Cerpen Ketut Sugiartha (Kompas, 27 Februari 2022)
PURNAMI masih duduk bergeming di teras rumah. Pikirannya berangsur jernih. Pipinya mulai kering, tak lagi dibanjiri air mata. Malam kian larut. Suara gonggongan anjing di kejauhan sesekali memecah keheningan. Juga suara jangkrik yang hilang muncul dari sudut halaman. Kembali dia ingatkan dirinya bahwa semua sudah selesai. Apa yang sudah terjadi biarlah sudah, dan apa yang akan terjadi terjadilah.
Langit benderang menjelang tengah malam. Bulan penuh meredupkan kerlip bintang-bintang. Puncak purnama barusan berlalu. Saat yang masih dia yakini baik untuk mengukuhkan harapan untuk kepentingan apa saja karena energi purnama memang sangat kuat dan bisa memicu percepatan proses tercapainya cita-cita.
Sejak dia tahu itu dari seorang guru spiritual yang sering berbagi hal yang mencerahkan di kelompok WhatsApp, dia berusaha melakoni apa yang dia anggap baik dan penting bagi dirinya. Salah satunya melakukan meditasi materialisasi, memantapkan kehendak untuk mewujudkan apa yang menjadi impian hidupnya.
Sudah berulang kali dia lakoni itu pada saat purnama mencapai puncaknya. Memiliki suami yang setia dan mencintainya dengan tulus, itulah yang menjadi impian hidupnya. Tidak sampai setahun harapan itu semakin mendekati kenyataan, dan karenanya dia sangat percaya pada manfaatnya.
Kadek Karyana hadir dalam hidupnya. Dimulai dengan perkenalan yang tidak terduga terus dilanjutkan dengan keintiman yang berproses relatif cepat. Tanpa mengalami rintangan mereka kemudian melangkah lebih jauh, mengikat janji untuk segera menjalani hidup bersama sebagai suami istri. Karena Purnami anak tunggal, Kadek Karyana bersedia nyeburin. Apabila kelak sudah sah menjadi suami, ia akan tinggal di rumah istrinya, menjadi ahli waris di situ yang dengan sendirinya berarti menjadi penerus trah keluarga istrinya.
Akan tetapi, tiga hari menjelang acara pernikahan, ia berubah pikiran. Ia mendadak mengatakan tidak jadi menikah tanpa alasan yang jelas. Tak pelak kegaduhan timbul, terutama di lingkungan keluarga Purnami. Acara pernikahan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari tiba-tiba harus dibatalkan. Kedua orangtua Purnami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengelus dada, sementara Purnami hanya mampu menumpahkan kepedihan lewat air mata.
Hal yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun kemudian terjadi. Purnami memutuskan tetap melangsungkan upacara pernikahan walau tanpa mempelai laki-laki. “Upacara tidak usah dibatalkan,” katanya kepada kedua orangtuanya.
“Maksudmu?” Sawitri menatapnya tak percaya.
“Saya akan melakukannya sendirian.”
Sawitri menangis sambil memeluk anak semata wayangnya. Dia juga merasakan betapa sakit hatinya dikhianati dan dipermalukan seperti itu. Dia khawatir anaknya mulai tak waras karena tidak sanggup menahan guncangan jiwa yang demikian berat. Melangsungkan pernikahan sendirian adalah mustahil. Bagi kebanyakan orang pun itu dianggap keputusan gila. Namun, menurut sebagian kecil lainnya itu bukan hal yang aneh. Tidak ada ketentuan adat atau agama di lingkungannya yang menabukan hal itu. Bukankah pernah terjadi seorang perempuan menikah dengan sebatang keris?
Kendati masih menyimpan tanda tanya besar di benak, orangtua Purnami tidak punya pilihan kecuali setuju. Di samping karena pandita yang diundang untuk memimpin upacara merestui, biaya yang telah dikeluarkan pun tidak jadi sia-sia dan undangan yang sudah disebar juga tidak perlu dibatalkan.
Mereka diam-diam kagum kepada Purnami yang demikian tabah menghadapi cobaan hidup yang tidak setiap wanita pernah mengalaminya. Tadinya mereka khawatir jangan-jangan Purnami akan bunuh diri, tidak sanggup menanggung perasaan kecewa dan malu akibat penghinaan yang keterlaluan itu.
“Kawin tanpa suami jauh lebih baik daripada dia bunuh diri,” kata Sawitri kepada suaminya di malam yang sudah larut, sehari menjelang upacara pernikahan dilangsungkan.
“Ya,” jawab Arnawa. “Saya belum pernah mengenal perempuan setabah anak kita.”
“Dia tidak rapuh seperti laki-laki yang mengecewakannya.”
“Ada baiknya dia tidak kawin dengan laki-laki seperti itu.”
“Ya, laki-laki yang tidak punya pendirian. Hanya karena ada yang mengata-ngatai diseret babi betina langsung ciut nyalinya.”
“Ia pasti takut sama ancaman ibunya.”
“Begitulah anak mama.”
Walaupun berita pernikahannya tanpa suami sempat viral di media sosial, Purnami tetap tegar. Dia berusaha tidak terpengaruh oleh kehebohan dunia maya yang tidak mengenal kemanusiaan yang adil dan beradab itu.
Semua sudah selesai. Itulah mantra ampuh yang membuatnya tidak rapuh sehingga bisa melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana biasa, bekerja pada sebuah perusahaan properti asing yang beroperasi di kotanya. Dia tetap bersyukur dengan keadaannya sampai dia bisa bekerja di perusahaan itu.
Suatu hari dia agak terlambat ke luar untuk makan siang karena ada pekerjaan yang tidak dapat ditunda penyelesaiannya. Dia biasa makan siang di salah satu rumah makan di seberang kantornya, cukup dengan berjalan kaki. Pikirnya rumah makan pasti sudah berangsur sepi. Para karyawan dari kantor-kantor di sekitarnya tentu sudah pada menyelesaikan acara makan siangnya dan kembali ke kantornya masing-masing karena saat itu sudah hampir pukul satu siang.
Dia bergegas menyeberang jalan lalu mendekati rumah makan. Langkahnya tiba-tiba tertahan ketika sampai di ambang pintu. Matanya menangkap seorang laki-laki sedang duduk di meja yang biasa dia pilih saat makan siang jika meja itu tidak sedang dipakai orang lain. Walaupun laki-laki itu sedang menunduk menekuni ponsel di tangannya, dia tahu betul siapa laki-laki itu. Laki-laki yang pernah suatu kali menemaninya makan siang di meja itu.
Purnami punya firasat bahwa laki-laki itu sedang menunggunya dan ingin bicara. Dengan ketenangan yang sudah terlatih dia teruskan langkahnya lalu duduk di hadapannya.
“Saya kira kamu tidak akan datang,” kata Kadek Karyana setelah mengangkat wajah. “Saya sudah menunggu sejak tadi.”
“Untuk apa?” tanya Purnami datar.
“Saya menyesal dan merasa sangat bersalah.”
“Semua sudah selesai, tak ada yang perlu dibicarakan lagi.”
“Saya tahu, tapi setidaknya izinkan saya minta maaf.”
“Saya sudah memaafkanmu begitu mengambil keputusan menikah tanpa kamu.”
“Tapi, anak itu…,” telunjuk Kadek Karyana terarah ke perut Purnami.
“Kamu tidak punya hak apa pun atasnya.”
“Tapi….”
Kalimat Kadek Karyana terputus karena ada orang yang sedang mendekati meja mereka. Begitu Purnami berpaling, didapatinya Akio sudah berdiri di belakangnya.
“Apakah saya mengganggu?” tanya laki-laki Jepang itu.
“Tidak,” Purnami tersenyum. “Kenalkan ini teman saya.”
Akio mengulurkan tangan yang disambut dengan canggung oleh Kadek Karyana. Mendadak salah tingkah, laki-laki yang membatalkan pernikahan dengan Purnami itu langsung mohon diri. “Maaf, saya harus pergi,” katanya sambil berdiri dan beranjak ke luar, membuat Akio bertanya-tanya dalam hati.
“Saya kira dia akan ikut makan dengan kita,” ucap Akio.
“Saya tidak mengundangnya,” tanggap Purnami. “Katanya dia sudah di sini sejak tadi.”
“Sepertinya kamu sedang membicarakan hal penting dengannya.”
“Tidak. Kalau penting ia tak akan pergi begitu saja. Kamu tahu siapa dia?”
Akio menggeleng.
“Dialah laki-laki yang pernah saya ceritakan kepadamu tempo hari.”
“Oh! Laki-laki yang malang.”
“Kenapa?”
“Karena keberuntungannya sudah pindah ke saya.”
“Saya harap kamu tidak akan melakukan hal yang sama.”
“Tentu saja tidak.”
“Kamu pikir kawin nyeburin itu mudah?”
“Banyak yang bilang, jadi orang Bali itu rumit.”
“Ya.”
“Kalau memang rumit, mengapa banyak orang dari negara saya datang jauh-jauh ke Bali untuk dididik menjadi pandita? Saya harap kamu tidak meragukan keputusan yang sudah saya ambil.”
“Jadi…?”
“Jangankan nyeburin, jadi ketua adat pun saya siap.”
Purnami tersenyum sambil menatap dalam-dalam mata Akio. Sampai sejauh itu dia masih meyakini keampuhan laku yang dia tekuni pada setiap puncak purnama. Dia juga percaya, kedekatannya dengan Akio tak lama setelah dia gagal menikah dengan Kadek Karyana bukanlah kebetulan. Begitu juga dengan namanya sendiri, yang dia yakini bukan nama yang dipilih asal-asalan oleh orangtuanya hanya karena dia lahir pada malam purnama. ***
.
.
Ketut Sugiartha tinggal di Tabanan, Bali. Menulis esai, puisi, cerpen, dan novel. Tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai media cetak dan daring. Telah menerbitkan sejumlah buku fiksi meliputi kumpulan cerpen dan novel.
Michael Binuko Sri Herawan, lahir di Biak, 1987. Lulusan Program Magister Seni Rupa, Jalur Kekaryaan, FSRD- ITB, Bandung, ini sekarang tinggal di Bandung. Puluhan kali terlibat pameran bersama dan sekali pameran tunggal. Memperoleh beberapa penghargaan antara lain Young Artist Award “Art|Jog|13” di Yogyakarta tahun 2013 dan Finalist “4th Guanlan International Print Biennial-2013” di Guanlan, Shenzhen, China.
.
.