DI GUNUNG SIBUALBUALI
.
Di lereng Sibualbuali, aku adalah tenda
Sewarna rumput-rumput di tanah
Kusembunyikan laki-laki itu di tubuhku
.
Angin yang membawa lembing
Ketajaman mata lembing tak menembus
Kehangatan parasut dan mantel tebal
di tubuhnya. Hujan menurunkan jeruji
Mengurung laki-laki itu bersama keinginan
Menyusuri kanopi hutan hujan tropika sumatera
Hutan adalah tahta bagi flora dan fauna
.
Nyanyian katak dari sungai kecil di sampingku
Air jernih menampakkan lumut pada batu
Ritme tetes air jatuh dari daun-daun
Harmoni ansambel melodi dari konser alami
.
Laki-laki terkantuk-kantuk bersama buku puisi
Dan hujan tiba-tiba berhenti, langit
terbuka dan matahari menyala. Matahari
di mana-mana sebagai cahaya berpijar-pijar
dari butir-butir air di daun-daun,
di rumput-rumput, di permukaan sungai kecil
ketika laki-laki itu keluar dari tubuhku.
.
Berdiri di atas rumput, menyimak harmoni
melodi dan mulai berputar-putar
dalam tarian. Aku dengan seruling
selendang biru, seperti tangan yang lembut
menyentuh jiwaku.
.
*) Gunung Sibualbuali, nama gunung di Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang merupakan kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali.
.
Budi Hatees lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada 3 Juni 1972. Menulis cerpen, puisi, esai, novel, dan artikel ilmiah. Ia bekerja sebagai peneliti.
.
MEMBACA PUISI INI
.
kau menemukan puisi ini
di tempat yang paling sewajarnya.
.
pada bait kedua, ketika kau membaca puisi ini,
kau terlanjur tahu, puisi cuma sangkar tanpa seekor burung.
.
bahasa berkejaran sambil tak menangkap apa-apa.
.
kau ingin bisa percaya lagi kepada puisi.
setidaknya untuk kali ini, meski kali terakhir.
.
terlalu jauh kau menjadi seseorang yang lain,
seseorang yang sama sekali tak kau kenal.
.
meski sebenarnya kau tak pernah benar-benar mengenal dirimu.
.
setiap kau membaca puisi, kau cuma membaca kesakitanmu,
kesakitan yang tidak pernah disentuh oleh bahasa.
.
kau membaca puisi ini, tapi kesakitan tidak berakhir,
hingga kesakitan benar berakhir.
.
2021
.