Perjamuan Musim Panas

Tatkala mucikari rumah bordil yang kusambangi malam itu mengatakan bahwa Ginko di rumah sakit saat itu, aku lantas meninju wajahnya. Mucikari tua itu terjungkir, dengan darah keluar dari hidung.

“Edan! Beraninya kau memukul perempuan!”

“Kau tidak mengurusnya dengan baik. Sampai dia masuk rumah sakit. Kalau ada apa-apa dengannya, aku tak segan membunuhmu!”

Perempuan tua itu surut. Ia ketakutan mendengar ancamanku. Ia berdalih kesepakatan tetaplah kesepakatan. Ayah Ginko sudah menjualnya.

Ginko telah lama menderita TBC. Pulasan pada wajahnya sanggup menutupi derita itu. Pada malam pertemuan kami, wajahnya yang memesona adalah tampakan palsu yang disodorkan darinya untuk diriku.

Aku mendapati Ginko di rumah sakit sudah meninggal. Aku merasa bagai orang hina yang pontang-panting tak tentu arah selama perjalanan pulang seraya mengingat kembali pertemuanku dengannya. Musim panas itu benar-benar salah satu dari hal menyedihkan yang menimpa diriku, Yasu Ogawara, orang rantai yang dua puluh tahun ini menjalani hukuman lantaran membunuh seorang mucikari. ***

BAGUS DWI HANANTO. Lahir dan tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Mengarang prosa dan menerjemah. Novelnya berjudul Si Konsultan Cinta & Anjing yang Bahagia (Rua Aksara, 2019). Terjemahannya: Matahari Terbenam karya Osamu Dazai, Kisah-Kisah yang Tak Bisa Dipercaya karya Karel Capek, Moju Si Monster Buta karya Edogawa Rampo, dan menyusul nanti buku-buku karya Friedrich Nietzsche.

Arsip Cerpen di Indonesia