Cerpen Nurillah Achmad (Jawa Pos, 29 Januari 2022)
(Teruntuk Puan Guru: Nyai Nazlah Hidayati)
Randu
PENGIRIM surat ini tak aku kenal. Bahkan sampai ibu selesai memasak edamame, lalu menaruh semangkuk di meja belajarku, tak satu pun dari teman sekolahku sebelumnya yang meyakinkanku bahwa mereka memiliki nama seperti ini. Karena itu, lekas-lekas aku membukanya dan betapa terjengkangnya aku ketika membaca kalimat pembuka yang ternyata ditulis Arham—teman sekelasku yang mati gantung diri semalam.
Kata Arham, penerima surat ini memiliki benang merah akan keputusannya mengakhiri hidup. Kalau begitu, apa yang telah kuperbuat, sedangkan aku baru mengenalnya kemarin lusa?
Arham
Aku memutuskan untuk mati. Sebelum itu, biarkan aku menyisakan cerita yang bakal usang bila tak kukekalkan dalam ingatan. Tak mengapa jika surat ini tak mengundang perubahan sikap. Setidaknya, nama-nama penerima surat ini adalah penyumbang derita dalam hidupku selama ini.
Jadi, tadi pagi aku terlonjak mendapati amuk serapah mamak yang diselingi suara piring beling yang dibanting ke dinding. Dari bibir mungilnya itu, segala nama hewan di kebun binatang terlontar tanpa tedeng aling-aling. Entah anjing, celeng, atau buaya. Sementara bapak dengan entengnya memandikan ayam jagonya yang hendak diadu, sedangkan pada malam hari ia mengambil uang mamak hasil jual nasi di warung, padahal telah disembunyikan di bawah kasur.
Mamak yang kesal sebab tak dihiraukan sontak mengambil gelas, piring, panci dan melemparnya ke luar dapur dan tak sedikit yang pecah mengenai dinding. Ia tak sekadar mencak-mencak, tapi juga menuding bapak sebagai tukang main perempuan. Bapak yang semula tak mengindahkan lantas berlari ke arah mamak dan menggamparnya berulang-ulang. Usai itu, bapak juga menendang mamak hingga parempuan itu tersudut di pojok dapur.
Ini adalah adegan sehari-hari, di mana sebentar lagi mamak bakal berdiri, lalu menyeretku ke kamar mandi. Di sana, mamak menyiramku berulang-ulang dan tak akan berhenti meski aku tersedak hampir mati. Bilamana usai bersihkan badan aku tak segera mengenakan seragam, mamak mengambil cambuk, lalu melecut tubuhku terus-menerus. Sialnya, mamak menyuruhku berangkat sekolah tanpa beri uang saku dan tanpa makan dahulu.
Randu
Kemarin Arham tertunduk getir menggigit bibir, sementara tangannya memegangi perutnya terus-menerus. Itu hari keduaku di sekolah, namun itu kali pertama berjumpa dengan teman sekelas yang paling berantakan di antara siswa yang lain. Arham tak sekadar mengenakan seragam putih kusam yang kucek atau sepatu berlubang di mana jempol kakinya menjulur keluar, tapi rambutnya awut-awutan dan kini tampak pesakitan.
Saat menghampiri mejanya, ia merintih lirih. Aku bertanya gerangan apa penyebabnya, ia menggelengkan kepala. Teman-teman yang lain tengah berada di kantin. Aku pun menawarkan sekotak bekal yang disiapkan ibu. Semula Arham menolak, tapi aku berkata padanya kalau ayahku berpesan bahwa aku tak boleh makan atau minum di samping orang yang tak sedang makan atau minum. Arham menatapku, aku mengangguk dan kami pun menyantapnya bersama.
Lantas, apakah keputusanku menawarinya makanan menjadi penyebabnya bunuh diri?
Arham
Saat istirahat kedua, perutku terasa begitu perih. Terasa ada yang melilit. Untungnya ada seorang teman menghampiri. Anak baru itu bernama Randu. Ia pindahan dari kota sebelah. Randu mengenakan kacamata dan kelihatannya baik sekali. Ketika Randu menghampiri meja dan menawariku makanan yang dibawa dari rumah, aku menolaknya. Tapi perutku tak kuasa menahan gejolak. Kami pun menyantap bersama makanan laut dan makanan dari pegunungan yang diolah ibunya.
Aku baru mengenal istilah ini dari Randu. Kata Randu, dua sebutan ini ada di dalam kisah Totto-chan. Aku tak mengenal siapa Totto-chan. Randu berjanji akan meminjamiku buku yang berisi kisah gadis cilik di jendela itu. Tentu aku melonjak girang. Aku berjanji, bila nanti buku ini jadi dipinjamkan, aku akan menjaganya dari amukan siapa pun di rumah.
“Mengamuk? Siapa yang mengamuk?” kata Randu heran.
Agaknya, ia ingin bertanya lebih lanjut, namun bel keburu berdenting. Teman-teman berhamburan masuk kala Pak Fajar membawa bahan ajar. Guru biologi ini wali kelasku. Bila mengajar, jarang di kelas. Ia sekadar masuk, beri tugas, keluar. Pun begitu dengan tadi siang. Pak Fajar hanya memberi tugas yang mesti dikumpulkan sebelum pulang, sementara dirinya keluar ruangan.
Anak-anak melonjak girang. Aku menggerutu. Saat-saat tak ada guru adalah waktu mengerikan bagiku. Roni yang bertubuh paling bongsor di antara kami menghampiri meja dan menyuruhku mengerjakan soal. Aku menolak. Roni memelotot tajam. Matanya yang besar dan bulat seakan ingin melumatku. Ia mengulangi permintaannya. Aku masih berpegang teguh untuk menolak. Telah cukup selama ini aku jadi budak.
Mulut anak itu bergerak-gerak, entah apa yang diucapkan. Tapi sekian detik kemudian, Roni menggebrak meja. Sontak seisi kelas menoleh ke arah kami berdua. Saat Roni memegangi rambut dan meludahi wajahku, mereka sekadar memandang, lantas kembali mengerjakan soal. Mereka juga diam saat Roni menyeretku ke depan kelas. Ia meminta bantuan Baret. Aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Baret, tapi kalah badan. Meski aku berusaha menerjang-nerjang, Roni membuka kancing celanaku dan menariknya.
Murid-murid perempuan berteriak sembari menutup mata, sementara yang laki-laki tertawa. Untungnya Pak Fajar mendatangi kelas. Ketika melihatku telanjang, Pak Fajar meminta keduanya menuju ruangan guru. Sungguh, aku tak lagi mampu berdiri tegak dalam keadaan begini. Kalau bukan Randu yang memungut celana yang tadi dilempar Roni ke belakang, lantas menyodorkannya padaku yang terkulai di atas lantai, barangkali sampai kelas berakhir pun aku tak berani berjalan.
Randu
Sepulang sekolah, ketika aku mengayuh sepeda saat melintas di depan rumah Neila, aku melihat kerumunan di sudut lapangan. Aku tidak tahu, tiap kali melewati depan rumah Neila, debar jantungku seakan mengalahkan debur ombak. Bilamana pintunya tertutup, aku menebak-nebak barangkali Neila berada di salah satu ruangan.
Agaknya, siang ini Tuhan memberiku kejutan. Neila yang masih mengenakan seragam berada di depan tanaman anggrek yang tengah berbunga. Ia tersenyum saat mendapatiku melintas. Aku membalas senyumnya, dan entah mengapa, aku lekas-lekas mengayuh pedal sepeda, sampai-sampai hampir menabrak kerumunan di bawah pohon beringin. Ternyata gerombolan ini teman-teman Roni. Di sana, ada Arham yang telanjang bulat, sementara baju dan celananya digantung di batang beringin.
Seketika itu juga aku taruh sepeda, namun Roni menghalangi. Ia memintaku pulang. Aku bersikukuh hendak mengambil seragam. Roni tersulut emosi. Ia menghantam tubuhku. Aku melawan. Baret dan yang lain ikut menghajar. Sesekali aku berhasil menepis, tapi Roni, entah dari mana kekuatannya, meninju mata kananku sangat keras. Seketika aku merasa dikelilingi kunang-kunang. Keadaan berubah menjadi gelap. Kondisi ini tak berlangsung lama. Meski mata kananku terasa sangat perih, aku berhasil melawan dengan menendang kemaluan Roni. Ia terjengkang dan berguling-guling di lapangan.
Baret dan yang lain tak jadi membalas. Mereka diam mematung saat aku memanjat pohon memungut seragam Arham. Ketika Arham selesai mengenakan, aku memboncengkannya dan mengantarnya pulang. Di depan rumahnya, Arham berterima kasih berkali-kali. Sementara di rumahku, ibu sesenggukan melihat mata kananku biru lebam.
“Besok kita ke sekolah, tapi kau tak usah ikut pelajaran,” kata ibu sembari mengompres mataku dengan air hangat. Aku mengiyakan sebab aku juga malu bertemu Neila dalam keadaan begini.
Arham
Sepulang sekolah, Roni dan teman-temannya menelanjangiku di lapangan. Sialnya, seragam dan celana dalamku digantung di batang beringin. Aku tidak tahu apa yang menjadi latar belakang mereka sehingga memperlakukanku begini. Barangkali tadi Roni dan Baret dimarahi Pak Fajar. Jadi, ia melampiaskannya. Lagi-lagi Randu yang datang menolong. Meski matanya lebam kena hantaman, ia berhasil menendang kemaluan Roni.
Randu juga mengantarku pulang. Aku mengangguk berterima kasih berulang-ulang. Sesampainya di pintu rumah, aku kembali mendengar amuk serapah mamak yang diselingi suara piring beling yang dibanting ke dinding. Kali ini, bapak melawan. Ia menyebut mamak pelacur, dan aku adalah anak haram. Aku yang berdiri di depan pintu memutuskan masuk ke kamar. Keduanya tercekat melihatku melintas, tapi sejenak kemudian meneruskan pertengkaran.
Di dalam kamar, aku telah tahu apa yang mesti dituntaskan. Karenanya, lekas-lekas aku menulis surat ini dan akan memfotokopi tiga kali. Ketiga surat akan kukirim lewat pos, sementara yang asli aku taruh di atas kasur ini.
Dan untukmu, Randu, bila namamu kusebut dalam surat, itu semata-mata sebagai ucapan terima kasih sebab bantuan dan kebaikanmu, aku merasa memiliki teman. Sayangnya, aku mengenalmu ketika aku dalam keadaan sangat lelah menjalani kehidupan.
Pak Fajar
Termenung saya membaca salinan surat Arham sebelum ia gantung diri semalam. Bahkan di hadapan para guru, saya tak bisa berkata apa-apa. Kepala sekolah berkali-kali bertanya, apa yang sebetulnya terjadi di kelas yang saya ampu. Saya hanya menatap pasrah. Apalagi barusan Randu dan ibunya mendatangi sekolah dan bercerita soal perbuatan Roni hari kemarin.
Kini, usai membaca surat yang sengaja Arham kirim lewat pos dengan alamat sekolah, saya melihat persamaan sekaligus perbedaan pada diri Arham dan Randu. Kedua anak ini sebetulnya memiliki keluarga bermasalah. Kemarin lusa, saat kali pertama masuk sekolah, ibu Randu bercerita kepada saya bahwa ia cerai dengan suaminya. Namun, ia hanya berpisah sebagai suami istri, tapi tidak dengan status ayah dan ibu. Bahkan saat ibu Randu pindah ke kota ini, mantan suaminya turut membantu dan memastikan keadaan Randu baik-baik saja. Keduanya tak pernah menampakkan pertengkaran di depan Randu. Mereka tetap harmonis jika menyangkut kepentingan anaknya.
Sebaliknya, Arham yang memiliki orang tua bermasalah tak merasakan apa yang Randu rasakan. Ia menjadi tempat pelampiasan sang ibu. Ia bukan sekadar memandang pertengkaran, melainkan juga dipukul dan diamuk. Akibatnya, Arham tertekan. Saya belum menjelaskan kondisi dua anak yang serupa tapi berbeda jalan ini kepada kepala sekolah. Saya masih ingin mengetahui Roni dan keluarganya. Setelah itu, saya bakal cerita.
Bapak Arham
Anak itu gantung diri semalam. Yang menjengkelkan, saat mati begini masih saja menyusahkan. Arham meninggalkan surat yang ditemukan polisi, dan kini mereka mencecarku habis-habisan. Tak anak, tak ibu, sama-sama kurang ajar.
Mamak Arham
Aku yang menemukan Arham gantung diri. Semula aku kira ia bermain-main, tapi ternyata betulan. Sontak aku menjerit tak keruan. Bagaimanapun, Arham adalah anakku dengan Karman. Tapi laki-laki itu selalu menuduhku selingkuh. Karman menganggap Arham berasal dari benih laki-laki lain. Padahal aku tak pernah bertemu Ra’is, kekasihku sebelum menikah. Karman tak percaya. Ia berhenti bekerja dan memilih sabung ayam. Malamnya ia bermain judi dan perempuan. Ia juga menghabiskan uang hasil penjualanku di warung. Aku tak kuasa melawan. Aku hanya mampu melampiaskan pada Arham. Kini anakku ini pergi tanpa pamit. Yang membuatku menyesal, kemarin pagi aku tak memberinya uang saku. Aku tak menyuruhnya makan dahulu. Sepulang sekolah, aku juga tak memintanya makan sebab aku masih bertikai dengan Karman.
Roni
Namaku Roni. Usiaku empat belas tahun. Saat istirahat kedua, Pak Fajar menyodorkan sebuah amplop dengan nama pengirim yang tak aku kenal. Katanya, tadi ada pak pos mengirim dua surat. Satu untukku dan satunya untuk Pak Fajar. Saat dibuka, ternyata surat itu dari Arham yang mati semalam. Selesai membaca, Pak Fajar memintaku ke ruangan kepala sekolah. Di sana ada bapak yang menuding-nuding kepala sekolah. Bapak meminta meninjau ulang atas keputusan kepala sekolah mengeluarkan aku dari sini. Bapak juga memintaku merekam yang nantinya akan di-upload di media sosial agar viral.
“Kalau Bapak memandang perbuatan Roni yang menghantam, menelanjangi, dan menjadikan Arham budak adalah kenakalan biasa, silakan Bapak didik sendiri di rumah. Silakan pula upload video yang Bapak rekam sekarang. Asal sebelum itu, Bapak buka gawai lebih dulu. Niscaya Bapak akan melihat video perbuatan Roni yang sedang viral sekarang. Saya khawatir, Roni tak bakal kuat melihat caci maki dari ribuan netizen, lalu dia memutuskan menyusul Arham.” ***
.
.
Lahirnya Jam-Jam Gelisah di Sekolah dan Rumah. Lahirnya Jam-Jam Gelisah di Sekolah dan Rumah. Lahirnya Jam-Jam Gelisah di Sekolah dan Rumah.