Boma

IA menyadari sudah kalah start sejak semula, sejak terlahir di gelap pekat Ekapratala, lapis pertama bawah tanah yang memaksa matanya tercetak sebagai indera yang gampang silau oleh cahaya. Apa gunanya disebut setengah dewa tapi kalah oleh Gatotkaca yang cuma separo diyu, setengah raksasa. Lagi pula kenapa justru dia yang bertaring sedang Gatotkaca tidak. Lelucon kahyangan macam apa yang tengah dijalaninya ini.

“Pertiwi Ibuku, aku pamit ke permukaan.”

Ia tidak mendapatkan jawaban kecuali mata ibunya yang berkaca-kaca.

“Aku tahu yang kaubatin, Ibu. Benderang permukaan gampang menyesatkan. Matahari siang akan membuatku terlalu percaya diri lalu tak awas. Lengah. Lampu-lampu akan membuatku tertipu. Tapi berdiam di kegelapan ini, kurasa sama saja palsunya.”

Ibunya hanya entah mengangguk kecil atau tersedu ditahan. Boma yakin telah direstui. Ia berangkat, memilih malam hari agar tidak mengagetkan seisi permukaan bumi, memberi kesempatan perasaannya untuk menyesuaikan diri dan bersiap.

***

Kabut turun. Boma silap, terlelap sekejap. Tahu-tahu sudah pagi. Ia menghirup udara permukaan untuk pertama kalinya, rasa segar yang dengan segera membakar gairahnya untuk menaklukkan dunia. Mengejar Gatotkaca. Boma memutuskan, tatanan tidak boleh rusak. Ia harus bergerak. Darah raksasa tidak boleh memimpin. Mereka hanya makhlukmakhluk ganjil berotak kerdil. Hanya berpikir soal makanan, bukan masa depan.

Boma bergegas menuju Amarta, negeri serpihan surga yang sejak lama diperebutkan, tanah subur yang menjelma belantara, arena segala kekuatan dan kebuasan bersarang dan bersaing sehabis-habisnya. Tapi ini terlalu bising. Telinga Boma perih, tak mampu menampung kata-kata keras dan tajam yang telontar begitu mudahnya tanpa sedikit pun kekang. Mereka bagai banjir bah saling menerjang berebut cekungan. Boma yakin seyakin-yakinnya, darah raksasa telah menguasai hidup manusia sepenuhnya.

Boma merasa Puntadewa pamannya yang adalah raja Amarta itu terlalu lemah, terlalu lambat membaca isyarat-isyarat. Makin habis waktu. Negeri ini akan roboh dan keseimbangan dunia akan terganggu.

“Paman Prabu, serahkan tugas ini padaku. Akan kutata lagi semuanya sebagaimana patutnya.”

“Boma, Anakku, kami para manusia dididik untuk terbiasa dengan rupa-rupa keterbatasan. Amarta mungkin penting tapi mungkin juga tidak. Aku hanya menghindari korban yang terlalu besar.”

“Paman, percayalah padaku. Kau lebih besar dari itu. Beranilah, Paman. Negerimu masih jauh dari impian. Kau boleh tidak suka tapi negerimu butuh seseorang yang ditakuti. Akan kutanggung seluruh dosanya bila ada.”

Puntadewa diam. Boma menatap mata Raja Amarta itu lekatlekat lalu dengan segera bayangan Pertiwi ibunya berkelebat. Boma mengerti. Ia harus melakukan semuanya sendiri. Tekadnya telah bulat. Tidak mungkin kembali ke Ekapratala, duduk diam bersilang kaki menikmati seluruh kemewahan sambil mengamati seluruh kerusakan dunia sebagai tontonan. Betapa biadab bila itu yang dipilihnya.

***

Hari ditimpa hari, waktu dilibas waktu. Peristiwa demi peristiwa berlalu begitu saja tanpa ada yang membacanya. Sebesar apa pun upaya yang sudah dilakukannya, keterbatasan manusia telah memaksa Boma untuk memasuki kebiasaan-kebiasaan yang ia rasa hanya membuatnya makin lemah. Ia tidak bisa lagi memakan hanya saripati sebagaimana mestinya tapi harus berikut ampas dan racunracunnya. Ia dipaksa merasakan lelah dan kantuk selayaknya manusia. Ia harus belajar menyusun kata-kata melebihi makna demi telinga manusia mau mendengar. Benar bahwa manusia butuh pahlawan tapi beberapa pahlawan baru dianggap setelah mengenakan topengnya.

“Bukan masalah bila aku disalahpahami, Ayah,” kata Boma suatu kali kepada Kresna ayahnya.

“Memang bukan masalah, Boma,” jawab Kresna.

“Pastikan saja kau memahami dirimu sendiri. Sepenuhnya.”

Bagi Boma, kata-kata Kresna selalu bersayap. Terkadang ia sangsi apakah Kresna sungguh-sungguh merestuinya atau sekadar enggan membuatnya kecewa. Bukankah Raja Dwarawati itu memiliki penglihatan sejauh jangka semesta? Atau dia sengaja karena sudah tahu akan seperti apa akhirnya?

“Apakah dunia ini hanya mainan bagimu, Ayah?”

“Kalaupun benar begitu, maka bermainlah dengan sepenuh hati, Anakku.”

Mungkin Ayahnya sedang bertopeng. Mungkin topeng yang sama yang kabarnya dikenakan pula oleh Gatotkaca, rupa sempurna yang ditanam di bawah kulit di atas daging. Mata manusia biasa akan dengan mudahnya terkelabui. Boma membatin diam-diam. Akan dibuktikannya kelak bahwa topeng-topeng itu tidak sepantasnya dikenakan oleh para kesatria.

“Akan kutantang Gatotkaca.”

“Kurasa kalian sepadan.”

Arsip Cerpen di Indonesia