Seperti Bapak

Cerpen Lina Nurdiana (Radar Madiun, 20 Februari 2022)

JIKALAU Tuan hendak pergi menepi di timur Pulau Jawa, sudilah Tuan singgah di kabupaten yang terkenal sebagai Bumi Wali.

Bukan, saya bukan meminta Tuan untuk menziarahi Wali. Saya hanya ingin Tuan singgah jauh menyusuri jalanan yang dinaungi deretan pepohonan kiri kanannya, hingga bertemu sebuah desa yang terkenal akan air terjunnya. Duhai Tuan, di sana asri sekali. Pastilah membuat adem hati. Apalagi ada seorang gadis yang tengah dalam masa menanti, siapa tahu Tuan bisa mencuri dia punya hati.

Namanya Gendhis Maharani. Gendhis, gula, manis. Semanis senyumnya dan tindak tanduknya. Santunnya bukan main. Terampil mengurus dapur, sumur, dan tentunya berpotensi besar untuk pandai mengurus kasur. Kembang desa. Bukan hanya sifatnya yang bersahaja, melainkan kepalanya pun ada isinya.

Gendhis begitu sempurna untuk dijadikan seorang istri. Namun, hingga umurnya hendak memasuki kepala tiga, ia belum juga mau menambatkan hati. Ia punya keteguhan hati yang tidak main-main. Anaknya memang pintar sedari kecil. Kebanggaan desa. Meskipun dilahirkan dari pasangan seorang tukang kayu dan pemilik warung rujak, kepintaran Gendhis jauh melampaui keterbatasan-keterbatasan itu.

Ia memang pintar dari sananya. Cerdas. Kalaulah bapaknya tidak meninggal di saat Gendhis memasuki masa akhir SMA, mungkin nasib Gendhis akan lain. Ia tak harus menjadi penjaga warung rujak seperti sekarang ini. Bapaknya yang pemberani dan penuh dedikasi mungkin akan mengizinkannya menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Surabaya, mengambil jurusan Pendidikan Matematika yang ia cita-citakan, dan tentu akan membanting tulang lebih keras demi masa depan putrinya.

Namun, Gendhis ditinggal bersama ibunya. Ibu yang tidak mau anak semata wayangnya jauh darinya. Ibu yang masih memercayai bahwa perempuan kodratnya adalah mengurus tiga hal: dapur, sumur, kasur. Tidak usahlah seorang gadis menaiki tangga karier yang tinggi. Nanti malah banyak lelaki yang minder untuk menikahinya.

Namun, kecerdasan Gendhis ternyata bukan hanya bergantung pada pendidikan. Kalaupun Gendhis tidak cerdas dalam hal akademik, kecerdasan sosialnya yang menanjak pesat. Berkat dari ia menemani ibunya menjaga warung, Gendhis tumbuh bersama pemikiran-pemikiran para pengunjung yang datang. Obrolan mereka seolah menggodok kepala Gendhis sehingga seorang anak desa seperti Gendhis mampu memiliki cakrawala pemikiran yang luas. Mampu melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang berlainan orang.

Belum lagi Mbah Dimin, pensiunan guru yang senangnya tiap hari datang, sekadar membeli kopi atau sekali-kali rujak di warungnya. Tiap hari ia selalu membawakan Gendhis koran. Sebuah barang langka, karena hanya satu-dua orang yang berlangganan koran di desa itu.

Jadilah Gendhis tumbuh menjadi perempuan yang banyak diidolakan lelaki. Ia begitu asyik menjadi teman berbagi cerita. Banyak lelaki yang silih berganti dari bertahun-tahun silam mendatangi rumahnya untuk melamarnya menjadi istri. Namun, semua hati lelaki itu dipatahkan oleh Gendhis.

Ada pula yang tak kapok datang sekali. Berkali[1]kali datang ke rumah Gendhis sampai ia bosan sendiri. Akhirnya ia menyerah dan menikah dengan perempuan lain. Hingga sekarang lelaki itu mempunyai dua orang anak, Gendhis masih saja betah melajang.

“Sebenarnya opo to Nduk yang kamu cari?”

Senyum Gendhis mengembang setiap kali ibunya melontarkan pertanyaan itu. Jawaban Gendhis selalu sama.

“Aku ingin yang seperti Bapak, Buk.”

Gendhis selalu membubuhkan senyum di akhir kalimatnya itu.

Gendhis mengerti betul ibunya butuh ditenangkan. Seiring waktu yang terus menyeret ibunya memasuki usia kepala lima, Gendhis tahu kekhawatiran ibunya kalau-kalau tidak ada yang menjaganya saat ibunya sudah berkelana ke alam lain. Gendhis juga tahu keinginan ibunya untuk segera menimang cucu. Namun, Gendhis punya keinginan sendiri.

Maka habislah akal ibunya. Harapan terakhirnya pun tengah ia sandarkan kepada lelaki yang baru sebulan pindah ke desanya. Lelaki yang setiap harinya diam-diam Gendhis intip dari balik warungnya, yang dengan telaten menyapu pesarean Mbah Ganyong walaupun sedang sepi peziarah.

Entah apa yang membuat Gendhis terus memburu pemuda itu. Tidak ada peranti dari dirinya yang mirip dengan almarhum suaminya. Pemuda itu bukan tukang kayu, perawakannya pun tidak ada mirip-miripnya. Pemuda itu lulusan pondok pesantren, sedangkan bapak Gendhis hanya lulusan SMP.

Tapi, sudahlah. Pikiran-pikiran itu disingkirkan ibu Gendhis dan menggantinya dengan sebuah harapan. Melihat gelagat anaknya yang menaruh rasa pada pemuda itu, ibu Gendhis langsung menawarkan untuk memperkenalkan putrinya secara khusus dan mengundang si pemuda untuk datang ke rumah. Tawaran tersebut disambut senyum manis oleh pemuda. Nama Gendhis memang sudah tersohor di desa dan sudah pula terdengar di telinganya.

Di ruang tamulah kini ketiga manusia bersua. Gendhis dengan aura bersahajanya terus saja membuat pemuda itu tersipu. Sementara Gendhis sendiri lebih banyak diam. Lamat-lamat menekuni apa yang selama ini ia cari dari pemuda tersebut. Dengan tekun memandangi buruannya yang baru saja bisa ia jangkau dalam jarak dekat.

Ibu Gendhis tahu arti senyuman Gendhis di akhir pertemuan itu, saat melepas si pemuda pergi. Senyum itu bukan pertanda baik. Maka, dengan berat hati, ibunya bertanya.

“Sekarang apa lagi, Nduk?”

Gendhis tersenyum. Senyum getir kali ini.

“Matanya tidak seperti mata Bapak.” ***

.

.

MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Madiun menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, dan esai. Naskah berupa file Microsoft Word dengan maksimal 800 kata untuk cerpen; 500 kata untuk esai; dan maksimal 5 puisi. Cantumkan uraian singkat identitas diri dan kirimkan karya lewat surel ke alamat radarmadiun.litera@gmail.com

.

.

Cerpen Seperti Bapak karya Lina Nurdiana sebelumnya terbit di Jawa Pos Radar Madiun edisi Minggu, 20 Februari 2022.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia