SETELAH dua minggu menjalani masa karantina di rumah, Kopral merasa telah begitu sehat. Ia ingin segera masuk kerja. Namun, oleh atasan disuruh untuk melakukan tes lebih dulu. Sebetulnya sangat membosankan jika hidung dimasuki suatu alat semacam cotton bud panjang. Belum lagi syarat terakhir adalah dengan mengambil lendir di tenggorokan. Tak sedikit biaya untuk itu. Kepala Kopral mendadak terasa berdenyut-denyut. Dari mana ia mendapatkan uang? Oleh karena itu, dihubungilah salah satu rekan kerja terdekatnya yang bernama Jono. Mengirim pesan singkat via whatsapp. Tidak langsung dibalas.
Sembari menunggu, Kopral merebah di atas kasur berseprai kumal yang setengah bulan belum diganti. Sesekali meringis lantaran betis kiri masih terasa linu, pula sedikit sesak di dada. Menyapu sebentar sudah ngos-ngosan. Ia benci keadaan yang sangat menyiksa ini. Harus dilawan. Tak lama, telepon genggamnya bergetar. Ia langsung sigap membuka. Jono membalas pesannya. Namun, Jono juga tak memiliki uang sebanyak itu. Kopral gemas dan memilih menelepon Jono. Supaya lebih jelas.
“Kalau sudah merasa sehat, masuk saja, Pral!”
“Tapi syaratnya harus menunjukkan surat keterangan hasil PCR negatif, Jon!”
“Ya mau bagaimana lagi, bilang saja tidak punya uang. Jujur, aku tidak ada uang segitu!”
Pembicaraan keduanya tidak ada titik temu. Kopral pun urung masuk kerja. Biarlah jika perusahaan sudah tidak membutuhkannya lagi, tentu ia akan gampang sekali dipecat. Uang pesangon dan sederet hak lain terpampang di depan mata. Tiba-tiba rasa linu di betis dan denyut di kepalanya sirna, berganti bayangan ia tengah berada dalam lautan uang. Pasti cukup untuk merenovasi rumah dan modal membuka usaha.
Seminggu berselang, Kopral masih enggan masuk kerja. Ia cuek dan tak pernah membaca info apa pun di grup whatsapp kantornya. Pagi itu, saat istrinya baru saja selesai membuatkan kopi, mendadak begitu banyak notifikasi di grup. Rasa penasaran yang kuat menuntunnya untuk membuka grup itu. Seketika nama Jono langsung tertangkap kedua matanya. Komentar Jono-lah yang terakhir. Ia segera menggeser ke atas, hendak mengetahui ada pembahasan apa.
Kopral tidak penuh membaca pengumuman itu. Tapi yang pasti, sesuatu telah membuat air mata hampir tumpah dari kedua matanya. Ya, konon gaji karyawan mulai bulan depan akan dipotong sepuluh persen. Uang makan pun ditiadakan. Lemas sudah tubuhnya seakan tak kuat menopang hidup. Padahal, begitu banyak cicilan yang harus dibayar. Tengah tenggelam dalam kesedihan, ada panggilan masuk di telepon genggamnya.
“Kamu mau bebas merdeka atau mati perlahan?”
“Maksudmu?”
“Aku mau resign saja, Pral. Biar bebas merdeka.”
“Jangan sembarangan kamu, Jon! Apa perusahaan sanggup kasih pesangon?”
“Ya soal pesangon aku memang kurang tahu. Kalau dapat syukur, kalau tidak ya biar saja. Toh aku sudah bosan ikut orang. Mau usaha saja, Pral.”
Dua hari kemudian, Jono benar-benar mengajukan surat resign. Tak butuh waktu lama, perusahaan langsung menyetujui. Kopral melihat rekannya itu antara senang dan sedih. Jono bisa begitu mudah resign dan terbebas dari belenggu perusahaan yang sangat memberatkan. Namun, tidak dengannya. Keadaan ini justru semakin membuat tidak nyaman. Ia sempat menanyakan pada bagian keuangan, jika ingin resign harus menyelesaikan kewajiban. Saat pikirannya tengah kalut itulah, Jono berpamitan dengannya via whatsapp.
“Pesanku cuma satu, Pral. Nanti kalau kamu sudah masuk kerja dan mau bebas merdeka seperti aku, cepat lunasi utangmu.” ***