Cerpen Muram Batu (Kompas, 16 Januari 2022)
DI wilayah tempatku tinggal jarang orang mati. Namun, ketika ada yang mati, pasti bisa ditebak kehadirannya. Ini bukan penyebab seperti penyakit, bencana, atau lainnya. Ini soal ciri-ciri mati. Ada tiga tanda sebagai penanda. Setiap kematian pasti diawali oleh tanda-tanda itu. Selalu berurutan. Dan kini, aku sudah memiliki dua tandanya.
Tanda pertama adalah bintik putih di bawah mata, seperti tahi mata, namun tak hilang saat disapu dengan jari atau kain maupun air. Dia keras. Biasanya dia berada di ujung mata dekat tulang hidung; bisa di kanan dan bisa juga di kiri. Kemunculannya langsung diketahui si penderita karena letaknya yang strategis itu. Biasanya muncul usai bangun tidur. Awalnya mungkin orang sepele, sekadar menyekanya, namun karena dia tidak hilang-hilang maka kepanikan akan langsung mengemuka. Bagaimana tidak, tanda itu bak mendung yang berarti hujan. Itulah sebab, tak perlu berhari-hari orang sadar bahwa tanda itu bukanlah tahi mata.
Memang ada yang berusaha menutupinya. Sebut saja Pak Derma yang seorang pengacara itu. Usianya belum begitu tua, masih satu kalender lagi mencapai enam puluh tahun. Dia pun masih aktif. Istrinya cantik dan dua anak-anaknya hebat; yang pertama anggota Paskibra dan yang kedua langganan juara kelas. Nah, suatu hari, Pak Derma yang bermata indah malah mengubah gaya. Tidak hanya di mobil, di halaman rumah pun tak pernah lepas kacamata hitamnya. Para tetangga jelas curiga.
“Bapak sakit mata, kata dokter, kacamata hitam bisa mengurangi sakit dan bisa membuat penyakitnya tidak menular,” begitu kata istri Pak Derma.
Selang sepekan, kacamata belum juga dilepas. Bahkan, Pak Derma mulai jarang ke luar rumah. Tetangga semakin curiga. Tak mau terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, mereka pun mulai menanyakan itu lagi. Kali ini tidak di rumah ketika Pak Derma pergi, tapi di toko tempat biasa istri Pak Derma belanja.
Tak ada jawaban, tapi tetangga paham kalau Pak Derma sebentar lagi akan mati. Pasalnya, istri pengacara itu menangis ketika ditanyai. Pun, dia mengiyakan bintik putih di bawah mata suaminya. Bahkan, dia cerita tanda itu muncul sepekan sebelumnya. Ini berarti sejak Pak Derma memakai kacamata. Artinya, tanda kedua akan muncul.
“Belum, masih bintik putih itu,” jawab istri Pak Derma sambil terisak.
“Terus, apa yang harus aku lakukan supaya suamiku tidak mati!” tambahnya.
Tak ada yang menjawab karena memang belum ada yang menemukan jawaban. Orang-orang bubar dan istri Pak Derma langsung pulang. Sejak itu Pak Derma tak pakai kacamata lagi. Tapi, dua pekan kemudian dia mati, jatuh di kamar mandi. Tentu ini terjadi setelah tanda kedua dan ketiga muncul.
Ada juga yang tak menutupi tanda. Sebut saja Bu Indah. Dia seorang guru. Belum tua juga, masih empat puluhan tahun. Tidak punya anak dan suaminya adalah tukang jahit. Keduanya tinggal di rumah warisan dari keluarga Bu Indah. Suatu hari, Bu Indah yang memang indah kalau dipandang mendapat pandangan aneh dari anak didiknya. Dia guru SMA, anak didiknya sudah paham soal penampilan, jadi ketika ada tahi mata yang luput dibersihkan maka akan langsung ketahuan. Dan, Bu Indah langsung lari ke toilet sekolah. Dia pandangi matanya dalam-dalam dan kemudian paham.
“Ini bukan tahi mata, anak-anakku sayang. Ini tanda. Tanyalah pada orang tua kalian, apa artinya. Begitu pun, mari kita lanjutkan pelajaran, waktu sudah terpotong banyak…,” kata Bu Indah begitu sampai di kelas.
Setelah itu Bu Indah tetap mengajar seperti biasa. Dia tak merasa risih dengan bintik putih di bawah matanya itu. Artinya, tak ada yang berubah kecuali matanya sering basah dan seringnya dia menemani sang suami menjahit. Dan, jelang sebulan sejak tanda itu muncul, dia mati. Dia mengembuskan napas terakhirnya di pelukan sang suami usai sarapan atau sekian menit sebelum ke sekolah. Tentu ini terjadi setelah tanda kedua dan ketiga muncul.
Aku bukanlah Pak Derma apalagi Bu Indah. Aku masih sangat muda. Masih lajang. Pun, aku baru saja jadi polisi yang ditempatkan di wilayah ini. Tanda-tanda itu harusnya tidak terjadi padaku. Nyatanya, tetap saja ada bintik putih di bawah mataku. Dan, itu sudah dua pekan lamanya.
“Tanda kedua sudah muncul?” tanya rekanku di kantor. Sungguh aku tak bisa menerjemahkan nada dari kalimat tanyanya itu, senang atau sedih.
“Kabarnya, semakin bertambah, tanda itu tak akan bisa dilihat orang luar. Jadi aku harus tanya.”
“Bisa apa kau untuk menghalanginya?” balasku malas. Aku merasa semakin hari orang-orang semakin aneh saja.
Rekanku diam. Dia memandang jauh. Dia membakar rokok, aku juga. “Bapakku mati dengan tiga tanda itu. Sudah puluhan orang di wilayah ini juga begitu. Sekarang kau. Aku tak tahu, apakah ini baik atau tidak. Tanda sebelum mati, harusnya menggembirakan, tapi terasa menyakitkan begitu mengetahuinya,” katanya kemudian.
Aku diam dan mengangguk. Adalah menyenangkan kalau tahu kapan kita akan mati, kita bisa berbuat baik hingga pantas untuk dikenang bukan? Nyatanya itu hanya teori. Apa yang bisa kau lakukan ketika tanda-tanda itu malah menjelma teror: kau akan mati, kau segera mati, matilah kau!
“Sudah empat hari ini muncul,” kataku sambil membuka baju, menunjukkan bagian dada. Ada sebuah bentuk seperti sidik jari jempol yang menempel di dada kiri, berwarna darah kotor.
Rekanku itu melirik sekilas. Dia matikan rokok dan kemudian ke luar ruangan dengan setengah berlari. “Anjing!” teriaknya.
Aku paham dan tak tertawa dengan makian yang tak jelas dia tunjukkan pada siapa itu. Ya aku tahu, dia pernah melihat tanda kedua itu di dada ayahnya, di dada Pak Derma, atau warga lainnya yang laki-laki. Pun, dia pasti dengar kalau ada tanda itu di dada Bu Indah atau perempuan lain yang mati di wilayah ini. Dan kini, dia lihat tanda itu di dadaku setelah sebelumnya dia sibuk dengan bintik putih di bawah mata.
***
Di wilayah tempatku tinggal jarang orang mati. Namun, ketika ada yang mati, pasti bisa ditebak lebih dulu. Ada tiga tanda sebagai penanda. Dan kini, aku sudah memiliki dua tandanya. Artinya, sebentar lagi aku akan mati.
Mungkin, karena pikiran itulah aku dibebastugaskan. Aku hanya diwajibkan absen. Tak ada patroli. Tak ada jaga pos. Tak ada apel. Ya sudah, aku turuti saja walau lumayan bingung dengan perintah itu. Meski begitu, aku tak mau menjadi Pak Derma, yang lebih sering mengurung diri di rumah ketika tanda demi tanda bermunculan. Aku lebih memilih menjadi Bu Indah, tetap beraktivitas seperti biasa. Aku, meski hanya mengisi absen, tetap memaki baju dinas.
“Aku mau mati saat berdinas, hanya itu kebanggaanku!” kataku pada rekan-rekan kantor. Rekan-rekan tak ada yang membantah, termasuk pimpinan.
Mungkin, mereka paham, ketika muncul tanda ketiga, maka saat itulah aku mati. Jadi, biarkan saja. Tak lama lagi.
Masalahnya, tidak seperti dua tanda sebelumnya yang muncul pada fisik, tanda ketiga kata orang-orang lebih ke psikis. Artinya, tanda-tanda itu hanya orang dekat yang paham. Misalnya, kasus Pak Derma, dia menjadi orang yang sangat pemarah menjelang ajal, tepatnya setelah bintik putih di bawah mata dan sidik jari jempol di dada kiri muncul. Anaknya yang anggota Paskibra bolak-balik mengelus dada karena kena bentak. Pun, anak bungsunya yang langganan juara kelas tak luput dari suara keras. Biasanya, kedua anak itu selalu dimanja, jangankan dibentak, dilirik dengan tatapan tajam pun tidak. Sang istri malah dikatai boros, padahal belanjanya tak pernah berubah sekian tahun. Dengan kata lain, Pak Derma berubah dari karakternya yang biasa. Bahkan, dia jatuh di kamar mandi sampai mati itu pun dalam keadaan marah yang entah.
Bu Indah juga begitu. Menurut suaminya, Bu Indah tidak pernah sebaik itu sebelumnya. Dia selalu sibuk bekerja. Tidak pernah masak sarapan. Tidak pernah menungguinya menjahit. Tapi, begitu tanda satu dan dua muncul, Bu Indah malah berbalik menjadi sosok yang begitu menyenangkan bagi suaminya.
“Kau ke rumah ibadahlah…, jarang kulihat…,” kata seorang rekan.
“Kau mau aku cepat mati?”
“Maksudnya?”
“Tanda ketiga itu biasanya kebalikan dari sikap kita!”
“Bukan itu maksudku…, aku cuma….”
Aku tertawa dan malah menepuk pundaknya. Ya, sepertinya aku mendapat jawaban agar aku tak mati. Ya, jangan sampai aku melakukan hal sebaliknya dari aku sebelumnya seperti Pak Derma dan Bu Indah. Itu tanda ketiga! Persetan dengan dua tanda yang muncul!
“Sudah jarang kau main bola…,” kata seorang warga.
Mendengar kalimat itu, aku kembali mulai bermain bola seperti sebelumnya. Ya, dua hari sekali.
“Sudah jarang kau duduk di warung Bi Num.”
Aku kembali ke warung Bi Num, hampir tiap malam, meski makanan dan minumannya tak enak.
“Sudah jarang kau cuci mobil komandan.”
Aku langsung mencuci mobil komandan tiap pagi, seperti biasa.
Ya, aku memang harus seperti biasa. Aku tak boleh menunjukkan diri berubah. Perubahan adalah tanda ketiga. Aku harus statis agar tidak mati! Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku, bukankah aku biasa patroli, jaga pos, dan apel?
Tapi, komandan yang memerintahkan agar aku bebas tugas sejak ada dua tanda itu. Artinya, komandan yang mau aku mati?
“Mati itu bukan urusan manusia…,” kata komandan.
“Siap salah, tapi tanda-tanda itu muncul di diri manusia.”
“Ah, kau. Itu pun kau percaya….”
“Siap salah, tapi Komandan yang membebastugaskan aku, kecuali absen….”
“Ah, itu kan untuk menguji kau. Sudahlah, tak ada itu!”
“Siap Komandan, jadi aku tugas seperti biasa lagi?”
“Iyalah, mau mati kau!”
Aku mencium tanah, seperti pemain sepak bola usai mencetak gol, tanda bersyukur. Aku diperintahkan komandan untuk menjalani rutinitas seperti biasa, artinya tak ada yang berubah seperti sebelumnya. Dengan begitu aku telah diperintahkan untuk tetap hidup! Ya, bukankah kalau tak patroli, jaga pos, atau apel berarti aku melakukan hal sebaliknya? Dan, bukankah itu berarti tanda ketiga?
Sampai rumah aku buka baju. Kulihat tanda sidik jari jempol semakin menebal. Pun, aku lihat cermin, bintik putih di bawah mata tampak lebih besar. Kulihat kalender, ini hari jelang sebulan sejak tanda pertama muncul. “Sebelumnya kau jarang memperhatikan mata dan dadamu, kenapa sekarang sebaliknya….”
Aku tak tahu siapa yang mengatakan itu, sumpah. Aku tak tahu. Yang kutahu, di wilayah tempatku tinggal jarang orang mati. Namun, ketika ada yang mati, pasti bisa ditebak kehadirannya. Ada tiga tanda sebagai penanda. Dan kini, kurasa sudah memiliki ketiga-tiganya. ***
.
.
Medan, November 2021
Muram Batu, lahir di Limapuluh, Sumatera Utara, pengarang kumpulan cerpen Hujan Kota Arang (basabasi, 2018), novela Tepi Toba (basabasi, 2019), dan kumpulan cerpen Kartini Boru Regar, Tahi Kecoa, dan Walikota (Gading, 2020). Sejak berusia balita tinggal di Langsa, Aceh, begitu tamat SMA merantau ke Yogyakarta selama 11 tahun dan kini menetap di Medan.
Hadi Soesanto, lahir di Jember, Jawa Timur. Lulusan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Pernah pameran di Kanada, Korea, Malaysia, Taiwan, Vietnam, Filipina, Thailand, Turki, Kashmir, India, Nepal, Moldova, China, dan Jepang.
.
Tiga Tanda Mati. Tiga Tanda Mati. Tiga Tanda Mati. Tiga Tanda Mati.
.
.