Cerpen Juli Prasetya (Suara Merdeka, 20 Februari 2022)
SETELAH menerima kabar pemecatan Mas Nganten Gandakusuma atau Tumenggung Yudhanegara IV sebagai Adipati, Gendong Lontong hanya bisa termangu menyimpan kesedihan, kemarahan, dan dendam itu seorang diri.
Tumenggung Yudhanegara dipecat menjadi Adipati oleh Susuhunan karena dianggap berkomplot dengan pasukan Bugis untuk memberontak kepadanya. Hal ini tentu saja hanya ketakutan dan kekhawatiran sepihak Susuhunan yang sama sekali tak tebukti.
Gendong Lontong sangat terpukul mengetahui hal itu karena Mas Gandakusuma merupakan keturunan kerabatnya, yakni Mas Mertanegara, atau Tumenggung Yudhanegara I yang dihukum mati oleh Susuhunan. Maka, berlipat-lipatlah dendam dan kemarahannya itu kepada Susuhunan. Tapi ia tidak mungkin membalaskan dendamnya kepada Susuhunan yang dianggap sebagai titisan dewa itu, keturunan raja-raja Jawa, dengan gelar Kangjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama.
“Aku hanyalah seorang Ketjoe yang memimpin bandit dan bangsat kecil, dan dia Susuhunan titisan dewa tentu saja memimpin pasukan dan bangsat yang lebih besar. Aku tak mungkin melakukan pembalasan dendam dengan menyerang Susuhunan. Tapi mengapa trah Yudhanegara memiliki garis takdir yang begitu aneh dan cenderung bernasib tragis?” pikir Gendong dalam lamunannya, sambil menyimpan dendam dan amarahnya sendiri.
Meski tak begitu akrab dengan Mas Mertanegara, tapi bagi keluarga besar Gendong, ia merupakan kerabat yang paling perhatian kepada keluarganya, ia selalu membantu keluarga Gendong Lontong saat kesulitan. Tapi semenjak hukuman mati itu, kehidupan Gendong yang begitu berat dan keras dimulai hingga lambat-laun membentuk kepribadian dan takdirnya menjadi seperti sekarang, pimpinan ketjoe paling ditakuti di kotanya.
Gendong Lontong adalah murid intelektual dari Ki Ranggaspati, penyamun kawakan yang sudah malang-melintang di dunia perbanditan semenjak era Amangkurat 1.
Ki Ranggaspati dan komplotannya pula yang dulu memaksa raja Mataram itu untuk meninggalkan barang-barang berharganya saat menuju Batavia melewati wilayah kekuasaan Ki Ranggaspati di kota itu. Dari kitab-kitab yang ditulis Ki Ranggaspati dan tanpa sengaja dibaca oleh Gendong Lontong, tentang dunia perbanditan, ia kemudian menasbihkan diri sebagai penerus Ki Ranggaspati.
Setelah Yudhangera IV dipecat, kedudukan Adipati kemudian diturunkan kepada seseorang yang bukan dari trah keturunan lokal kota itu, tapi dari bangsawan keraton Kartasura, yaitu Toyakusuma, Tumenggung Toyakusuma. Namun oleh masyarakat, ia lebih dikenal dengan Tumenggung Kemong, bukan karena ia selalu momong warganya, tapi karena setiap akan menyampaikan sebuah pengumuman, selalu memukul kenong.
Mendapati kenyataan bahwa pemimpin di kotanya bukan berasal dari trah keturunan lokal, Gendong seperti memiliki pelampiasan akan kekesalan, kemarahan, dendam, dan kesedihannya itu. Ia tersenyum senang dengan dirinya sendiri, lalu mengerahkan seluruh rampok dan begal di kota itu untuk membuat kekacauan.
“Silakan kalian berbuat semau kalian di kota ini, tapi satu hal yang tak boleh kalian lakukan, jangan pernah menyentuh orang-orang miskin, perempuan, dan anak-anak. Siapa yang berani melanggar, akan berhadapan denganku!!!” teriak Gendong Lontong.
Kesempatan itu digunakan para gerombolan penyamun untuk membakar rumah pembesar dan orang-orang kaya, membegal para pedagang, mencuri, dan merampok.
Kekacauan terjadi di mana-mana. Tidak hanya di desa-desa, tapi juga merambah ke kota pemerintahan. Kekacauan yang terjadi digunakan oleh Gendong untuk menyerang Kadipaten, dan bertemu dengan Toyakusuma.
Bersama rombongan rampoknya, ia meringsek masuk ke dalam Kadipaten. Ia sudah hafal betul seluk-beluk Kadipaten karena dulu saat masih remaja seringkali bermain di pendapa. Para penjaga dan pengawal Kadipaten satu per satu dilumpuhkan oleh Gendong dan komplotannya. Dan kini Gendong sudah berada di depan pintu kantor Kadipaten, tempat di mana Tumenggung Toyakusuma berada.
Gendong mendobrak pintu, di dalamnya ada seorang lelaki dengan berpakaian khas pembesar sedang duduk.
“Kau kah yang bernama Toyakusuma?” kata Gendong Lonthong, lelaki urakan dengan otot lengan menyembul, dan kain hitam seperti biksu membalut tubuhnya.
“Siapa kau bedebah!!! Masuk ke sini tanpa adab sama sekali. Ada urusan apa kau denganku?” teriak lelaki di dalam kadipaten dengan baju khas pembesar kota itu berdiri menantang.
“Bisa omong besar juga kau ternyata,” ucap Gendong, yang sedetik kemudian berlari mendekat ke Tumenggung Toyakusuma, melompat menaiki meja, dan dengan cepat menghunuskan keris kecil ke leher sang Tumenggung.
“Siapa yang kau panggil bedebah tadi heh?” pekik Gendong.
“Si…Si… Siapa kau?” kata Tumenggung terbata-bata.
Gendong tak segera menjawab pertanyaan sang Tumenggung. Ia malah mengambil kudapan tebu yang berada di meja dan mengunyahnya.
“Akan kuceritakan sesuatu padamu, Tumenggung. Dulu sekali leluhurku sangat membenci orang-orang yang bergelar Toya. Karena mereka adalah penjilat, pengadu domba, sekaligus pengkhianat. Sampai-sampai klan itu tak pernah muncul lagi selama beratus tahun di kota ini hingga sekarang nama klan itu adalah Toyareka. Dan ternyata kini ada orang yang bernama Toya muncul, dan berani sekali mengambil alih Kadipaten yang susah-payah leluhurku jaga, puih!” katanya sambil membuang ampas tebu.
“Siapa kau sebenarnya?” Tumenggung makin gemetaran.
Gendong tetap menghunuskan keris kecilnya ke urat leher Tumenggung dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mengupil.
“Akulah pemimpin para ketjoe, bandit, dan perampok yang mengacaukan masa-masa pemerintahanmu, Tuan Tumenggung,” kata Gendong sambil mengelapkan upilnya di baju pembesar kota itu.
“Pengawal!!! Pengawal!!!” pekik Tumenggung Toyakusuma.
“Percuma saja Tumenggung, semua pengawalmu telah kulumpuhkan, tak akan ada orang yang mendengar rengekanmu. Sekarang begini saja, kau mau aku menggunakan cara kasar atau halus, Gusti Kanjeng Tumenggung Toyakusuma?”
“Apa maumu? Harta, akan kuberikan. Pangkat? Jabatan? Semua akan kuberikan padamu.”
“Brakkk…” Gendong Lonthong menggebrak meja Kadipaten, lalu menarik kerah sang Tumenggung.
“Kau mau menghinaku hah?”
“Lalu apa yang kau inginkan sebenarnya?”
“Tinggalkan kota ini, dan pulanglah ke Kartasura, maka kau akan kulepaskan. Jika besok aku masih melihatmu berada di kota ini, maka rumahmu akan kujadikan sasaran perampokan selanjutnya,” kata Gendong sambil melepaskan Tumenggung dan keluar dari kantor Kadipaten.
“Tunggu, siapa namamu?”
“Kenapa, kau mau mencariku? Baiklah dengarkan ini baik-baik, aku Gendong Lontong, putra Sigaluh, murid Ki Ranggaspati. Carilah aku, kalau tidak aku yang akan mencarimu, lalu kupatahkan lehermu,” kata Gendong Lontong sambil melenggang keluar Kadipaten.
“Bubar semua, pulang, misi kita selesai,” teriak Gendong sambil bertepuk tangan, disertai dengan sorakan para rampok dan begal yang menyertainya.
Setelah mendapatkan tekanan dan ancaman dari Gendong Lontong, Tumenggung Toyakusuma ketakutan setengah mati. Ia tidak bisa tidur tenang selama berminggu-minggu. Ia terus teringat dengan ancaman lelaki urakan yang mengaku bernama Gendong Lontong itu. Sedangkan pembakaran, perampokan, makin marak terjadi. Karena merasa sudah tidak tahan, beberapa minggu kemudian Tumenggung Toyakusuma melarikan diri ke Kartasura.
Karena tindakannya ini, kelak pada kemudian hari, Tumenggung Toyakusuma akan dicatat dalam sejarah sebagai pejabat yang tidak bertanggung jawab, dan akhirnya dipecat. Sedangkan Gendong Lontong tak pernah terdengar lagi sepak terjangnya sebagai penyamun, atau pemimpin para ketjoe. Ia bagaikan ditelan angin, menghilang dalam jejak zamanya sendiri.
Dan bertahun-tahun kemudian seorang juru kisah tua menyadap kisah-kisahnya, lalu menuliskannya kembali di dalam sebuah babad yang tak pernah selesai hingga akhir hayatnya. ***
.
.
Purbadana, 2021
—Juli Prasetya adalah penulis asal Banyumas. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung. Kini ia bermukim di Desa Purbadana RT5 RW2 Kembaran Banyumas.
.
.
Publikasikan karya terbaik Anda (puisi atau cerpen) di Suara Merdeka. Naskah dikirim ke email sastrasuaramerdeka@gmail.com. Jangan lupa sertakan nomer ponsel Anda. Panjang naskah sekitar 7.000 karakter. Ditunggu. Terima kasih. (Redaksi)
.
.