SEMBURAT mentari pagi mewarna dedaunan kuning keemasan. Semilir angin membirama kelindan ranting dalam harmoni alam. Burung-burung puisikan kicau menawarkan merdu pada dahan-dahan. Dusun Karang Kadempel terasa asri dan damai. Menjadikan Semar Badranaya kerasan hidup sahaja dengan ketiga anaknya. Petruk, Gareng, dan Bagong.
Meski negaranya dilanda pageblug mengerikan, namun dusun tempat tinggalnya tak tersentuh pandemi. Bisa jadi karena para warga tidak memobilisasi diri keluar negeri. Mayoritas berkebun dan bertani di sawah sendiri. Betapa berpeluh bermandi mentari. Tidak banyak berkerumun, apalagi ngerumpi. Lebih sering menyayang tanaman dan hewan piaraan. Sebagai pangejawantah betapa Gustigung merahmati kehidupan.
Sebagai penasehat atau paranpara para kesatria, Semar sebagai pamomong bijaksana baru saja pulang mendampingi Raden Arjuna mencari usada obat penyembuh penyakit. Bersama ketiga anaknya penuh jenaka. Sejak sebelum wabah pandemi tiba, hingga pageblug nggegirisi.
Hampir dua purnama dilalui dengn bersemedi. Memanjatkan doa kepada Sang Hyang Widhi. Dengan totalitas jiwa raga. Menutup babahan hawa sanga. Menjaga pancaindera atas goda dunia. Agar diri, keluarga, masyarakat, dan negaranya dijauhkan dari segala bencana dan marabahaya.
Suatu siang, Semar hendak menemui anak-anaknya. Setelah keliling ke sana kemari. Tiba-tiba termangu. Apa yang terlihat di depannya tidak seperti biasa. Tak ada lagi kejenakaan dari tingkah ketiga anaknya.
Gareng yang pincang tidak banyak bincang. Petruk Kantong Bolong yang sering banyak omong hanya bengong. Bagong nan jenaka tampak lesu tanpa sepatah kata. Semar putra Sang Hyang Wisesa yang tak pernah lapar dan tak pernah ngantuk, lagi-lagi tercenung penuh tanda tanya hari itu.
“Thole Gareng! Kenapa engkau dan adik-adikmu tiba-tiba bersedih dan kehilangan semangat. Tak kudengar lagi senda-gurau kalian!?” tanya Semar menyelidik.
“Tidak ada apa-apa kok, Rama. Sedang bersantai saja menjernihkan pikiran,” jawab Gareng berdusta. Sambil meletakkan tangannya yang cekot atau patah di atas lututnya.
Dasar tak pandai ngomong, begitu dapat pertanyaan mengagetkan dari Semar, jawabannya hanya singkat. Selebihnya hanya terdiam seribu bahasa. Raut muka mendadak pucat pasi. Wajahnya ditekuk. Seperti berusaha menyembunyikan sesuatu.
“Kau jangan berbohong, Thole. Tampak ada yang kau rahasiakan di balik wajah kuyu dan sorot mata sendumu.” sambil menaruh jemarinya di dahi, Semar terus mengejar dengan berbagai pertanyaan.
“Kanthong Bolong! Ada apa dengan kalian bertiga,” hardik Semar kepada Petruk yang punya julukan Kanthong Bolong.
“Tidak ada apa-apa kok, Ma.” Elak Petruk tanpa alasan.
“Aku tak percaya!?” tukasnya singkat.
Petruk si Bambang Penyukilan yang biasanya penderma, pemberani dan pintar bicara, kali ini terdiam ketakutan. Lidahnya terasa kelu. Kosa kata dalam batok kepalanya seperti hilang tiba-tiba.
“Thole, Bagong! Coba berterus terang apa yang baru kalian alami?” pinta sang rama sambil memandang tajam punakawan bermata lebar.
Lama tak berani menjawab. Saling pandang dengan dua saudaranya. Penuh rasa ketakutan. Antara berterus terang, dan rasa cemas jika Pepunden Semar marah. Terlebih jika sampai mengeluarkan kutukan sumpah serapah. Bakal celaka rasanya.
Tiba-tiba, Bagong yang jujur dan biasanya suka humor memberanikan diri menjawab apa adanya.
“Mohon maaf m…m…Ma,” terbata-bata Bagong berkata.
“Kenapa? Apa yang terjadi, Thole. Cepat katakan terus terang? Jangan kau tutupi apa yang sejatinya terjadi!” desak Semar serius.
“Kami bertiga kesandung kasus, Ma. Ikut-ikutan pinjaman online, ngunggah status hoaks, dan menghambur-hamburkan paket data untuk bermain game online, Ma.” ujar Bagong dengan tangan gemetar.
Mendengar keterusterangan tersebut, saudaranya lain juga semakin ketakutan. Menggigil bermandi keringat dingin. Bak pesakitan sedang diinterogasi polisi.
“Adhuh, Thole, Thole. Kenapa kalian terjerumus tingkah tidak elok? Bukankah rama sudah sering kali wanti-wanti. Tetaplah jadi dirimu sendiri. Jangan anut grubyug orang lain, padahal kalian tidak mengerti.”
“Awalnya hanya iseng dan main-main, Ma.”
“Lhadalah, urusan penting dan bahaya kau buat main-main?! Rama tak habis pikir kenapa kalian bertingkah macam-macam seperti ini. Bukankah setiap kali rama berbincang dengan Bendara kalian juga ikut meresapi maknanya?”
Sebagai manifestasi para dewa dan pamomong para satria di ngarcapada, Semar merasa terpukul jiwanya dengan peristiwa yang baru menimpa anak-anaknya. Kenyataan yang tak pernah terlintas dalam benak. Karena selama ini, ketiga anaknya adalah bocah-bocah penurut dan sahaja dalam banyak hal. Tidak pernah berbuat neka-neka menabrak pranata. Teguh sentausa memegang prinsip hidup. Menjaga langkah laku kebaikan. Meski hidup dalam kesederhanaan.
Demi mengetahui kejadian dan masalah sesungguhnya agar tidak keliru mengambil jalan keluar. Semar meminta ketiga putranya menceritakan kronologis kejadian beruntun yang memalukan.
Gareng berterus terang kalau dia berbuat salah. Kepengin punya telepon pintar agar bisa berselancar di dunia maya seperti kebanyakan orang. Pengin mengunggah status di media sosial. Pengin lihat YouTube dan platform lainnya.
Ternyata Gareng telah terjerat pinjaman online memakai android dan akunnya Togog yang selama ini mengiming-imingi. Sedari pinjaman lima juta dalam tenggang satu minggu. Tak mampu mengangsur. Bunga beranak pinak. Terakumulasi pokok bunga menjadi puluhan juta.
Semar terdiam. Sambil mendengarkan anaknya memberi pengakuan, tak terasa air matanya menetes di pipi keriput. Terlebih setelah mendengar pengakuan Petruk yang tersandung ujaran kebencian. Meski hanya latah anut grubyuk. Mengomentari dan merepost unggahan netizen di media sosial. Meski tidak dirinya yang berkasus hukum secara langsung. Kecerobohan dan kelatahannyanya menjadikan masalah sederhana menjadi bak bencana. Kegelisahan begitu mendalam. Bahkan nyaris putus asa. Jangan-jangan dirinya ikut digaruk pasal-pasal dalam undang-undang.
Selanjutnya Bagong juga berterus terang telah kecanduan berbagai jenis film di Netflix. Utangnya menggunung karena harus membeli paket data dan langganan film berbayar di akun netflix. Selebihnya sering bermain game online yang tak kenal waktu. Sungguh aktivitas tidak bermutu bagi anak-anak titisan dewa.
Ketiganya telah memberikan pengakuan menyedihkan di hadapan Semar Badranaya. Lama terdiam. Di antara kekusutan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Gareng, Petruk dan Bagong berteriak hampir bersamaan:
“Ini bagaimana, Rama Semar?”
Semar sedari tadi mendengarkan dalam diam tidak segera merespons. Kesedihannya begitu mendalam. Hatinya kalut. Tidak menyangka anak-anaknya yang sahaja dan penurut, tiba-tiba berbuat aneh. Secara sadar atau tidak, telah terkontaminasi dampak jaman digital. Menyeret orang pada perbuatan banal binal.
“Kalau rama tidak ikut menyelesaikan pinjolku. Niscaya aku akan semakin terjerat,” rengek Gareng sambil menangis.
“Jika rama tidak mencarikan solusi, bisa-bisa aku masuk penjara,” Gareng meronta dengan terisak.
“Bantu hutangku, Rama. Kalau tidak baju dan celanaku niscaya akan terjual,” sambat Bagong cengengesan.
“Aku tak bisa menyelesaikan problem kalian,” jawaban semar singkat. Lalu gegas menghela napas meninggalkan ketiga anaknya.
“Rama……bantu Rama…..” rengek ketiganya menghiba.
Semar tetap tidak mempedulikan. Meninggalkan perbincangan, membawa raut kekecewaan.
Malamnya Semar gelisah. Ketiga anaknya tidak ada di rumah. Khawatir jika anak anaknya minggat. Terlebih cemas manakala buah hatinya nekat bunuh diri. Seluruh kamar hingga dapur dicari. Tidak ada tanda-tanda ketiganya.
Dicari di luar rumah. Di teras depan rumah. Nihil. Dikelilingi area samping dan belakang rumah. Tiada hasil. Coba di kebun belakang. Mengarahkan lampu senter ke segala arah. Di antara rerimbunan pohon pisang. Baru di bawah mangga, ada bayangan sosok kemulan sarung.
Ternyata Gareng, Petruk dan Bagong tidur di bawah pohon mangga. Gigitan nyamuk tak dirasa.
Semar menggiring ketiganya pulang. Didudukkan di kursi berjajar. Cukup lama semua terdiam. Tidak ada berani memandang Semar dalam kondisi berang. Ketiganya dipandang satu demi satu tanpa patahan kata.
“Ampun Rama,” sesal Gareng seraya mencium tangan si Kuncung Badranaya.
“Kapok, Ma,” Petruk mendekap kaki penuh panalangsa.
“Maaf, Ma. Aku tak akan mengulanginya lagi,” Bagong menyorong tubuhnya hendak memeluk Semar di antara kedua saudaranya.
Semar tak tega hati melihat ketiganya mengekspresikan penyesalan. Sebesar apapun amarahnya, tak lebih besar kasih dan sayang pada putra belahan jiwa.
“Ini pengalaman pahit Thole. Jadikan kacabenggala. Pelajaran berharga untuk tidak kau ulangi lagi. Kesederhanaan kalian sesungguhnya adalah kekayaan yang harus dilestarikan. Tidak harus mengubah kepribadian karena gebyar zaman menyilaukan. Hidup harus selalu hati-hati dan waspada.”
“Terus…apa solusi rama untuk kami bertiga??” Bagong bergelayut di tubuh Semar Badranaya seperti anak kecil minta permen.
“Besuk akan kubicarakan dengan bendaramu, Raden Arjuna.”
Seketika Semar didekap ketiga anaknya. Hampir sesak napas, namun tetap senyum tanda bahagia. Sambil berjalan tangan dan jarinya menunjuk keesaaan Sang Hyang Tunggal. Kuncung di kepalanya adalah komitmen melayani bagi sebanyak-banyak orang. Juga pengabdiannya pada Pangeran. Terus berjalan diikuti anaknya sang punakawan.
Rampung memberi santiaji kepada ketiganya. Semar rengeng-rengeng nembang kidung macapat sarat piwilang pitutur luhur:
Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah kersa Allah, begja begjane kang lali, luwih begja kang eling klawan waspada.
Dari kejauhan keempat sosok punakawan berjalan menjauh menuju titik bayangan. Terus mengembara di antara gelap dan terang. Di antara gulita dan bintang-bintang. Punakawan telah memahami makna hidup dan kehidupan. ***