Bendera di Bawah Bintang Senja

AGUSTUS yang sunyi. Sebagian orang pergi menjaring, sebagian lagi berangkat berburu dengan perahu, sisanya duduk-duduk di depan tungku. Di kampung halamanku, tanggal-tanggal begini, jadwal karnaval selalu padat. Anak-anak bernyanyi sambil mengibarkan bendera kecil. Sementara di sini, anak-anak justru bertanya kepadaku, “Indonesia itu ada di mana, Bu?”

***

Sudah genap dua tahun, aku tinggal bersama orang-orang yang hanya menggunakan matahari sebagai penanda waktu. Tiap hari, bayi-bayi selalu terbangun mendahului orang tua mereka. Dan tangisan merekalah yang memberiku pertanda bahwa subuh telah tiba. Tidak ada masjid di kampung ini.

Listrik? Bila ingin mengisi daya ponsel, aku harus menunggu matahari tinggi untuk dapat menggunakan mesin tenaga surya.

Tiap hari, aku mengajar anak-anak dalam sebuah rumah kayu yang dulu dibangun oleh pemerintah. Atap dan dindingnya sudah mulai reyot, entah sudah berapa lama usianya. Katanya, dulu pernah ada guru, tapi kemudian bangunan ini kosong bertahun-tahun. Pada hari-hari tertentu, aku bahkan sering meminta izin menggunakan gereja untuk aktivitas belajar-mengajar kami.

Anak-anak dan masyarakat di sini menerimaku dengan baik. Dalam satu bulan pertama tinggal, nama mereka sudah kuhafal di luar kepala. Untuk mengingat nama di kampung kecil ini tidak sulit bagiku. Barangkali, karena aku jarang tinggal di rumah dan terlalu sering menghabiskan waktu dengan mereka.

Di tempat ini pula aku mengenal seorang teman. Yonika namanya. Ia berbeda. Sejak kali pertama melihatnya, aku dapat menebak ia bukan berasal dari suku yang sama dengan masyarakat kampung ini. Masyarakat di pesisir pantai memiliki postur tubuh jenjang, sementara ia telihat lebih kekar. Ia juga memiliki gaya bicara yang berbeda.

Kami sering bertemu untuk sekadar mengobrol. Mungkin, karena ia satu-satunya orang yang pernah mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA, sehingga saya cukup mudah mengajaknya membicarakan apa saja. Ia pernah bilang bahwa kita sama-sama orang baru di kampung ini. Bedanya, saya datang untuk mengajar sedangkan ia datang untuk menyelamatkan diri dari konflik kampung halamannya.

Aku masih ingat, dini hari ketika itu, ia muncul di perbatasan kampung dengan kaki penuh luka. Entah berapa puluh kilometer telah ia tempuh untuk tiba di kampung ini. Melewati hutan yang bahkan tak pernah dilewati orang-orang sebelumnya. Berhari-hari sudah perjalanan itu, ia tiba dengan kondisi lemas, matanya cowong seperti tidak minum beberapa hari.

Orang-orang langsung membawanya ke jew, rumah adat untuk kaum lelaki. Memberinya minuman dan entah ramuan apa. Saya tidak bisa melihatnya sampai beberapa hari kemudian, ia kembali sehat dan tiap pagi berjalan-jalan di halaman jew. Saat itulah aku dan anak-anak mendatanginya.

***

“Kalau mau lihat perayaan, kau pergi ke kota saja,” ucap Yonika. “Minggu depan, orang-orang gereja datang, kau bisa ikut ke kota to?”

Anak-anak bilang kepadanya bahwa aku ingin melihat perayaan. Itulah sebabnya kenapa sejak beberapa hari lalu Yonika mengajakku pergi ke kota, ikut petugas gereja yang setiap satu bulan sekali mengunjungi kampung kami.

“Sebenarnya, aku tidak terlalu ingin melihat perayaan, aku hanya rindu melihat banyak bendera. Seperti suasana di kampung halamanku,” imbuhku.

“Ya, kau bisa lihat itu di kota.”

Berkali-kali ia bilang begitu. Sepertinya, ia juga ada rencana ke kota, walaupun ketika kutanya ia tidak menjawab dengan jelas. Ia hanya bilang ingin melihat kota. Tapi, aku menduga, ada hal lain yang ingin dilakukannya.

Waktu itu, kami bicara banyak. Kuceritakan kepadanya tentang keinginanku untuk melihat bendera yang meriah. Juga tentang kebiasaanku setiap Agustus tiba. Aku dibesarkan oleh keluarga nasionalis. Kakekku seorang veteran.

Sebagai seorang pejuang yang ikut turun langsung melawan penjajah, ingatan akan pengalamannya itu selalu ia ceritakan kepada anak-cucunya berulang kali. Tiap Agustus, nama Presiden Sukarno selalu disebut-sebut, sampai-sampai aku ikut menjadi penggemar beratnya. Cintanya kepada negara tidak pernah habis sampai ia tutup usia. Aku pun hidup dengan harapan menjadi seorang abdi negara sebagaimana ia menanamkan mimpinya kepadaku.

“Bagaimana dengan keluargamu? Kamu tidak pernah menceritakannya.” Aku tanyakan itu kepada Yonika setelah aku bercerita lama.

“Sama.”

“Sama bagaimana?”

“Keluarga saya juga pejuang. Biar orang sebut keluaga saya adalah pengkhianat, bagi saya, mereka tetap pejuang.”

***

Arsip Cerpen di Indonesia