RIKSHA yang dipesankan Jiro sudah sampai di muka gerbang restoran yang kusambangi bersamanya dan Wakamatsu di Aoishi—Yokocho. Malam sudah larut. Aku hanya menenggak tiga kali sake yang disuguhkan para geisha, berketetapan bahwa aku tak ingin mabuk dan ambruk lantaran setelah ini Jiro dan Wakamatsu pasti membawaku ke tempat aneh-aneh.
—
KALAU kesadaranku tinggal setengah, bakal sulit bagiku melarikan diri setelah kami sampai suatu tempat. Itu sebentuk pertahanan diri yang telah kuperam sedari mula aku berkawan dengan dua temanku ini. Mereka sangat senang berpesiar dan menghabiskan waktu di luar dan aku selalu tak dapat menolak tiap kali mereka ajak.
Selama hiburan disuguhkan para geisha, hanya aku yang menegaskan tak ingin dihibur larut-larut dan terjerumus kebahagiaan sementara karena pengaruh sake. Maka dari itu, aku menahan hanya meminum beberapa cangkir yang disuguhkan para geisha. Sedangkan Wakamatsu dan Jiro menghamburkan diri ke arah para geisha, seperti hanyut dalam pikat sihir. Aku merasa malam itu sangat panas sekali hawanya. Minum sake di tengah malam yang begini ini membuat tenggorokan seperti dijepit kepiting kecil. Seperti disekat dan membuat tenggorok kering. Selain berhati-hati bagi kemungkinan utama aku tak memutuskan mabuk, alasanku sedikit saja menghirup sake, juga karena malam musim panas begini. Meski bulan bersinar terang dan indah, tetap saja keringat dan kegaduhan para geisha yang menenggelamkan kawan-kawanku yang sudah mabuk itu terasa menjengahkan.
Ini adalah perjamuan terakhir kami sebelum perkawanan bubar. Jiro bakal kawin dengan perempuan yang dijodohkan padanya. Setelah kedua pihak setuju lewat proses miai yang tak berbelit-belit, kedua pihak itu akan melangsungkan pernikahan antara Jiro dan perempuan yang dikawininya di kuil kampung halaman Jiro. Ia akan meninggalkan Tokyo.
Lalu, aku akan bekerja di lembaga pemerintah. Dan Wakamatsu menjadi guru di daerah pelosok. Pilihannya kuanggap sebagai jalan seorang wira. Memang selama menempuh pendidikan di universitas Wakamatsu orang yang senang menghabiskan waktu di luar dan jarang menghadiri kuliah, namun otaknya encer. Ia memiliki karisma luar biasa dan disenangi gadis-gadis. Di tempat kos, Wakamatsu selalu membawakan cerita-cerita menarik tentang hubungan asmaranya. Dan ada saja masalah dengan gadis setiap pekannya; dan itu salah satu hiburan kami. Keputusan Wakamatsu awalnya membikin kami tercengang. Kami mengatakan untuknya memikirkan ulang perkara itu. Namun, ia sudah memutuskan akan menjadi guru daerah terpencil. Itu tak bisa diganggu gugat.
Di hari-hari itu, banyak orang datang ke Stasiun Shimbashi untuk merayakan kemenangan pasukan Jepang atas Rusia di Manchuria. Jenderal Nogi yang terkenal telah kembali membawa kemenangan. Dan orang-orang Jepang berkumpul di stasiun untuk menyambut para tentara. Jiro mengajakku melihat arak-arakan pasukan Jepang yang mukanya pucat, seragamnya lusuh, dan tatapannya hampa. Pemandangan itu memberiku kegelisahan dan rasa malu. Bahkan bagiku yang dijuluki kaum glamor senang menghabiskan waktu untuk bergembira ria, menyaksikan orang-orang senegeri pulang dari perang, tak menerbitkan rasa patriotik sekalipun. Kalau aku mengatakan ini pada orang banyak, pasti mereka akan membenciku. Tentu ini pikiranku semata. Jiro antusias dan meneriakkan Banzai bersama yang lain.
Itu sebelum kelulusan kami. Pada perjamuan terakhir, para geisha yang menebarkan kebahagiaan justru memberiku waktu sejenak untuk memandang hal-hal di belakangku dengan kejernihan. Maka, aku tak menghamburkan diri dalam keriangan bersama geisha-geisha. Aku duduk tenang meski di kiri-kananku ada dua geisha mengapit dan sesekali menawariku minum atau mengobrol. Beberapa jam berlalu begitu saja tanpa aku benar-benar acuh pada perjamuan terakhir kami. Namun sesudahnya, ketika riksha telah disiapkan di muka gerbang restoran, aku kembali seperti semula. Kali ini ke tempat mana lagi kami bakal meneruskan perjamuan ini? Kutanyakan itu pada diriku sendiri lantaran riksha yang kutumpangi melaju lebih dahulu sebelum dua kawanku yang tertinggal di belakang.
***
Riksha yang kutumpangi melaju dengan cepat. Lentera di tangkai kemudinya bergoyang-goyang sepanjang jalan. Aku bertanya pada si penarik riksha, tapi suaraku tertinggal di belakang saking lajunya riksha yang kutumpangi.
“Mau ke mana ini?” kuulangi pertanyaanku.
Si penarik riksha menoleh.
“Tuan yang tadi bilang akan ke Yo—,” belum selesai ucapannya, jalan berkerikil di depan kami memaksanya untuk tak menyelesaikan jawabannya. Ia bergerak lebih pelan. Saat aku hendak bertanya kembali, dua riksha di belakang yang ditumpangi Jiro serta Wakamatsu menghampiri kami.
“Lebih cepat lagi!” teriak Jiro.
Aku menoleh ke arahnya.
“Mau ke mana?”
“Ikut saja!” jawabnya sembari meringis.
Pada akhirnya aku tahu belaka. Kami bergerak menuju Yoshiwara, kawasan lampu merah. Jadi, ini perjamuan kedua. Sebelumnya, selama tinggal di tempat kos, aku tak pernah datang ke Yoshiwara bersama mereka. Aku hanya pergi ke sekitar Kuil Kannon yang ada sundal-sundal biasa. Sekali pamanku yang datang dari Osaka pernah mengajakku ke daerah kogoshi, pelacuran kelas rendah, tapi aku tidak sampai masuk rumah bordil. Aku menunggunya di luar sembari melihat-lihat orang tanpa minat. Aku pun bukan tolol yang menungguinya hingga selesai. Setengah jam setelah pamanku masuk rumah bordil, aku meninggalkannya. Ketika paman sudah selesai dan tiba di tempat kosku, ia marah-marah dan mengatakan aku tidak sopan. Tak berapa lama kemudian sehabis insiden ini, aku menceritakannya pada Wakamatsu dan Jiro. Mereka tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa mesti marah, aneh bukan?” tanyaku.
Wakamatsu tak berhenti tertawa sampai-sampai air matanya keluar.
“Yah, pamanmu memang tukang lawak, sebenar-benarnya pelawak!”