Malam merambat begitu lambat. Istri yang sudah tidur terpaksa kubangunkan pelan-pelan. Kusampaikan padanya, kawanku yang tadi mau menginap sudah di kamar. Sengaja tak kuceritakan kekhawatiranku, karena istriku gampang panik. Siapa tahu, tiba-tiba dia berteriak, “ADA TERORIS!” Bisa kacau suasana rumah.
Aku berusaha memejamkan mata di sebelah istriku, setelah lebih dulu mengelus perut istri yang hamil enam bulan. Anak pertama yang kami tunggu selama lima tahun setelah pernikahan. Baru sekitar 10 menit mataku memejam, tiba-tiba HP-ku berdering.
“Apakah di rumah Bapak ada tamu bernama Alman. Atau Abu Sofyan Arroisi alias Alman Sanusi. Orangnya kurus tinggi. Rambut agak gondrong dan berjambang. Dia bawa ransel besar warna hijau tentara.”
Aku tahu, yang dimaksud adalah Alman. Tapi aku tidak langsung menjawab.
“Halo, Pak, hati-hati. Alman atau Abu Sofyan itu teroris. Kami telah menguntitnya dari Lampung. Dia bawa bom. Jangan sampai melindungi dia, Pak. Rumah Bapak sudah kami kepung.”
Bagai disambar petir aku mendengar penjelasan penelepon yang mengaku Densus 88 itu, yang entah dari mana mendapat nomor ponselku. Benar dugaanku, Alman teroris dan membawa bom. Aku agak panik. Bagaimana kalau aparat salah tembak. Bagaimana kalau salah sasaran. Bagaimana kalau peluru aparat mengenai istriku. Bagaimana dengan kandungannya. Bagaimana kalau bom dia ledakkan, dan ledakannya menembus kamar istriku?
“Halo… halo, Pak.”
“Ya, halo….”
“Dia tidur di kamar sebelah, Pak. Tolong… hati-hati, istriku sedang hamil. Jangan sampai kami jadi korban. Kami tidak tahu apa-apa tentang ini semua….”
Tidak ada jawaban dari seberang. Tidak ada telepon balik. HP-ku tiba-tiba juga mati. Low batt. Sialan. Aku makin panik saja. Kuraih HP istriku di atas meja, bermaksud menelepon balik aparat yang tadi menelepon. HP-ku cepat-cepat kucas dengan kabel yang ada di meja, berharap bisa melihat nomor HP aparat. Istriku terbangun.
“Ada apa, Mas? Mau menelepon siapa, malam-malam begini.”
Aku agak geragapan. Tak menyangka kalau istri akan bertanya begitu. “Ssssttt.” Aku mendekati istriku. Kudekatkan mulutku ke telinganya. “Kawanku itu, Alman, dicari polisi. Dia buron.” Aku berbisik ke telinganya.
“Apa? Buron?!”
“Ssssst. Jangan keras-keras….. Cepat turun ke sini.” Istriku kusuruh turun dari ranjang. “Kita duduk di sini. Di lantai.” Kuseret istriku ke lantai yang paling jauh jaraknya dari kamar sebelah, dan kuajak duduk, siap kuajak tiarap kalau terjadi sesuatu.
“Ada apa sih, Mas,” tanya istriku heran.
“Alman bawa bom.”
“Bawa bom? Dia teroris?”
“Jangan keras-keras. Nanti dia terbangun.”
Istriku kaget dan di bawah cahaya listrik 25 watt kulihat wajah istriku pucat dan panik. Aku mengambil HP yang kucas tadi. Baru terisi 10 persen. Kupaksa kunyalakan. Kucari kontak terakhir dengan aparat. Untung Alman sepertinya tidak terbangun. Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan dari kamar sebelah. Mungkin kelelahan dan tidur nyenyak.
“Halo, Pak. Ini Sobari. Bagaimana perkembangan situasinya?” segera kukontak aparat. Untung langsung tersambung.
“Ya, halo…. Kami masih mengepung rumah Bapak. Belum ada tanda-tanda yang mencurigakan.”
“Sepertinya dia masih tidur nyenyak, kelelahan.”
“Tolong jelaskan posisi kamarnya di mana. Agar kami tidak salah tangkap.”
“Rumah ini punya dua kamar, Pak. Kiri dan kanan. Alman di kamar sebelah kiri.”
“Oke. Tolong bukakan pintu depan. Agar tidak gaduh. Ajak istrimu ke luar rumah pelan-pelan. Jangan mengeluarkan suara apa pun. Ada anak-anak?”
“Tidak. Kami hanya berdua, saya dan istri.”
Kuraih lengan istriku. Aku membuka pintu kamar dengan hati-hati. Kami melangkah tanpa mengeluarkan suara. Kubuka pintu depan. Dua aparat dengan rompi antipeluru menyongsong kami. Kutunjukkan kamar Alman dengan jari telunjukku. Lalu kami berlari menjauh. Menunggu apa yang akan dilakukan aparat Densus 88 untuk meringkus Alman, kawanku yang diduga teroris itu. Dan, “booom!”, sebuah bom tiba-tiba meledak di dalam rumahku. Kulihat, dalam keremangan malam, asap putihnya membubung ke udara. ***