Cerpen AM Lilik Agung (Media Indonesia, 30 Januari 2022)
Warsa 2020
TIBA-TIBA menjadi sunyi. Senyap. Tiada suara gitar blues yang meraung-raung murung di kafe-kafe sepanjang boulevard Victor Hugo. Nice, kota kecil Prancis selatan yang nyaris tidak pernah tidur, kali ini terlelap panjang. Mirip denganku, yang lebih banyak terlelap di ranjang apartemen. Apartemen lantai dua belas tipe studio dengan satu kamar tidur, secuil dapur, dan sedikit ruang kosong, tetapi sudah penuh sesak dengan berbagai perkakas produksi film. Balkon kecil menjadi tempat kemewahan untuk melepas kejenuhan. Dari balkon, kulihat boulevard Victor Hugo yang biasanya penuh orang nyaris tiada kehidupan. Hanya terdengar sirene mobil polisi atau ambulans.
Aku, yang baru menjalani residensi mengelola pertunjukan film di Nice selama tiga bulan, terpaksa menetap di kota ini entah sampai kapan. Datang dari Yogya Januari 2020. Program residensi harusnya kelar akhir April 2020. Tiba-tiba pertengahan Maret 2020 pemerintah Prancis menutup semua wilayahnya dari pergerakan manusia.
Aku bersama empat ratus ribu penduduk Nice terkurung dalam rumah. Aku pergi hanya ke supermarket yang ada di lantai dasar tower tiga. Membeli kebutuhan sehari-hari untuk kemudian terkurung hingga satu minggu.
Juli 2020 Rabu minggu pertama. Petang hari aku keluar kamar, ingin menikmati sebotol cola. Tiba di pinggir jalan, pada sebuah taman di seberang jalan terdengar suara musik. “Akhirnya,” aku membatin. Terkurung empat bulan memang membawa kejenuhan tingkat tinggi. Kutuju taman di seberang jalan. Ada belasan orang duduk di atas rumput berjarak dua meteran. Mengelilingi panggung berisi tiga musisi; gitaris, basis, dan drumer. Aku ikut duduk meriung di depan panggung.
“Ayo, siapa lagi yang mau menyanyi,” undang gitaris ke arah penonton. Baru tahu aku, ini pentas musik dadakan. Siapa pun bisa menjadi penyanyi.
Menuju panggung seorang gadis ayu, wajah perpaduan Eropa dan Afrika Utara. Meluncur lagu milik Bon Jovi, It’s My Life. Lagu rancak yang membuat belasan orang yang meriung di taman ikut bernyanyi. Bibirku yang sudah lama membisu, aku gunakan untuk bernyanyi sekencang-kencangnya.
“Siapa yang mau bernyanyi bersama diriku?” tanya si gadis ayu. Tanpa berpikir panjang aku berjalan ke arahnya. “Kita nyanyi lagu apa?” tanyaku.
“Lagu yang bisa untuk bergoyang bersama, Viva La Vida,” ujarnya.
Lagu milik Coldplay meluncur dari bibir kami. Penonton yang tadi duduk langsung berdiri. Jaga jarak yang menjadi kampanye global gagal total petang ini. Kami bergoyang. Kami bersuka. Seakan-akan tiada pandemi.
“Ada pan bagnat enak di pengkolan jalan. Ayo, kita ke sana,” ajak si gadis ayu ketika konser musik dadakan kelar. Aku belum bereaksi. Ia menatapku, “Aku yang nraktir. Orang yang terdampar berbulan-bulan di sini seperti dirimu pasti duitnya sudah tipis.” Dia tertawa renyah. Aku senang dengan selera humornya. “Ayo,” jawabku.
Kami menelusuri boulevard Victor Hugo. Tepat di pengkolan jalan, kedai makan itu tersua. Malam yang istimewa. Setelah empat bulan, akhirnya aku menikmati pan bagnat, sandwich khas Nice. Tentu dengan teman baruku nan ayu; Alexandra Danella Hamdi. Ibunya asli orang Nice. Hamdi dicomot dari nama ayahnya yang berasal dari Tunisia.
Xandra lama tinggal di Tunisia. Baru balik ke kampung ibunya ketika kuliah di Universitas Nice Sophia Antipolis. Strata satu ambil teknologi pendidikan.
“Master aku ambil sejarah Afrika. Aku ingin mendalami mengapa negeri asal ayahku lama dijajah oleh negeri asal ibuku,” kata Xandra, “Kamu sendiri, mengapa di Nice?”
“Ada program residensi mengelola pertunjukan film yang ditawarkan pemerintah negeriku. Sebenarnya mau ambil residensi di Cannes. Hanya semua serbamahal di Cannes. Ya sudah, residensi saja di Nice. Lagi pula, jarak Nice dan Cannes hanya dua puluh enam kilometer,” aku teguk kopi latte.
“Dan tahun ini Festival Film Cannes ditiadakan,” Xandra berucap sambil memotong pan bagnat.
Perjumpaan pertama dengan Xandra kemudian berbuntut panjang. Pelonggaran terbatas yang diberikan pemerintah lokal Nice kami pergunakan sebaik-baiknya. Aku beruntung berkawan dengan Xandra. Sebagai penduduk lokal Nice, Xandra memiliki keleluasan jika dibandingkan dengan pendatang seperti diriku.
“Tunanganku. Seharusnya kami menikah di bulan Juni. Pandemi sialan yang menunda pernikahan kami,” kata Xandra kepada petugas pamong praja yang menegur kami lantaran kami terlalu lama duduk di kedai kopi menikmati sore berteman secangkir capuccino dan croissant isi tuna.
Kami tinggalkan kedai kopi. Di hadapan petugas pamong praja, Xandra menggenggam erat tanganku. Ratusan meter kami berjalan, tangan Xandra tetap berada dalam genggamanku. Sebelum akhirnya tanganku berpindah melingkar ke pinggang Xandra. Menelusuri Jalan Auguste Renoir, terlihat museum seni rupa. Sepelemparan batu dari museum, di situlah rumah Xandra.
“Terima kasih atas hari yang indah ini, Xandra,” kutatap wajah melankolinya. Secuil lipstik di bibir Xandra kemudian berpindah ke bibirku. Malam ini, kubiarkan lipstik Xandra yang ada pada bibirku menemani tidur malamku.
Lalu semua menjadi gelap. Telepon dari Yogya. Ibu dikabarkan terpapar oleh covid-19 gelombang kedua yang menimpa negeriku. Ibu yang napasnya sudah tersengal-sengal baru dapat rumah sakit setelah tiga hari isolasi mandiri di rumah. Aku anak semata wayang di negeri nun jauh. Tiada bisa bertindak apa-apa.
Hari keenam di rumah sakit, perawat video call diriku. Wajah ibu tirus. Suara ibu tidak keluar. Namun, aku mengerti mimik ibu. Ibu kangen dengan bapak yang sudah menuju nirwana tiga tahun lalu. Gelap menjadi pekat. Ibu menuju nirwana tiada bisa aku tunggui.
Berhari-hari aku mengurung diri di apartemen. Pandemi memang terlampau kejam. Aku tidak dapat mengantar ibu menuju rumah abadi. Hari kedelapan, pintu apartemenku dibuka seseorang. Xandra!
“Tiada gunanya kau terbenam lama di sini. Meratapi yang tidak mungkin bisa kembali. Cepat kemasi barang-barangmu. Kau bisa tinggal di rumahku. Uang sewa apartemen bisa kamu alihkan untuk hal lain,” Xandra memerintah tanpa memberikan kesempatan untuk berdiskusi. Aku ikuti perintahnya. Kukemasi barangku. Satu koper besar berisi pakaian, koper satunya lagi dipenuhi perkakas film.
“Ada empat kamar di sini. Satu kamar tempat orang tuaku jika pulang dari Tunisia. Dua kamar kosong yang bisa ditempati siapa saja. Satu kamar lagi tempat aku merebahkan diri. Terserah kamu memilih kamar yang mana,” Xandra menunjukkan kamar-kamar yang ada di rumahnya. Aku memilih tidur di kamar Xandra. Terlampau luas kamar tidur Xandra apabila hanya dia tempati sendirian.
Ritual hari-hariku kemudian berubah. Hidup menjadi penuh warna. Xandra. Ya, dirinya yang menciptakan aneka warna di tengah dunia yang sedang murung diterjang pandemi. Berbekal sarjana pendidikan dan master sejarah, ternyata pengetahuan Xandra lintas ilmu. Kami bisa berjam-jam mendiskusikan film-film karya Christopher Nolan. Kami berdebat panjang tentang novel terbaik Paulo Coelho. Bosan berdiskusi, kami berjalan kaki menelusuri ujung ke ujung pantai yang membentang sepanjang Kota Nice.
Lalu gelap nan pekat menimpa Xandra. Musim semi Arab, yang dimulai di Tunisia, pada Februari 2011 ternyata belum tuntas. Sembilan tahun tetap penuh onak. Ketika kunyalakan televisi France24, diwartakan ketegangan di Tunisia. Terpampang wajah tokoh oposisi bernama Hamdi. Aku baru mengetahui, ayah Xandra ternyata oposisi garda depan pemerintah Tunisia.
“Ayahmu, Xandra?” aku bertanya.
Xandra sejenak menatap layar televisi.
“Ya begitulah,” jawab Xandra pendek.
“Jadi ayahmu yang menggerakkan rakyat Tunisia untuk menuntaskan musim semi Arab?” aku terus bertanya.
“Ya begitulah,” jawaban Xandra statis, tak berubah.
Bukan gempuran pemerintah yang membuat ayah Xandra tumbang, melainkan serbuan virus varian baru yang membekap Tunisia. Aktivitas nan padat, selalu hadir di tengah kerumunan massa. Ayah sekaligus ibu Xandra tumbang diserang virus. Sayang virus varian baru terlampau ganas. Ayah dan ibu Xandra tiada mampu melawan. Mangkat menuju nirwana.
Mirip dengan diriku ketika ditinggal ibu, Xandra mengurung sendirian di kamar. Mempersilakan diriku untuk menggunakan kamar yang lain. Pada hari kelima baru keluar kamar. Duduk di kursi, berhadap-hadapan denganku. Teh hangat menemani.
“Agung….” bisik Xandra lirih.
Kutatap wajah kuyunya.
“Nikahi aku. Bawa aku ke mana pun kamu pergi. Aku takut tinggal di sini. Terkenang ibu, terbayang ayah.”
Warsa 2025
Pendopo rumah yang aku jadikan studio film riuh dengan berbagai aktivitas kawan-kawan. Film dokumenter penyintas covid19 yang kehilangan keluarganya. Terpuruk lama dan kemudian bangkit menyongsong masa depan, tinggal proses editing. Ada tiga seri yang akan ditayangkan di berbagai platform virtual film. Satu lagi film untuk konsumsi festival. Cerita cinta anak manusia beda negara, sama-sama korban pandemi. Si laki-laki, ibunya direnggut virus ketika dirinya sedang di luar negeri. Si wanita, lebih melankoli. Kedua orang tuanya meninggal di negeri seberang karena pandemi. September bulan ini dibawa ke Festival Film Toronto.
“Ayah, berangkat dulu, ya,” Dewi Ratih, anakku yang berusia tiga tahun, berlari kecil menyeruak di antara kawan-kawan.
“Cantik sekali pagi ini, kamu Ratih. Sini, Ayah cium dulu.” Anakku mendekat. Kubopong tubuhnya. Kucium kedua pipi gembulnya. Kulepas kembali. Ratih berlari meninggalkan pendopo. Di pinggir pendopo, terlihat istriku. Mimik bibirnya terlihat mengucap, “Berangkat.”
Aku lambaikan tangan ke arahnya. Lalu cium jauh meluncur dari bibirku. Istriku, Alexandra Danella Hamdi, membuka pendidikan gratis luar sekolah. Berjarak satu kilometer dari rumah, di pinggiran barat Kota Yogya. Xandra dibantu para relawan lainnya saban hari dari pagi hingga sore mengajarkan berbagai keterampilan bagi anak-anak. Anak-anak yang ditinggal mati orang tuanya akibat pandemi lima tahun lalu. ***
.
.
AM Lilik Agung, kelahiran November 1970 yang telah menulis berbagai buku bisnis dan fi ksi. Cerpennya ini ialah pemenang III kategori umum/mahasiswa Sayembara Cerpen Media Indonesia 2021.
.
.
Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com
.
Warsa 2020-2025. Warsa 2020-2025. Warsa 2020-2025. Warsa 2020-2025. Warsa 2020-2025. Warsa 2020-2025.