Terlanjur Disalahartikan

“SILAKAN kamu keluar dan lari di lapangan selama dua puluh putaran,” ucap guru memberi hukuman terhadap Salsa yang terlambat masuk kelas selama dua puluh menit.

Ini bukan kali pertama Salsa telat melainkan sudah menjadi kebiasaan. Salsa hanya bisa pasrah dan mengangguk. Ia menyempatkan diri untuk melihat seisi kelas yang begitu hening.

“Maaf teman-teman Salsa harus keluar terlebih dahulu untuk melakukan tugas dari ibu guru,” kata Salsa mendramatisasi suasana.

Tidak butuh waktu lima detik Salsa sudah merubah ekspresinya dengan senyuman dan mengedipkan sebelah mata kirinya lalu pergi meninggalkan kelas.

Sedangkan teman-teman Salsa tertawa pelan melihat tingkah lakunya yang begitu santai terhadap guru Bahasa Indonesia yang paling killer seantero sekolah.

Tidak lama kemudian Aldi datang yang merupakan dari kelas sebelah dan selaku ketua OSIS untuk menyerahkan formulir kepada guru. Aldi dengan berat hati harus mengiyakan ketika guru tersebut meminta tolong mengawasi Salsa yang sudah berada di lapangan untuk menjalani hukuman yang sudah diberikan Bu Dian selaku guru Bahasa Indonesia.

Setelah Aldi tiba di lapangan, ia tidak menemukan keberadaan Salsa. Ternyata benar apa yang dikatakan Bu Dian bahwa Salsa tidak pernah melakukan hukuman dengan benar sehingga Aldi menjadi merasa bersalah, karena tidak mempercayai perkataan sang guru. Aldi segera berlari dan mencari keberadaan Salsa, namun hasilnya ia tetap tidak menemukan keberadaan cewek itu.

Kini keringat telah membasahi seluruh wajah Aldi membuat para kaum hawa yang berpapasan semakin terpikat oleh ketampanannya. Aldi merasa haus dan segera menuju kantin yang berada paling belakang sekolah dan memesan teh es. Namun, matanya menelusuri seluruh kantin dan mendapati Salsa yang sedang asyik bercanda dengan seseorang bernama Sandi yang merupakan wakil ketua OSIS.

Aldi segera melangkahkan kaki menuju tempat Salsa dan Sandi berada dengan membawa teh es miliknya.

Sepi. Tentu saja keadaan kantin saat ini terlihat sepi, namun ada beberapa siswa berada di kantin untuk melakukan ritual setiap pagi yaitu untuk mengisi perut terlebih dahulu. Meja paling ujung dekat jendela kaca yang terbuka membuat Aldi menarik napas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan.

Menurut Aldi, Salsa memilih tempat duduk yang salah. Mengapa Aldi mengatakan bahwa Salsa memilih tempat yang salah? Alasannya karena jarak meja tersebut lumayan jauh.

Aldi memperhatikan Salsa ketika berbaur bersama Sandi seakan-akan mereka sudah saling mengenal sejak lama.

“Apakah mereka pacaran?” Tanya Aldi dalam hati.

“Permisi …,” sapa Aldi sambil memberikan senyum ramah.

Walaupun hanya dibalas dengan lirikan singkat, Aldi tetap menjatuhkan bokongnya ke kursi samping cewek tersebut. Tanpa sengaja, Aldi menatap mata Sandi yang menyiratkan tanda bahwa ia “tidak suka” bila Aldi berada di samping cewek yang berada di depannya saat ini, namun Aldi tidak peduli.

Sikut Aldi langsung menabrak indah tulang rusuk Salsa. Membuat cewek itu meringis dan mulutnya hendak berteriak protes. Namun, pelototan Aldi membuat Salsa mengurungkan niatnya dan menatap balik dengan kesal sekaligus bingung mengapa dia ada di kantin ini tidak seperti biasanya jika teman Aldi mengajak dirinya ke kantin maka ia akan menolak dengan kata-kata yang kurang enak untuk didengar.

“Tumben banget lu ke kantin jam segini biasanya juga nunggu bel bunyi baru lu keluar kelas,”sindir Salsa.

“Gue cariin lu di lapangan, ternyata lu ada di sini. Seharusnya lu ada di lapangan untuk menjalani hukuman dari Bu Dian. Bukannya asyik makan di kantin dengan tampang tidak merasa bersalah seperti ini.”

Aldi mengatakan itu dengan lantang. Salsa yang tidak terima langsung membantah sehingga terjadilah perdebatan kecil.

Ini bukan kali pertama Sandi melihat Salsa yang mendapatkan hukuman dari guru. Aldi yang baru saja berhasil menggoreskan luka di hatinya, namun Salsa berusaha menyembunyikannya dengan senyuman. Sandi sangat mengerti bagaimana sifat kakak kembarnya selama ini. Sandi dengan cepat memberikan saran kepada Salsa untuk menjalani hukuman dari Bu Dian yang ditanggapi dengan anggukan kepala, sedangkan Aldi heran mengapa Salsa sangat menuruti perkataan Sandi.

Salsa sengaja menabrakkan bahunya kepada Aldi membuat cowok itu meringis lalu berjalan menuju lapangan setelah berpamitan kepada adik kembarnya. Sandi merasa bersalah sesaat terhadap Aldi akibat ulah Salsa. Aldi yang bingung langsung mendekati Sandi dan bertanya ada hubungan apa antara mereka sampai-sampai Salsa menuruti perkataan Sandi dibandingkan dengan perkataannya yang membuat tenggorokan Aldi sampai sakit akibat perdebatan kecil.

“Lu pacarnya Salsa?” Tanya Aldi akhirnya.

Sekarang dirinya hanya mampu menunggu jawaban yang semakin membuatnya sedikit waswas.

Sandi yang mengetahui bahwa Aldi menyukai kakak kembarnya sejak lama semakin ingin menjahili sang ketua OSIS.

“Iya,” ucap Sandi menahan tawa ketika melihat ekspresi Aldi yang tidak ia duga.

Aldi terpaku ketika mendengar satu kata yang lolos dari bibir Sandi. Habis sudah harapan untuk menembak bahwa Aldi akan galau untuk beberapa hari ke depannya akibat rasa sukanya terlanjur disalahartikan. Sandi benar-benar merasa bersalah karena kebohongannya.

Ketika sampai di lapangan Aldi mendapati Salsa yang sudah berlari memutari lapangan yang pasti tidak diketahui Aldi sudah berapa lama. Aldi ikut berlari dan menyusul Salsa yang sudah jauh di depan. Aldi berlari dengan kecepatan di atas rata-rata untuk menyeimbangi langkah Salsa walau rasa lelah menghampirinya, tetapi Aldi tidak menyerah.

“Lu pacaran sama Sandi?” Tanya Aldi to the point ketika sampai tepat di samping Salsa walau keringat telah membanjiri seluruh wajahnya.

“Gila lu. Dia kembaran gue, ya kali gue pacaran sama dia. Oh iya satu lagi ini sekolah milik keluarga gue. Jangan sampai siswa lainnya tahu informasi tentang ini,” sinis Salsa. Ternyata selama ini Aldi tidak mencari informasi tentang dirinya.

Memang benar sekolah ini milik keluarga Salsa dan Sandi, namun mereka sengaja tidak memberitahukan identitas mereka bahkan seluruh siswa tidak mengetahui bahwa Salsa memiliki saudara kembar cowok apalagi yang seperti Sandi. Itu benar-benar tidak bisa dipercaya. Tentu saja tidak bisa dipercaya, Sandi yang merupakan siswa populer karena sikap ramahnya dan juga dewasa dalam menghadapi masalah sedangkan Salsa malah sebaliknya.

Aldi menarik lengan Salsa sehingga membuat Salsa berhenti.

“Kalau gue jatuh cinta sama lu untuk yang kesekian kalinya dan minta lu jadi pacar gue apa itu salah?” Tanya Aldi dengan ketus.

Dia benar-benar menatap Salsa sampai cewek itu mengalihan pandangannya ke arah lain karena pipinya mulai merona.

“Enggak salah, tapi lu bisa nggak sih, nyatain cinta itu pake kalimat yang manis. Nggak takut gue tolak?” Nada bicara Salsa tak kalah ketus dari Aldi.

“Enggak. Lagian gue sudah terbiasa lu tolak, bahkan ini yang kedelapan kalinya jika lu nolak gue, ” jawab Aldi penuh keyakinan sehingga membuat Salsa memelotot.

“Karena gue yakin lu bakalan terima gue kali ini sebagai pacar,” jawab Aldi percaya diri.

“Percaya diri banget jadi cowok, lu gue tolak! Pergi jauh-jauh dari gue. Dasar menyebalkan,” ucap Salsa dan melanjutkan hukuman yang sempat tertunda sedangkan Aldi semakin semangat untuk mengejar Salsa.

Mengapa kebaikan Salsa menjadi sebuah kesalahpahaman yang rasa sukanya terlanjur disalahartikan oleh Aldi menjadi berevolusi menjadi cinta yang sesungguhnya. ***

Penulis seorang mahasiswi di Universitas Prima Indonesia, jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia dan merupakan pengiat sastra di Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK).

Arsip Cerpen di Indonesia