KOTA PARA PENDATANG

Sajak-sajak Ilhamdi Putra (Jawa Pos, 29 Januari 2022)

KOTA PARA PENDATANG

.

Kota para pendatang, ingatan diruntuhkan pasang

.

Berjaga agar lintuh tidak bikin badan melejang

membiasakan tahun untuk menunda kepulangan

mengudap badan sendiri di tengah kelimpanan.

.

Di Pinangsia kutemukan gambar kota dengan kanal

kapal bersandar seperti baru membongkar badai

angin garam terperam di tiang layar, kutemukan juga

sebagian hari ketika terminal jadi sebentuk harga diri

stasiun dipenuhi kedatangan, orang-orang mencari kepergian

kedatangan adalah kepergian yang dibentuk demi hari depan.

.

Di hadapan gambar dengan judul Kota Para Pendatang

kuingat kota kelahiran, batang air kuning padi

menjangkau bau kopra, harum cengkih dan biji kopi

dari gambar itu kuingat rumah di pangkal muara

.

“sudah berapa lama orang ladang tak lagi bertanam akasia?”

.

2021

.

.

.

KOTA DARI KETINGGIAN

.

Kota dari ketinggian menara, dua puluh satu adalah angka terakhir

sebelum bubung atap menyentuh awan, mengetuk pintu langit

dan di hadapannya, kita dapat bertanya

.

“benarkah, di Jakarta, Tuhan membuat manusia Indonesia?”

.

Sementara pagi berkabut adalah hantu, Upik

.

Dengan kuduk berkurap yang diusap ke sanding dinding

.

Dengan jembut bercabang menyansam retakan tembok

dan hari-hari berkelabang telah menjadi sebagian dari kita

sementara orang-orang terus berdalih ke balik lipatan kerah

tali sepatu lepas ikatan itu terpijak bikin mereka tersandung.

.

Dan kita duduk menghadap jendela, menyimak kota dari ketinggian

.

Dari pagi hingga matahari tergelincir lagi ke dalam kabut kusut

.

Malam selalu perihal badan rebah, lutut goyah, persendian lemah.

.

Kita paham benar, bahwa gairah Jakarta akan terus memperbudak

seperti lampu-lampu terus menyala namun tidak menerangi apa-apa

sebagaimana sendawa angin disebabkan radang asam lambung

seumpama ribuan kubik beton dibenam jauh ke dasar teluk

hanya untuk dibangkit kembali kemudian hari.

.

Kita tahu, akan selalu ada gelombang kaum pendatang

yang menyisihkan sebagian nasibnya untuk terus memburuk

di sini, saban tahun, Tuhan menciptakan manusia-manusia baru

namun mereka memilih terus hidup sebagai kuda pelejang bukit.

/

Dan kita merasa telah cukup dengan duduk menyimak saban hari

.

Bercinta hingga melelas dalam getaran yang sama dengan gerak tanah Jakarta

mari, kita bangun hunian sendiri, sebuah kota yang tumbuh dari dalam celana.

.

2021

.

.

.

SIMPANG GUNUNG SAHARI

Chairil Anwar

.

Di simpang Gunung Sahari

pagi adalah perempuan dengan tali kutang berpilin

menambah pemerah bibir dalam angkutan massal diisi melimpah.

.

Dari sini, kita tempuh arah yang tidak pernah ditunjukkan mata angin

ruas kota di mana seekor kuda jantan berlari memimpin kawanan

jalanan dipasang penyangga pada pinggang, dan cakrawala

selalu berbau bangkai anjing hanyut di batang air.

.

Tapi pada seribu kali gelombang malam

jalur telah dialihkan dari beratus tahun kutukan

dan tomong tidak lagi berdentuman, Ril

tinggal setan-setan bersarang ke dalam ingatan.

.

Sejak Gunung Sahari belum bersimpang

sebuah nubuat tentang langit runtuh telah dibacakan

di mana orang-orang kembali mendengkur tanpa tidur

pedestrian dengan bangku-bangku taman ditinggalkan

segala dialihkan oleh seribu bentuk maut dan kutukan.

.

Ke arah yang tidak pernah ditunjukkan mata angin

dan sebuah tempat yang tidak pernah menjadi alamat

di mana orang-orang mulai berlari kian kemari

sementara pagi

selalu tentang perempuan dengan buah dada tergujai sebelah.

.

Tapi kota telah berubah simpang

jalan dibangun melingkar, disusun berungguk

dan di kantung mata, di lubang paru kita

di lambung yang dipenuhi gerung asam lambung

selembing angin duduk secara lakonik mengisahkannya.

.

2021

.

.

.

ILHAMDI PUTRA. Lahir di Padang, Sumatera Barat. Bergiat di ruang riset sastra dan humaniora Lab. Pauh 9.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia