Cerpen E Widiantoro (Pontianak Post, 28 November 2021)
SETELAH Magrib, bapak yang baru pulang dari masjid di Jalan Ampera Kota Pontianak memanggilku di ruang tamu. Ingin bicara penting, katanya. Empat mata. Tumben, pikirku. Kenapa tiba-tiba bapak mengajakku bicara secara pribadi? Bapak mau bicara soal apa? Ah, entahlah. Yang penting hadapi saja. Terserah bapak nanti mau bicara apa tinggal kujawab seadanya.
Aku dan bapak telah duduk saling berhadapan di ruang tamu. Bapak masih mengenakan peci hitam, kemeja koko biru muda penuh corak bordir di dada, bersarung biru bergaris-garis hitam. Di depan bapak, aku tak berani menatap wajahnya secara langsung. Menanti bapak bicara, aku hanya menatap vas kembang mawar merah dari plastik di atas meja.
“Farah, siapa teman lelakimu yang biasa datang ke sini?” tanya bapak membuka perbincangan. “Siii..! Ah, bapak lupa namanya.”
“Sidik, Pak.” jawabku. “Mas Sidik.”
“Ya, Sidik. Kalian pacaran?”
“Eeemmmm…!” aku gugup. Tak berani berterusterang bahwa selama ini kami memang dekat dan menjalin hubungan cinta.
“Farah?” desak bapak. Aku menatap bapak, menggelengkan kepala lalu menunduk lagi. Suasana hening sejurus. Bapak menatapku tanpa senyum. “Jangan bohongi bapak, Farah. Bapak tahu di antara kalian telah saling jatuh cinta. Kalian berpacaran.”
“Bapak marah Farah pacaran dengan Mas Sidik?” tanyaku hati-hati, takut jika bapak benar-benar marah mengetahui kenyataan yang sebenarnya antara aku dan Mas Sidik. Bapak diam menarik napas sejenak.
“Pekan depan, tepat tujuh hari setelah malam ini, sebelum Magrib, suruh Sidik ke sini. Bapak mau bertemu dengan dia. Sekarang Farah telepon dia. Bapak mau dengar jawabannya secara langsung,” kata bapak lugas tak menjawab pertanyaanku.
Aku sontak berdebar-debar. Aku tahu gimana Mas Sidik. Orangnya tak mudah disuruh. Tak mudah dibujuk. Di sisi lain aku juga tahu bapak. Sebagai mantan prajurit yang berdinas selama dua puluh tujuh tahun, permintaannya berarti perintah yang harus dilaksanakan.
“Farah?” suara bapak menyentakku dari lamunan.
“Ya, Pak,” sahutku.
“Farah dengar kata bapak tadi?”
Aku diam mengangguk.
“Farah..?!” suara bapak meninggi.
“Ya, Farah dengar, Pak.” kataku gugup memikirkan Mas Sidik. Di mana ia sekarang, apakah ia bisa kuhubungi atau tidak.
“Laksanakan!” perintah bapak.
“Farah izin mau ambil handphone di kamar ya, Pak.” kataku bergegas ke kamar lantas balik lagi ke kursi semula duduk di depan bapak. Aku mulai menghubungi Mas Sidik. Speaker is on. Bapak serius mendengarkan.
“Hallo, assalamualaikum, Farah.” sambut Mas Sidik.
“Waalaikum salam, Mas. Pekan depan bapak mau ketemu dan bicara sama Mas Sidik. Sebelum Magrib Mas Sidik dah di rumah. Mas sidik bisa kan?”
“Hhahh? Bapak mau bicara sama aku? Sebelum Magrib…?”
“Iya, Mas.”
“Ada apa ya?”
“Farah juga ndak tahu, Mas. Bisa ya, Mas?”
“Aku pikir dulu deh. Udah ya Farah nanti lagi. Aku sekarang di jalan mau balik ke kos.”
“Hati-hati di jalan, Mas. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,” jawab Mas Sidik. Kututup telepon, menatap bapak sebentar.
“Lelaki macam apa itu ndak bisa cepat ambil keputusan,” cibir bapak dengan telunjuk yang bergerak cepat di depan wajahnya. “Seharusnya jadi lelaki harus bisa ambil keputusan tak tak tak! Gitu, lho!”
“Ya, Pak.” kataku. “Jadi selanjutnya gimana, Pak?”
“Selanjutnya ndak ada gimana-gimana, Farah. Bapak tahunya pekan depan, pas tujuh hari sejak malam ini sebelum Magrib Sidik harus sudah bertemu bapak, bicara dengan bapak. Jelas?” kata bapak menatapku lekat-lekat.
“Jelas. Pak.” jawabku.
“Bagus!” bapak tersenyum. “Farah sudah sampe di mana ngajinya?”
“Pertengahan Surat Hud. Juz sebelas.”
“Bagus. Lanjutkan!”
“Siap!” kataku memberi hormat.
Bapak tersenyum lagi, berdiri menurunkan tangan kananku, mengelus rambutku yang ditutupi jilbab, mencium keningku sesaat. Sebelum berlalu dari hadapan bapak, handphone-ku berdering. Ada panggilan masuk dari Mas Sidik. Speaker is on.
“Ya, Mas,” sambutku.
“Farah. Insya Allah aku bisa ke rumahmu pekan depan. Salam untuk bapak ya. Dah, gitu aja dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,” jawabku lalu menutup handphone.
“Bagus, syukurlah jika dia mau datang. Bapak tunggu,” kata bapak mendengar percakapanku dengan Mas Sidik. Aku mengangguk pelan segera melangkah ke kamar.
Sepekan kemudian, sore-sore, Mas Sidik benar-benar datang ke rumah, langsung disambut bapak dengan senyum sumringah. Mereka ngopi bareng di beranda. Makan martabak telur yang sengaja dibawa Mas Sidik untuk bapak, makan bingke berendam juga. Ini kue kesukaan bapak.
Waktu Magrib terdengar kumandang azan, bapak tenang saja di beranda, tak ke masjid seperti biasa. Hanya Mas Sidik yang pamit hendak ke masjid. Setelah Mas Sidik pergi, diam-diam, barulah bapak mengikutinya dari belakang.
Usai salat, bapak pulang ke rumah lebih dahulu. Mas Sidik masih di masjid sampai selesai wirid dan doa bersama. Mereka ngobrol lagi di beranda. Tak lama, Mas Sidik pamit hendak pulang ke kos di Jalan Sepakat Dua.
Bapak mencegah Mas Sidik buru-buru pulang, masih mau mengajak Mas Sidik makan malam sambil ngobrol. Akulah yang menghidangkan makanan di meja. Ketika kami bertiga bersiap menyendok nasi ke dalam piring, terdengar azan Isya. Mas Sidik pamit bergegas ke masjid.
Pulang dari masjid, bapak yang menemani Mas Sidik makan malam karena telah makan duluan bersamaku.
“Malam ini kamu nginep di sini, Dik. Ndak usah pulang ke kos. Gimana?” kata Bapak ketika Mas Sidik selesai makan. Mas Sidik menolehku sejenak sebelum memberi jawaban.
“Mohon maaf, Pak. Apa ndak sebaiknya saya pulang saja. Ndak enak sama orang-orang di sini e, Pak. Maklum, saya kan cuma temannya Farah. Saya bukan siapa-siapa,” ujar Mas Sidik hati-hati.
Bapak mengangguk senyum.
“Kamu tenang saja, Dik. Malam ini Farah nginep ke rumah Pak Lik-nya di seberang. Di Tanjung Raya. Jadi kamu ndak masalah nginep di sini.”
“Tetapi, Pak.” Mas Sidik menatapku lagi. Kukirim isyarat wajah agar ia tak membantah kata-kata bapak.
“Gimana, Dik. Kamu terima tawaran bapak?” tanya bapak menatap Mas Sidik.
“Iya, Pak.” jawabnya mengangguk pelan.
“Iya..??!” suara bapak meninggi.
“Siap, Pak!”
“Bagus!” kata bapak lalu menatapku.
“Siapkan kamar untuk Sidik.”
“Siap, Pak.” kataku tegas.
Setelah kamar kurapikan, bapak sendiri yang mengantar Mas Sidik masuk ke kamar lalu menyuruhku pergi bermalam selama seminggu di rumah Paklik Harjo di kawasan Tanjung Raya.
***
Setelah Magrib bapak yang baru pulang dari masjid di Jalan Ampera Kota Pontianak memanggilku di ruang tamu. Ingin bicara penting, katanya. Empat mata. Kenapa bapak mengajakku bicara secara pribadi? Bapak mau bicara soal apa? Ah, entahlah. Yang penting hadapi saja. Terserah bapak nanti mau bicara apa tinggal kujawab seadanya.
Kemarin aku dan bapak telah duduk saling berhadapan di ruang tamu. Bapak masih mengenakan peci hitam, kemeja putih lengan pendek, bersarung biru bergaris-garis hitam. Di depan bapak, aku tak berani menatap wajahnya secara langsung. Aku hanya bisa menatap vas kembang mawar merah dari plastik di atas meja.
“Farah,” suara bapak memulai perbincangan.
“Ya, Pak,” sahutku.
“Berapa umurmu sekarang, Nak?”
“Dua puluh satu, Pak.”
“Usia yang mapan untuk menikah,” kata bapak.
Aku tersentak. Dadaku berdebar tak menentu.
“Maksud bapak apa ya?”
“Maksud bapak ya, bapak ndak sabar mau gendong putu, Nak. Bapak sudah punya jodoh yang tepat untukmu. Insya Allah bapak ndak salah memilih.”
“Jodoh Farah, Pak?”
“Ya,”
“Siapa?” tanyaku penasaran. Di benakku melintas wajah Mas Sidik. Bapak mengambil handphone dan menelepon seseorang.
“Silakan masuk,” kata bapak langsung menutup handphone. Tak lama, pintu diketuk seseorang sambil berucap salam.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,” jawab bapak menoleh ke pintu.
Mas Sidik datang bersama lelaki yang tak kukenal. Aku menyungging senyum girang.
“Duduk sini, Dik,” kata bapak menepuk kursi di sisi kanan.
“Terima kasih, Pak,” kata Mas Sidik bersalaman dengan bapak, langsung duduk di situ, di kursi yang barusan ditepuk bapak. Lelaki temannya menyalami bapak pula, duduk di sisi Mas Sidik.
“Farah, di sebelah Sidik ini namanya Kamil, teman sekantor Sidik,” kata bapak menghentikan kata-katanya sejenak menatap lelaki itu tersenyum kepadaku. “Kemarin Kamil datang ke sini menyusul Sidik karena urusan pekerjaan, nginep juga sekamar bareng Sidik. Bapak lalu yakin dia bisa menjadi suamimu, imam yang baik dalam rumah tanggamu di dunia dan akhirat. Dia jodohmu, Nak.”
Aku yang semula senang Mas Sidik datang sontak terkejut! Kugelengkan kepala langsung menolak keinginan bapak. Sungguh! Aku tak bisa hidup dengan perjodohan begini. Sampai hati bapak memisahkan aku dengan Mas Sidik padahal bapak tahu Mas Sidik adalah lelaki yang sangat kucintai. Bapak tahu aku menyayangi Mas Sidik, bukan lelaki lain. Kenapa bapak setega ini. Bapak kejam! Aku tak kuat menerima perjodohan ini. Ya Allah, Gusti! Tak terasa air mataku merembes di pipi.
Aku berdiri hendak meninggalkan mereka begitu saja. Aku tak mau dijodohkan dengan lelaki tak kukenal! Aku benar-benar kecewa dengan bapak!
“Farah,” panggil Mas Sidik.
“Ya, Mas,” sahutku pelan.
“Duduklah.”
Aku diam, memilih tetap berdiri. Ingin keluar rumah secepatnya, kabur meninggalkan mereka.
“Farah,” suara bapak.
“Ya, Pak.”
“Duduklah, Nak,” pinta bapak.
Aku bergeming, masih berdiri menyimpan kemarahan dalam hati.
“Jika ibumu masih hidup, ia pun pasti ndak mau melihat anak gadisnya ndak menggubris permintaan bapak kayak gini.”
Aku semakin resah. Ingin secepatnya berlari keluar rumah. Aku tak tahan. Perasaanku tak nyaman. Ruang tamu ini tiba-tiba jadi tempat yang tak menyenangkan. Aku pun teringat ibu, semakin menjadi-jadi resahku. Kecewa, sedih dan rindu dengan ibu yang wafat semasa aku kelas dua SMA berbaur mengguncang hatiku.
“Kalo Farah mau keluar rumah silakan, Nak. Tinggalkanlah bapak. Ndak apa-apa kalo itu memang keinginanmu, jadi pilihanmu. Bapak hanya ingin yang terbaik dalam hidupmu. Bapak harus tuntas melaksanakan amanah dari Allah karena dianugerahi satu-satunya anak perempuan, sesuatu yang harus bapak pertanggungjawabkan di akhirat kelak,” suara bapak yang telah tujuh tahun purna bakti dari dinas keprajuritan menggetarkan hati. Tubuhku serasa lunglai, duduk lagi di tempat semula.
Suasana lantas hening. Kami berempat saling diam. Hanya Mas Sidik yang kemudian berujar; “Mas Kamil adalah jodohmu, Farah.”
Kuusap air mata di wajah, memberanikan diri menatap Mas Sidik, Kamil dan bapak secara bergantian. Mas Sidik menyungging senyum.
“Farah, hanya lelaki yang lulus ujian dari bapak yang bisa menjadi suamimu, harus nginep di sini dulu selama seminggu. Bapak punya kriteria tersendiri untuk menentukan siapa calon menantunya. Lelaki yang selalu berjamaah menunaikan salat lima waktu di masjid, qiyamul lail, membaca Al Quran, puasa Senin-Kamis, menjaga wudhu, salat Duha dan gemar bersedekah,” katanya.
Aku diam memalingkan wajah ke pintu rumah, tak mau tahu ujian seperti apa yang diberikan bapak untuk calon menantunya. Aku gerah. Di benakku menggumpal satu hal; ingin secepatnya keluar rumah. Minggat! Kubiarkan Mas Sidik terus ngomong, aku menunggu momen yang tepat untuk kabur.
“Aku ndak lulus ujian dari bapak, Farah. Aku memang biasa berjemaah di masjid setiap waktu salat, tetapi jarang ngerjain amalan yang lain. Mas Kamil biasa ngerjain semuanya jadi amalan sehari-hari dan itu ndak lepas dari pengamatan bapak selama Mas Kamil nginep di sini. Mas Kamil diam-diam juga diuji sama bapak. Lulus! Kemarin sore Mas Kamil diminta bapak jadi menantunya tanpa proses pacaran. Mas Kamil yang memang telah jatuh hati kepadamu sejak kita selalu bersama bilang sanggup. Biarlah nanti pacaran setelah menikah. Farah, maaf. Mulai saat ini aku harus gentle pamit mundur dari kehidupan pribadimu. Di antara kita ndak ada hubungan apa-apa lagi. Sekarang aku datang mendampingi Mas Kamil hendak meminangmu sebagai istrinya.”
Allahu akbar! Tangisku pecah seketika disergap rasa malu tanpa bisa berkata apa-apa. Aku pasrah harus berpisah dengan Mas Sidik, lelaki yang kucintai selama tujuh bulan terakhir. Aku ikhlas menerima lelaki lain sebagai calon suami pilihan bapak yang baru pertama kali dipertemukan dalam perbincangan setelah Magrib. ***
.
Perbincangan setelah Magrib. Perbincangan setelah Magrib. Perbincangan setelah Magrib. Perbincangan setelah Magrib. Perbincangan setelah Magrib.