Adzan Jumat Campur Dangdut

Oleh Hendy UP (Ruangsastra.Com, 19 Januari 2022)

SESEKALI aku jum’atan di Masjid Agung Darussalam Muarabeliti, karena dua alasan. Pertama, mengobati  rindu—dusun yang pernah kutinggali lebih dari 20 tahunan semenjak 1978; tahun ketika Presiden Soeharto dan Mendagri Amir Machmud baru saja secara senyap menyusun draf final UU No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa yang kelak akan memorak-porandakan sistem Pemerintahan Marga di Sumsel.

Yang kedua, rasa-rasanya ada patri ikatan-batin dengan sejarah awal berdirinya Masjid Agung Darussalam. Masih tersimpan di buku harian, kavling-persil tanah siapa yang diganti rugi untuk area masjid; siapa saja anggota Tim 9 dan kapan mulai menentukan arah kiblat hingga prosesi awal penggalian tiang pancangnya.

Al-kisah, di awal-awal era Bupati RM periode pertama (2005-2010), aku sering mengikuti rapat-rapat terbatas, khususnya tentang penyempurnaan desain kawasan ibukota baru. Kala itu, aku menjabat sebagai staf yang terkait langsung dengan proses revisi pra-desain  ibukota baru yang telah disusun oleh bupati sebelumnya.

Gong awal pemindahan ibukota ke Muarabeliti adalah pada hari Kamis, 2 September 2004, ketika Presiden Megawati dihadirkan oleh Bupati Ibnu Amin ke titik lokasi ibukota baru. Titik-tarub podium Presiden kala itu, kira-kira kini di jalan aspal antara kantor Bupati dengan Mapolres Musi Rawas, limapuluhan  meter dari Tugu Bundaran Pemda. Dan kelak, pada 11 November 2005, Presiden SBY berkenan menerbitkan PP No. 46 Tahun 2005 yang menjadi landasan hukum pemindahan ibukota Kab. Musirawas ke Muarabeliti.

Adapun sejarah awal berdirinya masjid agung itu bermula dari gagasan genuine Bupati RM yang ber-tagline Musirawas Darussalam. Masih teringat segar, di pagi Sabtu, 17 September 2005, ba’da apel pagi, aku dan Pak  Firdaus Azis (Kadis PU-BM) disibukkan oleh agenda mendadak Bupati RM untuk meninjau langsung ke calon lokasi Masjid Agung dan  lokasi jembatan kembar yang menghubungkan kompleks Pemda dengan  rencana Bundaran Agropolitan Centre.

Titik calon lokasi itu memang telah kulaporkan kepada Bupati dua hari sebelumnya, bersamaan dengan laporan survei awal  rencana trase jalan  baru: Kotapadang-Durianremuk-Muarabeliti langsung tembus ke Bumiagung. Sejarah kemudian bergulir-kelindan, ketika aku didapuk menjadi sekretaris Panitia Lomba Desain Masjid Agung pada tahun 2006 yang melibatkan pakar UNSRI sebagai Tim Juri Lomba.

Akhirul-kisah, ketika hendak Jumatan kemarin, 5 November 2021, aku sengaja datang lebih awal demi menikmati nuansa sejuk-rimbun area Parkir-Timur yang menghadap langsung ke Taman Beregam. Biasanya sembari menikmati shalawat Tarhim yang berkumandang merdu untuk mengajak pejabat Pemda & aparat Mapolres agar bersegera meninggalkan dunia sesaat saja!

Tapi apa lacur! Merdunya shalawat Tarhim tak kunjung terdengar,  justru musik dangdut dan pekikan ibu-ibu bergelora memekakkan telinga. Itu berasal dari Taman Beragam. Pasti itu acara Pemda, karena tak mungkin ada orang luar menyewa area taman. Suara musik itu berlangsung hingga pukul 11.35 WIB, padahal adzan jumatan pukul 11.52. Saya pikir, sebentar lagi adzan, pasti panitia cukup bermoral dan bijak untuk segera menutup acara.

Saat adzan berkumandang, musik masih menggelora dan suara ibu-ibu masih melantang. Para jama’ah niscaya sangat terganggu dengan musik dangdut yang menyaingi lantunan adzan.

Dalam hati, saya bergumam utopis: “Kalau aku jadi pejabat yang berwenang, pasti kupanggil Sekda dan Asisten agar menjatuhkan sanksi berat kepada kepala OPD dan Panitia yang bertanggungjawab, karena jelas-jelas melanggar etik-moralitas dan terkesan meremehkan ritual agama di kawasan Pemda”.

Dan yang lebih penting, jangan pernah terulang lagi ada acara yang berani menabrak saat-saat orang khusyuk melaksanaan ritual suci agamanya. Quwallat!!! ***

.

.

Muarabeliti, 13 Januari 2022

Hendy UP lahir di Cilacap, 23 Maret 1957, adalah pengelola blog www.andikatuan.net sejak tahun 2014. Artikel opini tentang teknologi pertanian, pedesaan, sejarah, humaniora dan lain-lain sering dimuat di koran Sinar Tani  (1978-1989), Sriwijaya Post (1989-1993), Linggau Post/Linggaupos online (2004-2021), dan Musirawas Ekspres/Mureks online (2010- 2021). Alamat surel: andikatuan@gmal.com.
.

.

MAKLUMAT!

Bagi para pembaca yang akan mengirim tulisan untuk laman Spasi bisa dikirim melalui surel spasi.ruangsastra@gmail.com. Ketentuan lebih lanjut bisa dibaca di sini. Terima kasih.
.

Adzan Jumat Campur Dangdut. Adzan Jumat Campur Dangdut.

.

Arsip Cerpen di Indonesia