LAGI-LAGI siang ini aku melihatnya melamun di bawah pohon randu belakang kelas XII saat istirahat kedua. Tatapannya kosong. Menerawang jauh. Bibirnya mengerucut. Dia tampak menggemaskan. Aku sampai tak mampu menahan tawa dengan vibrasi panjangku. Serta-merta dia terkesiap. Terkejut dengan kehadiranku yang tak terduga.
“Sejak kapan Bapak berada di situ?” tanyanya, salah tingkah. Resolusi tatapannya mengendur dengan pandangan mata menekuri tanah. Jari-jemarinya sibuk memilin ujung rok. Makin menguatkanku bahwa dia tengah gundah.
“Kurasa sejak piramida berpindah ke bibirmu. Sedang ngelamunin apa, Ris?” tanyaku sok akrab. Kulangkahkan kaki mendekat. Menghampirinya.
“Euntong! [1] Bapak jangan mendekat!” serunya, panik.
“Kenapa? Bapak juga kepingin merasakan sejuknya duduk di bawah pohon randu,” sahutku enteng. Dia berdiri dari duduk sesaat sebelum kuhempaskan pantatku di sebelahnya.
“Permisi, Pak, saya ke kelas dulu,” pamitnya cepat lalu berjalan setengah berlari. Menjauh dari jangkau pandangku.
Tiga bulan menjabat sebagai wali kelas XII, aku mulai mengenali kepribadian satu per satu murid didikku. Kami cepat sekali akrab. Mungkin karena selisih umurku yang tidak jauh berbeda dengan mereka, sehingga kami bisa saling menyesuaikan diri satu sama lain dengan cepat.
Tak ada sekat yang menjadi batas di antara kami sehingga tak segan-segan beberapa murid didikku sering main ke kontrakanku yang sederhana di kawasan Rancagoong, Cianjur. Satu minggu lalu, rombongan murid menyempatkan berkunjung setelah tiga hari berturut-turut aku tidak datang ke sekolah. Mereka pikir aku sakit padahal sebenarnya aku pulang ke kampung halamanku di Boyolali, Jawa Tengah.
Anehnya kala murid-murid lain makin lengket denganku, ada satu siswi yang membuatku penasaran. Dia sangat pendiam dan tertutup. Sering kali kudapati wajahnya bermuram durja sementara yang lainnya berona ceria. Kurasa dia tengah menyimpan sebuah dua buah masalah. Sayang sekali jika masalah itu berlama-lama hinggap di pikirannya. Terlebih dia remaja ABG yang masih labil.
***
“Sangat tidak etis seorang guru berduaan dengan siswinya di tempat yang sepi,” ujar Pak Hasan sesaat setelah aku duduk menghadapnya. Istirahat pertama tadi ketika seperti biasanya mataku tengah menguntit gerak-gerik Rista, salah seorang murid memberitahu bahwa Pak Kepala Sekolah memanggilku.
“Maksud Bapak?” tanyaku spontan. Belum mengerti ke mana angin pembicaraan bertiup.
Aku menatap wajah pria setengah baya yang duduk berkarisma di depanku. Menelusuri maksud yang terkandung di dalamnya. Tampak tergores di wajah bijaksananya sebuah kekecewaan padaku. Kepala Sekolah berdehem beberapa saat. Tentu aku tahu beliau tak sedang batuk. Sehingga aku dapat menyimpulkan bahwa perbincangan ini akan berlangsung serius.
“Sudah beberapa kali ini kudengar selentingan tidak enak yang mengatakan bahwa Anda sering berduaan dengan seorang siswi di belakang kelas yang sepi. Ada saksi yang melaporkan bahwa kalian tampak mesra.”
“Saya tidak melakukan apa-apa selain berbincang-bincang saja dengannya, Pak,” jawabku mengklarifikasi. Kuhela memompa napas perlahan.
“Ah, kalau berbincang-bincang biasa bisa di kelas atau di kantin,” seloroh Fandy. Entah ada urusan apa, dia masuk ke ruang kepala sekolah tanpa permisi. Mataku menatapnya kecut, sementara Pak Kepala Sekolah tampaknya juga tak suka dengan kelancangan anak buahnya itu. Ditatap sedemikian rupa oleh Pak Kepala Sekolah, Fandy buru-buru mengangsurkan beberapa lembar kertas.
“Ini revisian RPP saya, Pak,” katanya sejurus kemudian sembari menaruh file berkas ke meja.
“Saya lihat nanti. Sekarang kamu boleh keluar,” tegas Pak Kepala Sekolah mempersilahkan Fandy keluar dari ruangannya.
“Rista itu siswa yang pendiam, Pak. Dia sering menyendiri di belakang kelas ketika teman-temannya menghabiskan waktu istirahatnya ke kantin atau ke perpustakaan. Jadi sebagai wali kelas saya merasa bertanggung jawab untuk mengetahui kondisinya. Saya takutkan dia tengah menghadapi masalah,” tuturku menjelaskan.
“Alasan ….” cibir Fandy.
“Fandy, kalau urusanmu di sini sudah selesai, lebih baik keluar!” gertak Pak Hasan. Murka.
“Ba, baik, Pak,” ucap Fandy terbata.
Aku menarik napas lega, setidaknya si Pengacau itu sudah tak bisa berkicau sekehendak hati lagi.
***
“Aku tak percaya kalau Pak Danang melakukan kekerasan seksual.”
“Aku juga. Wajahnya tidak ada sedikit pun tampang sebagai orang jahat.”
“Ah, bisa jadi dia serigala berbulu domba. Dari luarnya saja tampak baik.”
Bisik-bisik seperti itu sayup-sayup kudengar di sekolahan ataupun di sekitar kontrakan. Aku tak menyangka kasus yang sebelumnya kupikir sudah selesai justru melebar hingga terendus oleh media. Tentu ini membuatku dan Pak Hasan sebagai Kepala Sekolah kalang kabut mengklarifikasi berita yang simpang siur. Berkali-kali sudah konferensi pers kecil-kecilan digelar guna menjelaskan pokok persoalan yang sebenarnya. Namun wartawan itu justru ngotot mempertahankan pendapatnya sendiri.
“Kami mendengar isu ini dari sumber yang terpercaya.”
“Siapa?” tanya Pak Kepala Sekolah.
“Kami tak bisa menyebutnya. Kami sudah berjanji tidak akan membocorkan identitasnya demi keamanan yang bersangkutan,” dalih seorang wartawan.
Kuhempas napas dengan kuat. Kesal. Siapa sebenarnya yang telah lancang menyebar gosip tak benar? Fandy? Dia satu-satunya rekan guru yang tidak suka denganku. Aku tak pernah tahu apa alasannya membenciku tapi sikapnya selalu tak pernah ramah padaku.
Lagi-lagi konferensi pers berakhir mentok. Tidak ada korban atau pun saksi yang ikut mengklarifikasi. Hanya ada tersangka utama yang telah didakwa sekehendak hati. Meski belum terbukti bahwa aku bersalah, sebagian besar rekan guru dan murid didikku sudah mulai tampak menjauhiku.
Aku melangkah gontai ke kontrakan. Kucoba mencerna keputusan Pak Kepala Sekolah yang hari ini di akhir konferensi pers dijatuhkan padaku. Demi mengembalikan kegiatan belajar dan mengajar yang kondusif, untuk sementara aku dirumahkan.
Sampai di muka rumah kontrakan, aku terperangah. Kudapati kekasihku yang kuliah di Bandung, menunggu kedatanganku dengan wajah merah, menyimpan amarah.
“Apakah yang diberitakan itu benar, Mas?” todong Annita.
“Kamu ikut-ikutan mempercayai berita itu?” balasku loyo.
“Aku butuh jawaban bukan pertanyaan balik, Mas!”
“Kau sudah mengenalku bertahun-tahun. Apa kau pikir aku laki-laki macam itu?”
Mulut Annita terkatup. Untuk beberapa saat kami bermain-main dengan pikiran masing-masing.
“Kalau begitu, buktikan kalau kau tidak bersalah!” pungkasnya kemudian pergi.
Aku hanya bisa memandang kepergiannya tanpa sanggup mencegah.
***
Kupandangi langit-langit ruang kamar kontrakanku. Menerawang menembus sekat-sekat waktu. Wajah muram Rista tergambar samar di plafon. Berikutnya aku teringat janjiku padanya bahwa tak akan kuceritakan sebuah rahasia yang pernah dibaginya padaku.
“Bapak janji, hanya aku dan kamu saja yang tahu rahasia ini. Ups, ditambah pohon randu ini,” ikrarku kala itu.
“Dan satu lagi…” balasnya dengan mata mengerling, “Tuhan,” imbuhnya dengan senyum mungil yang tercetak manis di sudut bibirnya. Itu senyum pertamanya yang kulihat semenjak aku menjadi guru di SMK Negeri 1 Cianjur.
Aku tak bisa memaksa Rista untuk memberi kesaksian. Mengungkapkan kejadian yang sebenarnya di bawah pohon randu akan berakibat fatal. Pedar senyumnya terlalu berharga untuk kupadamkan demi keegoisanku.
“Pak, Pak! Pak Danang! Apa Anda ada di rumah?” Seseorang mengedor-gedor pintu kontrakanku sambil berteriak-teriak. Sejenak aku tergelagap. Kulabuhkan lamunanku segera lalu bergegas membukakan pintu.
“Maaf Pak, mengganggu. Tadi saya sudah mengucap salam berkali-kali tetapi tidak ada respons,” ucap Sinta dengan irama napas tidak beraturan.
“Ada perlu apa?”
“Eta [2], si Rista akan memberi kesaksian, Pak. Sebaiknya Bapak ke sana,” lapor Sinta. Aku terperangah, tak percaya. Buru-buru kututup pintu lalu mengikuti langkah muridku menuju sekolahan. Baru kusadari di sekolahan bahwa pakaianku tampak tidak pantas: baju kaos dan celana olahraga panjang. Namun aku tak mungkin sempat pulang untuk berganti karena konferensi pers sudah dimulai.
“Saya akan membuka kejadian yang sebenarnya pada kalian semua. Pasanglah baik-baik pendengaran kalian karena saya tidak akan mengulang pernyataan ini,” ucap Rista tenang, memulai persaksikan. Dadaku bergemuruh.
“Saya dan Pak Danang memang sering berbincang berdua di bawah pohon randu. Awalnya saya menolak kehadirannya karena saya hanya ingin menyendiri. Lama kelamaan saya terpengaruh oleh perhatiannya yang luar biasa.”
“Benar dia melecehkan Anda?” serang seorang wartawan yang tak sabaran langsung menghunjamkan tanya.
“Tolong jangan menyahut selagi saya tengah berbicara,” kata Rista tegas.
Tumbuh kesalutanku pada keberanian dan ketegasan Rista.
“Kami memang sering duduk di bawah pohon randu berdua hanya sekadar berbincang,” imbuh Rista.
“Jadi sebenarnya Anda mendapat pelecehan seksual atau tidak?”
“Tidak. Pak Danang tak pernah melecehkan saya.”
“Lalu apa yang kalian berdua perbincangkan hingga bisa muncul isu pelecehan seksual? Bukankah tidak ada asap jika tidak ada api?” serbu para wartawan serentak membuat Rista gundah.
“Saya tak bisa mengungkapkannya….”
“Katakanlah yang sejujurnya. Anda tidak perlu menutup-nutupi. Apakah Pak Danang sering bicara cabul?” desak seorang wartawan, membujuk.
Aku kian geram dengan pertanyaan wartawan yang terkesan sengaja membengkokkan.
“Katakanlah Rista, jika kau benar-benar ingin menyelesaikan masalah ini,” pinta Pak Kepala Sekolah.
Rista geming. Matanya menyapu seluruh ruangan, mencari-cari sesuatu. Ketika pandangannya tertumbuk padaku, aku merasakan bahwa batinnya tengah bergolak. Kugeleng-gelengkan kepala, melarangnya mengungkap rahasia di bawah pohon randu.
“Saya, saya memiliki bau badan. Itulah rahasianya,” aku Rista cepat.
“Hah ….” Semua mulut menggoa. Terkecuali aku.
“Begitulah kenyataannya. Terima kasih.” Rista berlari dari kerumunan. Aku berusaha mengejarnya namun seorang murid didikku mencegatku.
“Maafkan saya, Pak,” lirih Sinta dengan wajah menyesal.
“Nanti saja ya, Sin. Bapak harus mengejar Rista,” kataku sambil lalu. Sekonyong-konyong kuputar mata, menguntit keberadaan Rista.
“Sayalah biang keladi dari masalah ini, Pak. Saya yang telah menyebarkan gosip itu ke seantero sekolah,” tukas Sinta cepat. Pengakuan murid didikku membuat detak jantungku meloncat-loncat.
“Saya tak menyangka kalau masalah ini bisa sampai ke telinga wartawan,” suara Sinta keruh oleh isak tangis. Aku memutar tubuhku.
“Mengapa kamu harus melakukan itu, Sin?” tanyaku, lembut. Kucoba meredam gejolak amarah yang timbul tenggelam di dada.
“Saya cemburu pada Rista. Saya ingin anak-anak perempuan lain tidak berani mendekati Bapak. Saya berambisi hanya saya yang bisa bersama Bapak,” ucap Sinta dengan kepala menunduk.
Berat, kuhela napas. Aku tak tahu harus berkata apa kini. Dan aku menjadi ragu. Dicintai muridku sendiri itu anugerah ataukah musibah. ***