Cerpen Nurajizah Tarigan (Waspada, 28 November 2021)
AIZA adalah wanita yang sangat aku cintai. Lima tahun yang lalu aku mempersunting dirinya menjadi istri, kami bertemu karena bekerja dalam perusahaan yang sama. Seiring berjalannya waktu aku sering memperhatikan gerak-geriknya. Dari jauh aku tersenyum melihat yang dilakukannya.
Setahun mengenal Aiza, aku memantapkan diri untuk menikahinya. Ada rasa beruntung mempunyai istri seperti dirinya. Tutur katanya lembut, bahkan sulit mengingat kapan dia berkata kasar. Senyumnya sudah menjadi pengobat lelah bagiku. Aku sangat kenal amarah terbesar istriku, diam lalu menghindar meninggalkanku.
Malam ini langit sepertinya bermurung, tidak ada sinar bulan dan bintang yang mengunjunginya. Sama seperti wajah Aiza yang kian hari semakin layu menahan luka. Aku duduk di teras rumah sambil menikmati kopi, sedangkan Aiza langsung pergi meninggalkan diriku.
Biasanya kami akan berbincang dengan candaan hingga mengundang tawa bersama. Aku sangat suka saat Aiza bersandar di pundakku sambil menikmati hembusan angin malam.
“Pak Adam, sendiri saja?” Tegur Pak Adin yang bekerja sebagai satpam perumahan.
“Iya, Pak,” sambil mengangguk.
Aku tidak ingin melihat wajah sedih Aiza. Ibu sering memojokkannya, karena kami tak kunjung memiliki momongan. Aku kasihan dengan Aiza yang terus disalahkan. Ibu memberi pilihan berat, aku harus menikahi Fahira atau menceraikan Aiza. Ibu sudah lama mengidap penyakit jantung, rasanya tidak berani untuk membantah dirinya. Dengan rasa terpakasa aku menuruti permintaan ibu.
Semua keluarga sudah berkumpul untuk menyaksikan pernikahanku dengan Fahira. Kami menikah atas perjodohan kedua keluarga. Aku melihat Aiza, wajahnya sangat menggambarkan kedukaan. Ingin memeluknya, menyelam bersama dalam kesedihannya. Sedangkan aku sudah duduk di samping Fahira, tinggal menunggu beberapa menit lagi dia akan sah menjadi istriku.
Tanganku mulai digenggam, tandanya aku harus bersiap. Walau ini menjadi kedua kalinya, rasa gugup ikut menyertai saat mengucapkan ikrar suci ini. Sebuah kalimat yang mengalihkan sebuah tanggung jawab yang besar. Dengan kehati-hatian aku mulai perlahan mengucapkan kalimat ijab kabul.
“Sah,” serempak semuanya berteriak.
Aku melirik Fahira, dia membalas tersenyum. Aku tidak suka dengan senyumannya ada rasa kesal yang berkecamuk. Bila saja dia menolak, kami tidak akan berada dalam peristiwa ini.
Setelah akad nikah, kami digiring menuju acara resepsi pernikahan. Rasanya masih enggan duduk dekat Fahira, dia adalah penyebab yang membuat wajah cantik Aizaku menjadi muram. Aku mengabaikan Fahira yang duduk di samping dan membuat jarak di antara kami. Rasanya tidak sudi membalas senyuman Fahira, dia adalah kesalahan bagiku.
Aku terus mengetik pesan untuk merayu Aiza. Dari kemarin dia tidak tersenyum untukku dan terus terdiam. Aku memberikan pesan bahwa tidak ada yang mampu menggantikan posisinya di hatiku. Aku terus memandangnya yang sedari tadi duduk di meja undangan, hingga meposisikan tatapan kami menjadi menyatu. Seketika hati ini tenang saat melihat aura wajahnya, Aiza memberikan senyuman.
Hari ini keluarga kami memasuki suasana yang baru. Aiza menasihatiku agar berlaku adil dan menerima Fahira sebagai istri, karena setelah ijab kabul dia jatuh dalam tanggung jawabku. Subuh ini aku hanya berdua dengan Fahira. Aiza menolak salat bersama, karena ingin memberikan waktu untuk kami berdua.
Sudah lama aku mengenal Fahira. Sering juga kami bertemu dan berbincang, sebelumnya kami sudah dekat karena ayahnya adalah paman kandungku. Fahira adalah sepupu yang sudah lama dijodohkan denganku.
Ibuku sangat ingin menjadikan Fahira menjadi istriku. Fahira memang dari dulu sudah menyimpan rasa, tetapi aku hanya mampu menggangapnya sebagai adik. Tetapi saat ini dia sudah menjadi istriku dan akan berusaha menyamaratakan dirinya dengan Aiza.
Lambat laun Aiza mulai menerima kehadiran Fahira, namun ada jarak di antara mereka. Sikap Fahira jauh berbeda denga Aiza, mungkin itu yang membuat mereka sulit untuk saling memahami dan akrab.
Kedua istriku adalah wanita yang memiliki kepribadian yang berbeda. Aiza adalah wanita yang pendiam dan lebih suka menyibukkan diri di rumah. Aiza lebih memilih melakukan pekerjaan rumah dan menjaga hafalan Al-qurannya. Sedangkan Fahira dia adalah wanita karier yang suka bekerja di luar rumah, maka pasti sulit baginya untuk ikutan dalam pekerjaan rumah.
Sebaik apapun hubungan keluarga, tetap saja akan ada perdebatan dan rasa iri yang sering timbul. Aku sudah berusaha berlaku adil, namun tetap saja salah. Terkadang aku hampir menyerah dengan percekcokan yang sering muncul dari hal yang sepele.
Aku sering berdebat dengan Fahira agar ikut membantu Aiza, tetapi dia terus membanggakan dirinya yang memiliki penghasilan sendiri. Beda dengan Aiza dia lebih memilih diam dan tidak masalah baginya untuk melakukan semua perkerjaan rumah.
Sore itu kami duduk bersantai sambil menikmati suasana taman belakang, gemercik air menemani percakapan kami. Aiza dan Fahira sangat bahagia menceritakan anak kecil yang tadi mereka temui. Sedangkan aku terus menjadi pendengar yang hanya bisa diam.
Aku jatuh dalam kebingungan, karena tidak tahu harus merasakan bahagia atau sedih atas cerita yang mereka bagikan. Terbesit rasa bersalah dalam hatiku, mungkin mereka bisa menjadi seorang ibu bila tidak menikah denganku.
Kedua istriku sudah lama ingin memiliki anak, namun harapan itu tidak kunjung datang. Mereka sering mengajak untuk memeriksa kesehatan, tetapi aku terus menolak. Beda dengan Fahira, dia terus berantusias mencari cara untuk mendapatkan izin agar bisa memeriksa kesehatannya.
Dia semakin penasaran dan berharap pihak rumah sakit bisa membantu. Aku semakin terpojok dalam kesalahan, rasa takut mulai menghantui diriku. Aiza dan Fahira tetap yakin akan memiliki anak dan itu menyesakkan hatiku.
Aku mempunyai teman dekat yang bekerja sebagai dokter. Sebelum menikahi Fahira, aku sudah memberanikan diri untuk memeriksa kesehatanku. Hasil tes mengatakan kalau aku tidak baik dan sulit untuk mempunyai seorang anak. Itulah mengapa aku hanya diam ketika ibu mulai memojokkan Aiza.
Aku tidak bisa membelanya dan tidak berani memberitahukan kebenarannya. Dengan rasa terpaksa, aku menerima tawaran ibu untuk menikahi Fahira. Aku sengaja merahasiakannya karena takut bila Aiza tahu tentang diriku dia akan meninggalkanku. Rasa cintaku untuk Aiza membuatku takut kehilangannya dan terus sembunyi dalam kebohongan.
Fahira sudah mendapatkan hasil bahwa dirinya baik-baik saja. Fahira semakin yakin untuk membujukku memeriksakan diri. Aku semakin kalut harus bagaimana mengelak dari bujukan Fahira. Fahira terus penasaran atas kesehatanku, keeseokannya dia pergi menemui dokter yang biasa kami temui.
Fahira sangat terkejut mendengar kabar yang didapatkannya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengunjungi kantorku untuk meluapkan kekecewaannya. Aku terus meminta maaf kepadanya dan memohon agar tidak menceritakan semuanya kepada Aiza. Fahira menolak, tidak baik terus sembunyi dan diam dalam kebohongan. Fahira mendesak untuk segera pulang dan menyampaikan semuanya kepada Aiza.
“Assalamu ‘alaikum,” ucap Fahira mengetuk pintu rumah.
“Wa ‘alaikumussalam,” jawab Aiza sambil membuka pintu.
Kedatangan Fahira mengundang kebingungan, dia menangis tanpa menjawab tanya Aiza. Aiza berusaha menenangkan Fahira dan memberikannya segelas air minum. Aku memilih pergi meninggalkan mereka agar Fahira lebih tenang menceritakan kabar yang dia dapatkan. Saat ini, aku merasa bersalah dan hanya bisa beserah atas reaksi Aiza.
Malam tiba, aku perlahan melangkah menuju kamar Aiza. Langkahku terhenti di pintu kamar karena mendengar isak tangisnya. Jantungku berdetak tidak karuan dengan rasa bimbang. Aku masuk dan duduk di sebelah Aiza sambil meraih tangannya. Setiap aku menatap wajah Aiza, dia terus memalingkan wajahnya. Aku memegang pundak Aiza dan memposisikan tatapannya agar melihatku. Aku terus membujuk Aiza dan memohon agar memaafkan diriku.
Fahira mengambil tindakan lain, dia pergi kembali ke rumah orangtuanya. Fahira meminta agar aku menceraikannya. Keluarga Fahira sangat benci dengan diriku dan memaksa mentalak Fahira. Langkahku sangat berat untuk berpisah dengan Fahira, namun aku harus menerima keinginannya.
Dengan sebaik-baiknya aku mengembalikan Fahira kepada orangtuanya. Aku meminta maaf kepada semua keluarga Fahira dan memohon agar tidak memutuskan kekerabatan.
Aku kembali meyakinkan Aiza, namun dia belum bisa bersahabat dengan rasa kecewanya. Dia meminta beberapa hari agar tidak mengganggunya. Sudah lima hari aku dalam kesendirian, Aiza belum membaik dari amarahnya.
“Aku datang bukan untuk menghilang, namun kita tidak bisa menghindari pertikaian. Sebuah pertemuan akan memberikan dua pilihan, apakah kita akan bertahan atau berujung dalam perpisahan. Aku ingin menghabiskan semua waktu hanya bersamamu, namun muncul persinggahan yang baru dalam hubungan kita. Aku berharap kamu terus bertahan dan terus menghadiahkan senyumanmu hanya untukku Aiza. Aku tidak akan bertanya bila kamu menyerah dan tidak menahan bila kamu ingin pergi,” ucapku yang duduk di samping Aiza.
Seketika Aiza menangis, dia mulai berbicara, ada sesak yang dirasakannya. Sepontan aku memeluknya, sebuah bahagia yang luar biasa. Aiza sudah mau berbicara dan mendengarkanku. Aiza tetap memilih bertahan dan mulai menerima diriku. Ada rasa yang lega, akhirnya Aiza kembali menerimaku dan kembali bersandar di pundakku. ***
.
.
RumahDiksi, September 2021
.
Aizaku. Aizaku. Aizaku. Aizaku. Aizaku. Aizaku.