ANDAI tuan datang ke Nambuk Kubo lewat selatan, di zaman seorang manusia membunuh seorang manusia lain hanya karena rasa iri, tentu tuan akan tahu Halalam, si pembunuh sekaligus pesyair yang konon dilahirkan sebatang pohon gelumpang.
Pada waktu itu, sebatang pohon gelumpang menguarkan embun lalu melahirkan anak yang belajar bicara dari seekor domba dan tumbuh besar dengan buaya serta hewan berkaki empat lain. Jangan heran karena memang di waktu itu domba, buaya, dan hewan lain, termasuk tumbuhan, juga dapat berbicara, bahkan bernyanyi.
Tentang kepandaian anak yang dilahirkan pohon gelumpang mengubah kata menjadi nada, yang jika didengar dapat membunuh, sejauh ini diyakini bermula dari seekor burung murai. Burung murai berkaki ranting pohon yang buahnya pernah dimakan Adam dan berparuh emas yang berkilauan.
Bila tuan percaya cerita tentang manusia dibuang ke bumi lantaran Adam memakan buah, bulan yang tuan lihat sepanjang malam adalah cahaya semu yang sesungguhnya hanya lampu biasa, bukan sinar yang berasal dari mata burung murai yang menunggu waktu untuk turun ke bumi. Tuan perlu tahu, bahwa bulan sesungguhnya tidaklah ada. Mengapa demikian? Mungkin lain waktu akan aku jelaskan dalam tulisan lain.
Adam di waktu itu tidak dibuang lantaran memakan buah, melainkan lalai setelah terpesona melihat seekor burung lalu mengejarnya hingga terjatuh dan tak sadarkan diri.
Dan Hawa, yang tingkat kecerdasannya melebihi makhluk hidup lain di waktu itu, sudah menyadari bahwa kecantikan berawal dari alis yang tebal. Ia pernah menemui seekor tikus untuk meminta sedikit bulu-bulu halus si tikus agar dapat ditempel di alisnya. Ia asyik menyulam alis ketika suara bisikan tentang Adam jatuh ke bumi, mengguncang dirinya untuk terpaksa segera menarik garis lengkung, menimbun bulu tikus dengan tinta hitam cumi-cumi dan campuran yang dirahasiakan, dengan tergesa-gesa.
Segera dengan sayap daun Hawa turun ke bumi, menari-nari tubuhnya di antara pohon-pohon yang justru membuat jalan menemukan Adam semakin rumit. Hawa tersesat dan merasa tak ada sesiapa yang menyadari kecantikannya. Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Hawa saat sendiri dan merasa kesepian.
Beberapa waktu setelahnya, Hawa muncul kembali dari jalan-jalan gelap dengan tubuh bersinar bagai kunang-kunang. Hawa melangkah yakin dan mendapati Adam dalam keadaan linglung. Saat itu mereka tidak langsung bercinta, melainkan bertatap-tatapan hingga Hawa membuka penutup dada dan seekor burung murai menyembul di selangkangan Adam, mengeras layaknya tanduk kerbau. Selepas itu Adam melompat ke tubuh Hawa dan Hawa menangkap tubuh Adam.
“Betapa cantik aku dengan alis sulaman ini?” tanya Hawa dengan wajah serupa permukaan danau.
Entah apa yang diucapkan Adam, suaranya bagai cericip. Hawa tersipu malu dan lidahnya mendesis-desis ingin melahap batang leher dan batang-batang lain yang ada di tubuh Adam. Mereka biarkan seluruh binatang serta tetumbuhan menyaksikan kemesraan mereka hingga teperdaya dan semua ingin menirunya. Maka seekor monyet melompat ke monyet lain, babi berlari ke arah babi lain, kumbang pun terbang ke arah kumbang lain, hingga pohon-pohon saling melilit untuk bergoyang-goyang, seolah semua itu digerakkan oleh angin.
Dan di antara semuanya, sebatang pohon gelumpang menangis lantaran tak mendapat pasangan bercinta. Adam, yang setelah menguasai Hawa, tergoda untuk membelai pohon gelumpang. Ia sesekali melihat ke belakang, memastikan Hawa masih jenak dalam terkulainya. Adam memetik buah pohon gelumpang dan melumatnya tanpa diketahui oleh Hawa. Selepas itu, hampir setiap waktu Adam mendatangi pohon gelumpang hingga ia memutuskan untuk naik ke langit, melupakan semua yang ada di bumi.
Dan bila Adam berpapasan dengan burung murai, ia telah lupa dan tak pernah ingat, bahwa dahulu, ia pernah terjatuh karena mengejar si burung. Dan bagi Hawa, burung murai tak semenarik seperti ketika ia melihat bunga-bunga untuk campuran mencuci tubuhnya sebelum bercinta dengan Adam.
Tak ada satu di antara binatang dan tetumbuhan yang tahu, bahwa burung murai yang dulu pernah hidup dan selalu terbang ke sana-kemari untuk melantunkan syair-syair pepujaan dan sempat memberi nama anak dari pohon gelumpang sebagai Halalam, telah punah dan itu disebabkan oleh Halalam yang memburunya karena sakit hati sebab burung murai mengatakan lelaki sebagai ayah kandung Halalam adalah lelaki yang tinggal di surga. Sepanjang waktu, Halalam jenuh akan pepujaan serta lantunan panjang si burung, hingga ia mencekik leher burung dan mematahkannya dengan sekali cengkeraman kuat. Meski begitu, seekor burung murai lain telah selamat serta bersembunyi di tempat yang tinggi dan gelap, jauh sebelum Halalam dilahirkan.
Dan untuk memuaskan hasrat-hasrat sebagian makhluk yang ingin mendengar kicau serta pepujaan, seekor burung pipit yang lahir cacat dengan tubuh gemuk dan hidup tanpa paruh masuk ke dalam laut untuk mencari sebongkah batu yang pernah diludahi seorang nabi, ketika nabi itu membelah laut di tahun-tahun yang lampau. Burung pipit yang menemukan batu itu di kedalaman laut memuja batu sebelum muncul ke udara dengan tubuhnya yang telah menyerupai murai. Bila pada tahun-tahun baru orang-orang menyebut seekor burung sebagai murai, itu tidak lain jelmaan dari pipit yang telah beranak-pinak.
Sebelum jauh ke sana-kemari, cerita ini kita kembalikan pada kisah Halalam. Mula-mula Halalam menggunakan kepandaiannya untuk merayu seorang perempuan yang hidup di hutan. Perempuan cantik jelita yang kakinya tinggi bagai batang kayu putih. Tentu tuan pernah melihat capung dan kira-kira seperti itulah wujud kakinya si perempuan.
Singkat cerita, Halalam dan perempuan itu main cinta-cintaan. Mereka memadu kasih di tempat-tempat terbuka. Hingga si perempuan hamil dan melahirkan sebongkah batu. Ya. Itulah mulanya mengapa Halalam menjadi murka dan selalu marah. Ia yakin batu yang dilahirkan oleh istrinya bukanlah sembarang batu, melainkan ulah manusia.
“Aku tidak pernah melihat seorang manusia,” kata istrinya sambil sulur-sulur air mata berjatuhan mengena dada dan sekujur perutnya.
Dan hanya butuh sekejapan mata bagi Halalam untuk menidurkan sepuluh kuda, apalagi manusia-manusia zaman dulu yang hidup tanpa kekuatan. Setelah melompat dari satu pohon ke pohon lain dan mengendus-endus bebauan yang membuatnya curiga, Halalam telah menjadi lain. Pada zaman itu, banyak kaum-kaum pengembara yang menganggap lintasan Nambuk Kubo bertujuan ke Kota Surga, tempat di mana semua telah tersedia. Dan untuk melewati jalan itu, ilmu sangat diperlukan. Sedikit dukun yang dipercaya dapat mengabulkan segala yang diinginkan, termasuk ilmu pegangan supaya dapat berjalan menembus Nambuk Kubo dengan selamat, agar sampai tujuan ke peradaban kehidupan baru.
Kaum Halum, Haret, Troya, hingga Jeub berpendapat, satu-satunya jalan menuju keindahan Kota Surga hanya dengan menembus Nambuk Kubo, dan beberapa di antara dukun yang pernah ke sana tak ingin lagi kembali. Dan karena itu, beberapa dukun dibunuh sebelum melakukan perjalanan karena menolak membantu kaum-kaum yang ingin menuju Kota Surga. Semakin banyak kematian, Dewa menurunkan wahyu: barang siapa, seorang dukun yang mampu membantu kaum apa pun melintas Nambuk Kubo, ia akan memiliki sepetak tanah di Kota Surga, lengkap dengan segala yang diinginkan.
Simpang-siur wahyu itu tersebar hingga ke tempat-tempat jauh, dan hampir semua orang mengaku sebagai dukun untuk mendapat imbalan di dunia. Beberapa kaum diberangkatkan setelah memenuhi syarat yang macam-macam, yang diutarakan lewat mulut seorang dukun. Memang susah dibedakan mana dukun yang asli dengan syarat-syarat yang benar.
Di samping itu, beberapa orang ada yang tidak percaya, keras kepalanya lantaran menganggap Halalam hanya makhluk mitos dan istrinya tidak lain hanya sebuah pohon purba yang membuahi batu berlian. Seorang yang keras kepala berjalan dengan tersenyum dan, sebelum sampai tujuan, bau sengat tubuhnya yang hangus serta debu dari dagingnya yang lesap terbakar, terbawa angin bersama setipis batu pipih berisi syair Halalam, yang merdunya terus mengalun sepanjang malam seolah memberi tanda pada semua orang bahwa Halalam memang ancaman yang sesungguhnya. Banyak orang yang mengatakan lelaki bodoh yang keras kepala itu tak sempat melangkah sejauh keong berlari. Dapat dibayangkan hampir ia tak bergerak, tubuhnya telah moksa.
Selain itu, ada saja yang tetap tidak percaya. Ia seorang perempuan tua. Mengaku punya ilmu pekak. Kalau kakinya mengentak tanah sebanyak lima kali, tak ada sedikit suara yang dapat didengar olehnya sampai ia mengentak tanah sepuluh kali untuk mengembalikan pendengarannya. Dan dengan begitu, jangankan seratus, seribu langkah berjalan tanpa berlari, ia akan selamat sampai tujuan setelah membelah Nambuk Kubo. Dan Halalam, baginya ada tapi tidak membahayakan. Dengan begitu, si perempuan tua berjalan setelah mengentakkan kakinya. Ia terlihat tenang seperti macan kekenyangan. Malas dan tidak bertenaga. Dan apa yang diduga bahwa si perempuan tua dapat selamat, ternyata tak seperti itu karena Halalam sungguh mengejutkan. Ia diketahui dapat membunuh tanpa membuka suara saat membacakan syairnya. Suaranya seperti udara, sunyi dan bergerak tanpa bisa dipastikan, langsung mematikan. Ibarat perang tombak, Halalam tak butuh melukai lawan, melainkan ia cukup menggenggam tombak dan itu sudah membuat lawan berkeringat darah hingga mati kaku seperti batu yang tenggelam di dalam laut.
Pada tahun-tahun Halalam hidup, tak seorang yang dapat berjalan melintas Nambuk Kubo tanpa ilmu dari dukun. Sang dukun sakti yang akhirnya mati oleh syair Halalam setelah ia lupa bagaimana menerapkan ilmunya sendiri, diduga, ia pikun pada usia senja. Dan itu membuat tak ada satu pun kaum yang mampu melintasi Nambuk Kubo dengan selamat.
Maka kini dari kejauhan, bila tuan melewati Sungai Batang Hari ke selatan, ambillah jalur tepi sampai melihat pohon beringin tua yang sekilas tampak berwarna putih. Pohon itu diyakini sebagai tempat tubuh Halalam melebur bersama syair-syairnya, menjaga batu yang diyakini jelmaan anak yang pernah dilahirkan oleh istrinya. Temuan itu telah dikaji oleh peneliti dari Rusia, Inggris, Jepang, dan Belanda yang sepakat berpendapat, Halalam adalah pesyair berdarah dingin yang dibuktikan dengan batu-batu bertulisan syair kematian. Ia merasa runtuh setelah mendapati kelahiran anaknya dan memutuskan hubungan pada sesiapa, atas ketakutan akan kejadian-kejadian lainnya. Tulisan-tulisan pada batu genggam atau batu kecil pipih ukuran yang rata-rata sekepal tangan, berarti syair-syair pemujaan kepada seseorang: bagai matamu, bagai hidungmu, di laut kutenggelamkan dirimu, di embun kau madu, dan lain-lain yang masih diteliti serta tidak dapat cukup dibaca sekali.
Tidak ada yang tahu mengapa syair yang terbaca seperti biasa-biasa saja, dengan arti tidak ada yang berlebihan, dapat membuat orang moksa pada zaman dahulu. Sampai saat ini, peneliti menutup mulut. Mereka meminta waktu dua puluh tahun lagi untuk menyusun ulang syair-syair di atas batu yang diyakini diukir Halalam. Dan soal burung pipit serta murai, sungguh, para peneliti belum tertarik untuk membahasnya. ***
Beri Hanna adalah penulis kelahiran Bangko. Ia sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, maupun tim artistik bersama Tilik Sarira. Memenangi Sayembara Novel Renjana 2021. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar. Bukunya yang akan terbit berjudul Menukam Tambo.