“DIKIJOKNYA awak. Ha, dikijoknya lagi awak. Awak mau pula. Sudah itu, berhelat saja dia, tak diundangnya awak!” ujar seorang pemuda tanggung yang datang ke lepau Engku Raoh di Simpang Lapan, sore itu. Wajahnya tampak kusut. Rambutnya acak. Badannya tak terurus.
Dia masuk ke lepau Engku Raoh tanpa mengucapkan salam. Langsung duduk saja. Mengoceh tak jelas. Menggaruk-garuk kepala.
Dia duduk di kursi paling sudut, menghadap jendela, sehingga dia lepas bebas memandang ke jalan raya. Satu dua oto melintas. Kabut dari Gunung Singgalang turun, merobek senja yang mulai redup.
Semua orang yang sedang minum teh telur di lepau itu menolehkan pandang kepada si pemuda, termasuk Engku Kari. Orang-orang tahu betul tentang hal ikhwal dia, asal usulnya. Mafhum.
Dulu, dia pemuda rancak, segeh gayanya, anak Engku Rang pedagang kayu manis di Batipuh yang berpulang setahun lalu. Dia anak tunggal, tak beradik tak berkakak. Kesehariannya tak banyak bicara, pendiam, dan sering duduk-duduk di tepi pincuran di dekat surau simpang tangki air.
Konon, dia menyukai seorang gadis, anak sekolah madrasah di Gantiang, tapi sungkan dia menyebut kepada orang tuanya, atau datang ke rumah orang tua gadis itu untuk meminang. Kepada gadis itu tak pula berani dia menyampaikan maksud dan hasrat hatinya. Dia banyak menahan diri, meski di dalam dirinya telah tumbuh gejolak yang mahadahsyat, seperti isi kawah Gunung Marapi yang sewaktu-waktu menyemburkan debu belerang ke udara.
Singkat cerita, akhirnya, sebab perkara yang tak putus di akalnya, karena gadis itu lebih dulu dipinang pemuda lain yang lebih berada, berpendidikan pula, putuslah urat warasnya. Sejak itu, dia sering bicara sendiri, di mana saja: di jalan, di pasar, di gelanggang pacuan kuda, juga di lepau teh telur di Simpang Lapan itu.
“Awak bilang ke dia, tunggulah, tunggu! Awak cari kerja dulu, awak akan datang, awak akan pinang, awak akan bawa teh telur ke rumah kau. Tak cukup segelas, dua tiga gelas awak bungkus!” ceracau pemuda itu lagi, sembari meninju dinding lepau, menampakkan risau, dan kegeraman hatinya. Giginya gemeretak.
Dinding lepau Engku Raoh yang terbuat dari kayu itu tampak bergetar. Semua mata tertuju kepada pemuda itu. Ada yang ingin menghariaknya, tapi muncul iba dan sadar bahwa yang dihadapi adalah orang gila, orang yang tak ada akalnya. Kalau dilayani, sama pula gila nanti dikatakan orang. Jadi, pemuda itu dibiarkan saja, dan biasanya, tak lama sesudah itu, dia akan diam, lalu pergi meninggalkan lepau. Perginya ke pasar, atau ke surau, tetapi tak pernah ia mau masuk ke dalam surau. Hanya duduk di jenjangnya saja. Sesudah itu dia mandi di pincuran surau, sebasah[1]basahnya, sehingga badannya tak sebusuk aroma orang[1]orang kurang waras lainnya yang kadang tak terperhatikan oleh instansi terkait yang mengurus orang kurang waras di kota itu.
Empunya lepau, Engku Raoh, melihat perangai pemuda itu tampak tersenyum saja. Agak iba dia. Sebab cinta, rusak binasa anak orang. Kejam juga cinta itu, pikirnya. Teringat ia masa-masa mudanya dulu, pernah juga ditolak orang beberapa kali, tapi syukurlah ia tak sampai kehilangan akal. Kalau hilang akal, tentu tak membuka lepau teh telur dia kini. Prinsipnya, satu menolak, lima membuka pintu. Di antara yang lima itu, satu tersangkut di hatinya yang kini menjadi bininya, mandeh dari anak-anaknya.
“Itulah, salah kau juga, kau tunda-tunda, akhirnya dia diambil orang, terpekik kau kini, kan?” seru Engku Sut, yang duduk berhadapan dengan meja pemuda itu. Menggoda. Lebar senyumnya.
Pemuda itu sejenak menolek ke arah Engku Sut, memperlihatkan wajah masam, tapi tak lama. Setelah itu, melebar senyumnya, tampak gigi-giginya yang kuning tak terawat. Ia tergelak. Tertawa seorang diri yang lagi-lagi menarik perhatian seisi lepau.
“Ha, ketawa kau? Lucu yang kukatakan tadi?” sambung Engku Sut. Dia ikut tertawa juga.
Meski pemuda itu sering bicara sendiri, tapi dia tak mengganggu orang, seperti sebagian orang kurang waras lain yang ketika diganggu dia melawan. Karena dia elok, orang lepau tak cemas setiap kali dia datang, membiarkan dia asyik dengan dunianya. Dunia antah berantah. Engku Kari sering menggodanya pula. Kadang, orang yang menggoda itu, sudah sama persis hilang akalnya, sama pula perangainya dengan orang yang digodanya.
“Sudahlah, lupakan dia. Besok, ikut aku ke sawah, mencari belut. Mau kau jadi toke belut? Nanti kalau sudah banyak uang, tak usah kau mencari padusi, kau yang akan dicari padusi,” seloroh Engku Kari. Sama halnya seperti Engku Sut, Engku Kari tergelak. Ia tertawa sepuas[1]puasnya.
Engku Kari tahu pemuda itu suka minum teh telur. Lalu, dibaginya teh telur di gelas menjadi dua, diserahkannya setengah kepada pemuda itu, setengah lagi untuk dirinya.
Pemuda itu menyambut pemberian Engku Kari dengan gembira. Sejak tadi, jakunnya sudah turun naik karena melihat teh telur di gelas Engku Kari yang baru diantar karyawan Engku Raoh. Dan, setelah minum teh telur, berbinar wajah pemuda itu.
“Belut?” Kemudian, dia mengangguk-anggukkan kepala. Agaknya, dia nyambung dengan pembicaraan Engku Kari. Dia tertarik memancing belut.
Pemuda itu mengangguk beberapa kali. Tersenyum[1]senyum beberapa kali. Engku Kari memberikan dua jempol kepadanya.
“Ya, ikut aku besok ke sawah, kita cari belut,” kata Engku Kari lagi.
***
KEESOKAN harinya, pemuda itu tidak benar-benar ingat pada perkataan Engku Kari di lepau Engku Raoh sore kemarin. Setelah ia terjaga agak siang, tidur di pondok kosong di dekat surau, ia bergegas mandi di pincuran, lalu mengeringkan badannya di bawah sinar matahari. Setelah kering, ia pakai pakaian yang sudah berkali[1]kali ia kenakan dan tak pernah berganti. Terakhir, ia diberi pakaian oleh Engku Lah di saat hari raya haji, dan pakaian itulah yang kini melekat di badannya. Sudah lusuh. Sudah robek-robek pula.
Sehabis dari surau, ia berjalan hendak ke pasar. Perutnya terasa lapar. Di jalan ia bertemu Engku Dis, dan dia diberi uang sepuluh ribu rupiah. Ia terima uang itu tanpa senyum, sebab ia tak tahu juga fungsi uang dalam kondisi akalnya yang sudah tidak ada. Namun, yang ia tahu ia butuh makan, sebab dorongan perutnya yang lapar menggerakkan badannya untuk mencari makanan.
Tibalah ia di lepau nasi yang biasa disinggahi para peburu babi di simpang lampu merah, dan lepau itu ramai sekali. Ia tegak berdiri di depan lepau itu. Haji Ishak pemilik lepau nasi tahu betul apa yang harus ia lakukan kalau ia melihat pemuda itu. Ia menyuruh karyawannya membungkuskan nasi lalu menyerahkannya kepada pemuda itu. Setelah menerima nasi, ia makan dengan lahap di sudut luar lepau sembari melihat anjing-anjing yang menyalak di dalam sangkar besi di punggung-punggung oto yang akan membawanya berburu, entah ke rimba mana.
Sedang asyik makan, pemuda itu melihat seorang perempuan rancak berboncengan vespa dengan seorang laki-laki gagah berkaca mata hitam. Ia ingat betul wajah perempuan itu yang tak lain adalah perempuan yang pernah ia cintai, dan kini masih dia suka dan telah membuatnya gila. Ingatannya pada perempuan itu masih lekat seperti rasa teh telur yang lekat di lidahnya.
“Ha, itu dia, bersenang[1]senang dia sekarang,” teriak pemuda itu. Semua mata yang sedang berada di lepau nasi Haji Ishak beralih kepada pemuda itu. Mereka tak paham apa yang dikatakannya.
Tanpa menghabiskan sisa nasi yang berbungkus daun pisang, pemuda itu berlari menyeret kaki kanannya yang karena kecerobohannya terperosok di lubang saluran air di depan lepau Haji Ishak. Ia mengaduh, dan sepertinya lubang itu telah melukai kakinya. Namun, seolah tanpa terjadi apa-apa ia terus mencoba berlari dengan tertatih mengejar vespa yang sudah jauh melaju di jalan raya ke arah Bukittinggi.
“Oi, orang gila, berhenti … Kembalikan kekasihku!” teriak pemuda itu.
Dia menunjuk-nunjuk ke arah vespa yang sudah sangat jauh berlalu, sementara darah mengucur deras di mata kakinya. Suara teriakannya tidak terdengar oleh si empunya vespa maupun perempuan yang duduk melingkarkan tangan di pinggang laki-laki pengemudi vespa itu yang tak lain adalah suaminya. Puluhan pasang mata memandang iba kepada pemuda malang itu, iba disertai senyuman tetapi tak mereka perlihatkan. Pemandangan itu menjadi duka ketika tiba-tiba sebuah truk pasir melintas kencang di jalan raya lalu menyambar tubuh pemuda itu. Ia terempas jatuh dan kepalanya membentur trotoar. Orang[1]orang berhamburan ke tepi jalan hendak menolong. Nahas, ajal menjemput, dan pemuda itu seketika meregang nyawa.
Simpang Lapan gempar. Ketika rinai dan kabut turun, terdengar suara Engku Garin dari corong masjid yang mengabarkan berita kemalangan itu.***