Cerpen Yoza Fitriadi (Singgalang, 30 Januari 2022)
“MALA, terima kasih. Akhirnya kau mau menerima ajakanku untuk makan malam di tempat ini. Apakah kau suka suasananya?” Tanya Rian dengan tatapan serius.
“Ya, tentu saja. Dinner terbaik yang pernah kulalui.”
Senyumku terpantul di gelas kristal, ada lengkung bulan sabit di sana. Banyak yang bilang aku mewarisi senyum milik ayah, sesuatu yang kusangkal sampai kapanpun juga.
“Purnama tak beranjak, gemintang pun berkedip menghiasi pekatnya malam. Biarlah mereka menjadi saksi. Cut Kumalahayati, maukah kau menerima lamaranku kali ini? Menjadi pendamping hidupku untuk mengikat janji sehidup semati?”
Lelaki yang sudah menjadi pacarku selama tujuh tahun itu berlutut sembari mengeluarkan sebuah cincin dari kotak beludru merah. Mengundang tatapan pengunjung lain restoran elite yang kami tempat di kota ini. Mata-mata penasaran, mungkin saja bagi mereka ini adalah tayangan film romantis yang disadur dalam kehidupan realita.
“Maaf, Rian. Ini bukan waktu yang tepat. Aku belum siap.”
Paras kecewa hadir di sekitar. Hanya lima detik berlalu, mereka kembali sibuk dengan menu makan malam di meja masing-masing. Menghiraukan laki-laki berdasi kupu-kupu dalam balutan jas hitam yang kembali duduk dengan perasaan teriris.
“Kenapa, Mala? Bukankah bulan lalu kau bilang bersedia untuk jalinan yang lebih serius?”
Hanya gelengan kepala yang ia dapat sebagai jawaban. Bagaimana lisanku bisa bertitah, jika kelu menyerang raga? Sedari tadi keringat membasuh telapak tangan, menyambut gemetar hebat yang membuat pikiranku buntu.
“Mala. Ini adalah kali keempat aku mengutarakan keseriusan. Perlu berapa lama lagi aku harus menunggu? Tak cukupkah puluhan purnama menjadi bukti cintaku padamu?”
“Aku juga menaruh cinta. Tapi aku belum siap, itu saja.”
“Lalu kapan kau siap? Atau ada orang ketiga yang membuatmu ragu?”
Tatapan Rian berubah. Ia yang amat jarang marah kali ini mukanya memerah. Hanya sesaat, untuk kemudian seperti menyesal hendak minta maaf.
“Orang bijak bilang lebih baik sedikit terlambat untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, dari pada tergesa-gesa namun harus memulai kembali dari awal.”
Kutinggalkan meja makan mewah beserta sang pemesan yang harus booking tempat minimal dua hari sebelumnya. Ia tak mengejar, sudah tahu kebiasaanku yang butuh waktu untuk sendirian.
Taksi yang kutumpangi perlahan bergerak membelah jalanan kota. Pikiranku kacau, ragaku pun mulai tak enak.
“Maaf, Bu. Anda tak apa-apa? Apa perlu kita ke rumah sakit terlebih dahulu?” Tanya supir agak cemas.
“Tak perlu, Pak. Antarkan saja saya ke alamat yang tadi disebutkan.”
Ia mengangguk, pandangannya kembali fokus ke jalanan di depan.
***
Batinku masih berkecamuk. Sebutir obat penenang cukup membantu atas kecemasan yang melanda hebat. Rian kembali mengharapkan pernikahan yang sebetulnya diidamkan oleh seluruh kaum perempuan manapun, termasuk aku sendiri. Tapi lagi-lagi perasaan itu datang. Khawatir apakah kelak aku akan bahagia? Apakah anak-anak kami esok akan tumbuh sehat? Apakah nantinya pekerjaan kami tak terganggu karena telah berumah tangga? Beribu pertanyaan menghujani alam bawah sadarku untuk beberapa lama.
Kantuk tak langsung menjemput tatkala ragaku telah berbaring di kamar. Khawatir itu tak jua lenyap. Psikiater mendiagnosaku menderita gangguan kecemasan berlebihan, kompilasi kejadian masa lalu yang menimbulkan trauma hingga menimbulkan rasa takut akan hal-hal yang akan terjadi di masa akan datang.
Aku ingat bagaimana menderitanya tatkala harus menanggung akibat gangguan ini. Tak hanya emosi dan pikiran yang digrogoti, tapi fisik pun ikut tak bisa diajak kompromi. Bulan lalu misalnya, rencana kantor yang menugaskanku dinas ke Belanda harus dibatalkan. Bayangan akan perjalanan jauh hingga belasan jam di pesawat membuat pikiranku kalut, ditambah lagi dengan berita kecelakaan salah satu armada maskapai penerbangan membuatku mual berhari-hari lamanya.
Hal yang lebih parah justru pernah terjadi saat kuliah S2. Ujian akhir tesis yang mengharuskanku untuk presentasi di depan dosen penguji berakhir dengan kepanikan. Cemas akan kegagalan muncul, menguapkan persiapan yang telah kususun. Tiba-tiba ada sesak yang menyerang dada beberapa menit sebelum namaku dipanggil. Peluh mengucur deras di tengah ruangan ber-AC yang semestinya tenang menyejukkan. Ragaku tumbang seusai mengucapkan salam awal, mengharuskanku menginap di rumah sakit selama dua malam.
Ya Tuhan, mengapa harus ada masa depan? Tak bisakah aku berada di hari-hari yang tenang, tanpa perlu hari esok yang tak pasti? Bayangan ayah kembali datang menghampiri mimpi burukku. Obat tidur yang kutenggak tak lagi ampuh mengembalikan mataku untuk mengatup.
***
“Kek, bagaimana caranya agar bisa optimis dengan hari esok?”
Keluargaku satu-satunya yang tersisia di rumah ini menatapku tenang. Ia tak langsung menjawab, lebih memilih untuk menghirup kopi yang tinggal menyisakan ampas hitam di dasar gelas. Sengaja kusimpan handphone di dalam saku, kakek amat tak suka bila ia bicara namun sang lawan tak lepas pandangan dari layar dalam genggaman.
Aku amat setuju dengan hal itu. Teknologi perlahan mulai merampas indahnya masa kanak-kanak dengan game atau drama Korea. Menghilangkan kekerabatan dan keharmonisan keluarga saat makan bersama, tetapi sibuk dengan gawai masing-masing. Mungkin ada benarnya perkataan tokoh fisika idolaku, Albert Einstein. I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots. Teknologi hari ini telah melampaui interaksi antar manusia.
“Mala, kuncinya hanya satu. Ajaklah hatimu untuk berdamai dengan masa lalu.”
“Sudah kucoba, Kek. Tapi selalu gagal. Rasa cemas selalu datang menyergap.”
Ayah dari ibuku itu kembali menenggak isi cangkirnya. Kemudian tertawa kecil, lupa bahwa cairan kopi miliknya telah habis beberapa waktu yang lalu.
“Kau ingat, Mala? Waktu itu kau pernah bercerita saat awal-awal bekerja. Kecemasan selalu melanda saat bosmu mengajak rapat, khawatir bila kau akan mendengar kabar pemecatan. Atau bagaimana kecemasanmu datang ketika anak karang taruna datang ke rumah, takut bahwa itu adalah maling yang menyusup padahal mereka hanya meminta sumbangan acara Agustusan.”
Kali ini tawaku yang ganti menyisir udara. Kakek adalah satu-satunya orang yang paling bisa kuandalkan untuk berbagi cerita. Ada ketenangan yang hadir, seperti halnya dengan sejuknya udara yang kuhembuskan ke ujung jilbab yang menutup poni.
“Kejadian di masa silam tak perlu kau berikan ruang untuk berkembang. Biarkan ia tetap ada di sana, jadikan pelajaran dan kisah guna menjadi petuah untuk detik selanjutnya. Jangan buat ia menjadi beban. Your life is here and now.”
Aku hendak tertawa dengan aksennya yang sengaja agak kebarat-baratan.Tapi tetap kucatat baik-baik dalam hati.
“Kembangkan layarmu menuju dermaga selanjutnya. Rian adalah anak yang baik, kenapa harus ragu? Insya Allah, ia bisa membimbingmu untuk membangun banhtera rumah tangga yang bahagia. Jauh lebih baik dari ayahmu.”
Aku yakin Rian tadi malam telah menelepon kakek. Entah apa yang mereka bicarakan. Bayangan kelam masa lalu tentang ayah kembali datang, mimpi buruk yang setiap malam merusak mimpi-mimpi harapan. Tatkala ayah yang memilih berpisah untuk menikah lagi dengan perempuan lain. Mengharuskanku menjadi anak yatim, tak sudi tinggal dengan ibu tiri. Lalu ibu yang sakit-sakitan tak kuat menanggung sedih, ikut pergi hingga menjadikanku piatu seorang diri di depan makamnya saat usiaku masih amat kecil. Hal yang membuatku sulit untuk mempercayai laki-laki. Cemas akan masa depan yang tak kunjung pasti.
“Masa depan harus dipersiapkan dengan matang, tabungan berguna untuk mengantispasi banyak hal. Tapi ingat, jangan terlalu mencemaskannya berlebihan. Sama saja dengan kau membeli furnitur untuk rumah yang bahkan belum dibangun, Mala. Saat barang-barang tersebut berada di genggaman, kau tak punya tempat untuk meletakkannya. Hingga ia akan memadati hidupmu sekarang. Biarkan ia mengalir. Bukankah agama kita mengajarkan untuk seimbang, bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selama-lamanya dan beribadahlah untuk akhirat seakan-akan kau akan mati besok.”
Tawa lagi-lagi keluar meski amat tipis. Kali ini kakekku sudah bertransformasi menjadi ustadz. Namun tetap saja akan kuingat baik-baik.
“Cut Kumalahayati. Nama yang indah, ayahmu yang memberikannya.”
Dadaku kembali sesak mendengarkan orang itu disebut.
“Kumalahayati adalah seorang pejuang perempuan dari tanah Aceh, laksamana perempuan pertama di dunia yang memimpin ribuan pasukan melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda hingga mereka minta maaf karena kalah. Pelaut perempuan tangguh yang membuat Inggris gentar bahkan sebelum bertempur. Pahlawan yang gugur oleh pasukan Portugis dalam upaya mempertahankan bangsa dari penjajahan asing.”
Batinku bergemuruh. Wajah ibu berkelebat saat kakek mengucapkan kata gugur.
“Ibumu pun seorang pejuang tangguh, bertarung nyawa demi melahirkan anaknya. Ia ingin kau bisa menjadi pejuang tangguh selanjutnya yang akan mengabdi pada negeri ini. Termasuk keinginan terakhirnya agar kau bisa memaafkan ayahmu. Itu wasiat terakhirnya, Mala. Cobalah untuk belajar menerima, berdamai dengan masa lalu. Gapai kebahagiaanmu untuk hari ini, esok dan selanjutnya.”
Kupeluk kakek yang masih berdiam di kursi roda. Air mataku membasahi punggungnya. Ada gumpalan pekat yang terasa mencair, lega itu mengalir di seluruh pembuluh nadi. Tepat saat kulapangkan dada, mengikhlaskan kata maaf tanda penerimaan. Sebuah notifikasi percakapan WhatsApp masuk.
“Yesterday is history, tomorrow is mistery and today is gift. Rian”
Senyumku kembali terpantul dari gelas di meja. Lengkung bulan sabit yang kata orang mirip dengan milik ayah tampak di sana. Kali ini aku tak lagi alergi dengan pendapat itu.
“Rian, itu bukan quotes punyamu. Itukan film Kungfu Panda. Maaf untuk yang kemarin. Nanti malam ke rumah ya, kakek mau bicara tentang pernikahan kita.”
Mentari perlahan beranjak naik. Tak ada lagi doa untuk meminta esok hari yang tiada. Semoga hari-hari esok akan selalu bahagia. ***
.
.
Semoga Tak Ada Hari Esok. Semoga Tak Ada Hari Esok. Semoga Tak Ada Hari Esok. Semoga Tak Ada Hari Esok.