Gantung Pena

Cerpen Kak Ian (Radar Madiun, 30 Januari 2022)

TIDAK ada yang tahu dari mana aku mendapatkan uang selama ini. Aku bisa beli kuota internet, bisa beli buku incaran penulis idola, dan menonton film bioskop sebagai hobi yang tidak bisa aku hilangkan.

Pun aku bisa berlangganan koran kepada Pak Tua yang saban Sabtu-Minggu datang ke rumah untuk mengantarkan koran. Bukan itu saja, aku juga bisa mengajak kekasihku, Maya, pergi jalan-jalan.

Namun, ketika aku bisa mengalungkan kalung emas ke leher ibu—sebagai rasa syukurku sebagai anak—akhirnya ibu tahu bahwa semua yang aku hasilkan dari mengirimkan tulisan ke koran dan menulis novel.

***

Ya, walaupun aku masih ingat sampai sekarang, di kala siang yang begitu terik membakar kulit. Saat aku ingin melangkah keluar untuk mengirimkan sebuah tulisan ke kantor pos. Namun, belum beberapa derap langkah, aku sudah dihentikan oleh suara ibu. Mungkin itu sebuah larangan. Lebih tepatnya menghempaskan impianku. Entah.

“Kamu mau ke mana?” tanya ibu saat itu.

“Mau ke kantor pos, kirim tulisan,” jawabku.

“Kamu mau menjadi penulis? Memangnya bisa kaya?” Ibu kembali bertanya dengan ketus.

Tidak sampai di situ, ibu masih lanjut menggoyahkan tekadku.

“Ingat, menjadi penulis itu banyak musuhnya, apalagi jika ada yang tidak suka atas keberhasilanmu!” sergahnya.

Seketika itu dadaku berdegup kencang. Seperti baru saja lari dari kejaran anjing kudis kala aku masih mengenakan seragam putih-merah. Sangat menakutkan.

Saat ibu berkata demikian, aku hanya diam membisu. Kupaksakan kaki melangkah menuju kantor pos terdekat untuk mengirimkan tulisanku di dalam amplop cokelat susu itu—berharap ada takdir baik menyertaiku nantinya.

“Aku pamit dulu ya, Bu! Doakan agar tulisanku bisa dimuat di koran.”

Walaupun hati sesak saat ibu berucap demikian, aku mencoba untuk berdamai. Toh tidak baik bila aku bertikai, apalagi membalikkan ucapan ibuku. Bagaimanapun dialah yang melahirkan aku. Tak patut kubalas dengan laku yang buruk. Akhirnya kubalas saja dengan lengkungan pelangi terbalik di atas bibirku sambil tangan menggenggam amplop cokelat susu itu, erat-erat.

Siang itu kurasakan terik matahari makin panas sampai aku begitu dahaga. Terlebih setelah aku mendengarkan ucapan ibu yang sangat pedih, melarangku menjadi penulis. Makin terasa kering saja kerongkonganku saat itu.

Akhirnya, sambil menahan dahaga, aku pun melanjutkan tujuanku ke kantor pos terdekat—dengan berharap keyakinan. “Semoga tulisanku ini membawa berkah nantinya,” batinku penuh harap.

Namun, semua yang aku ceritakan di atas adalah dulu. Masa silamku. Di masa-masa hatiku terus bergejolak; apakah aku harus menuruti ucapan ibu atau berdiri pada keyakinan sendiri.

Saat itu aku hanya seorang diri. Walaupun sikap dan pendirian ibu masih tetaplah sama sampai sekarang. Ia tidak pernah berubah. Ia (masih) melarangku menjadi penulis.

***

Kini sudah berbeda. Impianku menjadi penulis terkabul. Karya-karyaku dimuat di berbagai koran. Buku-buku yang aku tulis best seller di pasaran. Sementara ibu masih kukuh pada pendiriannya. Ia masih melarangku menjadi penulis. Ia menginginkan aku menjadi pegawai negeri atau guru ASN yang kehidupannya terjamin sampai hari tua.

Padahal saat ini aku punya usaha sampingan mendirikan toko online bersama Maya. Kekasihku itu sering mendapatkan endors setiap kali kami mengadakan live streaming di media sosial. Ada saja yang mengordernya. Apalagi kami satu almamater di jurusan dan kampus yang sama.

Usaha sampingan yang aku miliki tidak lantas membuat ibu menyukai pilihanku saat ini. Ibu tidak mengungkapkan secara tersurat padaku, melainkan tersirat dari ucapan maupun gesturnya. Ia sangat menentangnya.

Namun, hal itu seperti jawaban untukku. Agar aku berhenti memimpikan sesuatu yang tidak menjamin masa depanku. Itulah ibu.

Memang, ibu tidak pernah menghardik atau meremehkan tulisan-tulisan yang aku hasilkan. Apalagi ia sering melihat tatkala aku sedang menulis di ruang tamu. Namun, ibu masih tetap membenci impianku itu. Aku beruntung masih memiliki Maya. Ia tidak termakan bujuk rayu ibu agar memengaruhi impianku.

Hal itu pun menjadi pertanyaanku pada Maya. Hingga pada suatu senja, di taman yang dipenuhi pohon ketapang, aku menanyakan hal itu. Apakah ibu pernah mengusik dirinya tentang pilihanku.

Maya pun bilang padaku: ibu sama sekali tidak berkata apa-apa padanya. Tidak pernah menyenggol tekadku itu. Aku yang saat itu mendengar jawaban Maya, menjadi lega sampai saat ini.

***

Aku tahu ibu adalah pribadi yang mulia dan bijak. Ia tak pernah menghardik atau meremehkan apa yang aku hasilkan. Tidak pernah sekalipun!

Hingga aku teringat pada Fulan. Teman sekomunitas yang punya impian sama denganku. Sayang, di tengah jalan aku mendengar desas-desus tentang dirinya. Menurut orang-orang terdekatnya, ia ingin menggantung pena. Ia tidak kuat meneruskan impiannya itu. Banyak yang mem-bully dirinya, bahkan ada juga yang ingin menjatuhkan mentalnya. Sampai ada pula yang ingin menutup pintu rezekinya. Bukankah jahat sekali mereka itu—yang melakukan pada diri si Fulan?

Saat itulah aku mengajak Fulan untuk bertukar cerita. Kuajak dia ke kafe langgananku. Saat senja belum tenggelam dari balik kaki langit, kami pun menghampiri kafe itu.

***

“Apakah untuk menjadi penulis harus memiliki karya yang bagus dulu, hingga boleh disebut sebagai penulis? Tapi, kalau karya kita tidak bagus, apakah orang boleh seenaknya meremehkan dan menghina?”

Akhirnya keluar juga sepatah ucap dari mulut Fulan. Walaupun agak lama aku menunggu ia membuka suara. Aku tidak lantas menjawab. Kudengarkan isi perut Fulan itu sampai usai, agar ia bisa lega. Bukankah itu yang harus aku lakukan sebagai pandengar yang baik?

Tak terasa kami begitu menikmati pertemuan di senja itu. Sampai kulihat langit mulai gelap. Mendung di musim hujan ini membuatku ingin segera pulang. Aku tidak ingin terjebak banjir di tengah jalan.

Akhirnya kami menyudahi perbincangan. Lebih tepatnya sebuah cerita. Riwayat seorang (calon) penulis yang hampir apatis karena sebuah ucapan selaksa belati dari orang-orang yang antipati.

“Aku yang bayar ya. Kebetulan honorku cair. Minggu lalu cerpenku dimuat.”

Fulan tersenyum simpul. Aku senang melihat dia kembali tersenyum. Ah, perbincangan sore itu tiba-tiba membawaku pada suatu momen yang lebih membuatku bahagia. Aku terngiang ucapan ibu pada suatu sore di teras depan rumah, kala aku sedang menyelesaikan novelku yang belum rampung kutulis.

“Ibu memang tidak merestui impianmu. Tapi ibu bukanlah monster yang mematikan semangat orang untuk terus maju. Ibu tidak seperti mereka yang membuat apatis orang lain. Ibu bukanlah seperti itu. Ibu tidak pernah meremehkan dan menghardik karya siapa pun. Begitu juga denganmu sebagai anakku. Apa kamu pernah mendengar Ibu mengatai karyamu tidak bagus?”

Ya, demi Tuhan. Aku tidak pernah sekalipun mendengarkan ibu berkata demikian. Aku tidak pernah mendengarnya.

Sebab, ibu sangatlah tahu dampak dari semua itu. Ia sangat tahu.

Maka dari itu, ibu tidak pernah melakukan apa pun padaku. Ibuku adalah seorang mantan redaktur yang menggawangi rubrik sastra dan budaya di surat kabar. Sayang, surat kabarnya gulung tikar dampak krisis moneter. Akhirnya ia kembali menjadi seorang ibu rumah tangga biasa. Mengurusi bapakku dan diriku sebagai anak semata wayangnya yang ingin meneruskan impiannya itu.

Kalau sudah begitu, apakah kamu juga mau meneruskan impianku ini jika aku nanti menggantung pena? ***

.

.

KAK IAN. Aktivis dunia anak dan penikmat sastra, bergiat di Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

.

.

MAKLUMAT

LITERA Jawa Pos Radar Madiun menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, dan esai. Naskah berupa file Microsoft Word dengan maksimal 800 kata untuk cerpen; 500 kata untuk esai; dan maksimal 5 puisi. Cantumkan uraian singkat identitas diri dan kirimkan karya lewat surel ke alamat radarmadiun.litera@gmail.com 

.

Gantung Pena. Gantung Pena. Gantung Pena. Gantung Pena. Gantung Pena

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia