Kabar dari Corong Masjid

Cerpen Sutriyadi (Pontianak Post, 19 Desember 2021)

PANJUL termasuk orang yang paling beruntung, sebab Karmila adalah anak tunggal dari seorang saudagar kaya yang memiliki banyak bidang tanah. Artinya, ia akan kecipratan harta warisan milik mertuanya. Tidak heran jika warga kampung di Desa Pangkalan menyebut Panjul sebagai sultan.

Tentu sebagai kepala keluarga, satu di antara tugas wajib seorang suami adalah mengatur semua aktivitas dalam rumah tangga. Termasuk urusan keuangan. Saking irit, Panjul tidak pernah memikirkan apakah pakaian yang ia kenakan layak digunakan oleh seorang keluarga yang kebanjiran harta warisan.

Sebagian orang menilai, Panjul adalah seorang yang sangat sederhana. Sebagian yang lain menyebut, sepasang suami istri itu amat pelit bahkan terhadap dirinya sendiri. Dua statemen itu tergantung bagaimana kita memosisikan diri. Orang yang pro akan menilai: sederhana. Sementara mereka yang tidak menyukainya, kerap bahasa “pelit” dijadikan justifikasi terhadap Panjul.

Terlepas dari itu, andai Panjul hendak membeli sepeda motor baru secara kontan, rasanya mudah baginya. Atau jika ingin membawa Karmila ke salon untuk memoles wajah tirusnya agar terlihat muda dan cerah kembali, pun tak seberapa bagi mereka. Lagi-lagi uang hasil panenannya, mereka tumpuk entah di mana.

Pekerjaan menggarap kebun sawit hingga kebun karet seluas beberapa bidang, ia kerjakan berdua dengan Karmila. Tidak diupahkan kepada orang lain atau mengambil pekerja satu dua orang. Itu sebabnya, ia tidak memiliki waktu untuk sekadar nongkrong pada pagi atau sore hari dengan tetangganya. Bahkan pintu rumahnya tidak pernah terbuka. Kini, orang-orang satu kampung menyebut Panjul dan Karmila sebagai petani tanpa jam istirahat.

Tetangga sekitar hanya dapat melihat Panjul di hari jumat, ketika Panjul berjalan menuju masjid, terburu-buru sambil memasang kancing dan merapikan baju serta sesekali mengurut sela-sela jemari seraya membersihkan kotoran di ujung kuku. Setelah itu, Panjul bak ditelan alam. Hanya pohon sawit dan karetlah yang betul-betul mengenal bau Panjul dan Karmila.

Bahkan Dasman pernah bercerita, bahwa ketika Balijo mertua laki-laki Panjul meninggal, di rumah besar bergaya klasik itu tidak ada seorang pun yang menemani Balijo menjemput ajal. Anak dan menantunya ada di dalam kebun sawit. Sepasang suami istri itu mendengar kabar duka dari corong masjid dan musala yang mengabarkan atas kematian Balijo.

Dasman yang dulu menjadi orang kepercayaan Balijo tidak dapat berbuat banyak meski rumahnya berdampingan. Semenjak Balijo jatuh sakit, tenaganya tidak dibutuhkan lagi. Ia dipecat. Tuduhan selingkuh tak berdasar menjadi alasan Panjul memutus hubungan dengan Dasman.

Panjul menilai, tingkah Dasman kepada Karmila kian membahayakan. Oleh sebab itu, sebagai seorang suami ia harus mengambil tindakan tegas dan tidak main-main. Dasman harus angkat kaki. Sementara, Karmila memilih diam dengan keputusan suaminya. Walau pun tuduhan itu tidak benar.

***

Suatu pagi yang amat mendung, hujan telah menunggu di atas atap setiap rumah. Bersiap menyerbu membasahi perkampungan Desa Pangkalan. Panjul nekat menemui ayah Karmila. Ia datang dengan segumpal keberanian dalam dadanya dan mengatakan kepada Balijo bahwa ia berniat menikahi Karmila jika mendapat restu darinya.

Menyimak niat baik Panjul, Balijo kemudian teringat dengan permintaan Laksmi, istrinya yang telah meninggal dua tahun silam karena covid-19. Bahwa sang istri meminta Karmila menerima pinangan lelaki itu dan segera menikah. Namun Balijo menolak karena pria yang hendak meminang Karmila adalah Dasman. Seorang pengurus kebun miliknya.

Oleh sebab itu, ia masih trauma kemudian memberi semua keputusan sakral itu kepada Karmila. Gayung bersambut. Akhirnya Panjul menikahi Karmila. Acara pernikahan dibuat semegah mungkin. Tak ada yang dapat mengalahkan kemegahan pernikahan anak saudagar itu hingga saat ini. Konon biayanya ditaksir ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Entah uang dari mana Balijo mendapatkannya. Yang pasti, bagi Balijo pernikahan sekali seumur hidup bagi anaknya, tidak boleh kecil-kecilan. Harus dirayakan dan dibuat spektakuler.

Acara pernikahan itu kian menjadi buah bibir. Bahkan disebut-sebut sebagai acara pernikahan paling besar se-Desa Pangkalan. Tenda untuk tamu seluas lapangan sepak bola. Dilengkapi dengan sound system di setiap sudut. Hingga membuat lobang telinga bergetar.

Butuh satu bulan penuh untuk mengakomodasi acara pernikahan Panjul dan Karmila. Mulai dari panggung orkes, baju pengantin yang katanya di pesan dari pulau Jawa serta—per lembar undangan seharga bubur pedas.

Selain itu, karnaval turut menjadi rangkaian acara yang dibiayai dari dompet Balijo. Setidaknya ada 5 ribu lebih undangan tersebar. Baik dalam maupun luar kota. Bahkan sampai ke ibu kota negara. Mulai dari kerabat hingga rekan bisnis. Dan resepsi pernikahan berjalan dengan lancar tanpa ada rintangan sebesar kutu pun.

Satu bulan kemudian setelah acara resepsi pernikahan usai. Balijo jatuh sakit. Keluhannya silih berganti. Mulai dari sakit kepala, sesak napas, hingga yang terakhir, stroke. Ia tidak dapat memungsikan kaki dan tangan kirinya. Orang-orang menyebutnya mati sebelah. Ia kesulitan untuk berbicara. Seolah segala kisah yang ada dalam tempurung kepalanya, tidak sanggup ia bahasakan.

Balijo hanya bisa tergeletak dalam kamar sambil mengenang masa muda yang gagah dan berani. Sementara Panjul dan Karmila bekerja sebagai petani di kebun milik Balijo. Panjul bukanlah orang yang piawai. Oleh karenanya, ia tidak memiliki kemampuan untuk mengelola bisnis mertuanya yang ada di kota. Ia lahir sebagai orang yang sederhana sebagaimana orang desa pada umumnya.

Orang-orang pun datang silih berganti dengan maksud dan tujuan yang masih misteri. Sebab, sebelum Balijo jatuh sakit mereka sudah seringkali mendatangi rumah Balijo. Sebagian orang menyebut hanya sekadar rekan bisnis yang ingin tukar pikiran atau ngobrol biasa. Sebagian lagi bercerita bahwa mereka datang menagih utang.

Panjul dan Karmila memang tidak pernah bercerita soal apapun kepada tetangganya. Mereka seolah tertutup dan memilih bekerja dan bekerja.

Tepat satu tahun pernikahan Panjul dan Karmila, Balijo meninggal seorang diri di dalam kamarnya. Sementara Panjul dan Karmila masih di dalam kebun sawit. Sepasang suami istri itu harus menyudahi pekerjaannya setelah mendengar kabar dari corong masjid atas kematian Balijo. ***

.

Kabar dari Corong Masjid.

Arsip Cerpen di Indonesia