Tamu Tengah Malam

IA datang hampir tengah malam dengan menggendong ransel besar berwarna hijau tentara. Ia kawan dekat yang pernah aktif di resimen mahasiswa, kemudian drop out pada semester keenam. Wajar kalau masih menyimpan aksesori berwarna hijau kebanggaan itu. Tapi, kini ia datang dari Suriah setelah tiga tahun tinggal di sana. Ia pulang ketika konflik bersenjata di negeri itu memanas dan teror ISIS merebak di mana-mana.

“Malam ini aku terpaksa numpang tidur di rumahmu. Besok pagi aku akan ke Surabaya. Aku tak punya uang untuk nginap di hotel. Boleh ya? Maaf kalau merepotkan,” katanya.

Aku tidak mungkin menolak, karena ia kawan karibku ketika SMA. Begitu tiba, kupersilakan masuk, dan kutunjukkan kamar untuknya, kamar kerjaku. Ranselnya besar sekali, hampir tak muat pintu kamar dilewatinya. Aku tak tahu apa isinya. Semoga saja bukan bom yang akan diledakkan besok pagi, dan meledak lebih dulu di kamar kerjaku. Ya, bisa saja itu terjadi. Dia teledor dan “Booom!”…. Bom itu benar-benar meledak dalam kamarku, ranselnya hancur, serpihannya memorak-porandakan isi kamar, menembus dinding, melukai istriku yang sedang hamil di kamar sebelah.

“Alman… ranselmu apa isinya? Bukan bom, kan!” Aku bertanya dengan sedikit berteriak dari luar kamar, di dekat pintu.

“Ah… bukan! Memangnya saya teroris? Ini cuma pakaian dan perbekalan perjalanan!” Dia menjawab keras, seperti merasa dicurigai.

“Ya, syukurlah.”

Terdengar seperti logam diletakkan di meja di kamar kerjaku, cukup keras. Jangan-jangan dia mengeluarkan bom dari ranselnya dan meletakkannya di meja. Atau alat-alat perakit bom. Aku jadi ingat, kamar kerjaku berisi dokumen-dokumen penting yang kukumpulkan bertahun-tahun. Ada puluhan cerpen, ratusan puisi, dan puluhan esai. Bahkan ada naskah novel yang hampir selesai. Kalau dia benar-benar membawa bom, dan meledak di kamarku, pasti hancurlah komputerku, hancurlah semua naskahku. Tapi tak ada pilihan lain. Aku tak punya kamar lagi. Kalau ada tamu menginap, selalu kusuruh tidur di kamar kerjaku.

“Duk duk duk… cling… tang tang tang,” terdengar suara aneh dari kamar kerjaku. Seperti logam beradu. Aku makin khawatir. Jangan-jangan dia benar-benar teroris. Kemarin ada berita di televisi, dua teroris ditangkap, satu ditembak mati karena mencoba melawan Densus 88. Mereka alumni Suriah. Jaringannya sedang diselidiki. Mudah-mudahan bukan termasuk Alman.

“Alman… kau sudah makan belum?”

“Sudah. Tadi sempat mampir warung padang!”

“Kalau mau mandi silakan!”

“Ya sebentar.”

Aku kembali duduk di ruang tamu. Ingin sekali kuperiksa ranselnya saat dia mandi nanti, barangkali benar dia membawa bom rakitan atau peralatan untuk merakit bom. Tapi, apakah sepantasnya aku menggeledah ranselnya? Bagaimana kalau dia tahu? Bisa runyam urusannya. Lalu, bagaimana kalau dia benar-benar teroris dan isi tasnya benar-benar bom?

Jangan-jangan dia sudah lama meninggalkan Suriah, dan tinggal di suatu tempat di sekitar Jakarta, mungkin di Pamulang, Ciputat, Bekasi, Bogor, atau Tangerang, lalu meninggalkan kontrakannya karena ada rencana teror, atau khawatir keberadaannya tercium Densus 88. Aku teringat lagi ransel hijau tentaranya. Aku berdiri dan siap-siap masuk kamar untuk menggeledahnya, namun tiba-tiba dia sudah berdiri di belakangku, membuatku agak kaget.

“Sudah mandi?” tanyaku sambil memutar tubuh ke arahnya.

Alman tidak menjawab. Hanya menyeringai. Terasa ada yang misterius pada seringainya yang tidak selesai. Kupandangi matanya yang kuyu dan cekung seperti kurang tidur, rambutnya yang agak gondrong tergerai menyentuh pundak, kumisnya yang tebal, dan janggutnya yang dibiarkan tumbuh tidak teratur. Lalu tubuhnya yang agak kurus tinggi. Kubayangkan dia melempar bom ke kerumunan orang di gereja, masjid, atau mal. Atau, dia memasang bom di tubuhnya, dan meledakkan diri. “Booom!” Oh, tidak. Aku mengusir bayangan itu.

“Besok ke Surabaya jam berapa? Naik apa?” tanyaku setelah Alman kupersilakan duduk di kursi tamu di seberangku.

“Pagi. Sehabis salat subuh. Mau mampir Tasikmalaya. Dari Lebak Bulus banyak bus ke Tasik, kan. Ada kawan sesama alumni Suriah yang harus kutemui.”

“Alumni Suriah?” Aku minta penegasan.

“Ya, alumni Suriah. Memangnya kenapa kalau alumni Suriah?”

Aku tak bisa menjawab, hanya makin curiga, jangan-jangan betul kawanku ini teroris. Jaringannya mengurat dari Lampung, Tangerang, Tasikmalaya, Cirebon, Pekalongan, Solo, Surabaya. Mungkin saja Alman datang dari Lampung. Naik bus, turun di pintu tol Kebon Nanas, dan jalan kaki ke rumahku. Pantas saja tampak lelah, kumal, dan belum mandi.

Alman mengalihkan pembicaraan ke masa lalu, tentang sebab-sebab dia meninggalkan bangku kuliah dan pergi ke Suriah, “Mencari pengalaman baru yang menantang. Apalagi di sana sedang terjadi konflik. Hitung-hitung mempraktikkan latihan kemiliteranku,” ceritanya. “Pertama aku datang ke Turki dulu. Turki benar-benar negeri yang indah dan menyimpan banyak peninggalan sejarah masa kejayaan Islam…. Kau harus menyempatkan berkunjung ke sana, Sobari.”

Aku agak terpana. Terkagum menyimak pengalamannya.

“Pernah aku hampir mati terkena serpihan bom di pinggang. Ini… lihat ini,” katanya sambil memperlihatkan bekas jahitan di pinggangnya. “Ini dijahit di rumah sakit militer. Di Suriah. Untung tidak tembus ke ususku.”

Malam itu hanya sekitar 30 menit kami saling berbagi cerita. Kulihat dia sangat lelah dan mengantuk. Berkali-kali dia menguap. Lantas kupersilakan tidur.

***

Arsip Cerpen di Indonesia