Oleh Adhita Didiet (Pontianak Post, 26 September 2021)
“…diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”
Ibarat proklamasi yang singkat, padat, dan bernas, demikian juga sebuah pentigraf. Cerpen tiga paragraf gagasan Tengsoe Tjahjono, penyair dan akademisi Universitas Negeri Surabaya, mirip seperti kutipan teks proklamasi. Si pentigrafis harus menulis dengan seksama, artinya mengerti tata cara menulis sebuah pentigraf yang hanya terdiri dari 3 paragraf dengan 210 kata saja, serta seminim mungkin menggunakan dialog. Diperlukan ketelitian saat memilih kata-kata yang dipakai supaya cerita menjadi bernas. Selain daripada itu, yang tak kalah penting, dalam waktu singkat harus menghasilkan ending yang mengejutkan, tak terduga atau WOW supaya pembaca tertarik membaca pentigraf.
Seperti pada buku Kumpulan Pentigraf Si Gondrong, lagi-lagi Azkiya Publishing mewadahi gairah para pentigrafis Easy Writing untuk seru-seruan menulis pentigraf. Bahkan Bapak Pentigraf Indonesia menyatakan kekagumannya melihat animo para pentirafis Easy Writing dalam menulis pentigraf. Beliau juga mengapresiasi komunitas ini yang dalam tempo singkat telah berhasil menghasilkan 3 buku kumpulan pentigraf; Pesan Bersayap (2020), Si Gondrong (2021), dan Paimin Ingin Merantau (2021). Menurut beliau, terbukti pentigraf telah menjadi candu yang menyehatkan bagi komunitas EW ini (catatan satu paragraf Tengsoe Tjahjono pada kover belakang buku).
Pada jilid ketiga ini, candu yang menyehatkan ini mengangkat tema besar ‘serba-serbi kehidupan’. Satu tema yang luas tentunya. Para pentigrafis dipersilakan menginterpretasikan sendiri tema SSK tersebut sepemahaman mereka. Kebebasan yang diberikan ini akhirnya memunculkan banyak sub-tema cerita, seperti cinta, sosial, politik, budaya, ekonomi, dan lain-lainnya.
Namun demikian, karena situasi pandemi covid-19 belum berakhir, masih banyak tema mengenai covid yang ditulis oleh para pentigrafis. Ide tentang covid mungkin menjadi ide cerita yang mudah dituliskan, seperti tulisan Rina Hendriani (“Cuci Tangan”-hal.153) dan Nurul Esturina (“Cuci Tangan”-hal.133). Keduanya tak saling kenal, tapi ajibnya mempunyai judul pentigraf yang sama: “Cuci Tangan”. Mereka berdua mengangkat cerita ini untuk mengingatkan siapa saja bahwa mencuci tangan menjadi sesuatu yang “harus” di masa pandemi. Tentunya, keduanya bercerita menggunakan imajinasi masing-masing, sehingga pentigraf yang dihasilkan tetap mengandung kejutan atau ketakterdugaan.
Bahkan sebuah pentigraf yang ditulis oleh Nurhayati (“Jarum Suntik”- hal.128), sepertinya tak berkaitan masalah covid, tapi setelah membaca keseluruhan cerita ternyata idenya tetap ada ketersinggungan dengan covid. Betapa seseorang yang terkenal sebagai jawara harus lunglai hanya karena melihat kawannya sedang divaksin.
Masih ada pula pentigraf yang berjudul sama (“Positif”-) ditulis oleh Meranti Sarmin, hal.100 dan E. Trissanti, hal.48 atau “Setengah Lusin” (hal.123) yang ditulis oleh Nur Azizah. Ketiganya menulis cerita yang hampir sama. Covid-19 memang virus mematikan dan bikin khawatir siapapun. Namun, ditangan ketiga pentigrafis EW, cerita covid yang awalnya menegangkan, di akhir cerita kejutan positifnya justru bikin bahagia para tokohnya. Masih ada keseruan pentigraf covid yang tentunya bisa dinikmati para pembaca.
Selain mengangkat covid sebagai sub-tema dalam buku ini, ada juga pentigrafis lain yang menuliskan hasil pengamatannya mengenai penggunaan kartu kredit. Henny Purnawati menjadikan “Kartu Kredit” (hal.82) sebagai pentigraf SSK. Ia melihat kebiasaan teman-teman kantornya yang menggunakan kartu kredit. Kemudahan memang diberikan oleh kartu kredit, tapi kalau tak bijak menggunakannya bisa berujung tagihan membengkak yang melebihi gaji sebulan. Klenger pastinya.
Judul Buku: Paimin Ingin Merantau
Penulis: Afita Nur Hayati, dkk.
Penerbit: Azkiya Publishing
Tahun terbit: September 2021
ISBN: 786-623-6312-68-1
Tebal buku: 201 halaman
Selain “Kartu Kredit”, Henny Purnawati juga menulis pentigraf berjudul “Paimin Ingin Merantau” (hal.79) yang pada terbitan kali ini dijadikan kover buku. Kisah Paimin anak Gunung Kidul yang terpesona melihat kesuksesan Karyo teman kecilnya setelah merantau ke Jakarta. Berbekal restu dan celengan sang ibu, ia siap merantau dan ingin sukses di rantau. Banyak impian digantungkan dan ingin diraih. Namun, pertemuannya dengan Karyo di Stasiun Lempuyangan membuyarkan niatnya merantau.
Dalam memaknai tema besar SSK, setiap pentigrafis dipersilakan berimajinasi sebebas-bebasnya. Tak ada kekangan apapun kecuali syarat dan ketentuan sebuah pentigraf. Rao Pulungan (“Cinta Segitiga”-hal.89), Erni Yuliati (“Konfl ik Batin”-hal.54), dan Lusi Ekarina (“Bermain Api”-hal.86), misalnya, menuliskan sub-tema SSK tentang perselingkuhan.
Kesetiaan merupakan dambaan pasutri, tapi gaya hidup, lingkungan pergaulan, dan pengaruh medsos terkadang ikut andil menyuburkan benih-benih perselingkuhan bagi orang yang tipis imannya. Sebuah sub-tema SSK yang abadi di semesta raya ini dan ditangan ketiganya dihasilkan ending yang mencengangkan. Bukannya mencengangkan bagian dari keterkejutan sebuah pentigraf?
Seperti kata Suhu pentigraf, tema-tema dalam buku ini sangat beragam. Jadi kalau ada pentigraf yang mengangkat cerita horor dan memberikan ending mengagetkan pembacanya, tentu sah. Cerita horor, misteri, tenyata akrab dalam kehidupan masyarakat kita.
Neneng Tuti Yuniarti sangat piawai menulis pentigraf horor, meski kadang ending ceritanya agak konyol atau lucu. Pentigraf horor komedi/lucu buatannya ada dalam pentigraf berjudul “Arwah Penasaran” (hal.111), “Kamar Mayat” (hal.113), dan “Baju Pocong” (hal.112). Walaupun lucu, tapi kalau takut jangan baca pentigraf karyanya malam hari.
Dalam pentigraf horor, Neneng tidak sendiri. Ada pentigrafis Muhammad Tang, ia mengisahkan cerita tentang sekelompok orang yang mengikuti seminar gratis, tapi karena diadakan di Kota Tua, muncullah kejadian-kejadian mistis di sana. Simak pentigrafnya yang berjudul “KOTU” (hal.103).
Selain cerita Covid-19, pesona cerita cinta tetap hadir. Nyaris setiap orang pernah mengalami perasaan (jatuh) cinta, karena cinta itu universal. Tak hanya cinta kepada pasangan atau kekasih, seperti yang ditulis Fransisca XS dalam “Sepucuk Surat” (hal.63) atau pentigraf “Cinta Pertama” (hal.51), yang ditulis Endah Sulistyarini.
Ada pula cerita cinta kepada orang tua, saudara atau kerabat yang bisa dijadikan pentigraf, seperti “Nenek” (hal.58) karya Fazriah Hayati yang mengisahkan cinta dan kasih-sayang satu keluarga kepada jidah (nenek), atau pentigraf “Lelaki Tangguh” (hal.172) tulisan Titin Sri Rahayu, yang menunjukkan betapa cintanya si tokoh utama kepada sang ayah, meskipun ada kenyataan lain yang harus dihadapi sesudahnya.
Sementara itu, Yeni Kurnia menulis pentigraf “Berderai” (hal.175), cinta seorang ibu yang tak bisa bertemu putri semata wayangnya akibat sebuah keadaan.
Seorang pentigrafis seharusnya membangun sebuah dunia baru lewat karya sastra, bukan sekedar mendeskripsikan saja. Demi sesuatu yang baru tadi, pentigrafis perlu mengolah semua bahannya menggunakan alat dan pengalaman yang dipunyai. Jika diperlukan, pentigrafis bisa out of the box ketika mengolah bahan-bahan tulisannya, tapi tetap berpegang pada logika yang wajar.
Bagi pribadi-pribadi yang ingin serba cepat dan singkat, menulis pentigraf merupakan pilihan jitu. Bagi yang pernah menulis dan merasakan nikmatnya pentigraf, tentu pentigraf bak candu yang menyehatkan.
Untuk memperoleh “dunia baru”, para pentigrafis juga harus berani sementara waktu meletakkan kebiasaan-kebiasaan menulis panjangnya. Di #OmahPentigrafAzkiya candu dan keseruan pentigraf selalu akan hadir menemai. ***