanggannya, sungguh sebuah kejadian yang tak dinyana. Untuk sesaat aku tak merespons apa yang ia ucapkan tadi. Aku mengawang-awang masa lalu saat kehidupan sebuah tenteram tergelar dalam keluarga bahagia.
“Bagaimana keadaan ayahmu kini? Di mana adik-adikmu?”
“Ayah meninggal empat bulan lalu. Adik-adikku menikah dengan para pedagang yang membeli mereka. Mereka menyuratiku kadang kala.”
Aku mendekati Ginko dan kuusap matanya.
“Kakak!”
“Tak usah bersedih. Mungkin bisa kuupayakan nanti untuk menebusmu dari rumah hina ini. Kau tunggu saja!”
Ginko memelukku dan aku mengelus-elus kepalanya. Musim panas saat itu benar-benar waktu yang tak semulus kehidupanku sebelum-sebelumnya. Sepupu yang telah kulupakan untuk beberapa saat hadir dengan begitu mencengangkan. Aku keluar dari ruangan Ginko setelah berjanji akan menebusnya. Saat Jiro dan Wakamatsu selesai, kuceritakan pertemuanku dengan Ginko. Seakan terlecut satu kenyataan menggugah, rasa mabuk yang mereka alami terpotong dan kesadaran mereka kembali. Mereka benar-benar menyesal telah mengajakku ke rumah bordil itu. Kukatakan ini bukanlah salah mereka. Keduanya pun ikut memikul beban yang sama setelah kuberi tahu bahwa aku hendak menebus Ginko dari rumah bordil.
Dua hari kemudian uang beberapa ribu yen guna menebus Ginko dari tempat terkutuk itu terkumpul setelah aku, Jiro, serta Wakamatsu susah payah mengumpulkannya dari utang sana-sini dan tabungan. Pada masa itu, gaji tertinggi pegawai hanya sampai ratusan yen, dan bagi lulusan perguruan tinggi yang belum menjalani kerja, uang ribuan yen itu bukanlah perkara gampang mendapatkannya. Namun, pada akhirnya uang tersebut terkumpul. Aku mencegat riksha di depan tempat kos dan bergerak dengan sekantong uang ke arah Yoshiwara.