Misteri Tulisan yang Bergantung

Cerpen Joni Hendri (Singgalang, 19 Desember 2021)

SELALU ada tulisan tergantung melambai-lambai di pohon depan rumah Tuah. Begitu senang orang tua yang misterius itu menggantungkan setiap tulisan-tulisan yang ia tulis. Angin yang datang dari segala arah.

Meniup kertas-kertas itu bergoyang dengan pelan. Mata yang melihat pasti sangat senang. Pohon itu menjadi titik fokus, yang digemari oleh seluruh kalangan yang berada di kampung tersebut.

Waktu-waktu terus bergerak menjadi malam, siang, pagi dan sore. Tuah yang tinggal di tepi pohon tersebut sangat takut ke[1]luar pada sore menjelang malam, sebab ia takut dengan tulisan-tulisan yang bergantung itu, selalu mengelurkan darah. Setiap senja seseorang yang sudah lanjut usia, selalu datang ke pohon depan rumahnya menggantungkan kertas yang bertulis “masa depan ada pada darah yang mengalir di tubuh anak-anak.” Tulisan itu membuat Tuah gemetar ketika membacanya.

***

“Tidakkah kau tahu, bahwa orang-orang sekarang sibuk meramal masa depan. Memilih menggantungkan tulisan-tulisan di pohon ini?”

“Aku tidak mengerti mengapa orang tua itu selalu menggantungkan tulisan-tulisan di pohon tua tersebut!”

“Rupanya kau benar-benar tidak tahu. Perisitiwa kertas yang tergantung. Kini aku sedang mengalami gangguan yang sangat mengerikan. Aku melihat tulisan-tulisan yang mengelurkan darah. Setiap malam aku mengigil ketakutan.” Sambung Tuah kepada Jebat.

Jebat pun terdiam. Ia sepeti tidak percaya apa yang dikatakan Tuah. Pohon itu memang sangat mengerikan. Setiap sore menjelang malam pasti ada sosok orang tua berpakian hitam datang mengantungkan kertas-kertas. Ketika bulan purnama, tulisan-tulisan di kertas itu sering mengeluarkan darah. Membuat Tuah menggigil ketakutan apabila ia pulang ke rumah saat malam. Keadaan seperti itu membuat Tuah semakin syok. Kondisi yang membahayakan bagi dirinya. Secara drastis organ-organ dan jaringan tubuhnya tidak mendapatkan aliran-aliran darah yang cukup. Jantungnya tidak mampu memompa darah.

Padahal Jebat setiap hari melewati pohon itu. Bahkan ia berhenti mencari kertas yang bergantungan tersebut. Tapi anehnya, ia tidak pernah melihat kertas yang bergantungan di pohon itu. Bahkan ia sengaja pulang saat tengah malam demi melepaskan penasarannya. Apakah benar yang dikatakan Tuah, tentang kartas yang banyak bergantungan di depan rumahnya. Hal tersebut sangat berat untuk diterima oleh akal.

Melihat hal tersebut belum terbukti. Jebat mulai merasa kuatir ia seperti mengalami rasa takut kepada Tuah dan dirinya. Kepada Tuah takut ia mengalami gangguan jiwa. Sedangkan pada dirinya takut tibul rasa tidak percaya kepada perkataan orang. Ia terlalu cemas terhadap kedua perisitiwa tersebut. Membuat sikapnya menjadi terganggu akan pertemannya. Takut memusatkan pikirannya pada hal yang negatif.

***

“Aku berusaha menjelaskan perisitiwa ini. Peristiwa kertas yang bergantungan. Hal tersebut sangat berkaitan dengan masa depan hari ini. Tapi orang-orang sulit mempercayainya.” Tuah berbicara kepada dirinya, sambil melihat wajah di depan cermin.

Tidak sedikit warga desa itu yang merasa heran dengan perisitwa yang sering dikatakan Tuah. Padahal dulunya Tuah tidak pernah menceritakan hal-hal itu. Peristiwa itu sangat menyeramkan, sehingga mengganggu dan membebani Tuah dalam menjalankan aktivitasnya. Pikirannya terlalu pokus pada tulisan yang bergantung itu.

Tuah mulai merasa asing dengan dunia dan dengan apa yang terjadi. Ketika siang datang, rasa nyamannya mulai tercipta kembali. Namun pembrontakan di dalam kepala semakin menjadi-jadi. Ia mencoba melepaskan pikiran itu. Pintu dan jendela yang terbuka ditutupnya dengan rapi. Akhirnya ia berkurung dengan waktu yang terus bergerak setiap hari. Tapi ia tetap tidak menemukan solusi untuk melupakannya. Kemudian ia terdampar di atas ranjang tidur, seperti orang gila. Dibukanya jendela kamar melihat orang yang datang ke pohon depan rumahnya. Perlahan-lahan sebuah iringan sekelompok perempuan dari arah selatan bernyanyi dengan riang. Menyanyikan lagu Payung Teduh yang berjudul “resah” mulanya perlahan-lahan tapi lama kelamaan suara nyanyian itu semakin kuat, membuat ia pusing. Lalu berteriak-teriak seperti orang gila. Mulai hari itu ia menjadi orang gila, terus berjalan-jalan keliling kampung.

“Tuah sudah gila!” Bisik seseorang secara tiba-tiba, di sampingnya. Tuah hanya menoleh kepada orang tua yang berdiri di sejarak darinya, yang menatapnya dengan penuh kecemasan.

“Tuah gila, Tuah gila…. Mari pergi!” Orang tua itu berteriak-teriak.

Tuah hanya memandangnya dengan senyuman tanpa rekasi. Ia sangat mengenali orang tua itu sebagai orang yang setiap sore menggantungkan kertas-kertas di pohon tersebut.

***

Tuah terkapar tak berdaya di pinggir jalan, sebab terlalu jauh berjalan. Terkapar di sebuah dusun yang tidak jauh dari desa tempat ia tinggal. Amblas bersama tanah, debu dan belukar. Tak jauh darinya, bunyi senapan menembak nyaring terdengar. Bunyinya menyeramkan seperti tembakan sardadu sedang perang. Mata Tuah liar melihat sekelilingnya, dan bibirnya bergetar hebat.

“Apakah ini suara tembakan masa yang akan datang!” Tuah berbicara pada dirinya sendiri. Di sanalah otaknya mulai berkerja keras. Seakan-akan menemukan sesuatu yang bisa menemukan jati dirinya, untuk menunaikan batinnya.

Mendapatkan tugas mengendalikan diri yang sudah ceos oleh gangguan. Tembakan itu seperti hidayah yang datang pada dirinya. Ia mulai mengingat masa depan dan kematian yang semakin dekat. Suara itu semakin keras terdengar di sebalik belukar, disusul juga dengan deru kaki-kaki yang berlarian dari segala arah. Sekonyong-konyong ia saksikan orang-orang saling tembak, berteriak-teriak nyaring, ribut dan ketakutan.

Tuah hanya menatap kosong, pikiran berkeliaran entah ke[1]mana-kemana. Napasnya keluar sedikit-sedikit. Perempuan-perempuan menggendong anak yang masih kecil, lewat di depannya. Bunyi suara tangis menjerit-jerit anak kecil itu terngiang-ngiang di telinga Tuah.

“Apakah ini suara masa depan?” Tuah kembali berbicara pada dirinya.

Berjam-jam Tuah duduk, menatap kosong. Tidak lama kemudian ia menyeret tubuhnya keluar dari belukar menuju jalan raya. Ia seperti hewan kurban perburuan, ia persis seperti orang gila yang tidak sadar. Namun bunyi tembakan sardu muncul kembali dari lubang-lubang gelap belukar tersebut.

Tuah ketakuan, bunyi tawa orang-orang mengganggunya, ia merasa orang menertawakan dirinya. Tiada yang menyenangkan untuk memperoleh tujuan hidupnya. Sosok sardadu muncul di depannya dengan ratusan pasukan, berdiiri. Tuah gemetar berteriak-teriak:

“Tolong!!!! Aku hanya pencari masa depan! Tolong!……….” Tuah semakin terganggu jiwanya. Ia seperti orang yang sedang sakit jiwa.

Akhirnya orang-orang berdatangan melihat Tuah.

***

Ketika tubuh Tuah dibangkitkan oleh orang-orang yang datang, ia membuka melihat ke langit. Pandangannya berbintang-bintang dan ia merasa sangat waras. Ia sangat yakin gangguan jiwanya akan segera berakhir. Di sejarak dirinya ia melihat keramaian orang yang mengelilingi membawa air untuk menyiram.

“Apakah mereka akan memandikan aku seperti mayat.” Dalam hatinya berkata.

Tuah kembali berbaring hampir seperti serata dengan tanah, napasnya satu-satu dengan sangat lirih, matanya mengawasi sekeliling, mukanya pucat seperti orang kelaparan. Tuah seperti menantikan sesuatu yang akan datang padanya yaitu kematian.

Dari kejauhan suara langkah kaki yang cepat samar-samar tersengar muncul dan tenggelam. Tuah mulai bangun dan duduk kembali mendekap lutut. Langkah itu semakin mendekat dan berdiri menghampirinya.

“Tuah, Tuah, Tuah….. Kenapa jadi seperti ini, Tuah. Masihkah engkau memikirkan tentang tulisan yang bergantungan. Tulisan masa depan itu?” Jebat memberi pertanyaan.

Namun dengan mata yang tajam, Tuah hanya diam memandang kosong ke depan. Kelihatannya Tuah mau menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Tapi tidak berdaya, kecuali sekerat harapan dalam hatinya dibebaskan dari sekerat yang jahanam. Tapi ia tetap tak bisa mengucapkannya, lidahnya berat untuk mengeluarkan suara. Telinganya masih mendengar sesuatu yang berbunyi di sekeliling.

“Tuah, ini aku sahabatmu Jebat. Jawablah perkataanku ini. Apakah kau sudah lupa?” Jebat berusaha menyadarkannya. Sambil menggoyang-goyangkan badannya.

“Iya aku dengar, aku sadar. Tapi aku belum melihat orang tua itu, aku ingin bertanya makna dari tulisan itu. Apakah ia ada di hadapanku?”

Semua orang-orang yang berada di sekelilingnya bingung. Tuah masih menatap ke depan dengan mata kosong. Ia seperti menunggu sesuatu yang datang, napasnya keluar satu-satu. Seperti sesak, tubuhnya bergoyang-goyang, matanya mengeluarkan darah. ***

.

.

Pekanbaru, 2021

.

Misteri Tulisan yang Bergantung. Misteri Tulisan yang Bergantung. Misteri Tulisan yang Bergantung.

Arsip Cerpen di Indonesia