Aku bilang kepada Bapak Kepala Kampung bahwa aku akan pergi ke kota. Anak-anak akan libur beberapa hari. Ia tidak keberatan. Ia malah menyuruhku sering pergi, agar tidak gila seperti guru-guru yang sebelumnya. Tidak ada satu guru pun yang bisa tinggal lama di sini. Barangkali, aku adalah guru pertama yang betah hidup di kampung ini. Memang tidak mudah untuk tinggal dan mengajar di pedalaman. Anak-anak datang dan pergi sesukanya. Mengenalkan kedisiplinan tidak bisa semudah mengenalkan lagu.
Tetapi, setelah lama tinggal, aku mulai menyadari bahwa ada PR besar yang lebih layak dikejar daripada mengajari mereka tentang angka dan bahasa. Yaitu, mengenalkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Tidak perlu bicara diare berkepanjangan, penyakit menular, atau apalah itu. Untuk yang sederhana saja, masyarakat bahkan masih belum bisa sembuh dari penyakit jamur yang memenuhi kulit mereka. Ketika aku mengenalkan kebiasaan mandi dan mencuci pakaian rutin, masyarakat kampung justru menceritakan bagaimana mereka tetap bisa sehat di masa lalu tanpa hal-hal yang kujelaskan.
Dulu, mereka tidak mengenal sakit kulit. Penyakit jamur itu datang ketika mereka mulai mengenakan pakaian. Ketika itu, ada sekelompok orang yang datang mengaku orang dinas, membawakan beberapa pakaian dan memaksa mereka mengenakannya. Baju yang dimiliki hanya satu-dua itu, mereka cuci belum tentu satu minggu sekali. Mereka mengerti bahwa pakaian itu telah menjadi simbol kesopanan sehingga mau tak mau mereka harus mengenakannya.
Sejak itu, kulit mereka sering gatal. Baru-baru itu juga, orang-orang datang mengenalkan kain pembalut. Keluhan yang sama muncul setelahnya—gatal di kemaluan. Kadang, aku ikut pusing memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini. Bagaimana mungkin mereka yang belum selesai dengan masalah yang timbul karena pakaian, ditambah lagi dengan kain pembalut. Mengapa orang-orang datang menawarkan solusi, tetapi justru muncul permasalahan-permasalahan baru.
“Lebih baik bantu mereka olah tanah mereka sendiri.” Yonika pernah bilang begitu. Sampai suatu hari, saya mengerti maksud ucapannya itu setelah ia berhasil memanen tomat dan cabai di halaman rumah warga. Mereka senang sekali waktu itu, terlebih karena tidak seperti masyarakat di gunung yang pandai bertani mereka hidup dengan berburu dan meramu. Kedatangan Yonika memberikan napas segar untuk cara bertahan hidup.
Percakapanku dengan Yonika sering datang dari hal-hal yang seperti itu, mengenai masyarakat, anak-anak, hingga masalah-masalah di kampung. Kami bahkan pernah berdebat panjang ketika membicarakan pembangunan untuk masyarakat kampung.
“Coba pikir, untuk apa listrik dan sinyal? Orang-orang seperti kami toh bisa hidup tanpa itu semua,” tanyanya membuka perdebatan.
***
Bertepatan dengan jadwal kunjungan gereja, sebuah perahu motor datang di kampung kami. Seperti biasa, anak-anak berkumpul di dermaga hanya untuk melihat dan menyentuh-nyentuh perahu motor. Bagi mereka, perahu motor adalah barang merah yang jarang terlihat dan hanya orang beruntung yang bisa menaikinya. Aku dan Yonika sudah izin bergabung dengan petugas gereja. Kami sudah bersiap di dermaga.
Saat matahari mulai tinggi, air sungai mulai naik, mesin dinyalakan. Kami tinggalkan kampung yang sunyi ini. Kami pun mengatur posisi senyaman mungkin, sebab delapan jam perjalanan menuju kota bukanlah waktu yang singkat.
Sepanjang perjalanan aku ingat rumah. Barangkali ini adalah jarak terjauhku pergi dari rumah. Pengabdian atas nama kemanusiaan yang aku agungkan di media sosial sepertinya bukan tujuan utamaku. Jauh di balik itu, ada tujuan yang tidak diketahui siapa pun—aku ingin menyembuhkan diri dengan tidak bertemu orang-orang yang membuatku merasa tidak berguna. Tidak terpenuhinya target-target di kota, patah hati, dan mengalami banyak penolakan dalam pekerjaan, aku merasa hidupku sia-sia. Sampai aku memutuskan pergi jauh, ke suatu tempat terpencil yang barangkali di tempat ini aku akan merasa dibutuhkan.
Senja mulai datang. Perjalanan hampir tiba di tujuan. Pada saat langit mulai perlahan gelap, mata Yonika berkaca-kaca. Ketika kutanya, ia bilang ingat keluarganya di kampung halaman. Dan bertambah merah matanya saat bilang ingat kakaknya yang mati tertembak sewaktu ia masih kecil. Ia bilang ia begitu terluka atas semua yang ia terima. Aku hanya bisa diam sampai Yonika menunjuk sebuah cahaya di atas cakrawala barat. Ia menyebut, cahaya itu bintang senja dan di sanalah secercah harapan ia simpan.
Tidak lama setelahnya, perahu kami semakin dekat menuju kota. Pemukiman mulai terlihat. Merah Putih tampak ramai dikibarkan. Bendera melambai-lambai begitu gagah di tiang-tiang dermaga, di bawah langit dengan bintang senja.
Kami berpisah di dermaga dan Yonika bilang kepadaku agar selalu menjaga diri. Tidak ada yang menyangka bahwa kala itu adalah pertemuan terakhir kami. Ada yang melihat Yonika ikut kapal ke ibu kota bersama beberapa orang. Tidak lama berselang, aku mendengar berita kerusuhan. Yonika tidak pernah kembali lagi ke kampung kami. Aku dan orang-orang kampung sangat merindukannya. ***