Boma mengutuk dalam hati, gagal mendapat jawaban yang ia harapkan. Ayah macam apa Kresna ini. Ia undur diri tanpa ingat berpamitan lagi. Dadanya sesak oleh rasa penasaran yang membuncah menuntut jawaban. Gatotkaca, bukankah ia kesatria biasa saja, apa istimewanya? Ia hanyalah lelaki yang kebetulan ditempa dan disepuh leburan logam pusaka dewa-dewa. Dan lagi, ia didewasakan hanya dalam sehari. Gatotkaca bayi diceburkan ke kobar api Kawah Candradimuka dan pada hari yang sama seakan-akan terlahir lagi dalam sosok pemuda usia belasan yang bahkan belum bisa berkata-kata. Hanya jiwa seorang bocah yang terkurung dalam raga yang perkasa. Tapi kenapa Kresna sangat menyayanginya bahkan melebihi rasa sayang kepada anak sendiri? Bocah separuh raksasa itu telah merenggut sebagian kebahagiaannya, sebagian besar. Tapi bukankah ini tentang Amarta dan bukan mereka berdua saja?
“Gatotkaca. Kurasa kita tak jauh beda. Sama-sama serpihan boneka dewa-dewa. Kau kehilangan masa kecilmu dan aku sering disebut tak kunjung dewasa. Apa pendapatmu?”
“Aku hanya menerima perintah. Pendapatku tidak penting, Kakakku.”
“Ayolah Gatotkaca. Amarta semestinya menjadi suar dunia. Tidakkah kaupertimbangkan itu?”
“Bukan tugasku untuk menimbang-nimbang. Aku bukan raja ataupun penasihat Amarta.”
“Kenapa tidak kaulepas saja topengmu itu, Gatotkaca?”
“Untuk apa? Sudah tugasku merawatnya.”
“Baiklah. Tak lama lagi, kurasa kita akan saling berhadapan.”
***
Sebagian besar rakyat Amarta seakan-akan terkena gelombang sihir, terbelah menjadi dua. Sungguh pun hal itu terjadi bukan atas keinginan Gatotkaca dan Boma, di luar sana telah berbanjar barisan bertopeng pendukung Gatotkaca dan bertaring pendukung Boma. Jumlah mereka terlalu besar untuk dikenali sebagai nama-nama, cukup dihitung dengan jumlah kepala. Barisan bertopeng menuduh barisan bertaring sebagai kaum rakus, pengikut dewa yang sedang menjalani kutukan. Sebaliknya barisan bertaring menuduh barisan bertopeng sebagai kaum palsu, keturunan raksasa yang sedang menyusup. Gatotkaca dan Boma bukan tidak tahu itu, tapi keduanya telah disibukkan oleh pertentangan mereka sendiri. Gatotkaca meski terlihat tenang, dalam hati sesungguhnya menunggu titah dari Prabu Puntadewa. Perpecahan itu tidak boleh dibiarkan.
Boma semakin yakin dengan pikirannya. Darah raksasa telah menyusupi seluruh penjuru Amarta. Ia tidak mengharapkan dukungan barisan yang mengaku sebagai pendukungnya apalagi dari orang-orang yang makin hari makin nyaman dengan taring-taring mereka, yang waktunya dihabiskan untuk mengasahnya sebagai senjata. Dua barisan itu sama saja. Mereka hanyalah sesama raksasa yang sedang berebut darah dan daging segar, merampas tubuhtubuh manusia untuk melampiaskan kerakusan. Kemenangan hari ini sudah pasti tidak akan bertahan lama. Esok pagi mereka akan kelaparan lagi.
“Paman, bagaimana mungkin kau tega membiarkan ini semua,” Boma mencoba untuk kedua kalinya.
“Anakku, lakukan yang menurutmu perlu.”
“Bukankah itu tugasmu, Paman Puntadewa?”
“Tentu. Kau sendiri, apa tugasmu, Boma?”
“Aku sedang melakukan tugasku.”
“Maka telah kaulakukan sesuatu yang benar.”
“Bukan itu maksudku, Paman.”
“Boma, mengertilah. Manusia tidak seperti dewa, tidak sepertimu. Mereka bisa berubah.”
“Ya. Sekarang mereka berubah menjadi raksasa dan kau membiarkannya.”
“Demikianlah cara kami diajari.”
“Kau mengecewakanku, Paman. Dengan atau tanpa restumu, aku akan bertindak.”
Boma tidak sabar lagi. Hatinya terluka. Bila dibiarkan, kebuasan para raksasa ini akan diwariskan dari darah ke darah. Amarta hanya akan mengulang-ulang sejarah kelam. Bila itu memang keinginan dewa-dewa di atas sana, sudah kepalang basah, bila harus kahyangan akan diterjangnya pula. Toh Boma telah menanggalkan haknya atas silsilah kedewataan itu.
“Gatotkaca, Adikku, sekarang saatnya. Bersiaplah.”
Boma mengumpulkan seluruh kekuatannya, niat baik, kekecewaan dan juga kesakitan-kesakitan hatinya. Semua telah menyatu bersama napas, luluh sebagaimana pusaka-pusaka kahyangan yang membeku di raga Gatotkaca. Di pertarungan nanti, ia hanya berharap bisa menghancurkan topeng itu agar semua orang tahu, taring Gatotkaca sama tajamnya dengan taring raksasa lainnya. Siapa pun yang menang tidak penting. Boma membayangkan, seusai perang tanding mahadahsyat yang akan membuat taring-taring itu tanggal, mereka akan kembali menjadi manusia selayaknya. Taring-taring itu biarlah terkubur. Bila tak mampu menyuburkan bunga-bunga, atas restu Pertiwi ibunya semoga kelak tumbuh cuma ilalang, semak kecil dengan duri-duri sekadarnya, perselisihan kecil, luka-luka kecil yang gampang sembuhnya. ***