Tujuh Bulan

HARI ini, Heru pulang lebih malam dari hari biasanya. Rintik hujan menghalangi pandangan kaca mobilnya. Sesekali disapunya dengan wiper agar pandangan kembali normal. Malam ini jalanan tampak sepi, Heru mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tak lama sampailah ia di depan rumah. Heru membuka pintu rumah sambil mengucap salam lalu berjalan menuju ke kamarnya.

Belum lagi sampai di kamar, Heru dibuat bingung dengan banyak perlengkapan bayi yang tergeletak di ruang tamunya, ia berpikir perleng[1]kapan bayi siapa? Sedangkan usia kandungan istrinya saja baru empat bulan. Terlihat Mila sang istri sedang melipat pakaian bayi di sana.

“Punya siapa ini semua?” Tanya Heru sambil memegang mainan bayi di tangannya.

“Punya anak kita, Mas. Tadi aku dan ibu ke Mall terus lewat toko bayi, sekalian deh, belanja,” sahut Mila.

Dengan perasaan sangat kesal Heru langsung pergi meninggalkan Mila menuju kamar. Segera Mila membuntuti Heru dari belakang. Mila duduk di ranjang me nunggu suaminya keluar dari kamar mandi sambil memegang pakaian bayi yang ia lipat tadi. Tak lama, Heru keluar mengusap rambutnya yang basah dengan handuk biru.

“Mas, kamu marah?” Tanya Mila.

“Gak kok,” jawab Heru singkat.

“Kenapa Mas diam, apa Mas gak suka?”

“Sayang, bukan Mas enggak suka, tapi rasa Mas, belanja perlengkapan bayi dengan usia kandungan baru empat bulan itu terlalu cepat. Kamu jangan capek-capek dulu, istirahatlah di rumah,” ucap Heru.

“Apa ibu tidak ada melarangmu belanja di usia kandungan belum tujuh bulan?” Lanjut Heru.

“Ibu sudah melarangku tadi, cuma memang aku yang terlalu antusias dengan kelahiran anak kita, Mas,” ucap Mila.

Heru menggelengkan kepala melihat sifat keras kepala istrinya.

“Tadi ibu bilang, pamali sebelum tujuh bulan membeli perlengkapan bayi, tapi Mas tau sendiri aku enggak percaya dengan yang seperti itu,” lanjut Mila.

Dalam tradisi Jawa ada larangan (pamali) membeli perlengkapan bayi sebelum genap usia kandungan sang istri tujuh bulan. Ditakutkan ada hal buruk yang menimpa si anak ketika melanggarnya.

***

Kini usia kandungan Mila telah memasuki tujuh bulan, sebagai orang yang berdarah Jawa, Heru dan Mila akan menggelar acara syukuran tujuh bulanan atau dalam bahasa Jawa disebut dengan tingkeban.

Tujuh bulanan merupakan acara kehamilan yang memasuki bulan ketujuh dalam masa kehamilan seorang ibu untuk anak pertamanya. Tujuh bulan atau dalam kalangan Jawa disebut dengan tingkeban/mitoni yang merupakan simbol budi pekerti agar anak yang lahir berjalan dengan baik atau dengan istilah menthuk yang sama artinya dengan menjemput.

Di dalam tradisi Jawa hal ini menunjukan sikap hati-hati orang Jawa dalam menjalankan kewajiban luhur saat ini, keadaan ibu hamil telah seperti “sapta kukila warsa” artinya adalah burung yang kehujanan, burung tampak lelah dan kurang berdaya, tidak bisa kemana-mana, karenanya yang paling mujarab adalah berdoa agar bayinya lahir selamat. Secara tidak langsung makna dalam tujuh bulanan yaitu symbol-simbol komunikasi ritual.

Komunikasi ritual dapat dimaknai sebagai proses pemaknaan pesan sebuah kelompok terhadap kepercayaan yang dianutnya. Acara tujuh bulanan sendiri mulai dari acara siraman, acara brojolan, pembagian tarik pontang dan jualan dawet/ rujak.

Dari beberapa acara tersebut juga memiliki makna yang berbeda, mulai dari siraman yakni memiliki makna menyucikan secara lahir dan batin sang ibu maupun calon bayi. Acara brojolan yaitu ayah calon bayi meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang dipakaikan sang ibu. Cengkir atau kelapa muda yang digunakan sebelumnya telah dilukis dengan Dewi Kamaratih yang melambangkan bayi perempuan dan Dewa Kamajaya melambangkan bayi laki-laki.

Selanjutnya adalah takir pontang atau tempat makanan yang disajikan terbuat dari daun pohon pisang dan janur berbentuk menyerupai kapal yang bermaksud bahwa dalam mengarungi bahtera kehidupan harus menata diri dengan pemikiran. Terakhir adalah jualan dawet dan rujak yakni bermakna usaha sebagai orang tua untuk memenuhi kebutuhan anaknya kelak.

***

Setelah acara tingkeban, Mila mengajak mertuanya kembali ke toko perlengkapan bayi dan membeli lagi perlengkapan yang sudah dibelinya waktu itu.

“Nak, inikan sudah pernah kamu beli sebelumnya,” ucap ibu.

“Gak apa-apa, Bu. Perlengkapan bayi yang lama modelnya sudah kuno, kita sedekahkan saja,” sahutnya.

Ibu hanya diam melihat kelakuan Mila yang boros perihal membeli sesuatu, ia tak mau banyak bicara dengan apa yang Mila lakukan sebab takut membuatnya tersinggung dan marah.

Ketika hendak menuju ke lantai 2 toko untuk membeli mainan dan tempat tidur bayi, kaki Mila terpeleset di tangga.

Gubrak…

Semua orang menuju sumber suara, ternyata Mila jatuh dari tangga. Kakinya berlumuran darah, ibu mertua tergopoh-gopoh menghampiri Mila. Karyawan toko panik, langsung menelpon ambulance untuk dibawa ke RS terdekat. Ibu menangis tersedu-sedu memberitahukan kabar ini kepada Heru. Heru yang saat ini berada di kantor bergegas menuju RS.

Di dalam mobil, tiba-tiba pikirannya teringat tentang pantangan berbelanja sebelum tujuh bulan, hal tersebut pernah dilakukan Mila. Pikirannya semakin kacau dan panik. Setelah beberapa saat Heru tiba di RS tempat Mila dirawat.

“Apa benar bapak adalah suami pasien?” Tanya salah satu dokter yang baru saja keluar dari ruangan IGD.

“Iya, saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?”

“Istri bapak harus segera dioperasi.”

Mendengar perkataan sang dokter, Heru semakin panik dan selalu memikirkan hal-hal buruk, atas persetujuan Heru dengan segera dokter mengambil tindakan dan membawa Mila ke ruangan operasi.

Beberapa jam kemudian salah satu dokter keluar dari ruang operasi, Heru dengan wajah cemas segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut, syukurlah kekhawatirannya terpatahkan dengan pernyataan dokter yang mengatakan bahwa istri dan anak laki-lakinya selamat. Hanya saja anaknya perlu beberapa hari lagi tetap berada di ruang inkubator, karena lahir dalam keadaan prematur.

Hatinya bahagia mendengar kedua orang yang dicintainya selamat, tetapi ia juga sedih saat ini belum bisa bertemu dengan jagoan kecilnya itu, dari kejauhan ia melihat sang anak, tanpa sadar air mata mengalir di pipinya dengan perasaan yang campur aduk.

Hari yang dinanti tiba, dokter telah mengizinkan anaknya ke luar RS karena keadaannya sudah membaik dan dinyatakan sehat. Lagi-lagi, Heru dan Mila harus bersabar dengan keadaan yang diderita putranya.

Anaknya mengalami penyakit sistemik lupus eritematosus (SLE) atau sering disebut sebagai lupus juga dikenal penyakit seribu wajah. Oleh sebab itu, Heru dan Mila harus menjaganya dengan ekstra karena anak yang menderita penyakit ini tidak boleh kena sinar matahari karena kulitnya sensitif terhadap paparan sinar matahari, efeknya akan terasa sakit dan seperti terbakar.

Anak merupakan anugerah terindah yang harus disyukuri, sebab bagaimanapun keadaan anak adalah bentuk pemberian terindah dari sang pencipta yang harus kita jaga dan kita sayangi selutus hati. ***

RumahDiksi, Juni 2021

Arsip Cerpen di Indonesia