Cerita dari Segelas Bir

Cerpen Agus Ainur Roziqin (Radar Bojonegoro, 31 Oktober 2021)

AKU tidak mampu memahami apa sebenarnya telah terjadi. Malam itu dengan hati kalut, aku mampir ke rumah teman lama, teman ketika masih sekolah di bangku SMP. Seorang lelaki dengan penampilan sangat menarik, selalu hidup dengan impian-impian menembus langit.

Ia termasuk orang sangat terkenal di negeri ini. Seorang akademisi, intelektual bahkan motivator hebat dan juga penulis produktif. Sudah berapa ratus kali atau mungkin berapa ribu kali tulisannya menghiasi media massa. Wajah tirusnya sesekali muncul di TV, suaranya tenang saat menjelaskan sesuatu, dengan kata-kata santun ia bisa memikat masyarakat. Bahkan banyak media massa menyebutnya motivator santun terakhir yang hidup di era yang penuh dengan hoaks dan caci maki.

“Sudah saatnya kita tegakkan moralitas bangsa ini. Memegang teguh nilai-nilai luhur. Setiap pribadi yang mengaku warga Indonesia, harus berupaya memulainya dari diri sendiri,” kata-kata yang sering diucapkan di depan kamera TV.

Dia temanku ketika masih SMP, sejak dulu ia pandai dalam ilmu-ilmu sosial dan sangat terampil dalam menyusun bahasa. Aku sering datang ke rumahnya untuk sekadar bercerita atau meminta bantuan dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Saat rumah tanggaku hampir kandas, ia dengan ide-ide segarnya bisa memberikan secercah cahaya membuat rumah tanggaku kembali bisa bersatu. Malam ini aku datang ke rumahnya lagi, masalah pekerjaan di kantor yang rumit membuatku membutuhkan orang ketiga untuk membantu mencarikan jalan keluar.

Aku baru saja melangkah di halaman di rumahnya, ia telah memanggil namaku dari gazebo terletak di depan rumah. Pohon-pohon rindang membuat suasana terasa sejuk. Ia duduk sambil tangannya memainkan gawai.

“Masalah apa yang mengantarmu ke sini?” katanya sambil tertawa.

“Dasar sontoloyo, menganggap temannya selalu membawa masalah,” sahutku sambil tertawa dan sayang sekali, kamu selalu benar.”

Aku segera duduk di gazebo yang sejuk. Rumahnya terlihat luar biasanya, banyak pohon-pohon rindang. Di atas tanah sekitar 1.000 meter persegi, ia mendirikan rumah indah. Rumah ini sebenarnya lebih cocok disebut sebagai rumah peristirahatan saja. Rumah tempatnya tinggal berserta keluarga berada di sebuah perumahan elite di tengah kota.

Rumah peristirahatannya tidak jauh dari rumahku. Tentu jangan dibandingkan antara rumahku dan rumahnya. Rasanya seperti langit dan bumi. Di antara sejuk angin malam, aku menceritakan permasalahan yang aku hadapi di kantor. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya bening memandangku dengan penuh rasa simpati.

“Ah biasalah masalah seperti itu,” katanya tenang. “Nanti akan ada jalan keluarnya, yang penting setiap kali kamu melangkahkan kaki ke tempat kerja, niatkan saja sebagai ibadah. Hidup itu memang tidak adil. Kalau kehidupan di dunia ini sudah adil semuanya, kita tidak membutuhkan surga dan neraka.”

Aku hanya terdiam saja, mencoba memahami apa dikatakannya. Kepala terasa masih agak pusing, mungkin hanya psikis saja. Ia mengajakku masuh ke dalam rumah, meski sudah sering ke tempat ini, baru kali pertama aku diajak masuk ke dalam rumahnya. Biasanya hanya duduk santai di gazebo atau di teras.

Dinding rumah terlihat eksotik dengan batu bata merah tanpa finishing. Berbagai jenis bonsai terlihat subur dan tertata rapi. Aku melangkah melewati ruang tamu, menuju tempat yang berada di sebelah kanan. Sebuah ruangan setengah terbuka sehingga udara bisa leluasa keluar masuk. Rasanya seperti masuk sebuah bar. Aku belum pernah masuk ke dalam bar, hanya sekedar melihat dalam adegan film saja.

Ruangan berukuran sekitar 4×6 meter, di sudut ruangan terdapat sebuah meja bar agar panjang dan di belakang terdapat rak-rak yang berisikan berbagai jenis minuman keras. Mulai bir, anggur, whisky atau jenis-jenis lain aku tidak tahu namanya. Ia segera duduk kursi menghadap meja bar. Posisinya seperti seorang bartender siap melayani pesanan. Aku duduk di depannya terpisahkan meja bar.

“Mau pesan apa??” tanyanya sambil tersenyum

“Aku tidak pernah minum-minum seperti ini,” kataku dengan gugup.

Aku tidak pernah membayangkan sahabatku terkenal dengan kepribadian santun mempunyai ruang khusus untuk menikmati minuman keras. Apalagi aku sering melihatnya di TV dan media sosial, ia sering jalan bareng dengan kiai atau ulama.

Menghadiri diskusi-diskusi tentang agama. Melihatnya berbicara, aku yakin semua orang akan mempunyai presepsi sama denganku, ia ahli dalam bidang agama. “Kamu terkejut??” Aku hanya mengangguk.

“Semua orang membutuhkan tempat untuk lari, orang-orang partai ada masalah datang ke tempatku, perusahaan banyak masalah memintaku memotivasi pekerjanya. Orang-orang TV itu selalu datang kepada jika ada masalah di seluruh negeri ini, paling tidak meminta pendapatku,” ia menarik nafas panjang, lalu dengan tertawa menunjuk ke arahku “Termasuk kamu juga. Lalu saat aku ada masalah, aku lari kemana??”

Aku hanya terdiam tidak mempunyai keterampilan untuk memberikan jawaban. Ia lebih tahu daripada aku. Ia motivator ulung sering muncul di TV. Sedangkan aku hanya pegawai kecil di sebuah bank BUMN. Ia berdiri mengambil dua buah gelas. Gelas itu diletakkan di depanku, lalu ia mengambil sebotol bir, dari tulisan tertera di botol itu aku tahu, bir itu berasal dari Jerman. Lalu ia menuangkan bir itu ke gelas dan menyodorkan ke depanku.

“Tidak, aku tidak pernah minum,” aku berusaha menolak.

Dia tersenyum sambil menuangkan bir ke gelas di depannya. Ruap bir terlihat menggoda selera. Tetapi aku harus bertahan, tidak akan menyentuh minuman keras. Ia meraih gelas di depannya, bibir gelas bir itu menyapa mulutnya.

“Aku membuat bar mini di rumah ini, untuk menghilangkan rasa suntuk. Aku terkadang lelah juga. Tidak mungkin aku yang dikenal dengan pribadi santun dekat dengan ulama dan kiai, masuk ke bar. Apa kata dunia?”

Aku terdiam, lagi-lagi aku tidak mempunyai kemampuan memberikan jawaban atau sekedar menyahut kata-katanya. “Jika kamu tidak suka bir, ada anggur, whiskey atau vodka,” katanya dengan senyum lembut.

“Bir ini yang menginspirasiku saat harus tampil dan berbicara di depan siapa saja,” katanya lagi. “Cobalah ini salah satu bir terbaik di dunia, made in Germany.”

Aku hanya mematung tanpa kuasa berbicara. Ia kembali menuang bir, yang katanya terbaik di dunia, dengan agak tergesa dia kembali meneguknya. Aku melihat temanku itu dalam wujud yang tidak pernah terbayangkan, ia ramah dan santun di depan media massa berubah menjadi sosok lain dengan gelas bir di tangannya.

Melihatnya seperti itu, aku merasa iba. Ia lebih butuh perhatian daripada aku, lebih membutuhkan bantuan daripada aku. Ia yang ingin tampil hebat di media massa dengan memikul berat kepalsuan. Malam mulai larut, entah setan mana yang berbisik dalam diriku. Aku tergoda untuk menikmat bir terbaik di dunia. Dengan gemetar tanganku meriah gelas bir depan. Gleekkkkkk…. bir itu melewati kerongkonganku. Aku tidak merasakan apa-apa, hanya kepanikan yang melecut pikiranku. Untuk menghilangkan kepanikan itu aku tergoda menambah lagi. Hingga aku tidak lagi bisa mengingat apa-apa lagi.

Aku tersadar ketika sinar matahari terasa panas menerobos ke mini bar, menghangatkan botol [1] botol bir. Aku baru sadar, tidur tergeletak di lantai. Dengan wajah kuyu dan hati bingung, aku bangun. Mengusap wajah dengan tangan, rasa kantuk masih terasa menyergap. Tetapi matahari sudah terasa panas.

Aku harus bangun. Aku belum salat Subuh? Hatiku bergetar. Masih agak sempoyongan aku mencoba berjalan. Samar-samar aku mendengar orang berbicara, aku mencoba mendengarkannya baik-baik. Bukankah itu suara temanku, rasanya ia sedang mengisi sebuah seminar atau diskusi, atau mungkin bukan keduanya, yang pasti dia sedang menjadi narasumber dialog di pagi tersebut.

“Sebagai seorang pribadi muslim, kita harus mempunyai kekuatan jiwa yang hebat, yang harus kita pupuk agar menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi segala cobaan,” suaranya terdengar santun dan berwibawa.

“Jangan sampai kita menjadi pribadi lemah, ada masalah sedikit lari ke minuman keras, ke narkoba, tetapi larikan dirimu dan hatiku ke Allah, pemilik segala alam semesta.”

“Pemirsa Dialog Interaktif, sebuah nasihat luar biasanya dari nara sumber kita,” terdengar suara pembawa acara TV swasta, “Nasihat yang sesuai dengan tema Dialog Interaktif kita Maulid Nabi Mendorong Kita Menjadi Muslim yang kuat.”

Seperti biasannya aku tidak mampu untuk berkata-kata, aku hanya bisa mematung memandang botol-botol bir yang kosong di atas meja mini bar. Bir masih mempengaruhi otakku. ***

.

.

Mendalan, 19 Oktober 2021

Agus Ainur Roziqin. Penulis adalah pencinta sastra, tinggal di Bumi Mendalan Merakurak, Tuban.

.

Cerita dari Segelas Bir. Cerita dari Segelas Bir. Cerita dari Segelas Bir. Cerita dari Segelas Bir.

Arsip Cerpen di Indonesia